بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ

Seorang peminta meminta azab yang pasti terjadi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍsa'ala saa'ilun bi-'adzaabin waaqi'inseorang peminta meminta azab yang pasti terjadi

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. سَأَلَsa'alameminta
  2. سَائِلٌsaa'ilunseorang peminta
  3. بِعَذَابٍbi-'adzaabindengan azab
  4. وَاقِعٍwaaqi'inyang akan terjadi

Inti bacaan

Tantangan mengejek yang direspons serius: 'seorang peminta meminta azab yang pasti terjadi', pengakuan bahwa permintaan yang bernada menantang atau mengejek terhadap konsekuensi serius tetap akan dijawab dengan realitas, bukan diabaikan begitu saja.

Penjelasan pilihan kata

Ayat pembuka ini hanya empat patah, dan tiga di antaranya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (سَأَلَ, sa-ala), (سَائِلٌ, saa-ilun), dan (وَاقِعٍ, waaqi'in). Dua yang pertama berasal dari akar yang sama, satu berbentuk kata kerja dan satu berbentuk pelaku. Bunyi harfiahnya kira-kira 'meminta seorang peminta'. Susunan kata kerja diikuti pelakunya dari akar yang sama adalah cara penekanan yang khas, dan terjemahan 'seorang peminta meminta' menahan pengulangan itu meski terdengar berulang dalam bahasa Indonesia.

Akar (سَأَلَ, sa-ala) bisa berarti bertanya dan bisa berarti meminta. Dua makna itu berjauhan, dan yang menentukan adalah kata depan yang mengikutinya. Di sini ia diikuti huruf yang menandai sasaran permintaan, sehingga maknanya meminta, bukan bertanya. Terjemahan 'meminta azab' menahan pilihan itu. Kalau dibaca sebagai pertanyaan, seluruh ayat akan berubah menjadi orang yang menanyakan kapan azab datang, dan itu bacaan lain yang tidak dipilih di sini.

Kata (وَاقِعٍ, waaqi'in) berbentuk pelaku dari akar yang berarti jatuh atau terjadi. Ia berdiri sebagai sifat bagi azab yang disebut sebelumnya. Jadi bunyinya 'azab yang jatuh', dan terjemahan memakai 'yang pasti terjadi' untuk menahan kepastiannya. Bentuknya tidak tentu, sehingga tidak menunjuk azab tertentu yang sudah dikenal, melainkan azab sebagai jenis.

Yang paling perlu diperhatikan adalah siapa yang meminta. Teks tidak menyebutkan namanya, tidak pula menyebut jumlahnya lebih dari satu. Bentuk pelakunya tunggal dan tidak tentu, sehingga bunyinya 'seorang peminta', bukan 'si peminta itu'. Kekaburan tersebut dipertahankan dalam terjemahan. Menutupnya dengan keterangan tambahan berarti memilihkan satu bacaan yang sengaja dibiarkan terbuka.

Surah ini dibuka dengan permintaan, dan ditutup di 70:44 dengan hari yang diancamkan. Jadi apa yang diminta di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, dan jarak antara keduanya empat puluh tiga ayat. Permintaan yang diucapkan sebagai tantangan dijawab bukan dengan bantahan, melainkan dengan gambaran lengkap tentang hari itu sendiri.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Bentuk kata kerja pembukanya lampau, sehingga bunyinya 'telah meminta'. Yang direkam bukan permintaan yang sedang berlangsung, melainkan yang sudah diucapkan. Susunan itu menempatkan pembaca sesudah peristiwanya, bukan di tengahnya. Terjemahan 'seorang peminta meminta' memakai bentuk kini karena bahasa Indonesia tidak menandai waktu pada kata kerjanya, dan yang hilang adalah jarak antara saat permintaan diucapkan dan saat ia dilaporkan.

Perhatikan juga hal berikut. Perhatikan juga hal berikut. Huruf yang mendahului kata untuk azab menandai sasaran, dan itulah yang memastikan kata kerjanya berarti meminta. Tanpa huruf tersebut, susunannya akan menuntut objek langsung dan maknanya bergeser. Satu huruf memikul beban seluruh pembacaan ayat, dan ketelitian pada tingkat ini yang membedakan terjemahan yang menimbang dari terjemahan yang menebak.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan permintaan azab yang pasti terjadi bagi orang kafir. Ayat ini hanya empat patah, tetapi tiga di antaranya tidak dipakai di ayat mana pun yang lain. Kepadatan sebesar itu di kalimat pertama surah menandai bahwa yang diceritakan memang tidak diceritakan di tempat lain dengan cara yang sama.

