وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَ
Dan sesungguhnya itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِنَّهُ لَحَسْرَةٌ عَلَى الْكَافِرِينَwa-innahu la-hasratun 'alaa l-kaafiriinadan sesungguhnya itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِنَّهُwa-innahudan sesungguhnya ia
- لَحَسْرَةٌla-hasratunbenar-benar penyesalan
- عَلَى'alaaatas
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
Inti bacaan
Konsekuensi emosional bagi penolakan: 'sesungguhnya ia benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir', pengingat bahwa penolakan hari ini akan berubah menjadi penyesalan mendalam di kemudian hari, ketika konsekuensi penuh dari keputusan tersebut terungkap.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لَحَسْرَةٌ, lahasratun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia terdiri atas huruf penguat ditambah sebutan yang berarti penyesalan yang mendalam sampai membuat orang meratapi apa yang terlewat. Akarnya juga dipakai untuk sesuatu yang terkelupas sampai habis, sehingga gambarannya adalah hati yang terkikis karena menyesal.
Ayat ini berpasangan dengan 69:48. Di sana bacaan ini disebut pengingat bagi yang bertakwa, dan di sini disebut penyesalan bagi yang menolak. Dua ayat itu memakai susunan yang sama persis, hanya berbeda pada sebutan akibat dan sebutan golongannya. Cetakan yang identik dengan dua isi yang berlawanan menonjolkan pertentangannya lebih tajam daripada kalau keduanya disusun bebas.
Yang perlu ditahan, bacaan yang sama menghasilkan dua akibat yang berlawanan. Ia tidak berubah, dan yang berubah adalah orang yang menerimanya. Jadi pemeriksaan yang sesungguhnya bukan atas bacaannya melainkan atas pembacanya, dan tiap orang menemukan pada dirinya sendiri jawaban tentang akan menjadi apa bacaan itu baginya.
Sebutan akibatnya juga menarik. Yang disebut bukan azab, bukan hukuman, bukan pula kerugian, melainkan penyesalan. Yang dilukiskan adalah keadaan hati, bukan keadaan tubuh. Bagi seluruh surah yang penuh gambaran fisik seperti angin, benturan, rantai, dan api, penyebutan keadaan hati di ayat penutup ini terasa berbeda sekali.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuk sebutannya tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu penyesalan. Bentuk tidak tertentu di tempat seperti ini dipakai untuk menyatakan sesuatu yang besar dan tidak terjangkau gambaran. Jadi yang dimaksud bukan sembarang sesal, melainkan sesal yang tidak ada bandingnya di dunia ini.
Susunan pembukanya sama dengan 69:48 dan akan sama lagi dengan 69:51. Tiga dari empat ayat penutup surah ini dibuka dengan cara yang persis sama, dan ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk bacaan ini. Pengulangan sekuat itu menutup surah dengan nada yang tidak menyisakan keraguan.
Perlu dicatat bahwa penyesalan itu disebut sesudah 69:49 menyatakan bahwa para pendusta ada di kalangan pendengarnya. Jadi urutannya: mereka ada, mereka diketahui, dan inilah yang menunggu mereka. Tiga langkah itu disusun tanpa satu ancaman langsung pun, dan yang disodorkan hanyalah akibat yang bisa ditimbang sendiri oleh yang membacanya.
Bandingkan pula sebutan golongan di ayat ini dengan sebutan golongan di 69:48. Yang di sana disebut orang-orang yang menjaga diri, dan yang di sini disebut orang-orang yang menutupi. Dua sebutan itu berasal dari dua akar yang berlawanan artinya: yang satu menjaga supaya tidak celaka, yang lain menutup supaya tidak terlihat. Jadi bukan hanya akibatnya yang berlawanan, melainkan juga sifat yang membuahkan akibat itu.
Perhatikan pula bahwa penyesalan yang disebut di sini datang terlambat menurut ukuran mereka, tetapi tidak terlambat menurut ukuran pembacanya. Yang membaca ayat ini masih hidup, dan penyesalan yang dilukiskan belum menjadi bagiannya. Letak ayat ini di dalam kitab yang bisa dibaca sekarang membuatnya berfungsi sebagai peringatan, bukan sebagai catatan yang sudah tertutup.
