لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌ
Bagi orang-orang kafir, yang tidak ada penolaknya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِلْكَافِرِينَ لَيْسَ لَهُ دَافِعٌli-l-kaafiriina laysa lahu daafi'unbagi orang-orang kafir, yang tidak ada penolaknya
Terjemahan per kata (4 kata)
- لِلْكَافِرِينَli-l-kaafiriinabagi orang-orang yang kufur
- لَيْسَlaysabukanlah
- لَهُlahubaginya
- دَافِعٌdaafi'unpenolak
Inti bacaan
Ketiadaan pertahanan bagi penolak: 'bagi orang-orang kafir, yang tidak ada penolaknya', penegasan bahwa konsekuensi yang ditantang untuk didatangkan sesungguhnya tidak memiliki mekanisme pencegahan bagi yang menolaknya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (دَافِعٌ, daafi'un) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku dari akar yang berarti menolak atau mendorong menjauh. Jadi bunyinya 'penolak', yaitu pihak yang sanggup menahan azab itu agar tidak jatuh. Bentuknya tidak tentu, dan ia berdiri sesudah penyangkal, sehingga cakupannya menyeluruh: tidak ada penolak mana pun, bukan sekadar tidak ada penolak tertentu.
Susunan kalimatnya perlu dicermati. Bagian pertama menyebut untuk siapa azab itu, lalu bagian keduanya menyatakan ketiadaan penolak. Kata yang menunjuk azab berada di bagian kedua sebagai penerima, sehingga bunyi harfiahnya kira-kira 'bagi orang-orang kafir, tidak ada baginya penolak'. Akhiran pada kata 'baginya' merujuk azab yang disebut di 70:1, bukan orang kafir. Terjemahan mempertahankan hubungan itu supaya tidak tertukar.
Kata (لِلْكَافِرِينَ, lilkaafiriina) memakai huruf yang menandai peruntukan, jadi bunyinya 'bagi orang-orang kafir'. Bentuknya jamak dan memakai penanda tertentu. Yang perlu dicatat, ayat ini menyempitkan sasaran azab yang di 70:1 disebut tanpa keterangan. Jadi dua ayat berurutan bergerak dari umum ke khusus: azab yang pasti terjadi, lalu azab yang tertuju kepada siapa.
Ayat ini juga hanya empat patah, sama seperti 70:1 dan 70:3. Tiga ayat pembuka surah ini masing-masing empat patah, susunan yang membuat pembukaannya terasa seperti tiga ketukan pendek berturut-turut. Baru di 70:4 kalimatnya memanjang menjadi sebelas patah. Perbandingan itu tajam dan tidak kebetulan.
Penutup ayat ini berbunyi tanwin dammah, berbeda dari 70:1 yang tanwin kasrah. Surah ini punya 43 penutup ayat yang berbeda dari 44 ayat; hanya satu kata yang berulang, yaitu penutup 70:42 dan 70:44. Keragaman sebesar itu jarang, dan ia membuat setiap ayat berdiri sendiri secara bunyi.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang menjatuhkan azab. Yang disebut hanya ketiadaan penolak. Baru di 70:3 sumbernya disebut. Jadi tiga ayat pembuka menahan satu keterangan penting sampai ayat ketiga, dan penahanan itu membuat penyebutan nama Allah di sana terasa sebagai jawaban, bukan sebagai pembukaan biasa.
Susunan (لَيْسَ لَهُ, laysa lahu) di tengah ayat memakai kata kerja penyangkal yang khusus dipakai untuk menyangkal keadaan. Ia berbeda dari penyangkal biasa: yang ini menyangkut ada atau tidaknya sesuatu, bukan terjadi atau tidaknya. Terjemahan 'yang tidak ada penolaknya' menahan penyangkalan keberadaan tersebut, dan pilihan kata itu menutup celah bagi pembacaan yang menganggap penolaknya ada tetapi kebetulan tidak bertindak.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tidak ada yang dapat menolak azab tersebut. Ayat ini menjawab permintaan di 70:1 tanpa menyanggahnya. Yang diminta memang akan terjadi, dan yang ditambahkan adalah bahwa tidak ada yang sanggup menahannya. Jadi jawaban atas tantangan bukan penolakan melainkan penegasan, dan penegasan itu justru berbalik menjadi ancaman bagi si penantang sendiri.