Yang paling menghentak adalah isinya. Ada orang yang meminta azab. Bukan bertanya kapan, bukan pula meragukan adanya, melainkan meminta agar segera datang. Permintaan seperti itu hanya masuk akal kalau si peminta yakin hal tersebut tidak akan terjadi. Jadi permintaan itu sebenarnya bentuk pengingkaran yang dibungkus sebagai tantangan, dan Al-Qur'an merekamnya tanpa membantah lebih dulu.

Susunan kata kerja diikuti pelakunya dari akar yang sama adalah cara penekanan yang khas. Bunyi harfiahnya kira-kira 'meminta seorang peminta'. Pengulangan itu membuat perbuatan meminta terasa lebih menonjol daripada orang yang melakukannya, dan memang nama si peminta tidak disebutkan. Yang dicatat adalah perbuatannya, bukan pelakunya. Dan surah ini dibuka dengan permintaan lalu ditutup di 70:44 dengan hari yang diancamkan. Apa yang diminta di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, terpisah empat puluh tiga ayat, dan jawabannya bukan bantahan melainkan gambaran lengkap tentang hari itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Ada orang yang meminta azab, bukan bertanya kapan datangnya. Permintaan seperti itu hanya masuk akal kalau si peminta yakin hal tersebut tidak akan terjadi. Jadi permintaannya sebenarnya bentuk pengingkaran yang dibungkus sebagai tantangan. Allah merekamnya tanpa membantah lebih dulu, dan justru ketenangan itu yang membuat jawabannya di ayat-ayat berikutnya terasa lebih berat daripada bantahan langsung. Diamnya Allah terhadap tantangan bukan tanda lemah, melainkan tanda bahwa jawabannya sedang disiapkan.
  • Teks tidak menyebut nama si peminta, tidak pula menyebut jumlahnya. Bentuk pelakunya tunggal dan tidak tentu, sehingga bunyinya seorang peminta, bukan si peminta itu. Kekaburan tersebut dipertahankan dalam terjemahan. Allah mencatat perbuatannya, bukan orangnya. Menyebut nama akan membuat ayat ini terbaca sebagai catatan satu peristiwa; membiarkannya kabur membuatnya berlaku bagi siapa saja yang bersikap serupa. Kita mengenali diri lebih jujur dalam cermin yang tak bertuliskan nama.
  • Ayat pembuka ini hanya empat patah, dan tiga di antaranya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kepadatan sebesar itu di kalimat pertama surah menandai bahwa yang diceritakan memang tidak diceritakan di tempat lain dengan cara yang sama. Allah membuka surah dengan perbendaharaan yang tidak dipinjam dari mana pun. Kekhususan bahasa itu sudah menjadi tanda sebelum isinya sempat dipahami. Kekhususan bahasa dari Allah selalu menandai kekhususan isi yang dibawanya.
  • Akar kata kerja di ayat ini bisa berarti bertanya dan bisa berarti meminta. Dua makna itu berjauhan, dan yang menentukan adalah kata depan yang mengikutinya. Di sini ia diikuti huruf yang menandai sasaran permintaan. Kalau dibaca sebagai pertanyaan, seluruh ayat berubah menjadi orang yang menanyakan kapan azab datang. Satu huruf kecil menentukan apakah yang direkam Allah itu keingintahuan atau perlawanan. Membaca kitab Allah menuntut perhatian sampai ke huruf, bukan hanya sampai ke kata.
  • Kata sifat di penutup ayat berbentuk pelaku dari akar yang berarti jatuh atau terjadi. Bunyinya azab yang jatuh, dan terjemahan memakai yang pasti terjadi untuk menahan kepastiannya. Bentuknya tidak tentu, sehingga tidak menunjuk azab tertentu yang sudah dikenal. Allah memakai bentuk pelaku, bukan janji: yang disebut bukan azab yang akan dijatuhkan, melainkan azab yang sifatnya memang jatuh. Sifat yang melekat berbeda dari janji yang menunggu ditepati Allah.
  • Surah ini dibuka dengan permintaan dan ditutup di 70:44 dengan hari yang diancamkan. Apa yang diminta di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, terpisah empat puluh tiga ayat. Jawabannya bukan bantahan, melainkan gambaran lengkap tentang hari itu sendiri. Kalau sebuah tantangan dijawab dengan penjelasan sepanjang itu, apa yang sebenarnya sedang diberikan kepada si penantang selain kesempatan? Panjangnya jawaban Allah sering berbanding lurus dengan besarnya kesempatan yang diberikan.