تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰ
Yang memanggil orang yang berpaling dan membelakang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- تَدْعُو مَنْ أَدْبَرَ وَتَوَلَّىٰtad'uu man adbara wa-tawallaayang memanggil orang yang berpaling dan membelakang
Terjemahan per kata (4 kata)
- تَدْعُوtad'uumemanggil
- مَنْmanorang yang
- أَدْبَرَadbaraia berpaling
- وَتَوَلَّىٰwa-tawallaadan berpaling
Inti bacaan
Personifikasi api yang aktif memanggil: 'yang memanggil orang yang berpaling dan membelakang', citra yang menegaskan bahwa konsekuensi secara spesifik menyasar mereka yang secara aktif menolak dan berpaling, bukan hukuman acak tanpa target jelas.
Penjelasan pilihan kata
Bentuk (تَدْعُو, tad'uu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk perempuan tunggal, menyesuaikan diri dengan api yang disebut di 70:15, dan bentuknya menandai perbuatan yang berlangsung terus. Jadi bunyinya 'yang terus memanggil'. Kata kerjanya berarti menyeru atau memanggil, akar yang sama dengan kata untuk doa. Jadi api itu digambarkan memanggil, bukan menangkap.
Bentuk (أَدْبَرَ, adbara) muncul di 4 ayat: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Menariknya, dua pemakaiannya berada di surah 74, dan di 74:33 ia dipakai untuk malam yang berlalu, bukan untuk manusia. Jadi satu kata dipakai untuk manusia yang berpaling dan untuk malam yang beranjak pergi. Di 74:23 dan 79:22 ia dipakai untuk manusia, dan di kedua ayat itu ia diikuti kata kerja lain yang menyebut apa yang dilakukan sesudah berpaling.
Bentuk (وَتَوَلَّىٰ, watawallaa) muncul di 7 ayat: 12:84, 20:48, 70:17, 75:32, 80:1, 92:16, dan 96:13. Ia berarti berbalik dan membelakangi. Dua kata kerja di ayat ini berdekatan artinya, dan pengulangan yang berdekatan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penegasan bertingkat: berpaling lalu benar-benar membelakangi. Terjemahan 'berpaling dan membelakang' menahan dua langkah tersebut.
Satu lapis lagi perlu dibuka. Susunan kalimatnya perlu dicermati. Yang dipanggil disebut dengan kata yang berarti 'siapa', bentuk yang cakupannya terbuka. Teks tidak menyebut nama, tidak pula menyebut jumlah. Jadi panggilan itu tidak tertuju kepada orang tertentu melainkan kepada jenis perbuatan. Terjemahan mempertahankan keterbukaan tersebut.
Ayat ini melanjutkan rangkaian sifat api yang dibuka di 70:16, dan gerakannya berpindah dari tubuh ke perbuatan. Di ayat sebelumnya yang disebut adalah apa yang api lakukan pada permukaan tubuh; di sini yang disebut adalah siapa yang ia panggil. Perpindahan dari akibat ke sebab itu berlanjut di 70:18, yang menyebut satu perbuatan lagi.
Susunan panggilan di ayat ini juga perlu dicermati. Yang memanggil disebut, yang dipanggil disebut, tetapi jawabannya tidak. Teks berhenti sebelum menyatakan apakah panggilan itu disambut. Kekosongan tersebut membuat gambarannya menggantung, dan menggantungnya itu bagian dari kekuatannya. Pembaca dibiarkan menyelesaikan sendiri adegan yang sengaja tidak diselesaikan.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu ditambahkan bahwa dua kata kerja di bagian kedua sama-sama berbentuk lampau. Jadi yang disebut bukan orang yang sedang berpaling, melainkan yang sudah selesai berpaling. Panggilan itu tertuju kepada perbuatan yang sudah tuntas, bukan kepada yang masih berlangsung. Perbedaan tersebut menyisakan ruang bagi siapa pun yang belum menyelesaikan gerakannya.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sifat api itu: memanggil orang yang berpaling. Ayat ini memberi api sebuah suara. Kata kerjanya berarti menyeru atau memanggil, akar yang sama dengan kata untuk doa. Jadi api itu digambarkan memanggil, bukan menangkap. Susunan tersebut membalik gambaran yang biasa. Yang lazim dibayangkan adalah orang diseret ke arah api; yang dilukiskan di sini adalah api yang memanggil dan orang yang datang atas panggilan itu.
