إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًاinna l-insaana khuliqa haluu'ansesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
  3. خُلِقَkhuliqadiciptakan
  4. هَلُوعًاhaluu'anberkeluh kesah

Inti bacaan

Diagnosis fitrah dasar manusia: 'sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah', pengakuan jujur tentang kecenderungan psikologis alami manusia terhadap kegelisahan, bukan tuduhan moral melainkan deskripsi kondisi awal yang perlu diatasi melalui usaha sadar.

Penjelasan pilihan kata

Kata (هَلُوعًا, haluu'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola penguat, menandai sifat yang melekat kuat, bukan keadaan sesaat. Maknanya menyangkut kegelisahan yang membuat orang tidak sabar menunggu dan tidak tenang ketika memiliki. Dua ayat berikutnya menjelaskan sendiri apa maksudnya, sehingga pembaca tidak perlu menebak. Terjemahan 'berkeluh kesah' menahan kegelisahannya, dengan catatan bahwa cakupan aslinya mencakup dua arah yang dirinci di 70:20 dan 70:21.

Bentuk (خُلِقَ, khuliqa) muncul di 4 ayat: 21:37, 70:19, 86:5, dan 86:6. Ia berbentuk pasif, sehingga bunyinya 'diciptakan', tanpa menyebut pelakunya. Di 21:37 susunan yang hampir sama dipakai untuk sifat lain, yaitu manusia diciptakan tergesa-gesa. Dua ayat itu memakai bentuk pasif yang sama untuk menyatakan sifat bawaan, dan keduanya tidak menyebut siapa yang menciptakan meski jawabannya sudah jelas.

Rangkaian (إِنَّ الْإِنْسَانَ, inna al-insaana) muncul di 8 ayat: 14:34, 22:66, 42:48, 43:15, 70:19, 96:6, 100:6, dan 103:2. Hampir semuanya membuka pernyataan tentang cacat bawaan manusia. Jadi susunan ini punya bentuk yang tetap di seluruh Al-Qur'an, dan kehadirannya di sini menempatkan ayat tersebut dalam satu barisan panjang keterangan tentang tabiat dasar.

Yang perlu dicermati, sifat itu dinyatakan sebagai bawaan, bukan sebagai kesalahan. Bentuk pasif pada kata kerjanya menutup kemungkinan membacanya sebagai tuduhan. Manusia tidak disalahkan karena memilikinya; ia disebut memang diciptakan demikian. Tuntutannya baru muncul di 70:22, ketika disebut pengecualian bagi yang bersalat.

Ayat ini membuka bagian baru dan bergerak ke arah yang berbeda dari sebelumnya. Sampai 70:18, yang dibicarakan adalah hari itu dan siapa yang disasarnya. Sejak di sini, yang dibicarakan adalah manusia dan tabiatnya. Perpindahan itu mendadak, tanpa kata penghubung yang melembutkan. Dan bagian ini berjalan sampai 70:35 sebelum nada berbalik lagi di 70:36.

Susunan (إِنَّ, inna) yang membuka ayat ini menandai penegasan. Ia dipakai ketika yang disampaikan diperkirakan akan ditolak pendengarnya. Jadi bentuknya sudah memperhitungkan keberatan sebelum keberatan itu diucapkan, dan memang keterangan tentang cacat bawaan adalah jenis pernyataan yang paling sering ditolak orang tentang dirinya sendiri.

Perlu dicatat pula bahwa yang disebut adalah manusia dengan penanda tertentu, bukan sebagian manusia. Cakupannya menyeluruh tanpa kecuali, dan pengecualiannya baru disebut tiga ayat kemudian di 70:22. Jadi selama tiga ayat, pernyataan itu berdiri tanpa penawar apa pun. Susunan tersebut memaksa pembaca lebih dulu menerima keterangan tentang dirinya sebelum diberi jalan keluar.

Tafsiran

Ayat ini membuka penjelasan tabiat dasar manusia yang gelisah. Ayat ini membuka bagian baru yang bergerak ke arah berbeda. Sampai 70:18, yang dibicarakan adalah hari itu dan siapa yang disasarnya. Sejak di sini, yang dibicarakan adalah manusia dan tabiatnya. Perpindahan itu mendadak, tanpa kata penghubung yang melembutkan, dan bagian ini berjalan sampai 70:35 sebelum nada berbalik lagi di 70:36.