Kata untuk penolak di sini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berbentuk pelaku, bukan perbuatan. Yang dinyatakan tidak ada bukan tindakan menolak, melainkan pihak yang bisa melakukannya. Perbedaan itu menutup kemungkinan yang lebih rapat. Kalau yang disangkal tindakannya, orang masih bisa membayangkan ada pihak yang sanggup meski tidak bertindak. Kalau yang disangkal pihaknya, tidak ada yang tersisa untuk dibayangkan.
Susunan kalimatnya menyempitkan sasaran. Di 70:1 azab disebut tanpa keterangan tentang siapa yang menerimanya; di sini ia disebut tertuju kepada orang-orang kafir. Dua ayat berurutan bergerak dari umum ke khusus. Dan akhiran pada kata yang berarti baginya merujuk azab, bukan orang kafir, sehingga bunyinya azab itu tidak ada penolaknya. Terjemahan mempertahankan hubungan tersebut supaya tidak tertukar, sebab kalau akhirannya dibaca merujuk orang kafir, kalimatnya berubah menjadi tentang orang yang tidak punya pembela, dan itu bacaan lain yang tidak dipilih di sini.
Renungan dan Hikmah
- Yang diminta di 70:1 memang akan terjadi, dan yang ditambahkan di sini adalah bahwa tidak ada yang sanggup menahannya. Jawaban atas tantangan bukan penolakan melainkan penegasan. Penegasan itu justru berbalik menjadi ancaman bagi si penantang sendiri. Allah tidak berdebat tentang apakah hal itu akan terjadi; Dia menambahkan keterangan yang membuat permintaan tersebut terdengar jauh lebih berat daripada yang dimaksudkan pengucapnya. Allah menjawab tanpa berdebat, dan justru itu yang membuat jawabannya sulit dilawan. Sanggupkah kita menerima jawaban yang membenarkan pertanyaan kita tetapi membalikkan akibatnya?
- Kata untuk penolak di ayat ini berbentuk pelaku, bukan perbuatan. Yang dinyatakan tidak ada bukan tindakan menolak, melainkan pihak yang bisa melakukannya. Perbedaan itu menutup kemungkinan lebih rapat. Kalau yang disangkal tindakannya, orang masih bisa membayangkan ada pihak yang sanggup meski tidak bertindak. Kalau yang disangkal pihaknya, tidak ada lagi yang tersisa untuk dibayangkan sebagai jalan keluar. Allah menutup kemungkinan pada tingkat yang paling dalam, bukan pada permukaannya.
- Di 70:1 azab disebut tanpa keterangan tentang siapa yang menerimanya; di sini ia disebut tertuju kepada orang-orang kafir. Dua ayat berurutan bergerak dari umum ke khusus. Allah menyempitkan sasaran secara bertahap, bukan sekaligus. Cara menyampaikan seperti itu memberi ruang bagi pendengar untuk lebih dulu menerima kenyataan yang umum sebelum menemukan dirinya termasuk atau tidak di dalam yang khusus. Kabar berat yang datang sekaligus biasanya ditolak sebelum sempat dipahami.
- Akhiran pada kata yang berarti baginya merujuk azab yang disebut di 70:1, bukan orang kafir. Bunyinya azab itu tidak ada penolaknya. Terjemahan mempertahankan hubungan tersebut supaya tidak tertukar. Kalau akhirannya dibaca merujuk orang kafir, kalimatnya berubah menjadi tentang orang yang tidak punya pembela. Satu akhiran menentukan apakah yang dibicarakan sifat azabnya atau keadaan penerimanya. Ketelitian pada akhiran menjaga ayat tetap berbicara tentang pokok yang dimaksud Allah.
- Ayat ini hanya empat patah, sama seperti 70:1 dan 70:3. Tiga ayat pembuka surah masing-masing empat patah, susunan yang membuat pembukaannya terasa seperti tiga ketukan pendek. Baru di 70:4 kalimatnya memanjang menjadi sebelas patah. Perbandingan itu tajam dan tidak kebetulan. Bentuk kalimat ikut menyiapkan pendengar sebelum isi yang lebih berat disampaikan. Irama tiga ketukan pendek membuat telinga siap menerima yang panjang sesudahnya.
- Penutup ayat ini berbeda dari penutup 70:1, dan begitu seterusnya. Surah ini punya 43 penutup ayat yang berbeda dari 44 ayat; hanya satu kata yang berulang, yaitu penutup 70:42 dan 70:44. Keragaman sebesar itu jarang, dan ia membuat setiap ayat berdiri sendiri secara bunyi. Bandingkan dengan surah 71, yang 24 ayatnya berturut-turut memakai satu rima yang sama. Keragaman bunyi di surah ini menandai bahwa Allah tidak memakai satu pola untuk segala hal.