وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِ
Dan seluruh orang yang di bumi, kemudian itu menyelamatkannya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ يُنْجِيهِwa-man fii l-ardhi jamii'an tsumma yunjiihidan seluruh orang yang di bumi, kemudian itu menyelamatkannya
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- جَمِيعًاjamii'ansemuanya
- ثُمَّtsummakemudian
- يُنْجِيهِyunjiihimenyelamatkannya
Inti bacaan
Skala pengorbanan yang tak terbatas: 'dan seluruh orang yang di bumi, kemudian (ia berharap) itu menyelamatkannya', puncak absolut dari keinginan menebus diri, bersedia mengorbankan seluruh umat manusia demi keselamatan pribadi, ilustrasi ekstrem tentang instink bertahan hidup yang tak lagi memperhitungkan moralitas.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(ia berharap)' tidak dipakai.
Bentuk (يُنْجِيهِ, yunjiihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berarti menyelamatkannya, dan akhirannya merujuk orang yang disebut di 70:11. Bentuknya menandai perbuatan yang belum terjadi, sehingga bunyinya 'kemudian itu menyelamatkannya'. Terjemahan menahan bentuk tersebut apa adanya tanpa menambahkan kata harapan, sebab teks tidak menuliskannya.
Kata (جَمِيعًا, jamii'an) muncul di 46 ayat di seluruh Al-Qur'an. Ia berdiri sebagai keterangan yang menegaskan kemenyeluruhan, sehingga bunyinya 'seluruhnya'. Kedudukannya di sini menutup daftar yang dibuka di 70:11. Sesudah anak, istri, saudara, dan keluarga pelindung disebut satu per satu, ayat ini menyapu semuanya sekaligus dengan menyebut seluruh penghuni bumi.
Kata (ثُمَّ, tsumma) di tengah ayat menandai urutan dengan jarak. Ia bukan penyambung biasa. Kehadirannya memisahkan tawaran dari tujuannya, sehingga bunyinya 'dan seluruh orang yang di bumi, kemudian itu menyelamatkannya'. Jeda yang ditandai kata tersebut membuat tujuan penawaran itu terdengar sebagai pikiran yang menyusul, bukan yang mendahului.
Yang paling perlu dicatat adalah apa yang tidak disebut. Teks tidak menyatakan bahwa tebusan itu diterima atau ditolak. Ia berhenti pada keinginan dan tujuannya. Penolakannya baru dinyatakan di 70:15 dengan satu kata pendek. Jeda antara tawaran dan penolakan itu disengaja, dan jeda tersebut memberi ruang bagi pembaca merasakan betapa panjang daftar yang disusun sebelum ia dijatuhkan sekaligus.
Perbandingan panjang empat ayat sejak 70:11 juga bercerita. Yang pertama sepuluh patah, lalu dua patah, lalu tiga patah, lalu enam patah di sini. Daftarnya memendek di tengah lalu memanjang lagi di ujung, dan yang memanjang itu justru bagian yang menyapu segalanya. Bentuk kalimat ikut mengikuti gerak isinya.
Susunan (وَمَنْ فِي الْأَرْضِ, waman fii al-ardhi) memakai kata yang berarti 'siapa', bukan kata yang berarti 'apa'. Bahasa Arab membedakan keduanya: yang pertama untuk yang berakal, yang kedua untuk selainnya. Jadi yang ditawarkan bukan seluruh isi bumi melainkan seluruh penghuninya yang berakal. Terjemahan 'seluruh orang yang di bumi' menahan pembedaan itu, dan memakai kata isi akan memperluasnya melampaui yang tertulis.
Perlu dicatat pula bahwa keterangan kemenyeluruhan di ayat ini berdiri sesudah kata yang diterangkannya, bukan sebelumnya. Kedudukan itu menandai bahwa ia menegaskan, bukan sekadar menghitung. Bunyinya kira-kira 'orang yang di bumi, seluruhnya'. Terjemahan menempatkannya di belakang mengikuti susunan aslinya, sebab memindahkannya ke depan akan mengubah penegasan menjadi keterangan biasa.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan puncak keputusasaan: rela menebus dengan seluruh penduduk bumi. Ayat ini menutup daftar tebusan dengan menyapu semuanya sekaligus. Sesudah anak, istri, saudara, dan keluarga pelindung disebut satu per satu sejak 70:11, di sini disebut seluruh penghuni bumi. Daftar yang tadinya bertingkat kini melompat ke batas yang paling luas, dan lompatan itu menandai bahwa keputusasaannya sudah tidak mengenal ukuran.
