تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Para malaikat dan Ruh naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍta'ruju l-malaa'ikatu wa-r-ruuhu ilayhi fii yawmin kaana miqdaaruhu khamsiina alfa sanatinpara malaikat dan Ruh naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun
Terjemahan per kata (11 kata)
- تَعْرُجُta'rujunaik
- الْمَلَائِكَةُl-malaa'ikatupara malaikat
- وَالرُّوحُwa-r-ruuhudan Ruh
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- فِيfiidalam
- يَوْمٍyawminhari
- كَانَkaanaadalah
- مِقْدَارُهُmiqdaaruhukadarnya
- خَمْسِينَkhamsiinalima puluh
- أَلْفَalfaseribu
- سَنَةٍsanatintahun
Inti bacaan
Skala waktu yang melampaui pemahaman manusia: 'para malaikat dan Ruh naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun', pengingat bahwa kerangka waktu ilahi beroperasi pada skala yang jauh melampaui pengalaman manusia sehari-hari, dasar bagi kerendahan hati dalam memahami dimensi kosmik.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(Jibril)' dan '(menghadap)' tidak dipakai: nama malaikat tidak eksplisit di ayat ini, hanya 'ar-ruuh' secara generik.
Bentuk (تَعْرُجُ, ta'ruju) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berakar sama dengan kata yang menjadi nama surah di 70:3. Yang di sana tempat naik, yang di sini perbuatan naik. Bentuknya menandai perbuatan yang sedang dan terus berlangsung, bukan yang selesai sekali. Terjemahan 'naik' menahan makna dasarnya, sedangkan sifat berkelanjutannya tersimpan dalam bentuk kata kerjanya.
Kata (وَالرُّوحُ, war-ruuhu) muncul di 2 ayat: 70:4 dan 97:4. Di 97:4 ia juga disebut berdampingan dengan malaikat, dalam kalimat tentang turunnya mereka. Jadi dua ayat yang memuat kata ini menyebut arah yang berlawanan: yang di sini naik, yang di sana turun. Draf awal menambahkan '(Jibril)' di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai karena nama tersebut tidak eksplisit di teks.
Kata (مِقْدَارُهُ, miqdaaruhu) muncul di 2 ayat: 32:5 dan 70:4. Ia berarti ukuran atau kadar, dan akhirannya merujuk hari yang disebut sebelumnya. Menariknya, di 32:5 kadar hari itu disebut seribu tahun, sedangkan di sini lima puluh ribu tahun. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua angka yang berbeda, dan masing-masing berdiri dalam kalimat tentang hal yang berlainan.
Kata (خَمْسِينَ, khamsiina) muncul di 2 ayat: 29:14 dan 70:4. Di 29:14 angka itu berdiri dalam kalimat tentang Nuh yang tinggal di antara kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Bersamanya, (أَلْفَ, alfa) muncul di 4 ayat: 2:96, 29:14, 32:5, dan 70:4. Jadi 29:14 dan ayat ini berbagi dua kata bilangan sekaligus, tetapi dipakai untuk perkara yang sama sekali berbeda: yang satu umur seorang utusan, yang lain kadar satu hari.
Ayat ini sebelas patah, hampir tiga kali panjang tiga ayat sebelumnya yang masing-masing empat patah. Perbandingan itu mencolok. Sesudah tiga ketukan pendek, kalimatnya memanjang dan membawa angka yang paling besar di surah ini.
Susunan (فِي يَوْمٍ, fii yawmin) memakai huruf yang menandai wadah waktu, jadi bunyinya 'dalam sehari'. Bentuk kata untuk hari di sini tidak tentu, sehingga tidak menunjuk hari tertentu yang sudah dikenal. Terjemahan 'dalam sehari' menahan ketidaktentuan itu. Menerjemahkannya 'pada hari itu' akan menyempitkannya menjadi Hari Kiamat, dan penyempitan tersebut memutuskan sesuatu yang oleh teks dibiarkan terbuka.
Masih ada yang belum disebut. Perlu dicatat pula bahwa yang naik disebut dua: malaikat dalam bentuk jamak, lalu Ruh dalam bentuk tunggal. Keduanya dirangkai dengan huruf penyambung, sehingga berdiri sejajar sebagai dua pihak yang berbeda. Susunan yang sama dipakai di 97:4. Dua ayat itu sama-sama menyebut keduanya berdampingan, dan sama-sama menempatkan yang tunggal sesudah yang jamak.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan skala waktu kosmis kenaikan malaikat dan Ruh kepada Allah. Ayat ini memanjang tiba-tiba sesudah tiga ayat pendek berturut-turut. Sebelas patah kata, hampir tiga kali panjang masing-masing ayat sebelumnya. Dan yang dibawanya adalah angka terbesar di surah ini. Perbandingan bentuk itu bukan kebetulan; kalimat yang memuat jarak paling jauh diberi ruang paling panjang.
