وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ
Dan gunung-gunung menjadi seperti bulu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِwa-takuunu l-jibaalu ka-l-'ihnidan gunung-gunung menjadi seperti bulu
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَتَكُونُwa-takuunudan menjadi
- الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
- كَالْعِهْنِka-l-'ihniseperti bulu
Inti bacaan
Kerapuhan yang tak terduga: 'dan gunung-gunung menjadi seperti bulu', transformasi dari benda paling padat dan berat menjadi seringan bulu, kontras ekstrem yang menegaskan betapa relatifnya kekokohan material di hadapan kekuatan yang lebih besar.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كَالْعِهْنِ, kal-'ihni) muncul di 2 ayat: 70:9 dan 101:5. Bersamanya, (وَتَكُونُ, watakuunu) juga muncul di 2 ayat: 70:9 dan 101:5. Dua daftar itu bertemu hanya di 101:5. Jadi dua ayat di seluruh Al-Qur'an memakai pasangan kata yang sama untuk menggambarkan gunung. Bedanya, di 101:5 ada satu kata tambahan yang berarti dihambur-hamburkan, sedangkan di sini kalimatnya berhenti lebih awal.
Perhatikan juga hal berikut. Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Kata dasarnya menunjuk bulu domba yang sudah diwarnai. Terjemahan 'seperti bulu' menahan kelembutannya, dan tidak menambahkan keterangan warna karena unsur itu tidak selalu menonjol dalam pemakaiannya. Yang ditekankan adalah perubahan dari keras menjadi lembut, dari berat menjadi ringan.
Perhatikan juga hal berikut. Susunan ayat ini sejajar dengan 70:8. Keduanya memakai kata kerja yang sama dengan pelaku yang berbeda, dan keduanya diikuti perumpamaan yang dibuka huruf yang sama. Perbedaannya, 70:8 memuat kata penanda waktu di depan sedangkan ayat ini tidak. Jadi ayat ini menumpang pada keterangan waktu di ayat sebelumnya, dan keduanya satu kalimat yang dipotong nomor.
Perbandingan dengan 101:5 memperlihatkan sesuatu tentang cara Al-Qur'an memakai bahan yang sama. Di sana kalimatnya diteruskan dengan kata yang menggambarkan hamburan; di sini ia berhenti pada kelembutannya saja. Dua surah memakai gambaran yang sama dengan panjang yang berbeda, dan yang lebih pendek meninggalkan lebih banyak ruang bagi pembaca.
Ayat ini hanya tiga patah, dan bersama 70:8 yang empat patah, keduanya melukiskan runtuhnya dua benda terbesar dalam tujuh patah kata. Kependekan itu sengaja. Yang dibutuhkan bukan uraian panjang tentang bagaimana keduanya berubah, melainkan gambaran yang bisa langsung terbayang.
Perlu dicatat bahwa gunung disebut dengan penanda tertentu, sehingga bunyinya 'gunung-gunung itu'. Yang dimaksud bukan gunung mana saja, melainkan gunung-gunung yang dikenal siapa pun yang memandang ke sekelilingnya. Penanda itu mendekatkan gambarannya ke pengalaman pembaca. Terjemahan mempertahankannya, sebab menghilangkannya akan mengubah benda yang tiap hari terlihat menjadi benda yang abstrak.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Susunan jamak pada kata untuk gunung juga bermakna. Yang berubah bukan satu gunung melainkan seluruhnya, sedangkan langit di 70:8 disebut tunggal. Jadi dua ayat berpasangan itu memakai bilangan yang berbeda: satu langit, banyak gunung. Perbedaan tersebut mengikuti kenyataan yang tampak oleh mata, dan Al-Qur'an tidak menyeragamkannya demi kerapian bentuk.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan gambaran kehancuran gunung-gunung. Ayat ini melanjutkan gambaran yang dibuka di 70:8, dan susunannya sejajar. Keduanya memakai kata kerja yang sama dengan pelaku yang berbeda, dan keduanya diikuti perumpamaan yang dibuka huruf yang sama. Perbedaannya, ayat sebelumnya memuat penanda waktu sedangkan ayat ini tidak. Jadi ayat ini menumpang pada keterangan waktu di ayat sebelumnya, dan keduanya satu kalimat yang dipotong nomor.
