مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِ
Dari Allah, Pemilik tempat-tempat naik.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مِنَ اللَّهِ ذِي الْمَعَارِجِmina llaahi dzii l-ma'aarijidari Allah, Pemilik tempat-tempat naik
Terjemahan per kata (4 kata)
- مِنَminadari
- اللَّهِllaahiAllah
- ذِيdziipemilik
- الْمَعَارِجِl-ma'aarijitempat-tempat naik
Inti bacaan
Sumber otoritas yang teridentifikasi: 'dari Allah, Pemilik tempat-tempat naik', penegasan bahwa konsekuensi ini berasal dari sumber dengan kendali menyeluruh atas dimensi vertikal eksistensi, bukan kekuatan acak tanpa struktur.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمَعَارِجِ, al-ma'aariji) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini, dan dari kata inilah nama surah diambil. Ia bentuk jamak dari kata yang berarti tempat naik atau tangga. Bentuk jamaknya penting: bukan satu tangga melainkan banyak. Terjemahan 'tempat-tempat naik' menahan kejamakan itu, sebab menunggalkannya akan menyempitkan gambaran yang sengaja dibuat luas.
Susunan (ذِي الْمَعَارِجِ, dzii al-ma'aariji) memakai kata yang berarti 'pemilik' dan berkedudukan sebagai keterangan bagi nama Allah yang disebut sebelumnya. Jadi bunyinya 'Allah, Pemilik tempat-tempat naik'. Sebutan ini tidak muncul di tempat lain mana pun, sehingga tidak ada pemakaian pembanding untuk memastikan gambarannya. Terjemahan mempertahankan bentuk kepemilikan itu apa adanya tanpa menerangkannya.
Ayat ini menjawab pertanyaan yang belum diucapkan: azab itu dari mana. Dua ayat sebelumnya menyebut bahwa azab pasti terjadi dan tidak ada penolaknya, tetapi belum menyebut sumbernya. Di sini sumbernya disebut. Susunan tiga ayat itu bergerak rapi: apa yang terjadi, kepada siapa, lalu dari siapa. Masing-masing empat patah.
Akar (الْمَعَارِجِ, al-ma'aariji) muncul lagi di 70:4 sebagai kata kerja. Jadi 70:3 menyebut tempat naik dan 70:4 menyebut perbuatan naik. Dua ayat berurutan memakai akar yang sama dengan dua bentuk berbeda, dan hubungan itu larut dalam terjemahan Indonesia karena kita memakai 'tempat naik' dan 'naik' sebagai dua rangkaian yang berbeda.
Perlu dicatat bahwa nama Allah disebut terang-terangan di ayat ini. Sepanjang surah, nama itu muncul dua kali saja, yaitu di sini dan di 70:11 dalam bentuk yang berbeda. Kelangkaan penyebutan nama di surah sepanjang empat puluh empat ayat cukup mencolok, dan ia membuat penyebutan di ayat ketiga ini terasa sebagai penegasan sumber, bukan sekadar penyebutan biasa.
Huruf pembuka ayat ini menandai asal, sehingga bunyinya 'dari Allah'. Ia menyambung ke azab yang disebut di 70:1, bukan ke penolak yang disebut di 70:2. Jadi tiga ayat pembuka sebenarnya satu kalimat yang dipotong nomor: azab yang pasti terjadi, bagi orang kafir, dari Allah. Membacanya terpisah akan menyisakan tiga potongan yang masing-masing terasa menggantung.
Satu lapis lagi perlu dibuka. Susunan kepemilikan yang dipakai di sini termasuk bentuk yang lazim untuk menyebut sifat Allah lewat apa yang dimiliki-Nya, bukan lewat perbuatan-Nya. Bentuk semacam itu menyebut kedudukan, bukan tindakan. Terjemahan 'Pemilik tempat-tempat naik' menahan susunan tersebut, dan menggantinya dengan kalimat kerja akan mengubah keterangan tentang kedudukan menjadi laporan tentang perbuatan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan sumber azab: Allah, Pemilik tempat-tempat naik. Ayat ini menjawab pertanyaan yang belum diucapkan: azab itu dari mana. Dua ayat sebelumnya menyebut bahwa azab pasti terjadi dan tidak ada penolaknya, tetapi belum menyebut sumbernya. Susunan tiga ayat pembuka itu bergerak rapi: apa yang terjadi, kepada siapa, lalu dari siapa. Masing-masing empat patah, seperti tiga ketukan yang sama panjangnya.