Kata kerjanya berakar sama dengan nama surah di 70:3. Yang di sana tempat naik, yang di sini perbuatan naik. Bentuknya menandai perbuatan yang terus berlangsung, bukan yang selesai sekali. Jadi yang digambarkan bukan satu peristiwa kenaikan, melainkan kenaikan yang berlangsung terus. Dan yang naik disebut dua: malaikat dan Ruh. Kata untuk yang kedua muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 97:4, menyebut mereka turun. Dua ayat yang memuat kata itu menyebut arah yang berlawanan.
Angka yang disebut perlu dibaca dengan hati-hati. Kata untuk kadar muncul di 2 ayat, dan di 32:5 kadar hari itu disebut seribu tahun sedangkan di sini lima puluh ribu tahun. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua angka berbeda, masing-masing dalam kalimat tentang hal yang berlainan. Menariknya lagi, dua kata bilangan di ayat ini juga muncul bersama di 29:14, ayat tentang Nuh yang tinggal di antara kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh. Bilangan yang sama dipakai untuk umur seorang utusan dan untuk kadar satu hari, dan perbandingan itu memperlihatkan bahwa ukuran waktu dalam Al-Qur'an tidak pernah berdiri sebagai angka telanjang.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini sebelas patah, hampir tiga kali panjang masing-masing tiga ayat sebelumnya. Dan yang dibawanya adalah angka terbesar di surah ini. Perbandingan bentuk itu bukan kebetulan. Kalimat yang memuat jarak paling jauh diberi ruang paling panjang. Allah memakai panjang kalimat sebagai bagian dari gambaran, sehingga pembaca merasakan jaraknya sebelum sempat menghitung angkanya. Allah menyusun bentuk kalimat sebagai bagian dari isinya, bukan sekadar wadah.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk yang menandai perbuatan sedang dan terus berlangsung, bukan yang selesai sekali. Jadi yang digambarkan bukan satu peristiwa kenaikan, melainkan kenaikan yang tidak berhenti. Akarnya sama dengan nama surah di 70:3. Yang di sana tempat naik, yang di sini perbuatan naik. Gambaran yang tersusun bukan tentang satu kejadian, melainkan tentang lalu lintas yang tidak pernah sepi. Langit dalam gambaran ini tidak pernah sunyi barang sekejap.
- Kata untuk Ruh di ayat ini muncul di 2 ayat: 70:4 dan 97:4. Di 97:4 ia juga disebut berdampingan dengan malaikat, tetapi dalam kalimat tentang turunnya mereka. Dua ayat yang memuat kata ini menyebut arah yang berlawanan: yang di sini naik, yang di sana turun. Allah menggambarkan dua arah dengan bahan yang sama, dan pasangan itu melengkapi gambaran tentang hubungan langit dan bumi. Hubungan itu berjalan bolak-balik, tidak hanya dari atas ke bawah.
- Kata untuk kadar di ayat ini muncul di 2 ayat: 32:5 dan 70:4. Di 32:5 kadar hari itu disebut seribu tahun, sedangkan di sini lima puluh ribu tahun. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua angka berbeda, masing-masing dalam kalimat tentang hal yang berlainan. Angka dalam Al-Qur'an selalu terikat pada kalimatnya, dan mencabutnya dari kalimat itu menghasilkan pertentangan yang sebenarnya tidak ada. Perdebatan tentang bilangan sering lahir dari kutipan yang kehilangan kalimatnya.
- Dua kata bilangan di ayat ini juga muncul bersama di 29:14, ayat tentang Nuh yang tinggal di antara kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh. Bilangan yang sama dipakai untuk umur seorang utusan dan untuk kadar satu hari. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa ukuran waktu tidak pernah berdiri sebagai angka telanjang. Seumur hidup Nuh dan sehari di sisi Allah ternyata disebut dengan bilangan yang sama. Ukuran waktu di sisi Allah tidak sebanding dengan ukuran yang kita pakai.
- Draf awal menambahkan nama seorang malaikat di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai karena nama tersebut tidak eksplisit di teks. Yang disebut hanya Ruh secara umum. Menambahkan nama berarti memutuskan sesuatu yang oleh Allah dibiarkan tidak disebut. Beranikah kita membiarkan yang samar tetap samar, atau kita selalu merasa perlu melengkapinya supaya terasa lebih tuntas? Melengkapi yang sengaja dibiarkan samar oleh Allah adalah bentuk kelancangan yang halus.