وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ

Dan istrinya dan saudaranya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِwa-shaahibatihi wa-akhiihidan istrinya dan saudaranya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَصَاحِبَتِهِwa-shaahibatihidan istrinya
  2. وَأَخِيهِwa-akhiihidan saudaranya

Inti bacaan

Perluasan daftar yang bersedia dikorbankan: 'dan istrinya dan saudaranya', kelanjutan gambaran keputusasaan yang bersedia mengorbankan hubungan terdekat, penekanan pada skala kepanikan yang mengalahkan ikatan emosional terkuat sekalipun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya dua patah, sama pendeknya dengan 70:7. Kata (وَصَاحِبَتِهِ, washaahibatihi) muncul di 2 ayat: 70:12 dan 80:36. Di 80:36 kata itu berdiri dalam daftar orang yang dilarikan manusia, sedangkan di sini ia berdiri dalam daftar orang yang hendak diserahkan. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua gerakan yang berlawanan.

Masih ada yang belum disebut. Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Kata dasarnya berarti pendamping, bukan istri dalam arti hukum. Akar yang sama dipakai di 72:3 untuk menyangkal bahwa Allah mengambil pendamping. Jadi satu kata menampung penyangkalan tentang Allah dan penyebutan tentang manusia. Terjemahan 'istrinya' dipakai karena paling wajar dalam bahasa Indonesia, dengan catatan bahwa cakupan aslinya lebih luas.

Kata (وَأَخِيهِ, wa-akhiihi) muncul di 4 ayat: 10:87, 12:87, 12:89, dan 70:12. Menariknya, tiga pemakaian lainnya semuanya berada dalam kisah keluarga: Musa dengan saudaranya, dan Yusuf dengan saudaranya. Hanya di sini kata itu berdiri dalam kalimat tentang penyerahan. Perbedaan pemakaian itu tajam.

Perhatikan juga hal berikut. Susunan ayat ini menumpang seluruhnya pada 70:11. Ia tidak punya kata kerja sendiri, tidak pula penanda waktu. Dua kata yang berdiri di sini disambungkan huruf penyambung ke daftar yang dibuka di ayat sebelumnya. Jadi 70:11 sampai 70:14 sebenarnya satu kalimat panjang yang dipotong menjadi empat nomor, dan tiga nomor terakhir tidak bisa berdiri sendiri sama sekali.

Urutan penyebutannya patut dicermati. Anak disebut lebih dahulu di 70:11, baru istri dan saudara di sini. Urutan itu bergerak dari keturunan menuju pasangan dan sedarah. Bandingkan dengan 80:35 dan 80:36, yang menyebut ibu dan bapak lebih dahulu, baru istri dan anak. Dua surah menyusun daftar yang sama dengan urutan yang berbeda, dan masing-masing urutan menyorot sisi yang berlainan dari ikatan keluarga.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Dua kata di ayat ini sama-sama membawa akhiran kepemilikan yang menunjuk satu orang, yaitu pelaku yang disebut di 70:11. Jadi seluruh daftar ini adalah milik satu orang: istrinya, saudaranya. Akhiran yang berulang itu mengikat daftar tersebut kepada satu pihak, dan mencegahnya terbaca sebagai daftar umum tentang hubungan keluarga.

Bahasa Arab menempatkan keduanya sebagai lanjutan dari alat pembayaran yang disebut di ayat sebelumnya, bukan sebagai objek baru. Kedudukan itu larut dalam terjemahan Indonesia karena kita cukup menuliskan 'dan istrinya dan saudaranya' tanpa penanda kedudukan. Yang hilang adalah kejelasan bahwa keduanya masih berada di dalam tawaran yang sama, bukan memulai kalimat baru.

Tafsiran

Ayat ini memperluas daftar orang terdekat yang rela ditebuskan. Ayat ini hanya dua patah dan tidak bisa berdiri sendiri. Ia tidak punya kata kerja, tidak pula penanda waktu. Dua kata yang ada disambungkan ke daftar yang dibuka di 70:11. Jadi empat ayat berurutan sejak 70:11 sebenarnya satu kalimat panjang yang dipotong menjadi empat nomor, dan tiga nomor terakhir menumpang seluruhnya pada yang pertama.

