فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا
Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًاfa-shbir shabran jamiilanmaka bersabarlah dengan kesabaran yang baik
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَاصْبِرْfa-shbirmaka bersabarlah
- صَبْرًاshabrankesabaran
- جَمِيلًاjamiilanyang baik
Inti bacaan
Kualitas kesabaran yang spesifik: 'bersabarlah dengan kesabaran yang baik', kualifikasi bahwa tidak semua bentuk kesabaran setara, ada standar kesabaran yang 'baik' (tanpa keluhan berlebihan, tanpa dendam), model ketahanan yang dijaga kualitasnya bukan sekadar bertahan secara pasif.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini hanya tiga patah, salah satu yang terpendek di surah ini. Kata (صَبْرًا, shabran) muncul di 8 ayat: 2:250, 7:126, 18:67, 18:72, 18:75, 18:78, 18:82, dan 70:5. Lima dari delapan berada di surah 18, seluruhnya dalam kisah pertemuan Musa dengan hamba yang diberi ilmu. Jadi kata ini paling padat justru di satu kisah tentang orang yang berkali-kali gagal bersabar.
Kata (جَمِيلًا, jamiilan) muncul di 4 ayat: 33:28, 33:49, 70:5, dan 73:10. Menariknya, di 73:10 kata itu juga berdiri dalam kalimat perintah kepada Nabi, yaitu perintah menjauhi mereka dengan cara yang baik. Dua surah yang berdekatan memakai kata sifat yang sama untuk dua perintah yang bersambungan: bersabar dengan cara yang baik, dan menjauh dengan cara yang baik.
Susunan (فَاصْبِرْ صَبْرًا, fashbir shabran) memakai kata kerja diikuti bentukan benda dari akar yang sama. Ini cara penekanan yang khas dalam bahasa Arab, dan bunyi harfiahnya kira-kira 'bersabarlah dengan kesabaran'. Terjemahan menahan pengulangan itu apa adanya, sebab tanpa pengulangan tersebut kata sifat yang menyusul tidak punya tempat bersandar.
Yang perlu dicatat, (جَمِيلًا, jamiilan) melekat pada kesabaran, bukan pada orang yang bersabar. Jadi yang diminta bukan 'bersabarlah dengan baik' melainkan 'bersabarlah dengan kesabaran yang baik'. Perbedaan itu halus tetapi ada. Yang dinilai adalah mutu kesabarannya, bukan mutu orangnya, dan penilaian itu berdiri pada perbuatan yang bisa diperiksa.
Huruf pembuka ayat ini menandai akibat, sehingga bunyinya 'maka bersabarlah'. Ia menyambungkan perintah ini ke keterangan di 70:4 tentang hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Jadi perintah bersabar berdiri di atas keterangan tentang ukuran waktu di sisi Allah. Susunan itu masuk akal: yang membuat kesabaran mungkin adalah pengetahuan bahwa ukuran waktu yang kita pakai bukan satu-satunya ukuran.
Perlu dicatat bahwa perintah ini ditujukan kepada satu orang, bukan kepada orang banyak. Akhirannya menunjuk pihak kedua tunggal. Sepanjang surah ini, sapaan tunggal muncul dua kali saja: di sini dan di 70:36. Dua-duanya menyapa sang penerima wahyu, dan dua-duanya berada di titik ketika perlakuan orang lain terhadapnya sedang dibicarakan.
Hal berikut ini pun menentukan. Sifat di penutup ayat berbentuk tidak tentu, sehingga bunyinya 'kesabaran yang baik', bukan 'kesabaran yang baik itu'. Bentuk tidak tentu itu membuat cakupannya terbuka: bukan satu jenis kesabaran yang sudah ditetapkan, melainkan kesabaran mana pun yang memenuhi sifat tersebut. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu tanpa menutupnya dengan keterangan tambahan.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan kesabaran sebagai respons terhadap tantangan orang kafir. Ayat ini menghubungkan dua hal yang tampak tidak berkaitan. Ayat sebelumnya menyebut hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun, dan ayat ini memerintahkan bersabar. Huruf pembukanya menandai akibat, sehingga perintah bersabar berdiri di atas keterangan tentang ukuran waktu di sisi Allah. Susunan itu masuk akal. Yang membuat kesabaran mungkin adalah pengetahuan bahwa ukuran waktu yang kita pakai bukan satu-satunya ukuran.