Sebutan (الْكَافِرِينَ, al-kaafiriina) berasal dari akar yang berarti menutupi. Bandingkan dengan sebutan golongan di 69:48, yang berasal dari akar yang berarti menjaga diri. Dua sebutan itu tumbuh dari dua akar yang berlawanan arahnya: yang satu menutup supaya tidak terlihat, yang lain menjaga supaya tidak celaka. Jadi bukan hanya akibatnya yang berlawanan, melainkan juga sifat yang membuahkan akibat itu.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan wahyu ini akan menjadi penyesalan bagi orang kafir. Ayat ini berpasangan dengan 69:48. Di sana bacaan ini disebut pengingat bagi yang bertakwa, dan di sini disebut penyesalan bagi yang menolak. Dua ayat itu memakai susunan yang sama persis, hanya berbeda pada sebutan akibat dan sebutan golongannya. Cetakan yang identik dengan dua isi yang berlawanan menonjolkan pertentangannya lebih tajam daripada kalau keduanya disusun bebas.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga dipakai untuk sesuatu yang terkelupas sampai habis, sehingga gambarannya adalah hati yang terkikis karena menyesal. Yang disebut bukan azab, bukan hukuman, bukan pula kerugian, melainkan penyesalan. Yang dilukiskan Allah adalah keadaan hati, bukan keadaan tubuh. Bagi seluruh surah yang penuh gambaran fisik seperti angin, benturan, rantai, dan api, penyebutan keadaan hati di ayat penutup ini terasa berbeda sekali.
Yang perlu ditahan, bacaan yang sama menghasilkan dua akibat yang berlawanan. Ia tidak berubah, dan yang berubah adalah orang yang menerimanya. Pemeriksaan yang sesungguhnya bukan atas bacaannya melainkan atas pembacanya, dan tiap orang menemukan pada dirinya sendiri jawaban tentang akan menjadi apa bacaan itu baginya. Penyesalan itu pun disebut sesudah 69:49 menyatakan bahwa para pendusta ada di kalangan pendengarnya, sehingga urutannya lengkap: mereka ada, mereka diketahui, dan inilah yang menunggu mereka.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini berpasangan dengan 69:48, dan keduanya memakai susunan yang sama persis, hanya berbeda pada sebutan akibat dan sebutan golongannya. Di sana bacaan ini disebut pengingat bagi yang bertakwa, di sini penyesalan bagi yang menolak. Allah memakai cetakan yang identik untuk dua isi yang berlawanan, dan pertentangannya jadi terasa lebih tajam daripada kalau keduanya disusun bebas. Perbandingan yang disodorkan lewat bentuk kalimat bekerja lebih dalam daripada perbandingan yang dinyatakan dengan kata.
- Bacaan yang sama menghasilkan dua akibat yang berlawanan. Ia tidak berubah, dan yang berubah adalah orang yang menerimanya. Pemeriksaan yang sesungguhnya bukan atas bacaan yang diturunkan Allah melainkan atas pembacanya, dan tiap orang menemukan pada dirinya sendiri jawaban tentang akan menjadi apa bacaan itu baginya. Yang menentukan hasil bukan mutu bahannya melainkan kesiapan wadah yang menampungnya, dan wadah itu masih bisa kita siapkan.
- Kata kedua di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga dipakai untuk sesuatu yang terkelupas sampai habis. Gambarannya adalah hati yang terkikis karena menyesal. Allah memilih kata yang melukiskan pengikisan perlahan, bukan pukulan sekali jadi, dan yang terkikis perlahan justru lebih sulit ditanggung daripada yang selesai seketika. Penderitaan yang datang perlahan sering lebih berat daripada yang datang sekaligus, sebab tidak ada titik akhir untuk ditunggu.
- Yang disebut bukan azab, bukan hukuman, bukan pula kerugian, melainkan penyesalan. Yang dilukiskan Allah adalah keadaan hati, bukan keadaan tubuh. Bagi seluruh surah yang penuh gambaran fisik seperti angin, benturan, rantai, dan api, penyebutan keadaan hati di ayat penutup ini terasa berbeda sekali, dan perbedaan itu justru membuatnya menonjol. Yang paling dalam dirasakan manusia memang bukan yang mengenai tubuhnya, melainkan yang mengenai hatinya.
- Bentuk sebutan akibat di ayat ini tidak tertentu, sehingga bunyinya suatu penyesalan. Bentuk tidak tertentu di tempat seperti ini dipakai untuk menyatakan sesuatu yang besar dan tidak terjangkau gambaran. Yang dimaksud bukan sembarang sesal, melainkan sesal yang tidak ada bandingnya di dunia ini, dan Allah membiarkannya tanpa ukuran supaya pembaca tidak mengecilkannya. Ukuran yang kita pasang pada sesuatu yang belum kita alami hampir selalu terlalu kecil, dan Allah menghindarkan pembaca dari kesalahan itu dengan tidak memasang ukuran sama sekali.
- Penyesalan itu disebut sesudah 69:49 menyatakan bahwa para pendusta ada di kalangan pendengarnya, sehingga urutannya lengkap: mereka ada, mereka diketahui, dan inilah yang menunggu mereka. Tiga langkah itu disusun tanpa satu ancaman langsung pun. Kalau Allah memilih menyodorkan akibat dan bukan ancaman, apa yang sebenarnya diharapkan dari kita ketika membacanya? Menimbang sendiri selalu menghasilkan pengertian yang lebih tahan lama daripada menerima kesimpulan yang sudah jadi.