يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِ

Pada hari langit menjadi seperti leburan logam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَوْمَ تَكُونُ السَّمَاءُ كَالْمُهْلِyawma takuunu s-samaa'u ka-l-muhlipada hari langit menjadi seperti leburan logam

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. تَكُونُtakuunumenjadi
  3. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  4. كَالْمُهْلِka-l-muhliseperti cairan logam

Inti bacaan

Transformasi drastis struktur kosmik: 'pada hari langit menjadi seperti leburan logam', gambaran perubahan total dari struktur yang dianggap stabil menjadi cair, penekanan pada skala perubahan yang akan terjadi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَالْمُهْلِ, kal-muhli) muncul di 3 ayat: 18:29, 44:45, dan 70:8. Huruf pertamanya menandai perumpamaan, jadi bunyinya 'seperti muhl'. Kata dasarnya menunjuk cairan kental yang panas, seperti logam yang dilebur atau minyak yang mendidih. Di 18:29 ia dipakai untuk air yang diminum penghuni neraka, dan di 44:45 untuk cairan yang mendidih di dalam perut. Hanya di sini ia dipakai untuk langit.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Perbedaan pemakaian itu bermakna. Dua ayat lainnya memakai kata ini untuk sesuatu yang masuk ke tubuh; ayat ini memakainya untuk sesuatu yang membentang di atas kepala. Terjemahan 'seperti leburan logam' menahan gambaran kekentalan dan panasnya, dan pilihan itu menghindari kata yang terlalu menyempit ke satu jenis bahan.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) muncul di 15 ayat di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia memakai penanda tertentu dan berkedudukan sebagai pelaku. Jadi bunyinya 'langit itu menjadi', bukan 'ia menjadikan langit'. Yang berubah adalah langit itu sendiri, tanpa disebut siapa yang mengubahnya. Susunan tanpa pelaku itu berulang di ayat berikutnya untuk gunung.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Kata pembuka ayat ini menandai waktu, sehingga bunyinya 'pada hari'. Ia menyambung ke hari yang disebut di 70:4 dan dipandang jauh di 70:6. Jadi 70:8 sampai 70:14 seluruhnya adalah rincian tentang hari itu, dan rangkaian tersebut baru berhenti di 70:15 ketika nada berubah menjadi penolakan.

Ayat ini juga membuka rangkaian gambaran yang berjalan berpasangan. Di sini langit, di 70:9 gunung. Dua benda yang paling besar dan paling tampak kokoh disebut berurutan, dan dua-duanya digambarkan berubah menjadi sesuatu yang lunak. Susunan itu memilih benda yang paling mustahil berubah untuk menunjukkan bahwa hari itu mengubah segalanya.

Perlu dicatat bahwa perumpamaannya menyangkut wujud, bukan suhu. Yang dinyatakan adalah langit menjadi seperti cairan kental, bukan langit menjadi panas. Terjemahan menahan sisi wujud itu, sebab kalau yang ditonjolkan panasnya, gambarannya bergeser menjadi siksa dan bukan lagi perubahan tatanan. Dua hal itu berdekatan tetapi berbeda: yang satu menyakitkan, yang lain meruntuhkan kepastian.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Bahasa Arab menempatkan perumpamaan ini sebagai pelengkap bagi kata kerja menjadi, bukan sebagai sifat bagi langit. Jadi bunyinya 'langit itu menjadi seperti leburan', bukan 'langit yang seperti leburan'. Kedudukan itu menentukan bahwa yang dibicarakan peristiwa, bukan keadaan yang sudah berlangsung. Terjemahan mempertahankan susunan tersebut supaya ayat tetap terbaca sebagai gambaran yang bergerak.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kehancuran langit pada Hari Kiamat. Ayat ini membuka rangkaian gambaran tentang hari yang sedang dibicarakan sejak 70:4. Kata pembukanya menandai waktu, dan rangkaian itu berjalan sampai 70:14 sebelum nada berubah di 70:15. Tujuh ayat berturut-turut merinci satu hari, dan rinciannya bergerak dari benda yang paling besar menuju hubungan yang paling dekat.

Yang dipilih pertama adalah langit. Dan yang dijadikan perumpamaan adalah cairan kental yang panas. Kata itu muncul di 3 ayat, dan di dua ayat lainnya ia dipakai untuk sesuatu yang masuk ke tubuh, yaitu minuman penghuni neraka dan cairan yang mendidih di perut. Hanya di sini ia dipakai untuk langit. Jadi bahan perumpamaan yang biasanya menggambarkan siksa di dalam tubuh dipakai untuk menggambarkan keadaan di atas kepala.

