فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِfa-sabbih bi-smi rabbika l-'azhiimimaka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu Sang Agung
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَسَبِّحْfa-sabbihmaka bertasbihlah
- بِاسْمِbi-smidengan nama
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung
Inti bacaan
Penutup Al-Haqqah dengan seruan ibadah konkret: 'bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Sang Agung', kesimpulan praktis setelah seluruh argumen tentang kepastian Hari Kiamat dan otentisitas wahyu, respons yang dituntut adalah tindakan ibadah nyata, bukan sekadar pengakuan intelektual.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(menyebut)' tidak dipakai. 'Al-azhiimi' gelar takrif, dipertahankan 'Sang Agung' konsisten dengan 69:33.
Rangkaian (بِاسْمِ رَبِّكَ, bismi rabbika) muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an: 56:74, 56:96, 69:52, dan 96:1. Yang terakhir itu adalah ayat yang paling awal diturunkan. Jadi rangkaian yang membuka seluruh wahyu muncul lagi untuk menutup surah ini.
Yang lebih menarik, seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 56:96, huruf demi huruf. Dan ayat sebelumnya, 69:51, memuat rangkaian yang sama dengan 56:95. Jadi dua ayat penutup surah ini sejajar dengan dua ayat penutup surah 56, dan kesejajaran berpasangan seperti itu tidak mungkin kebetulan.
Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiimi) muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an. Sifat yang sama sudah dipakai di 69:33, tempat disebutkan bahwa orang yang celaka dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Jadi sifat yang ditolaknya di tengah surah menjadi sifat yang disebut dalam perintah bertasbih di ujungnya.
Pertemuan itu menutup satu lingkaran lagi. Yang satu menolak keagungan, dan yang lain diperintahkan menyucikan nama Yang Agung. Dua sikap terhadap satu sifat yang sama diletakkan di dua ujung yang berjauhan, dan pembaca yang mengenali keduanya akan melihat bahwa seluruh surah ini sebenarnya berpusat pada satu perkara.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Kata kerjanya berbentuk perintah tunggal, ditujukan kepada Nabi. Sepanjang surah ini sapaan tunggal hanya muncul dua kali: di 69:17 pada rangkaian tentang Arasy, dan di sini. Dua-duanya berada di tempat yang paling tinggi gambarannya, dan dua-duanya menyapa satu orang di tengah pembicaraan yang mencakup seluruh manusia.
Perhatikan bahwa perintahnya bukan berdebat, bukan membalas, dan bukan pula membuktikan. Sesudah empat puluh tujuh ayat berisi kisah, gambaran, pembelaan, dan bantahan, yang diperintahkan hanyalah menyucikan nama Tuhan. Penutup seperti itu memindahkan penyelesaiannya dari perdebatan ke ibadah, dan itulah jalan keluar yang ditunjuk bagi orang yang sudah menyampaikan.
Perlu dicatat bahwa surah ini dibuka dengan sebutan untuk hari yang pasti terjadi dan ditutup dengan perintah bertasbih. Dari pertanyaan tentang hari itu, lewat kisah kaum terdahulu, gambaran kiamat, penghisaban dua orang, dan pembelaan atas wahyu, seluruhnya berujung pada satu perbuatan yang bisa dikerjakan sekarang juga. Yang panjang berujung pada yang sederhana.
Perhatikan pula bahwa perintah bertasbih ini datang sesudah surah menyebutkan adanya pendusta di kalangan pendengarnya. Jadi jawaban atas penolakan bukan permusuhan, melainkan kembali kepada Tuhan. Susunan seperti itu memberi jalan keluar bagi orang yang lelah menghadapi penolakan, dan jalan keluar itu tidak menuntut siapa pun berubah lebih dahulu selain dirinya sendiri.
Bandingkan pula susunan perintahnya. Yang diperintahkan bukan bertasbih kepada Tuhanmu, melainkan bertasbih dengan nama Tuhanmu. Susunan itu menempatkan nama-Nya sebagai sarana penyucian, bukan sekadar sasarannya. Terjemahan menambahkan kata menyebut di dalam kurung untuk menolong pembaca, dan tanda kurung itu jujur menandai bahwa kata tersebut bukan bagian dari teksnya.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menyerukan bertasbih, menutup rangkaian penegasan kebenaran wahyu. Ayat ini menutup surah dengan perintah, bukan dengan pernyataan. Sesudah empat puluh tujuh ayat berisi kisah, gambaran, pembelaan, dan bantahan, yang diperintahkan hanyalah menyucikan nama Tuhan. Perintahnya bukan berdebat, bukan membalas, dan bukan pula membuktikan. Penutup seperti itu memindahkan penyelesaiannya dari perdebatan ke ibadah, dan itulah jalan keluar yang ditunjuk Allah bagi orang yang sudah menyampaikan.
Seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 56:96, huruf demi huruf, dan ayat sebelumnya memuat rangkaian yang sama dengan 56:95. Dua ayat penutup surah ini sejajar dengan dua ayat penutup surah 56, dan kesejajaran berpasangan seperti itu tidak mungkin kebetulan. Rangkaian dua kata di tengahnya muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya adalah 96:1, yaitu ayat yang paling awal diturunkan. Rangkaian yang membuka seluruh wahyu muncul lagi untuk menutup surah ini.
Sifat penutupnya muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan sifat yang sama sudah dipakai di 69:33 tempat disebutkan bahwa orang yang celaka dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Sifat yang ditolaknya di tengah surah menjadi sifat yang disebut dalam perintah bertasbih di ujungnya. Yang satu menolak keagungan, dan yang lain diperintahkan menyucikan nama Yang Agung. Dua sikap terhadap satu sifat yang sama diletakkan di dua ujung yang berjauhan, dan seluruh surah ini sebenarnya berpusat pada satu perkara itu.
Renungan dan Hikmah
- Seluruh isi ayat ini sama persis dengan seluruh isi 56:96, huruf demi huruf, dan ayat sebelumnya memuat rangkaian yang sama dengan 56:95. Dua ayat penutup surah ini sejajar dengan dua ayat penutup surah 56. Kesejajaran berpasangan seperti itu tidak mungkin kebetulan, dan Allah menyusun dua surah yang berjauhan letaknya dengan penutup yang sama persis. Pembaca yang mengenali keduanya menerima bukti tentang kesatuan kitab ini tanpa perlu satu kalimat penjelas pun.
- Rangkaian dua kata di tengah ayat ini muncul di 4 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan salah satunya adalah 96:1, yaitu ayat yang paling awal diturunkan. Rangkaian yang membuka seluruh wahyu muncul lagi untuk menutup surah ini. Yang pertama kali diperintahkan adalah membaca dengan nama Tuhan, dan di sini diperintahkan bertasbih dengan nama Tuhan. Awal dan akhir wahyu sama-sama menyebut nama Tuhan, dan di antara keduanya terbentang segala yang perlu disampaikan.
- Sifat penutup ayat ini muncul di 19 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan sifat yang sama sudah dipakai di 69:33 tempat disebutkan bahwa orang yang celaka dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Agung. Yang satu menolak keagungan, dan yang lain diperintahkan menyucikan nama Yang Agung. Dua sikap terhadap satu sifat diletakkan di dua ujung yang berjauhan, dan seluruh surah berpusat pada perkara itu. Satu sifat yang sama bisa menjadi pangkal kecelakaan atau pangkal ibadah, dan yang membedakan hanyalah sikap kita terhadapnya.
- Sesudah empat puluh tujuh ayat berisi kisah, gambaran, pembelaan, dan bantahan, yang diperintahkan Allah hanyalah menyucikan nama Tuhan. Perintahnya bukan berdebat, bukan membalas, dan bukan pula membuktikan. Penutup seperti itu memindahkan penyelesaiannya dari perdebatan ke ibadah, dan itulah jalan keluar bagi orang yang sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Perintah yang paling sederhana ditaruh di ujung yang paling berat, dan itu bentuk kasih sayang yang jarang disadari.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk perintah tunggal, ditujukan kepada Nabi. Sepanjang surah ini sapaan tunggal hanya muncul dua kali: di 69:17 pada rangkaian tentang Arasy, dan di sini. Dua-duanya berada di tempat yang paling tinggi gambarannya, dan dua-duanya menyapa satu orang di tengah pembicaraan yang mencakup seluruh manusia. Sapaan tunggal di tengah pembicaraan yang mencakup semua orang adalah penghiburan yang diletakkan tanpa kata penghibur.
- Surah ini dibuka dengan sebutan untuk hari yang pasti terjadi dan ditutup dengan perintah bertasbih. Dari pertanyaan tentang hari itu, lewat kisah kaum terdahulu, gambaran kiamat, penghisaban dua orang, dan pembelaan atas wahyu, seluruhnya berujung pada satu perbuatan yang bisa dikerjakan sekarang juga. Kalau semua yang mahabesar itu berujung pada perbuatan sesederhana ini, apa lagi yang sedang kita tunggu? Menutup bacaan sepanjang ini dengan satu perbuatan yang bisa dikerjakan detik ini juga adalah cara mengajar yang sangat murah hati.