وَنَرَاهُ قَرِيبًا
Sedangkan Kami memandangnya dekat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَنَرَاهُ قَرِيبًاwa-naraahu qariibansedangkan Kami memandangnya dekat
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَنَرَاهُwa-naraahudan Kami melihatnya
- قَرِيبًاqariibanyang dekat
Inti bacaan
Kontras perspektif ilahi: 'sedang Kami memandangnya dekat', pembalikan langsung terhadap persepsi manusia, penegasan bahwa kedekatan realitas ini bukan berdasarkan perasaan subjektif melainkan kepastian objektif dari sumber yang lebih mengetahui.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini hanya dua patah, terpendek di surah ini. Bentuk (وَنَرَاهُ, wanaraahu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berakar sama dengan kata kerja di 70:6, tetapi pelakunya berbeda: di sana mereka, di sini Kami. Dua ayat berurutan memakai akar yang sama untuk dua pihak yang berhadapan, dan itu yang membuat keduanya harus dibaca sebagai sepasang.
Kata (قَرِيبًا, qariiban) muncul di 9 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berdiri sebagai keterangan keadaan, sama seperti pasangannya di 70:6. Jadi bunyinya bukan 'Kami melihat hari yang dekat', melainkan 'Kami memandangnya dalam keadaan dekat'. Kedua ayat itu memakai kedudukan tata bahasa yang sama persis untuk dua kata yang berlawanan arti, dan kesejajaran itu mempertegas pertentangannya.
Huruf pembuka ayat ini hanya satu huruf penyambung, tanpa penegasan seperti di 70:6. Ketidakseimbangan itu bermakna. Anggapan mereka diberi penegasan, sedangkan penglihatan Allah tidak. Yang benar tidak memerlukan penegasan sekuat yang salah. Terjemahan 'sedangkan Kami' menahan hubungan pertentangan yang dibawa huruf penyambung tersebut.
Pelaku di ayat ini berbentuk jamak yang menunjuk Allah. Sepanjang surah ini, bentuk pelaku jamak semacam itu muncul di beberapa tempat, di antaranya 70:39 dan 70:41. Ketiganya berada di kalimat yang menegaskan kuasa atau pengetahuan Allah, bukan di kalimat yang menceritakan hukuman. Pemilihan bentuk itu tidak acak.
Perbandingan panjang dua ayat ini juga mencolok. Yang di 70:6 tiga patah, yang di sini dua patah. Bersama-sama hanya lima patah kata, dan dua ayat terpendek yang berdampingan di surah ini justru memikul pertentangan yang paling menentukan. Kependekan itu membuat perbandingannya jatuh secepat dua ketukan.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Perlu dicatat bahwa akhiran pada kata kerja di ayat ini merujuk hari yang sama dengan yang dirujuk di 70:6. Dua ayat memakai akhiran yang sama untuk benda yang sama, dan itu yang memastikan keduanya membicarakan satu hal, bukan dua hal yang mirip. Kalau akhirannya berbeda rujukan, pertentangan yang dibangun dua ayat ini akan runtuh sendiri.
Susunan tanpa penegasan di ayat ini juga membuatnya lebih pendek dari pasangannya. Yang di 70:6 tiga patah karena memuat penegasan; yang di sini dua patah karena tidak. Jadi perbedaan panjang keduanya bukan kebetulan melainkan akibat langsung dari pilihan bentuk. Bahkan ukuran ayat pun ikut menyampaikan perbedaan nada antara yang mengaku yakin dan yang memang mengetahui.
Perlu ditambahkan bahwa dua ayat ini tidak memuat satu pun keterangan tempat atau sebab. Yang disebut hanya dua penglihatan dan dua kata sifat. Ketiadaan keterangan membuat pertentangannya berdiri telanjang, tanpa bahan lain yang bisa dipakai untuk mengalihkan perhatian. Terjemahan menahan ketelanjangan itu dan tidak menambahkan penjelasan yang tidak tertulis.
Tafsiran
Ayat ini mengontraskan persepsi manusia dengan kepastian Allah tentang kedekatan Hari Kiamat. Ayat ini menyelesaikan pasangan yang dibuka di 70:6, dan menyelesaikannya dalam dua patah kata saja. Dua ayat itu bersama-sama hanya lima patah, dan keduanya terpendek di surah ini. Yang paling menentukan justru disampaikan paling singkat.
