إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا
Sesungguhnya mereka memandangnya jauh,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًاinnahum yarawnahu ba'iidansesungguhnya mereka memandangnya jauh
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- يَرَوْنَهُyarawnahumereka melihatnya
- بَعِيدًاba'iidanyang jauh
Inti bacaan
Persepsi manusia tentang jarak waktu: 'sesungguhnya mereka memandangnya jauh', pengakuan bahwa manusia cenderung menganggap konsekuensi masa depan sebagai sesuatu yang jauh dan tidak mendesak, bias psikologis yang mempengaruhi keseriusan persiapan.
Penjelasan pilihan kata
Bentuk (يَرَوْنَهُ, yarawnahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akhirannya merujuk hari yang disebut di 70:4, bukan azab di 70:1. Bentuknya menandai perbuatan yang berlangsung terus, sehingga bunyinya 'mereka terus memandangnya'. Terjemahan 'mereka memandangnya' menahan makna dasarnya, sedangkan sifat berkelanjutannya larut.
Kata (بَعِيدًا, ba'iidan) muncul di 6 ayat: 3:30, 4:60, 4:116, 4:136, 4:167, dan 70:6. Di lima ayat lainnya kata itu hampir selalu mengikuti kata yang berarti kesesatan, membentuk ungkapan tentang kesesatan yang jauh. Hanya di sini ia berdiri sebagai keterangan tentang jarak waktu, bukan jarak kesesatan. Perbedaan pemakaian itu mencolok, dan ia membuat ayat ini terasa berdiri sendiri di antara pemakaian yang lain.
Kedudukan (بَعِيدًا, ba'iidan) perlu dicermati. Ia berdiri sebagai keterangan keadaan bagi objek, bukan sebagai sifat yang melekat pada hari itu. Jadi bunyinya bukan 'mereka melihat hari yang jauh', melainkan 'mereka memandangnya dalam keadaan jauh'. Yang jauh adalah pandangan mereka, bukan harinya. Perbedaan itu menentukan seluruh isi ayat, dan terjemahan 'memandangnya jauh' berusaha menahan kedudukan tersebut.
Sisi lain ayat ini juga penting. Ayat ini berpasangan langsung dengan 70:7, dan keduanya memakai akar yang sama dengan pelaku berbeda. Di sini pelakunya mereka; di sana pelakunya Kami. Susunan berpasangan seperti itu jarang terjadi sedekat ini, dan yang dibandingkan bukan dua pendapat melainkan dua penglihatan atas benda yang sama.
Pembuka (إِنَّهُمْ, innahum) menandai penegasan, sehingga bunyinya 'sesungguhnya mereka'. Penanda yang sama dipakai di 70:7 dalam bentuk yang berbeda. Dua ayat berurutan sama-sama dibuka penegasan, dan penegasan yang berhadapan seperti itu mempertajam pertentangannya.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Perlu dicatat bahwa 70:6 dan 70:7 bersama-sama hanya lima patah kata. Dua ayat terpendek yang berdampingan di surah ini justru memikul pertentangan yang paling menentukan. Yang satu tiga patah, yang lain dua patah. Kependekan itu membuat perbandingannya jatuh secepat dua ketukan, tanpa satu pun kata penghubung yang melunakkan tabrakannya.
Perhatikan juga hal berikut. Susunan pelaku di dua ayat itu juga berlawanan bentuk. Yang di sini memakai penegasan dengan pelaku jamak pihak ketiga; yang di 70:7 memakai kata kerja langsung dengan pelaku jamak yang menunjuk Allah. Jadi pertentangannya tidak hanya pada isi melainkan juga pada cara menyusun kalimat. Terjemahan menahan kedua bentuk itu apa adanya supaya perbedaannya tetap terasa.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan persepsi orang kafir bahwa Hari Kiamat masih jauh. Ayat ini dan yang berikutnya adalah sepasang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya memakai akar kata kerja yang sama dengan pelaku yang berbeda: di sini mereka, di sana Kami. Yang dibandingkan bukan dua pendapat melainkan dua penglihatan atas benda yang sama. Susunan berpasangan sedekat ini jarang terjadi dalam Al-Qur'an.