Sebutan yang dipakai untuk Allah di sini tidak muncul di tempat lain mana pun. Ia berarti Pemilik tempat-tempat naik, dan bentuk jamaknya penting: bukan satu tangga melainkan banyak. Terjemahan menahan kejamakan itu, sebab menunggalkannya akan menyempitkan gambaran yang sengaja dibuat luas. Dan dari kata inilah nama surah diambil, sehingga seluruh surah dinamai dengan sebutan yang hanya muncul sekali di dalamnya.
Yang menarik, sebutan itu berkaitan dengan naik, bukan dengan turun. Padahal yang sedang dibicarakan adalah azab yang jatuh. Jadi sumber azab disebut dengan sebutan tentang ketinggian yang didaki, bukan tentang kekuatan yang menghukum. Ayat 70:4 menjelaskan apa yang mendaki di sana, dan yang disebut bukan azab melainkan malaikat dan Ruh. Susunan itu memindahkan perhatian dari hukuman kepada jarak: yang membuat azab tidak bisa ditolak bukan besarnya, melainkan ketinggian tempat asalnya. Dan nama Allah hanya disebut dua kali di sepanjang surah ini, sehingga penyebutan di ayat ketiga terasa sebagai penegasan sumber.
Renungan dan Hikmah
- Dua ayat sebelumnya menyebut bahwa azab pasti terjadi dan tidak ada penolaknya, tetapi belum menyebut sumbernya. Di sini sumbernya disebut. Susunan tiga ayat pembuka bergerak rapi: apa yang terjadi, kepada siapa, lalu dari siapa. Allah menyebut diri-Nya paling akhir dari tiga keterangan itu. Urutan seperti itu membuat pendengar lebih dulu menghadapi kenyataannya sebelum menghadapi siapa yang berdiri di belakangnya. Allah menempatkan diri-Nya di akhir keterangan, bukan di awal. Beranikah kita menghadapi kenyataan lebih dulu sebelum bertanya siapa yang berdiri di belakangnya?
- Sebutan yang dipakai untuk Allah di ayat ini berkaitan dengan naik, bukan dengan turun, padahal yang dibicarakan adalah azab yang jatuh. Sumber azab disebut dengan sebutan tentang ketinggian yang didaki, bukan tentang kekuatan yang menghukum. Susunan itu memindahkan perhatian dari hukuman kepada jarak. Yang membuat azab tidak bisa ditolak bukan besarnya, melainkan ketinggian tempat asalnya. Jarak dari Allah tidak diukur dengan langkah, dan itu yang membuatnya tak terjangkau.
- Kata yang menjadi nama surah ini berbentuk jamak: bukan satu tempat naik melainkan banyak. Terjemahan menahan kejamakan itu, sebab menunggalkannya akan menyempitkan gambaran yang sengaja dibuat luas. Allah tidak menyebut satu jalan menuju ketinggian-Nya, melainkan banyak. Bentuk jamak yang sekilas hanya soal tata bahasa ternyata membawa gambaran yang jauh lebih luas daripada bentuk tunggalnya. Bentuk jamak dalam kalam Allah jarang sekadar soal tata bahasa.
- Kata yang menjadi nama surah ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Jadi seluruh surah dinamai dengan sebutan yang hanya muncul sekali di dalamnya. Tidak ada pemakaian pembanding untuk memastikan gambarannya. Nama yang dipakai untuk menandai sesuatu tidak selalu yang paling sering disebut; kadang justru yang paling jarang, karena itulah yang paling khas. Yang paling khas biasanya juga yang paling jarang disebut Allah.
- Nama Allah disebut terang-terangan di ayat ini. Sepanjang surah, nama itu muncul dua kali saja, di sini dan di 70:11 dalam bentuk yang berbeda. Kelangkaan penyebutan di surah sepanjang empat puluh empat ayat cukup mencolok. Penyebutan di ayat ketiga ini terasa sebagai penegasan sumber, bukan sekadar sebutan biasa, dan sisanya dibiarkan dirujuk lewat kata pengganti. Penyebutan nama Allah yang jarang membuat setiap kemunculannya terasa disengaja.
- Akar kata yang dipakai di ayat ini muncul lagi di 70:4 dalam bentuk kata kerja. Jadi 70:3 menyebut tempat naik dan 70:4 menyebut perbuatan naik. Dua ayat berurutan memakai akar yang sama dengan dua bentuk berbeda. Hubungan itu larut dalam terjemahan Indonesia karena kita memakai dua rangkaian kata yang berlainan, dan yang hilang adalah pengikat antara dua ayat yang sebenarnya satu tarikan. Pengikat antarayat sering hilang dalam terjemahan, dan menyebutnya adalah bentuk kejujuran.