Dua kata kerja di bagian kedua berdekatan artinya. Yang pertama berarti berpaling, yang kedua berarti berbalik dan membelakangi. Pengulangan yang berdekatan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penegasan bertingkat: berpaling lalu benar-benar membelakangi. Jadi yang dipanggil bukan orang yang sekali lengah, melainkan orang yang menyelesaikan gerakan berpalingnya sampai tuntas.
Kata yang pertama muncul di 4 ayat, dan salah satunya, 74:33, memakainya untuk malam yang berlalu, bukan untuk manusia. Jadi satu kata dipakai untuk manusia yang berpaling dan untuk malam yang beranjak pergi. Perbandingan itu memberi gambaran yang tenang tentang perbuatan yang sebenarnya berat: berpaling dari kebenaran digambarkan seperti malam yang bergerak menjauh, pelan dan tanpa keributan. Dan yang dipanggil disebut dengan kata yang berarti siapa, bentuk yang cakupannya terbuka. Panggilan itu tidak tertuju kepada orang tertentu melainkan kepada jenis perbuatan, sehingga siapa pun yang perbuatannya cocok akan mendengar panggilan yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini berarti menyeru atau memanggil, akar yang sama dengan kata untuk doa. Api itu digambarkan memanggil, bukan menangkap. Susunan tersebut membalik gambaran yang biasa. Yang lazim dibayangkan adalah orang diseret ke arah api; yang dilukiskan di sini adalah api yang memanggil dan orang yang datang atas panggilan itu. Yang datang karena dipanggil sulit mengaku dipaksa. Yang datang karena dipanggil tidak bisa mengaku telah dipaksa. Sudahkah kita memeriksa panggilan mana yang selama ini paling sering kita jawab?
- Dua kata kerja di bagian kedua berdekatan artinya: yang pertama berarti berpaling, yang kedua berbalik dan membelakangi. Pengulangan berdekatan seperti itu menandai penegasan bertingkat. Jadi yang dipanggil bukan orang yang sekali lengah, melainkan orang yang menyelesaikan gerakan berpalingnya sampai tuntas. Allah membedakan antara tergelincir sesaat dan berbalik dengan sengaja. Yang sekali lengah masih punya jalan pulang; yang menuntaskan gerakannya tidak menoleh lagi.
- Kata pertama di bagian kedua muncul di 4 ayat, dan di 74:33 ia dipakai untuk malam yang berlalu, bukan untuk manusia. Satu kata dipakai untuk manusia yang berpaling dan untuk malam yang beranjak pergi. Perbandingan itu memberi gambaran yang tenang tentang perbuatan yang sebenarnya berat. Berpaling dari kebenaran digambarkan seperti malam yang bergerak menjauh, pelan dan tanpa keributan. Perbuatan berat bisa dilukiskan dengan gambaran yang tenang, dan justru itu yang membuatnya menusuk.
- Yang dipanggil disebut dengan kata yang berarti siapa, bentuk yang cakupannya terbuka. Teks tidak menyebut nama, tidak pula menyebut jumlah. Panggilan itu tidak tertuju kepada orang tertentu melainkan kepada jenis perbuatan. Siapa pun yang perbuatannya cocok akan mendengar panggilan yang sama. Allah menetapkan sasaran lewat perbuatan, bukan lewat daftar nama, dan itu membuat peringatannya berlaku sepanjang zaman. Daftar nama akan usang; daftar perbuatan tidak pernah kedaluwarsa.
- Di 70:16 yang disebut adalah apa yang api lakukan pada permukaan tubuh; di sini yang disebut adalah siapa yang ia panggil. Perpindahan dari akibat ke sebab itu berlanjut di 70:18, yang menyebut satu perbuatan lagi. Rangkaian tiga ayat bergerak mundur dari siksa menuju perbuatan yang mengundangnya. Allah tidak berhenti pada gambaran hukuman; Dia menuntun pembaca sampai ke pangkalnya. Berhenti di gambaran hukuman membuat pembaca takut tanpa tahu apa yang harus diubah.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk perempuan tunggal, menyesuaikan diri dengan api yang disebut di 70:15. Kesesuaian bentuk itu mengikat tiga ayat berturut-turut menjadi satu gambaran yang utuh. Tanpa memperhatikan kesesuaian tersebut, pembaca bisa mengira yang memanggil adalah pihak lain. Satu ciri tata bahasa memastikan siapa yang sedang melakukan apa dalam rangkaian yang tidak menyebut pelakunya berulang-ulang. Tanpa memperhatikan kesesuaian bentuk, pembaca bisa mengira yang memanggil adalah pihak lain.