Kedudukan kata sifatnya menentukan seluruh isi ayat. Ia berdiri sebagai keterangan keadaan bagi objek, bukan sebagai sifat yang melekat pada hari itu. Jadi bunyinya bukan mereka melihat hari yang jauh, melainkan mereka memandangnya dalam keadaan jauh. Yang jauh adalah pandangan mereka, bukan harinya. Perbedaan itu memindahkan persoalan dari kenyataan ke penglihatan, dan di situlah letak seluruh bantahan surah ini.
Kata untuk jauh di ayat ini muncul di 6 ayat, dan di lima ayat lainnya ia hampir selalu mengikuti kata yang berarti kesesatan. Hanya di sini ia berdiri sebagai keterangan tentang jarak waktu, bukan jarak kesesatan. Perbedaan pemakaian itu mencolok. Tetapi kalau dua pemakaian itu diletakkan berdampingan, muncul kesejajaran yang tidak dinyatakan langsung: yang memandang hari itu jauh sedang berada dalam kesesatan yang jauh pula. Al-Qur'an tidak menyambungkan keduanya secara terbuka; pembaca dibiarkan menemukannya sendiri lewat kata yang sama di 4:60 dan 70:6.
Renungan dan Hikmah
- Kata sifat di ayat ini berdiri sebagai keterangan keadaan bagi objek, bukan sebagai sifat yang melekat pada hari itu. Bunyinya bukan mereka melihat hari yang jauh, melainkan mereka memandangnya dalam keadaan jauh. Yang jauh adalah pandangan mereka, bukan harinya. Perbedaan itu memindahkan persoalan dari kenyataan ke penglihatan, dan di situlah letak seluruh bantahan surah ini. Allah tidak menyanggah kenyataannya, melainkan meluruskan cara memandangnya.
- Ayat ini dan 70:7 memakai akar kata kerja yang sama dengan pelaku yang berbeda: di sini mereka, di sana Kami. Yang dibandingkan bukan dua pendapat melainkan dua penglihatan atas benda yang sama. Susunan berpasangan sedekat ini jarang. Allah tidak menyanggah anggapan mereka dengan bantahan; Dia meletakkan penglihatan-Nya sendiri berdampingan dengan penglihatan mereka dan membiarkan jaraknya terlihat. Menaruh dua pandangan bersebelahan lebih telak daripada menyanggah salah satunya.
- Kata untuk jauh di ayat ini muncul di 6 ayat, dan di lima ayat lainnya ia hampir selalu mengikuti kata yang berarti kesesatan. Hanya di sini ia berdiri sebagai keterangan tentang jarak waktu. Kalau dua pemakaian itu diletakkan berdampingan, muncul kesejajaran yang tidak dinyatakan langsung: yang memandang hari itu jauh sedang berada dalam kesesatan yang jauh pula. Kata yang sama di dua tempat sering menyimpan hubungan yang tidak dinyatakan Allah secara terbuka.
- Bentuk kata kerja di ayat ini menandai perbuatan yang berlangsung terus, sehingga bunyinya mereka terus memandangnya. Terjemahan menahan makna dasarnya, sedangkan sifat berkelanjutannya larut. Yang digambarkan bukan satu kali salah menaksir, melainkan cara memandang yang menetap. Anggapan yang bertahan lama akhirnya berhenti terasa sebagai anggapan dan mulai terasa sebagai kenyataan. Kebiasaan memandang akhirnya menggantikan apa yang sebenarnya ada di depan mata.
- Akhiran pada kata kerja di ayat ini merujuk hari yang disebut di 70:4, bukan azab di 70:1. Ketelitian itu menentukan apa yang sedang dibicarakan. Kalau dibaca merujuk azab, ayat ini berbicara tentang hukuman; kalau merujuk hari, ia berbicara tentang waktu. Satu akhiran menentukan pokok persoalan, dan membacanya asal-asalan menggeser seluruh ayat ke topik yang lain. Ketelitian sekecil itu memisahkan pembacaan yang menimbang dari pembacaan yang sekadar menebak isinya.
- Kata pembuka ayat ini menandai penegasan, dan penanda serupa dipakai di 70:7. Dua ayat berurutan sama-sama dibuka penegasan, dan penegasan yang berhadapan seperti itu mempertajam pertentangannya. Allah memakai bentuk yang sama untuk dua sisi yang berlawanan. Apakah kita pernah menimbang bahwa keyakinan kita tentang jauhnya sesuatu hanyalah satu dari dua penglihatan yang mungkin? Dua penglihatan yang berhadapan itu disusun Allah supaya pembaca memilih dengan sadar.