Susunan kalimatnya tidak menyebut siapa yang mengubah. Langit disebut sebagai pelaku yang menjadi, bukan sebagai objek yang dijadikan. Susunan tanpa pelaku itu berulang di ayat berikutnya untuk gunung. Dua benda yang paling besar dan paling tampak kokoh disebut berurutan, dan dua-duanya digambarkan berubah menjadi sesuatu yang lunak. Pilihan itu tidak acak: yang paling mustahil berubah dipakai untuk menunjukkan bahwa hari itu mengubah segalanya. Dan ketiadaan pelaku membuat perubahan tersebut terasa seperti sesuatu yang terjadi sendiri, padahal seluruh surah sudah menyebut sumbernya di 70:3.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pembuka ayat ini menandai waktu dan menyambung ke hari yang disebut di 70:4. Rangkaian rinciannya berjalan sampai 70:14 sebelum nada berubah di 70:15. Tujuh ayat berturut-turut merinci satu hari, dan rinciannya bergerak dari benda yang paling besar menuju hubungan yang paling dekat. Allah tidak menyebut hari itu sebagai satu kata; Dia membentangkannya sampai pembaca sempat membayangkannya. Membentangkan gambaran adalah cara Allah memberi waktu bagi hati untuk menerima.
  • Kata untuk perumpamaan di ayat ini muncul di 3 ayat, dan di dua ayat lainnya ia dipakai untuk sesuatu yang masuk ke tubuh: minuman penghuni neraka di 18:29 dan cairan yang mendidih di perut di 44:45. Hanya di sini ia dipakai untuk langit. Bahan yang biasanya menggambarkan siksa di dalam tubuh dipakai untuk keadaan di atas kepala, dan pemindahan itu membuat gambarannya terasa mengepung dari luar. Gambaran yang mengepung dari luar lebih sulit dihindari daripada yang menyakiti dari dalam.
  • Susunan kalimat di ayat ini tidak menyebut siapa yang mengubah. Langit disebut sebagai pelaku yang menjadi, bukan sebagai objek yang dijadikan. Ketiadaan pelaku membuat perubahan itu terasa seperti sesuatu yang terjadi sendiri, padahal sumbernya sudah disebut di 70:3. Menyembunyikan pelaku di tempat yang sudah jelas adalah cara Al-Qur'an memusatkan perhatian pada peristiwanya. Perhatian pembaca dijaga tetap pada peristiwanya, bukan berpindah ke pelakunya.
  • Di sini langit, di 70:9 gunung. Dua benda yang paling besar dan paling tampak kokoh disebut berurutan, dan dua-duanya digambarkan berubah menjadi sesuatu yang lunak. Pilihan itu tidak acak. Yang paling mustahil berubah dipakai untuk menunjukkan bahwa hari itu mengubah segalanya. Kalau yang sekokoh itu pun melunak, atas dasar apa kita merasa sesuatu di sekitar kita cukup mapan untuk disandari? Yang kita andalkan hari ini belum tentu masih berbentuk sama esok harinya.
  • Kata dasar perumpamaan di ayat ini menunjuk cairan kental yang panas, seperti logam yang dilebur atau minyak yang mendidih. Terjemahan memakai leburan logam untuk menahan gambaran kekentalan dan panasnya, dan pilihan itu menghindari kata yang terlalu menyempit ke satu jenis bahan. Perumpamaan dari Allah biasanya menunjuk sifat, bukan benda tertentu, dan menyempitkannya justru mengurangi jangkauannya. Menyempitkan sebuah perumpamaan ke satu benda tertentu mengurangi jangkauannya.
  • Rincian hari itu dimulai dari langit di ayat ini, lalu gunung di 70:9, lalu hubungan antarmanusia di 70:10, lalu keluarga terdekat di 70:11 sampai 70:13. Gerakannya dari yang paling jauh menuju yang paling dekat. Allah menyusun gambaran itu seperti sorotan yang mengecil. Yang runtuh lebih dulu adalah yang di luar, dan yang runtuh terakhir adalah yang selama ini terasa paling melekat pada diri. Yang paling melekat pada diri justru yang paling akhir disebut Allah dalam rangkaian ini.