Kedudukan tata bahasa kedua kata sifat itu sama persis. Keduanya berdiri sebagai keterangan keadaan, bukan sebagai sifat yang melekat pada hari itu. Jadi yang dibandingkan bukan dua pendapat tentang kapan hari itu tiba, melainkan dua cara memandang benda yang sama. Yang satu memandangnya jauh, yang lain memandangnya dekat. Harinya tidak berubah; yang berbeda adalah penglihatan.
Ada ketidakseimbangan yang halus dalam susunannya. Ayat 70:6 dibuka penegasan, sedangkan ayat ini hanya dibuka satu huruf penyambung. Anggapan mereka diberi penegasan, sedangkan penglihatan Allah tidak. Susunan itu bisa dibaca sebagai isyarat: yang benar tidak memerlukan penegasan sekuat yang salah. Orang yang keliru cenderung memperkuat pernyataannya, sedangkan yang benar cukup menyebutkan. Dan pelaku di ayat ini berbentuk jamak yang menunjuk Allah, bentuk yang di surah ini muncul lagi di 70:39 dan 70:41, keduanya di kalimat tentang kuasa dan pengetahuan, bukan tentang hukuman.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyelesaikan pasangan yang dibuka di 70:6 dalam dua patah kata saja. Dua ayat itu bersama-sama hanya lima patah, dan keduanya terpendek di surah ini. Yang paling menentukan justru disampaikan paling singkat. Allah tidak mengukur pentingnya sesuatu dengan panjangnya keterangan. Kalimat yang pendek dan diletakkan berhadapan sering lebih menancap daripada uraian yang berusaha meyakinkan. Berhadapan langsung lebih menjelaskan daripada penjelasan yang panjang lebar.
- Kedua kata sifat di 70:6 dan ayat ini berdiri sebagai keterangan keadaan, bukan sebagai sifat yang melekat pada hari itu. Yang dibandingkan bukan dua pendapat tentang kapan hari itu tiba, melainkan dua cara memandang benda yang sama. Harinya tidak berubah; yang berbeda adalah penglihatan. Perbedaan pendapat tentang kenyataan tidak pernah mengubah kenyataannya, hanya menentukan siapa yang siap menghadapinya. Menyiapkan diri menghadapi kenyataan lebih berguna daripada berdebat tentangnya.
- Ayat 70:6 dibuka penegasan, sedangkan ayat ini hanya dibuka satu huruf penyambung. Anggapan mereka diberi penegasan, sedangkan penglihatan Allah tidak. Susunan itu bisa dibaca sebagai isyarat. Orang yang keliru cenderung memperkuat pernyataannya, sedangkan yang benar cukup menyebutkan. Nada yang berlebihan dalam sebuah pernyataan kadang justru menandakan si pengucap sedang meyakinkan dirinya sendiri. Suara yang paling keras di sebuah perdebatan jarang datang dari pihak yang paling yakin.
- Kata kerja di ayat ini berakar sama dengan yang dipakai di 70:6, tetapi pelakunya berbeda: di sana mereka, di sini Kami. Dua ayat berurutan memakai akar yang sama untuk dua pihak yang berhadapan. Susunan itu yang membuat keduanya harus dibaca sebagai sepasang. Memisahkannya akan menyisakan dua pernyataan yang masing-masing terasa biasa, padahal kekuatannya justru terletak pada tabrakannya. Dua kalimat yang lemah sendirian bisa menjadi kuat begitu diletakkan berhadapan.
- Pelaku di ayat ini berbentuk jamak yang menunjuk Allah. Sepanjang surah ini, bentuk semacam itu muncul lagi di 70:39 dan 70:41. Ketiganya berada di kalimat yang menegaskan kuasa atau pengetahuan Allah, bukan di kalimat yang menceritakan hukuman. Pemilihan bentuk itu tidak acak. Di kalimat tentang hukuman, Al-Qur'an justru sering memakai bentuk pasif yang tidak menyebut pelakunya sama sekali. Menyembunyikan pelaku di kalimat hukuman adalah pilihan yang berulang di Al-Qur'an.
- Kata untuk dekat di ayat ini muncul di 9 ayat, dan di sini ia tidak disertai ukuran apa pun. Tidak disebut berapa dekat, tidak pula dibandingkan dengan apa. Allah menyatakan kedekatan tanpa mengukurnya, persis seperti mereka menyatakan kejauhan tanpa mengukurnya. Kalau dua pihak sama-sama tidak menyebut angka, apa yang sebenarnya membedakan penilaian yang benar dari yang keliru? Yang membedakan bukan angka, melainkan siapa yang berhak menetapkan ukurannya.