Kata untuk pendamping di ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 80:36, berdiri dalam daftar orang yang dilarikan manusia. Di sini ia berdiri dalam daftar orang yang hendak diserahkan. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua gerakan yang berlawanan. Dan akar yang sama dipakai di 72:3 untuk menyangkal bahwa Allah mengambil pendamping, sehingga satu kata menampung penyangkalan tentang Allah dan penyebutan tentang manusia.

Kata untuk saudara di ayat ini muncul di 4 ayat, dan tiga pemakaian lainnya semuanya berada dalam kisah keluarga: Musa dengan saudaranya, dan Yusuf dengan saudaranya. Di ketiga kisah itu saudara adalah pihak yang dicari, dibela, atau dirindukan. Hanya di sini kata tersebut berdiri dalam kalimat tentang penyerahan. Perbedaan pemakaian itu tajam, dan ia memperlihatkan sesuatu tentang apa yang terjadi pada ikatan yang paling kuat ketika seseorang berhadapan dengan akibat perbuatannya sendiri. Yang di dunia dibela mati-matian, di sana ditawarkan sebagai penebus.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini tidak punya kata kerja, tidak pula penanda waktu. Dua kata yang ada disambungkan ke daftar yang dibuka di 70:11. Empat ayat berurutan sejak sana sebenarnya satu kalimat panjang yang dipotong menjadi empat nomor. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan dua nama tanpa kalimat yang menampung keduanya di hadapan Allah. Pemotongan nomor memudahkan rujukan, tetapi ia tidak pernah dimaksudkan sebagai batas makna. Nomor dibuat untuk memudahkan pencarian, bukan untuk memutus kalimat Allah.
  • Kata untuk pendamping di ayat ini muncul di 2 ayat, dan yang satunya lagi, 80:36, berdiri dalam daftar orang yang dilarikan manusia. Di sini ia berdiri dalam daftar orang yang hendak diserahkan. Dua ayat memakai kata yang sama untuk dua gerakan yang berlawanan. Allah melukiskan runtuhnya ikatan dari dua arah, dan dua-duanya berakhir pada tempat yang sama. Melarikan diri dan menyerahkan sama-sama meninggalkan orang yang sama di belakang.
  • Kata untuk saudara di ayat ini muncul di 4 ayat, dan tiga pemakaian lainnya berada dalam kisah keluarga: Musa dengan saudaranya, dan Yusuf dengan saudaranya. Di ketiga kisah itu saudara adalah pihak yang dicari, dibela, atau dirindukan. Hanya di sini ia berdiri dalam kalimat tentang penyerahan. Yang di dunia dibela mati-matian, di sana ditawarkan sebagai penebus. Yang di dunia dibela mati-matian bisa berubah kedudukan ketika akibat sudah di depan mata.
  • Kata dasar untuk pendamping di ayat ini berarti orang yang menemani, bukan istri dalam arti hukum. Akar yang sama dipakai di 72:3 untuk menyangkal bahwa Allah mengambil pendamping. Satu kata menampung penyangkalan tentang Allah dan penyebutan tentang manusia. Yang bagi Allah disangkal karena Dia tidak memerlukan siapa pun, bagi manusia justru menjadi bukti betapa ia memerlukan. Kebutuhan akan pendamping adalah tanda kekurangan, dan itu melekat pada makhluk saja.
  • Anak disebut lebih dahulu di 70:11, baru istri dan saudara di sini. Bandingkan dengan 80:35 dan 80:36, yang menyebut ibu dan bapak lebih dahulu, baru istri dan anak. Dua surah menyusun daftar yang sama dengan urutan yang berbeda, dan masing-masing urutan menyorot sisi yang berlainan dari ikatan keluarga. Urutan penyebutan bukan hal kecil. Susunan yang dipilih Allah ikut membentuk gambaran, bukan sekadar memuat isinya.
  • Daftar tebusan ini dimulai dari anak, lalu istri, lalu saudara. Yang paling dekat disebut paling dulu, bukan paling akhir. Kalau tawaran dimulai dari yang paling berharga, tidak ada lagi yang tersisa untuk ditawarkan sesudahnya. Adakah sesuatu yang kita anggap tak mungkin kita lepaskan hari ini, yang sebenarnya akan kita lepaskan pertama kali kalau keadaannya cukup mendesak? Tawaran yang dimulai dari yang paling berharga tidak menyisakan apa pun untuk ditawarkan sesudahnya, dan di titik itu tawar-menawar dengan Allah sudah selesai.