Kata sifat yang dipakai melekat pada kesabaran, bukan pada orang yang bersabar. Jadi yang diminta bukan bersabarlah dengan baik melainkan bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Perbedaan itu halus tetapi ada. Yang dinilai adalah mutu kesabarannya, bukan mutu orangnya, dan penilaian itu berdiri pada perbuatan yang bisa diperiksa. Kesabaran punya bentuk yang baik dan bentuk yang buruk, dan Al-Qur'an menyebut yang pertama.
Sebaran kata untuk kesabaran di ayat ini patut diperhatikan. Ia muncul di 8 ayat, dan lima di antaranya berada di surah 18, seluruhnya dalam kisah pertemuan Musa dengan hamba yang diberi ilmu. Kata ini paling padat justru di satu kisah tentang orang yang berkali-kali gagal bersabar. Dan kata sifatnya muncul lagi di 73:10, dalam perintah menjauhi mereka dengan cara yang baik. Dua surah yang berdekatan memakai sifat yang sama untuk dua perintah yang bersambungan: bersabar dengan cara yang baik, lalu menjauh dengan cara yang baik. Yang diminta bukan menahan diri sampai meledak, melainkan menahan diri dengan bentuk yang tetap terjaga.
Renungan dan Hikmah
- Huruf pembuka ayat ini menandai akibat, sehingga perintah bersabar berdiri di atas keterangan di 70:4 tentang hari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. Yang membuat kesabaran mungkin adalah pengetahuan bahwa ukuran waktu yang kita pakai bukan satu-satunya ukuran. Allah tidak memerintahkan sabar tanpa alasan; Dia lebih dulu memperlihatkan bahwa yang terasa lama bagi kita tidak berukuran sama di sisi-Nya. Allah memperlihatkan alasannya lebih dulu, baru menuntut sikapnya. Kalau ukuran waktu kita bukan satu-satunya, apa lagi yang selama ini kita anggap mutlak?
- Kata sifat di ayat ini melekat pada kesabaran, bukan pada orang yang bersabar. Yang diminta bukan bersabarlah dengan baik melainkan bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Yang dinilai adalah mutu kesabarannya, dan penilaian itu berdiri pada perbuatan yang bisa diperiksa. Kesabaran punya bentuk yang baik dan bentuk yang buruk, dan Allah menyebut yang pertama sebagai yang diminta. Allah menilai bentuk perbuatan, bukan sebutan yang melekat pada pelakunya.
- Kata untuk kesabaran di ayat ini muncul di 8 ayat, dan lima di antaranya berada di surah 18, seluruhnya dalam kisah pertemuan Musa dengan hamba yang diberi ilmu. Kata ini paling padat justru di satu kisah tentang orang yang berkali-kali gagal bersabar. Allah menempatkan kata itu paling sering bukan di kisah keberhasilan, melainkan di kisah tentang betapa sulitnya menahan diri ketika sesuatu tidak dipahami. Kisah yang dipilih Allah untuk mengajarkan sabar justru kisah tentang gagal bersabar.
- Kata sifat di ayat ini muncul di 4 ayat: 33:28, 33:49, 70:5, dan 73:10. Di 73:10 ia berdiri dalam perintah menjauhi mereka dengan cara yang baik. Dua surah yang berdekatan memakai sifat yang sama untuk dua perintah yang bersambungan: bersabar dengan cara yang baik, lalu menjauh dengan cara yang baik. Yang diminta bukan menahan diri sampai meledak, melainkan menahan diri dengan bentuk yang tetap terjaga. Yang meledak di ujung menandakan penahanan yang salah bentuk sejak awal.
- Susunan di ayat ini memakai kata kerja diikuti bentukan benda dari akar yang sama. Bunyi harfiahnya kira-kira bersabarlah dengan kesabaran. Terjemahan menahan pengulangan itu apa adanya, sebab tanpa pengulangan tersebut kata sifat yang menyusul tidak punya tempat bersandar. Bentuk yang terasa berlebihan dalam bahasa Indonesia ternyata memikul beban tata bahasa yang tidak bisa dihilangkan. Merapikannya berarti membuang tiang yang sedang menyangga atapnya.
- Ayat ini hanya tiga patah, sedangkan ayat sebelumnya sebelas. Sesudah kalimat terpanjang di bagian pembuka, perintahnya jatuh dalam tiga kata. Perbandingan itu membuat perintahnya terdengar tegas dan tidak menawar. Allah memakai panjang pendek kalimat sebagai bagian dari cara menyampaikan, dan pergantian mendadak seperti ini selalu menandai perpindahan dari keterangan menuju tuntutan. Tuntutan yang datang sesudah keterangan panjang selalu terasa lebih ringan dipikul.