Yang paling perlu dicermati adalah bentuk kata kerjanya. Ia pasif, sehingga bunyinya diciptakan, tanpa menyebut pelakunya. Susunan itu menutup kemungkinan membaca ayat ini sebagai tuduhan. Manusia tidak disalahkan karena memiliki sifat tersebut; ia disebut memang diciptakan demikian. Di 21:37 susunan yang hampir sama dipakai untuk sifat lain, yaitu manusia diciptakan tergesa-gesa. Dua ayat memakai bentuk yang sama untuk menyatakan sifat bawaan.

Kata sifatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berpola penguat, menandai sifat yang melekat kuat. Yang menarik, Al-Qur'an tidak membiarkan kata langka itu menggantung tanpa keterangan. Dua ayat berikutnya menjelaskan sendiri apa maksudnya: gelisah ketika ditimpa keburukan, kikir ketika mendapat kebaikan. Jadi kata yang paling sulit dipahami di bagian ini justru diberi kamusnya sendiri persis sesudahnya. Dan tuntutannya baru muncul di 70:22, ketika disebut pengecualian bagi yang bersalat. Susunan itu bergerak rapi: sifat bawaan dinyatakan, dirinci, lalu diberi jalan keluar.

Renungan dan Hikmah

  • Bentuk kata kerja di ayat ini pasif, sehingga bunyinya diciptakan, tanpa menyebut pelakunya. Susunan itu menutup kemungkinan membaca ayat ini sebagai tuduhan. Manusia tidak disalahkan karena memiliki sifat tersebut; ia disebut memang diciptakan demikian. Tuntutannya baru muncul di 70:22. Mengenali cacat sebagai bawaan lebih menenangkan daripada mengenalinya sebagai dosa yang tak pernah bisa dijelaskan asalnya. Allah menyebut cacat itu tanpa nada mencela, dan justru itu yang membuatnya bisa diterima. Cacat yang disebut tanpa nada mencela lebih mudah diakui oleh yang memilikinya.
  • Kata sifat di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, tetapi Al-Qur'an tidak membiarkannya menggantung. Dua ayat berikutnya menjelaskan sendiri apa maksudnya: gelisah ketika ditimpa keburukan, kikir ketika mendapat kebaikan. Jadi kata yang paling sulit di bagian ini justru diberi keterangannya persis sesudahnya. Allah tidak menyulitkan pembaca dengan istilah yang tidak Dia terangkan sendiri. Istilah yang diterangkan sendiri oleh Allah tidak menyisakan ruang untuk tebakan. Kamus yang disediakan sendiri oleh Allah menutup celah bagi tafsiran yang mengarang.
  • Bentuk pasif di ayat ini muncul di 4 ayat, dan di 21:37 susunan yang hampir sama dipakai untuk sifat lain: manusia diciptakan tergesa-gesa. Dua ayat memakai bentuk yang sama untuk menyatakan sifat bawaan, dan keduanya tidak menyebut siapa yang menciptakan meski jawabannya sudah jelas. Al-Qur'an menyebut cacat manusia lebih dari sekali, dan tak sekali pun sebagai penghinaan. Pengulangan di banyak surah menandai bahwa pokoknya memang perlu berkali-kali disebut.
  • Rangkaian pembuka ayat ini muncul di 8 ayat: 14:34, 22:66, 42:48, 43:15, 70:19, 96:6, 100:6, dan 103:2. Hampir semuanya membuka pernyataan tentang cacat bawaan manusia. Susunan ini punya bentuk yang tetap di seluruh Al-Qur'an. Kehadirannya di sini menempatkan ayat tersebut dalam satu barisan panjang keterangan yang saling menguatkan tanpa perlu saling merujuk.
  • Sampai 70:18, yang dibicarakan adalah hari itu dan siapa yang disasarnya. Sejak ayat ini, yang dibicarakan adalah manusia dan tabiatnya. Perpindahan itu mendadak, tanpa kata penghubung yang melembutkan. Allah memindahkan sorotan dari kejadian ke pelaku tanpa memberi jeda. Yang tadinya membaca tentang hari itu mendadak menemukan dirinya sedang dibicarakan. Perpindahan sorotan yang mendadak menutup jarak antara pembaca dan yang dibaca.
  • Kata sifat di ayat ini berpola penguat, menandai sifat yang melekat kuat, bukan keadaan sesaat. Jadi yang disebut bukan suasana hati yang datang dan pergi, melainkan watak yang menyertai sepanjang hidup. Kalau memang melekat sejak diciptakan, apa yang sebenarnya dituntut dari kita: menghapusnya, atau menempuh jalan yang membuatnya tidak lagi menguasai? Yang dituntut bukan menghapus watak, melainkan menempuh jalan agar ia tak menguasai. Yang melekat sejak awal tidak dituntut hilang, melainkan dituntut tidak berkuasa.