وَلَا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًا

Dan tidak ada seorang teman setia menanyakan temannya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا يَسْأَلُ حَمِيمٌ حَمِيمًاwa-laa yas'alu hamiimun hamiimandan tidak ada seorang teman setia menanyakan temannya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يَسْأَلُyas'alumenanyakan
  3. حَمِيمٌhamiimunteman setia
  4. حَمِيمًاhamiimanair mendidih

Inti bacaan

Keterputusan hubungan sosial pada momen krisis: 'tidak ada seorang teman setia menanyakan temannya', pengakuan bahwa pada momen paling genting, fokus personal terhadap nasib sendiri mengalahkan kepedulian terhadap orang lain, realitas psikologis krisis eksistensial.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memuat kata yang sama dalam dua bentuk berturutan: (حَمِيمٌ, hamiimun) sebagai pelaku dan (حَمِيمًا, hamiiman) sebagai objek. Bentuk pertama muncul di 4 ayat: 38:57, 41:34, 69:35, dan 70:10. Bentuk kedua muncul di 3 ayat: 47:15, 70:10, dan 78:25. Dua daftar itu tidak bertemu di mana pun selain ayat ini. Jadi hanya di sini keduanya berdiri berdampingan.

Satu lapis lagi perlu dibuka. Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Kata dasarnya menunjuk kerabat dekat atau sahabat yang panas hatinya karena kedekatan. Akar yang sama juga dipakai untuk air yang sangat panas, dan itulah pemakaiannya di 47:15 dan 78:25. Jadi satu akar menampung kehangatan persahabatan dan panasnya air siksa. Terjemahan 'teman setia' memilih arah pertama karena susunan ayat ini menuntut demikian, sebab kata kerjanya menuntut pelaku yang bisa bertanya.

Bentuk (يَسْأَلُ, yas-alu) muncul di 2 ayat: 70:10 dan 75:6. Ia berakar sama dengan kata kerja pembuka surah ini di 70:1. Di sana ia berarti meminta, di sini bertanya. Dua pemakaian di satu surah dengan dua arti yang berbeda, dan yang menentukan adalah susunan yang mengikutinya. Di 75:6 kata ini juga berarti bertanya, dalam kalimat tentang orang yang menanyakan kapan Hari Kiamat.

Susunan penyangkalannya perlu dicermati. Yang disangkal bukan kemampuan bertanya, melainkan kejadian bertanya. Bunyinya 'tidak ada teman setia yang menanyakan temannya'. Jadi bukan mereka dilarang bertanya, melainkan tidak seorang pun melakukannya. Perbedaan itu memindahkan gambarannya dari larangan menjadi keadaan.

Ayat ini membuka bagian tentang runtuhnya hubungan antarmanusia, dan bagian itu berjalan sampai 70:14. Sesudah langit dan gunung disebut di dua ayat sebelumnya, giliran ikatan manusia yang disebut. Urutan itu bergerak dari benda mati menuju hubungan hidup, dan yang terakhir disebut justru yang paling dekat dengan diri.

Susunan kalimatnya tidak menyebut tempat, tidak pula menyebut sebab. Yang disebut hanya bahwa perbuatan bertanya itu tidak terjadi. Ketiadaan keterangan membuat gambarannya terasa lebih luas: bukan di satu tempat tertentu, bukan karena satu alasan tertentu, melainkan sebagai keadaan yang berlaku menyeluruh pada hari itu.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Di 69:35 kata yang sama dipakai dalam kalimat yang menyatakan bahwa pada hari itu tidak ada baginya seorang teman setia. Dua ayat itu menyatakan hal yang berdekatan dengan cara yang berbeda: yang di sana menyebut ketiadaan temannya, yang di sini menyebut ketiadaan pertanyaannya. Yang pertama tentang siapa yang hadir, yang kedua tentang apa yang dilakukan oleh yang hadir.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan putusnya ikatan sosial pada Hari Kiamat. Ayat ini memindahkan gambaran dari benda mati ke hubungan hidup. Sesudah langit dan gunung disebut di dua ayat sebelumnya, giliran ikatan antarmanusia yang runtuh. Urutan itu bergerak dari yang paling jauh menuju yang paling dekat, dan bagian ini berjalan sampai 70:14.

Kata yang dipakai muncul dua kali dalam satu ayat, sekali sebagai pelaku dan sekali sebagai objek. Bentuk pertama muncul di 4 ayat, bentuk kedua di 3 ayat, dan dua daftar itu tidak bertemu di mana pun selain ayat ini. Hanya di sini keduanya berdiri berdampingan. Susunan seperti itu membuat kalimatnya berbunyi seperti cermin: teman setia dan temannya sendiri, dua pihak dari satu jenis hubungan.

