وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ
Sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada para pendusta.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَwa-innaa la-na'lamu anna minkum mukadzdzibiinasesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada para pendusta
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya Kami
- لَنَعْلَمُla-na'lamusungguh Kami mengetahui
- أَنَّannabahwa
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- مُكَذِّبِينَmukadzdzibiinaorang-orang yang mendustakan
Inti bacaan
Pengakuan realitas keragaman respons: 'sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada para pendusta', kejujuran bahwa tidak semua penerima pesan akan menerimanya dengan baik, pengakuan variasi respons yang sudah diantisipasi sejak awal.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُكَذِّبِينَ, mukadzdzibiina) berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti orang yang mendustakan. Akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:4 untuk dua kaum yang mendustakan hari itu. Jadi akar yang membuka kisah di awal surah muncul lagi di ayat kedua dari belakang.
Pertemuan itu menutup lingkaran yang besar. Di 69:4 yang mendustakan adalah kaum-kaum yang sudah binasa, dan di sini yang mendustakan berada di kalangan pendengar yang sedang disapa. Yang tadinya kisah tentang orang lain di masa lampau berubah menjadi kenyataan tentang orang yang sedang membaca. Perpindahan itu dikerjakan hanya dengan mengulang satu akar kata.
Kata (مِنْكُمْ, minkum) berarti dari kalangan kalian. Ia dipakai juga di 69:47, dua ayat sebelumnya. Di sana ia menandai ketiadaan penolong, dan di sini menandai adanya pendusta. Jadi kata yang sama dipakai untuk menyatakan apa yang tidak ada pada mereka dan apa yang ada pada mereka.
Susunan pembukanya memakai penegas pihak pertama jamak ditambah huruf penguat pada kata kerjanya. Bunyinya sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui. Dua penguat dipakai untuk pernyataan tentang pengetahuan, padahal pengetahuan Allah tidak pernah diragukan orang beriman. Penegasan itu karena itu bukan ditujukan untuk meyakinkan, melainkan untuk memberi tahu bahwa yang bersangkutan sudah diketahui.
Perhatikan bahwa mereka tidak disebut namanya, tidak dihitung jumlahnya, dan tidak ditunjuk satu per satu. Yang dinyatakan hanya bahwa mereka ada dan diketahui. Cara menyebut seperti itu meninggalkan pertanyaan pada tiap pembaca tentang dirinya sendiri, dan pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan menuding orang lain.
Hal berikut ini pun menentukan. Ayat ini juga satu-satunya di antara empat ayat penutup yang memakai kata ganti pihak pertama, sedangkan tiga lainnya memakai kata ganti yang menunjuk bacaan ini. Perbedaan itu menyela rangkaian pernyataan tentang bacaan dengan satu pernyataan tentang pembacanya. Jadi di tengah keterangan tentang sifat bacaan, disisipkan keterangan tentang keadaan orang yang menerimanya.
Perlu dicatat bahwa ayat ini berdiri di antara 69:48 yang menyebut manfaat bagi yang bertakwa dan 69:50 yang menyebut penyesalan bagi yang menolak. Letaknya tepat di tengah dua akibat yang berlawanan. Jadi peringatan tentang adanya pendusta diletakkan persis di antara dua nasib, seolah menandai bahwa pembaca masih berada di persimpangan ketika membacanya.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Bandingkan pula bentuk kata yang dipakai untuk mereka. Ia berbentuk sebutan pelaku, bukan kata kerja. Sebutan pelaku dalam bahasa Arab menyatakan sifat yang melekat, sedangkan kata kerja menyatakan perbuatan yang terjadi pada suatu waktu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa sebagian dari mereka pernah mendustakan, melainkan bahwa mendustakan sudah menjadi sifat yang menempel pada mereka. Perbedaan itu tidak terbawa oleh terjemahan yang memakai kata benda biasa.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak diikuti ancaman langsung. Sesudah menyatakan bahwa mereka diketahui, yang datang bukan hukuman melainkan keterangan tentang penyesalan di 69:50. Jadi yang disodorkan adalah akibat, bukan ancaman. Menyodorkan akibat memberi ruang bagi pendengarnya untuk menimbang sendiri, sedangkan ancaman hanya menuntut ketakutan. Cara yang pertama menghormati akal, dan surah ini memilih cara itu sampai ke ayat terakhirnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan pengetahuan Allah atas para pendusta wahyu. Ayat ini menyela rangkaian pernyataan tentang bacaan dengan satu pernyataan tentang pembacanya. Ia satu-satunya di antara empat ayat penutup yang memakai kata ganti pihak pertama, sedangkan tiga lainnya memakai kata ganti yang menunjuk bacaan ini. Di tengah keterangan tentang sifat bacaan, disisipkan keterangan tentang keadaan orang yang menerimanya.