Yang paling perlu dicatat adalah apa yang tidak disebut. Teks tidak menyatakan bahwa tebusan itu diterima atau ditolak. Ia berhenti pada keinginan dan tujuannya. Penolakannya baru dinyatakan di 70:15 dengan satu kata pendek. Jeda antara tawaran dan penolakan itu disengaja. Ia memberi ruang bagi pembaca merasakan betapa panjang daftar yang disusun sebelum semuanya dijatuhkan sekaligus.
Kata penyambung di tengah ayat menandai urutan dengan jarak, bukan penyambung biasa. Kehadirannya memisahkan tawaran dari tujuannya, sehingga tujuan itu terdengar sebagai pikiran yang menyusul, bukan yang mendahului. Susunan tersebut menyingkap sesuatu tentang urutan pikiran orang yang putus asa: yang lebih dulu terbayang adalah apa yang bisa diserahkan, dan baru sesudahnya teringat untuk apa semua itu diserahkan. Dan perbandingan panjang empat ayat sejak 70:11 ikut bercerita: sepuluh patah, lalu dua, lalu tiga, lalu enam di sini. Daftarnya memendek di tengah lalu memanjang lagi di ujung, dan yang memanjang justru bagian yang menyapu segalanya.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah anak, istri, saudara, dan keluarga pelindung disebut satu per satu sejak 70:11, di sini disebut seluruh penghuni bumi. Daftar yang tadinya bertingkat melompat ke batas paling luas. Lompatan itu menandai bahwa keputusasaannya sudah tidak mengenal ukuran. Allah merekam bagaimana rasa takut yang sudah lepas kendali berhenti membedakan antara yang dekat dan yang jauh, antara yang berjasa dan yang tidak dikenal. Batas yang tadinya jelas menjadi kabur begitu seseorang merasa terdesak.
- Teks tidak menyatakan bahwa tebusan itu diterima atau ditolak. Ia berhenti pada keinginan dan tujuannya. Penolakannya baru dinyatakan di 70:15 dengan satu kata pendek. Jeda antara tawaran dan penolakan itu disengaja Allah. Ia memberi ruang bagi pembaca merasakan betapa panjang daftar yang disusun sebelum semuanya dijatuhkan sekaligus dalam satu kata. Satu kata pendek dari Allah sanggup menjatuhkan daftar sepanjang empat ayat.
- Kata penyambung di tengah ayat menandai urutan dengan jarak. Kehadirannya memisahkan tawaran dari tujuannya, sehingga tujuan itu terdengar sebagai pikiran yang menyusul. Susunan tersebut menyingkap urutan pikiran orang yang putus asa: yang lebih dulu terbayang adalah apa yang bisa diserahkan, dan baru sesudahnya teringat untuk apa semua itu diserahkan. Panik mendahulukan cara, bukan tujuan. Urutan pikiran orang yang terdesak terbalik: alat dulu, baru maksudnya.
- Empat ayat sejak 70:11 berturut-turut sepuluh patah, dua patah, tiga patah, lalu enam patah di sini. Daftarnya memendek di tengah lalu memanjang lagi di ujung, dan yang memanjang justru bagian yang menyapu segalanya. Bentuk kalimat ikut mengikuti gerak isinya. Allah tidak menyusun panjang ayat secara acak; iramanya bagian dari cara gambaran itu sampai kepada pembaca. Panjang pendek ayat bukan hiasan; ia ikut memikul isi yang dibawanya.
- Kata kerja terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berbentuk yang menandai perbuatan belum terjadi. Terjemahan menahan bentuk tersebut tanpa menambahkan kata harapan, sebab teks tidak menuliskannya. Menambahkan kata seperti berharap akan memindahkan ayat dari laporan menjadi tafsiran. Menahan diri dari melengkapi adalah bagian dari kesetiaan yang paling sering diuji dalam menerjemahkan. Yang tidak tertulis lebih aman dibiarkan kosong daripada diisi tebakan.
- Akhiran pada kata kerja terakhir merujuk orang yang disebut di 70:11, yaitu satu orang. Jadi seluruh penghuni bumi ditawarkan untuk menyelamatkan satu jiwa. Perbandingan antara harga dan yang dibeli sejauh itu bedanya. Kalau harga yang sanggup kita bayangkan sudah setinggi itu, apa sebenarnya yang kita anggap sedang dipertaruhkan pada hari tersebut? Harga yang sanggup dibayangkan seseorang menunjukkan seberapa besar yang ia rasa dipertaruhkan. Ukuran taruhan seseorang terbaca dari harga tertinggi yang berani ia bayangkan.