Akar kata itu menyimpan kegandaan yang tajam. Ia menunjuk kerabat dekat atau sahabat yang panas hatinya karena kedekatan, dan akar yang sama juga dipakai untuk air yang sangat panas. Itulah pemakaiannya di 47:15 dan 78:25. Jadi satu akar menampung kehangatan persahabatan dan panasnya air siksa. Kegandaan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an secara terbuka, tetapi pembaca yang menelusuri kata tersebut akan menemukan dua wajahnya. Dan yang disangkal di sini bukan kemampuan bertanya, melainkan kejadiannya. Bukan mereka dilarang, melainkan tidak seorang pun melakukannya. Yang runtuh bukan izin untuk peduli, melainkan keinginan untuk peduli.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah langit dan gunung disebut di dua ayat sebelumnya, giliran ikatan antarmanusia yang runtuh. Urutan itu bergerak dari yang paling jauh menuju yang paling dekat, dan bagian ini berjalan sampai 70:14. Allah menyusun gambaran seperti sorotan yang mengecil. Yang lenyap terakhir bukan gunung, melainkan kepedulian antara dua orang yang selama ini saling menghangatkan. Sorotan yang mengecil membuat yang terakhir disebut terasa paling menusuk. Runtuhnya benda besar masih bisa dibayangkan; runtuhnya kepedulian jauh lebih sulit diterima.
  • Kata yang dipakai muncul dua kali dalam satu ayat, sekali sebagai pelaku dan sekali sebagai objek. Bentuk pertama muncul di 4 ayat, bentuk kedua di 3 ayat, dan dua daftar itu tidak bertemu di mana pun selain di sini. Susunan seperti itu membuat kalimatnya berbunyi seperti cermin: teman setia dan temannya sendiri, dua pihak dari satu jenis hubungan yang sama-sama diam. Bentuk cermin dalam satu kalimat membuat kesunyiannya terasa berlipat.
  • Akar kata di ayat ini menunjuk kerabat dekat atau sahabat yang panas hatinya karena kedekatan, dan akar yang sama juga dipakai untuk air yang sangat panas di 47:15 dan 78:25. Satu akar menampung kehangatan persahabatan dan panasnya air siksa. Kegandaan itu tidak dinyatakan Allah secara terbuka, tetapi pembaca yang menelusuri kata tersebut akan menemukan dua wajahnya berdiri berdampingan. Satu akar bisa membawa dua wajah, dan Allah membiarkan pembaca menemukannya sendiri. Menelusuri satu kata ke seluruh pemakaiannya sering membuka lapisan yang tak terlihat sekali baca.
  • Yang disangkal di ayat ini bukan kemampuan bertanya, melainkan kejadiannya. Bunyinya tidak ada teman setia yang menanyakan temannya. Bukan mereka dilarang bertanya, melainkan tidak seorang pun melakukannya. Yang runtuh bukan izin untuk peduli, melainkan keinginan untuk peduli. Larangan masih menyisakan hati yang ingin; ketiadaan keinginan tidak menyisakan apa pun. Hati yang masih ingin peduli belum benar-benar kehilangan apa-apa.
  • Kata kerja di ayat ini berakar sama dengan kata kerja pembuka surah di 70:1. Di sana ia berarti meminta, di sini bertanya. Dua pemakaian dalam satu surah dengan dua arti berbeda, dan yang menentukan adalah susunan yang mengikutinya. Di 75:6 kata ini juga berarti bertanya, dalam kalimat tentang orang yang menanyakan kapan Hari Kiamat. Yang di awal surah berani bertanya, yang di sini tidak lagi sanggup. Keberanian bertanya di awal berubah menjadi bisu ketika jawabannya sudah tiba.
  • Gambaran yang disusun di sini bukan kekacauan melainkan kesunyian. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang berebut; yang ada hanya tidak seorang pun bertanya. Allah memilih keheningan untuk melukiskan runtuhnya hubungan, bukan keributan. Pernahkah kita membayangkan bahwa yang paling menakutkan bukan ditinggalkan dengan ribut, melainkan ditinggalkan tanpa satu pun kata? Allah memilih keheningan, bukan keributan, untuk melukiskan runtuhnya hubungan. Sunyi yang disengaja dalam sebuah gambaran menekan lebih dalam daripada teriakan.