وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ

Dan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِwa-law taqawwala 'alaynaa ba'dha l-aqaawiilidan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  2. تَقَوَّلَtaqawwalamengada-adakan
  3. عَلَيْنَا'alaynaaatas Kami
  4. بَعْضَba'dhasebagian
  5. الْأَقَاوِيلِl-aqaawiiliperkataan

Inti bacaan

Skenario hipotetis untuk menguji integritas: 'sekiranya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami', pengandaian yang membuka jalan bagi argumen tentang konsekuensi jika klaim kenabian ternyata palsu, standar akuntabilitas yang tinggi bagi klaim atas nama otoritas ilahi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(nama)' tidak dipakai.

Kata (الْأَقَاوِيلِ, al-aqaawiili) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya khusus: ia jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan atau karangan yang bertumpuk-tumpuk tanpa nilai.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Akar kata itu sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42. Jadi dalam lima ayat berurutan, akar yang berarti berkata muncul empat kali: sekali untuk menetapkan bahwa ia perkataan utusan yang mulia, dua kali untuk menyangkal bahwa ia perkataan penyair dan tukang tenung, dan sekali lagi di sini untuk menyangkal bahwa ia karangan sendiri. Satu akar mengikat seluruh pembelaan itu.

Kata (تَقَوَّلَ, taqawwala) muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an: 52:33 dan 69:44. Bentuknya menyatakan mengada-adakan perkataan lalu menisbatkannya kepada orang lain. Di 52:33 kata itu dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang, dan di sini ia dipakai dalam kalimat pengandaian yang membantahnya. Jadi tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini.

Kata (بَعْضَ, ba'dha) berarti sebagian. Yang diandaikan bukan mengarang seluruhnya, melainkan sebagian saja. Pengandaian yang sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat, sebab akibat yang disebut di 69:45 dan 69:46 tetap sama beratnya meski yang diandaikan hanya sepotong.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan pengandaiannya memakai kata sambung yang menyatakan pengandaian atas sesuatu yang tidak terjadi. Dalam bahasa Arab, kata sambung jenis itu dipakai khusus untuk perkara yang tidak pernah ada. Jadi bentuk kalimatnya sendiri sudah menyatakan bahwa hal tersebut tidak pernah terjadi, sebelum jawabannya disebutkan.

Kata (عَلَيْنَا, 'alainaa) berarti atas Kami, dengan bentuk pihak pertama jamak yang menunjuk kebesaran. Yang dirugikan dalam pengandaian itu bukan manusia melainkan Allah sendiri. Terjemahan menambahkan kata nama di dalam kurung untuk menjelaskan, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks.

Perlu dicatat bahwa yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Jadi Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama.

Tafsiran

Ayat ini membuka ancaman hipotetis jika Rasul mengada-adakan perkataan atas nama Allah. Ayat ini membuka jawaban terakhir atas tuduhan tentang asal bacaan ini, dan cara menjawabnya patut diperhatikan. Yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya khusus: ia jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan yang bertumpuk-tumpuk tanpa nilai. Akarnya sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42, sehingga dalam lima ayat berurutan akar yang berarti berkata muncul empat kali. Satu akar mengikat seluruh pembelaan itu.

Kata kerjanya muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:33 kata itu dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang sedangkan di sini dipakai dalam kalimat pengandaian yang membantahnya. Tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini. Yang diandaikan pun bukan mengarang seluruhnya melainkan sebagian saja, dan pengandaian sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat. Susunan pengandaiannya sendiri memakai kata sambung yang khusus dipakai untuk perkara yang tidak pernah ada, jadi bentuk kalimatnya sudah menyatakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi.

Renungan dan Hikmah

  • Yang diancam dalam pengandaian ini adalah utusan itu sendiri, bukan orang yang menuduhnya. Allah menjawab tuduhan bukan dengan membela tanpa syarat, melainkan dengan menyatakan apa yang akan terjadi seandainya tuduhan itu benar. Cara menjawab seperti itu lebih meyakinkan daripada penyangkalan biasa, sebab ia memperlihatkan bahwa yang dibela pun tunduk pada ukuran yang sama dengan siapa pun. Pembelaan yang bersyarat selalu lebih dipercaya daripada pembelaan yang menolak segala kemungkinan sejak awal.
  • Akar kata terakhir ayat ini sama dengan akar kata yang dipakai di 69:40, 69:41, dan 69:42. Dalam lima ayat berurutan, akar yang berarti berkata muncul empat kali: sekali untuk menetapkan, dua kali untuk menyangkal dua tuduhan, dan sekali di sini untuk menyangkal karangan sendiri. Allah mengikat seluruh pembelaan itu dengan satu akar, dan ikatan itu hanya terlihat pada teks aslinya. Ikatan antarayat yang dibangun lewat akar kata adalah bentuk susunan yang tidak akan pernah terlihat dari terjemahan mana pun.
  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya jamak dari kata yang sudah berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, jamak bertingkat seperti itu sering membawa nada merendahkan, seperti menyebut ocehan yang bertumpuk tanpa nilai. Nada merendahkan itu terletak pada bentuk katanya, bukan pada artinya, sehingga ia larut dalam terjemahan mana pun. Nada sebuah kata sering tersimpan di bentuknya, dan bentuk itulah yang paling dulu hilang ketika dipindahkan ke bahasa lain.
  • Yang diandaikan bukan mengarang seluruhnya, melainkan sebagian saja. Pengandaian sekecil itu membuat ancaman sesudahnya terasa jauh lebih berat, sebab akibat yang disebut di 69:45 dan 69:46 tetap sama beratnya meski yang diandaikan hanya sepotong. Allah tidak menyisakan ruang bagi tambahan sekecil apa pun, dan ketegasan itu justru menjadi jaminan bagi pembacanya. Batas yang ditarik sampai ke bagian terkecil justru melegakan, sebab ia menutup kemungkinan yang paling sulit diperiksa.
  • Susunan pengandaian di ayat ini memakai kata sambung yang dalam bahasa Arab khusus dipakai untuk perkara yang tidak pernah terjadi. Bentuk kalimatnya sendiri sudah menyatakan hal itu sebelum jawabannya disebutkan. Pembaca yang mengenali bentuknya sudah tahu kesimpulannya sejak kata pertama, dan yang membaca terjemahan menunggu sampai kalimatnya selesai. Mengenali bentuk kalimat sama pentingnya dengan mengenali arti katanya, dan keduanya bekerja bersama-sama.
  • Kata kerja di ayat ini muncul di 2 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan di 52:33 ia dipakai untuk menyebut tuduhan yang dilontarkan orang. Tuduhannya dicatat di satu surah dan dijawab di surah ini. Kalau tuduhan dan jawabannya bisa terpisah sejauh itu di dalam satu kitab, seberapa banyak jawaban yang belum kita temukan karena membaca sepotong-sepotong? Satu kitab yang saling menjawab dari surah ke surah menuntut pembaca yang mau menempuh seluruhnya.