Gambarannya dipilih dengan cermat. Gunung adalah benda yang dalam pengalaman siapa pun paling tidak mungkin berubah, dan yang dijadikan perumpamaan adalah bulu, benda yang paling ringan dan paling mudah bergerak. Jarak antara keduanya sejauh mungkin. Yang ditekankan bukan kehancuran, melainkan perubahan sifat: dari keras menjadi lembut, dari berat menjadi ringan.
Dua kata di ayat ini bertemu lagi hanya di 101:5, dan di sana kalimatnya diteruskan dengan kata yang menggambarkan hamburan. Di sini ia berhenti pada kelembutannya saja. Dua surah memakai gambaran yang sama dengan panjang yang berbeda, dan yang lebih pendek meninggalkan lebih banyak ruang bagi pembaca untuk membayangkan sendiri. Ayat ini hanya tiga patah, dan bersama 70:8 yang empat patah, keduanya melukiskan runtuhnya dua benda terbesar dalam tujuh patah kata. Yang dibutuhkan memang bukan uraian panjang, melainkan gambaran yang bisa langsung terbayang.
Renungan dan Hikmah
- Gunung adalah benda yang dalam pengalaman siapa pun paling tidak mungkin berubah, dan yang dijadikan perumpamaan adalah bulu, benda yang paling ringan dan paling mudah bergerak. Jarak antara keduanya sejauh mungkin. Allah memilih dua ujung yang berlawanan supaya perubahannya terasa sebagai pembalikan, bukan sekadar pergeseran. Perumpamaan yang jauh jaraknya lebih lama tinggal di ingatan daripada yang berdekatan. Dua ujung yang berjauhan membuat perubahannya terasa sebagai pembalikan. Yang jaraknya jauh lebih lama menempel di ingatan daripada yang berdekatan sifatnya.
- Yang ditekankan di ayat ini bukan kehancuran, melainkan perubahan sifat: dari keras menjadi lembut, dari berat menjadi ringan. Gunung tidak disebut hancur; ia disebut menjadi seperti bulu. Perbedaan itu halus tetapi ada. Yang runtuh masih menyisakan puing, sedangkan yang berubah sifat kehilangan seluruh yang dahulu membuatnya diandalkan. Kekokohan yang lenyap lebih menakutkan daripada bangunan yang roboh. Puing masih bisa dikenali; sifat yang hilang tidak meninggalkan bekas apa pun.
- Dua kata di ayat ini bertemu lagi hanya di 101:5, dan di sana kalimatnya diteruskan dengan kata yang menggambarkan hamburan. Di sini ia berhenti pada kelembutannya saja. Dua surah memakai gambaran yang sama dengan panjang yang berbeda. Yang lebih pendek meninggalkan lebih banyak ruang bagi pembaca untuk membayangkan sendiri, dan Allah tidak selalu memilih bentuk yang paling lengkap. Ruang yang ditinggalkan kosong justru mengundang pembaca ikut membayangkan.
- Ayat sebelumnya memuat penanda waktu sedangkan ayat ini tidak. Jadi ayat ini menumpang pada keterangan waktu di 70:8, dan keduanya satu kalimat yang dipotong nomor. Membacanya sendirian akan menyisakan gambaran tanpa waktu. Nomor ayat memudahkan rujukan, tetapi ia bukan batas kalimat, dan membaca per nomor kadang memotong yang sebenarnya satu tarikan napas dari Allah. Batas nomor dan batas kalimat adalah dua hal yang sering keliru disamakan. Membaca dua ayat sebagai satu tarikan mengembalikan gambaran yang terpotong nomor.
- Ayat ini hanya tiga patah, dan bersama 70:8 yang empat patah, keduanya melukiskan runtuhnya dua benda terbesar dalam tujuh patah kata. Kependekan itu sengaja. Yang dibutuhkan bukan uraian panjang tentang bagaimana keduanya berubah, melainkan gambaran yang bisa langsung terbayang. Allah memilih ketepatan gambar di atas kelengkapan keterangan. Sifat yang tersisa setelah kekerasan dicabut jarang sempat kita pikirkan.
- Kata dasar perumpamaan di ayat ini menunjuk bulu domba yang sudah diwarnai. Terjemahan menahan kelembutannya dan tidak menambahkan keterangan warna, sebab unsur itu tidak selalu menonjol dalam pemakaiannya. Menambahkan keterangan yang tidak menentukan akan mengalihkan perhatian dari sifat yang justru dimaksud. Apa yang kita anggap kokoh hari ini, sifat apa yang tersisa darinya kalau kekerasannya dicabut? Sifat yang tersisa dari sesuatu setelah kekerasannya dicabut jarang kita pikirkan.