فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

Maka tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi darinya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَfa-maa minkum min ahadin 'anhu haajiziinamaka tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi darinya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَمَاfa-maamaka tidak ada
  2. مِنْكُمْminkumdari kalian
  3. مِنْmindari
  4. أَحَدٍahadinseorang pun
  5. عَنْهُ'anhudarinya
  6. حَاجِزِينَhaajiziinayang menghalangi

Inti bacaan

Ketiadaan perlindungan bagi yang bersalah: 'tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami) darinya', penegasan bahwa jika klaim kenabian memang palsu, tidak ada kekuatan manusia yang mampu mencegah konsekuensinya, argumen tidak langsung tentang keaslian wahyu melalui logika konsekuensi.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(Kami)' tidak dipakai.

Kata (حَاجِزِينَ, haajiziina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti penghalang, pemisah, orang yang menahan sesuatu supaya tidak sampai. Akarnya dipakai juga untuk batas yang memisahkan dua hal supaya tidak bercampur.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk jamaknya perlu diperhatikan. Kalimatnya berbunyi tidak ada seorang pun dari kalian, dengan sebutan tunggal, tetapi sifat penghalangnya berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan, bukan satu orang. Jadi yang ditiadakan bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan pengingkarannya bertumpuk. Ada kata pengingkar di depan, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Jadi ada dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek, dan penumpukan itu menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun.

Kata (مِنْكُمْ, minkum) berarti dari kalangan kalian. Sasaran kalimat berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42. Jadi sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung. Perpindahan itu membuat pernyataannya terasa ditujukan kepada yang sedang membaca.

Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Tiga ayat sebelumnya menyusun perbuatan, dan ayat ini menutup kemungkinan campur tangan dari luar. Jadi urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun.

Kata (عَنْهُ, 'anhu) berarti dari padanya. Yang dimaksud adalah orang yang diandaikan, bukan perbuatannya. Jadi yang tidak bisa dihalangi adalah tindakan atas dirinya, dan bukan sekadar keputusannya. Terjemahan menambahkan keterangan di dalam kurung untuk menjelaskan siapa yang tidak bisa dihalangi, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa penjelasannya bukan bagian dari teks.

Perlu dicatat bahwa peniadaan ini ditujukan kepada manusia, bukan kepada makhluk lain. Yang disebut adalah dari kalangan kalian, sehingga yang ditiadakan adalah kesanggupan sesama manusia untuk membela. Bagi pendengar yang biasa mengandalkan pembelaan kerabat dan kelompok, peniadaan itu menyentuh tepat pada tempat yang paling diandalkan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan tidak ada yang dapat mencegah keputusan Allah: bukti keaslian wahyu. Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Tiga ayat sebelumnya menyusun perbuatan, dan ayat ini menutup kemungkinan campur tangan dari luar. Urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti penghalang atau orang yang menahan sesuatu supaya tidak sampai. Bentuk jamaknya perlu diperhatikan: kalimatnya berbunyi tidak ada seorang pun dari kalian dengan sebutan tunggal, tetapi sifat penghalangnya berbentuk jamak. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan, bukan satu orang. Yang ditiadakan Allah bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya.

Susunan pengingkarannya pun bertumpuk. Ada kata pengingkar di depan, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun. Sasaran kalimatnya juga berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42, sehingga sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini berbentuk jamak, padahal sebutan sebelumnya tunggal. Dalam bahasa Arab, ketidakcocokan seperti itu lazim ketika yang dimaksud sebenarnya seluruh golongan. Yang ditiadakan Allah bukan satu penghalang melainkan segala penghalang, betapa pun banyaknya. Bentuk kata itu sendiri yang memperluas cakupannya, tanpa satu kalimat penjelas pun. Bentuk kata kadang menyampaikan cakupan yang tidak tertulis di permukaan, dan pembaca terjemahan menerimanya tanpa jejak.
  • Ada kata pengingkar di depan kalimat ini, lalu ada kata tambahan sebelum sebutan seorang pun, dan kata tambahan itu dalam bahasa Arab menguatkan peniadaan. Dua penanda peniadaan dalam satu kalimat pendek menutup segala celah untuk mengecualikan siapa pun. Allah tidak menyisakan ruang bagi pengecualian, dan ketegasan itu terletak pada susunan katanya. Penumpukan penanda dalam satu kalimat pendek adalah cara menegaskan yang paling hemat sekaligus paling kuat. Ketegasan yang dibangun dari susunan kata bertahan selama teksnya bertahan, dan tidak bergantung pada nada orang yang membacanya.
  • Ayat ini menutup rangkaian pengandaian yang dibuka di 69:44. Urutannya lengkap: seandainya ia berbuat, Kami akan bertindak begini, lalu begitu, dan tidak seorang pun sanggup mencegah. Rangkaian empat ayat itu tidak menyisakan celah di bagian mana pun, dan kelengkapan seperti itu adalah cara Allah menjawab keraguan sampai ke ujungnya. Jawaban yang lengkap sampai ke ujungnya memberi ketenangan yang tidak bisa diberikan jawaban yang berhenti di tengah.
  • Peniadaan di ayat ini ditujukan kepada manusia, sebab yang disebut adalah dari kalangan kalian. Yang ditiadakan adalah kesanggupan sesama manusia untuk membela. Bagi orang yang biasa mengandalkan pembelaan kerabat dan kelompok, peniadaan itu menyentuh tepat pada tempat yang paling diandalkan, dan Allah memang menyebutnya dengan sengaja. Pembelaan kelompok adalah sandaran yang paling sering dipakai manusia dan paling jarang diperiksa kekuatannya.
  • Sasaran kalimat berpindah lagi ke orang kedua jamak, sama seperti di 69:41 dan 69:42. Sesudah tiga ayat pengandaian yang berbicara tentang orang ketiga, pembaca ditarik kembali menjadi pihak yang disapa langsung. Perpindahan itu membuat pernyataannya terasa ditujukan kepada yang sedang membaca, bukan kepada orang lain di masa lampau. Disapa langsung membuat pembaca berhenti menjadi penonton, dan Al-Qur'an memakai perpindahan itu dengan sangat sering. Perpindahan sapaan yang mendadak bekerja seperti tepukan di bahu, dan pembaca yang lengah dibangunkan olehnya.
  • Kata yang berarti dari padanya di ayat ini menunjuk orang yang diandaikan, bukan perbuatannya. Yang tidak bisa dihalangi adalah tindakan atas dirinya, bukan sekadar keputusannya. Kalau tidak seorang pun sanggup menghalangi tindakan Allah atas orang yang paling mulia sekalipun, pembelaan macam apa yang selama ini kita andalkan? Sandaran yang tidak pernah diuji akan terus terasa kokoh sampai hari ketika ia benar-benar diperlukan.