Kata terakhirnya berbentuk jamak dari sebutan pelaku yang berarti orang yang mendustakan, dan akarnya sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:4 untuk dua kaum yang mendustakan hari itu. Akar yang membuka kisah di awal surah muncul lagi di ayat kedua dari belakang, dan pertemuan itu menutup lingkaran yang besar. Di 69:4 yang mendustakan adalah kaum-kaum yang sudah binasa, dan di sini yang mendustakan berada di kalangan pendengar yang sedang disapa. Yang tadinya kisah tentang orang lain di masa lampau berubah menjadi kenyataan tentang orang yang sedang membaca, dan perpindahan itu dikerjakan Allah hanya dengan mengulang satu akar kata.
Susunan pembukanya memakai penegas pihak pertama jamak ditambah huruf penguat pada kata kerjanya, sehingga bunyinya sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui. Dua penguat dipakai untuk pernyataan tentang pengetahuan, padahal pengetahuan Allah tidak pernah diragukan orang beriman. Penegasan itu bukan ditujukan untuk meyakinkan, melainkan untuk memberi tahu bahwa yang bersangkutan sudah diketahui. Mereka pun tidak disebut namanya, tidak dihitung jumlahnya, dan tidak ditunjuk satu per satu, sehingga tiap pembaca ditinggali pertanyaan tentang dirinya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhir di ayat ini sama dengan akar kata kerja yang dipakai di 69:4 untuk dua kaum yang mendustakan hari itu. Di sana yang mendustakan adalah kaum yang sudah binasa, dan di sini yang mendustakan berada di kalangan pendengar yang sedang disapa. Yang tadinya kisah tentang orang lain berubah menjadi kenyataan tentang yang sedang membaca, dan Allah mengerjakannya hanya dengan mengulang satu akar. Kisah tentang kaum terdahulu berubah menjadi cermin ketika akar katanya muncul lagi untuk pembacanya sendiri.
- Mereka tidak disebut namanya, tidak dihitung jumlahnya, dan tidak ditunjuk satu per satu. Yang dinyatakan Allah hanya bahwa mereka ada dan diketahui. Cara menyebut seperti itu meninggalkan pertanyaan pada tiap pembaca tentang dirinya sendiri, dan pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan menuding orang lain. Peringatan yang tidak menunjuk siapa-siapa justru mengenai semua orang, sebab tidak seorang pun bisa merasa dikecualikan.
- Ayat ini berdiri di antara 69:48 yang menyebut manfaat bagi yang bertakwa dan 69:50 yang menyebut penyesalan bagi yang menolak. Letaknya tepat di tengah dua akibat yang berlawanan. Peringatan tentang adanya pendusta diletakkan Allah persis di antara dua nasib, seolah menandai bahwa pembaca masih berada di persimpangan ketika membacanya. Berada di persimpangan berarti masih ada waktu, dan letak ayat ini sendiri sudah menjadi kabar baik yang tersamar.
- Susunan pembuka ayat ini memakai dua penguat untuk pernyataan tentang pengetahuan, padahal pengetahuan Allah tidak pernah diragukan orang beriman. Penegasan itu bukan ditujukan untuk meyakinkan, melainkan untuk memberi tahu bahwa yang bersangkutan sudah diketahui. Yang merasa tersembunyi diberitahukan bahwa ia tidak pernah tersembunyi. Merasa tersembunyi adalah salah satu perasaan paling menipu, dan Allah membongkarnya dengan satu kalimat pendek.
- Kata yang berarti dari kalangan kalian dipakai juga di 69:47, dua ayat sebelumnya. Di sana ia menandai ketiadaan penolong, dan di sini menandai adanya pendusta. Kata yang sama dipakai untuk menyatakan apa yang tidak ada pada mereka dan apa yang ada pada mereka, dan dua pernyataan itu sama-sama tidak menyenangkan. Kekurangan dan kelebihan dalam diri kita sama-sama diketahui, dan keduanya sama-sama akan dihadapkan pada waktunya.
- Ayat ini satu-satunya di antara empat ayat penutup yang memakai kata ganti pihak pertama, sedangkan tiga lainnya memakai kata ganti yang menunjuk bacaan ini. Di tengah keterangan tentang sifat bacaan, Allah menyelipkan keterangan tentang keadaan yang menerimanya. Empat ayat penutup surah ini berbicara tentang bacaannya, dan hanya ayat ini yang berbicara tentang pembacanya. Kalau di tengah keterangan tentang kitab-Nya Allah menyisipkan keterangan tentang kita, bagian mana yang sebenarnya paling perlu kita perhatikan?