Ayat 70:20

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا

Apabila keburukan menyentuhnya, dia berkeluh kesah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًاidzaa massahu sy-syarru jazuu'anapabila keburukan menyentuhnya, dia berkeluh kesah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. مَسَّهُmassahumenyentuhnya
  3. الشَّرُّsy-syarrukeburukan
  4. جَزُوعًاjazuu'anyang berkeluh kesah

Inti bacaan

Manifestasi kegelisahan dalam kesulitan: 'apabila keburukan menyentuhnya, ia berkeluh kesah', rincian spesifik pertama dari sifat dasar yang disebutkan sebelumnya, respons berlebihan terhadap kesulitan sebagai kecenderungan alami yang perlu dikelola.

Penjelasan pilihan kata

Kata (جَزُوعًا, jazuu'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola penguat, sama seperti kata sifat di 70:19 dan 70:21. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama, dan ketiganya berakhir dengan bunyi yang sama pula. Maknanya menyangkut hilangnya ketahanan ketika ditimpa sesuatu, kebalikan langsung dari sabar. Terjemahan 'berkeluh kesah' dipakai, meski kata itu sudah dipakai untuk sifat induknya di 70:19.

Rangkaian (مَسَّهُ الشَّرُّ, massahu asy-syarru) muncul di 4 ayat: 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20. Tiga ayat lainnya semuanya berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Jadi susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang di beberapa surah, dan kehadirannya di sini menempatkan ayat tersebut dalam barisan yang sudah dikenal.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerjanya berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Pilihan itu bermakna. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan, bukan oleh pukulan yang berat. Terjemahan 'menyentuhnya' menahan kelembutan kata kerjanya, dan menggantinya dengan menimpa akan membesarkan sebab yang sengaja dibuat kecil.

Satu lapis lagi perlu dibuka. Susunan kalimatnya tidak menyebut pelaku baru. Kata sifat di ayat ini berdiri sebagai keterangan bagi manusia yang disebut di 70:19, bukan sebagai kalimat sendiri. Jadi tiga ayat sejak 70:19 satu kalimat yang dipotong nomor, dan dua ayat terakhir merinci sifat yang disebut di ayat pertama.

Satu lapis lagi perlu dibuka. Perlu dicatat bahwa keterangan waktu di awal ayat memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya 'apabila', bukan 'jika'. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Pilihan tersebut menegaskan bahwa keadaan itu pasti datang, dan yang dipersoalkan hanya bagaimana orang menghadapinya.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu ditambahkan bahwa kata untuk keburukan di ayat ini memakai penanda tertentu, sedangkan kata untuk kebaikan di 70:21 juga demikian. Dua-duanya disebut sebagai jenis yang sudah dikenal, bukan sebagai kejadian tertentu. Susunan itu membuat gambarannya berlaku umum: bukan satu keburukan tertentu, melainkan keburukan sebagai golongan. Terjemahan mempertahankan penanda tersebut lewat kata sandang yang wajar dalam bahasa Indonesia.

Tafsiran

Ayat penutup rangkaian ini menutup penjelasan tabiat manusia yang gelisah saat ditimpa keburukan. Ayat ini merinci paruh pertama sifat yang disebut di 70:19. Kata sifatnya berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di ayat sebelumnya dan sesudahnya. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama dan berakhir dengan bunyi yang sama pula, sehingga ketiganya terdengar sebagai satu kesatuan meski dipisah nomor.

Yang paling perlu dicermati adalah kata kerjanya. Ia berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan, bukan oleh pukulan yang berat. Menggantinya dengan menimpa akan membesarkan sebab yang sengaja dibuat kecil, dan seluruh ketajaman ayat akan hilang bersamanya.

Keterangan waktunya memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya apabila, bukan jika. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Pilihan tersebut menegaskan bahwa keadaan itu pasti datang, dan yang dipersoalkan hanya bagaimana orang menghadapinya. Dan rangkaian yang dipakai di sini muncul di 4 ayat, tiga di antaranya juga berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang, sehingga pembaca yang mengenali satu ayat akan mengenali yang lain tanpa perlu diberi tahu.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan. Allah memilih kata yang membuat sebabnya terasa kecil, dan justru kekecilan itu yang menelanjangi rapuhnya ketahanan. Yang runtuh oleh sentuhan tidak perlu menunggu badai untuk terbukti rapuh. Badai hanya membuktikan apa yang sudah retak sejak sebelum ia datang. Yang runtuh oleh sentuhan tak perlu menunggu badai untuk terbukti rapuh.
  • Keterangan waktu di awal ayat memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya apabila, bukan jika. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Allah menetapkan bahwa keadaan tersebut pasti datang. Yang dipersoalkan bukan apakah kesulitan akan tiba, melainkan bentuk apa yang muncul dari diri kita ketika ia tiba. Kesulitan adalah alat ukur, bukan hukuman yang dijatuhkan tiba-tiba.
  • Kata sifat di ayat ini berpola penguat, sama seperti kata sifat di 70:19 dan 70:21. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama dan berakhir dengan bunyi yang sama pula. Ketiganya terdengar sebagai satu kesatuan meski dipisah nomor. Allah mengikat tiga ayat lewat bunyi, bukan lewat kata penghubung, dan ikatan bunyi itu bekerja pada telinga sebelum pikiran menyadarinya.
  • Rangkaian di ayat ini muncul di 4 ayat: 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20. Tiga ayat lainnya semuanya berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang di beberapa surah. Pembaca yang mengenali satu ayat akan mengenali yang lain tanpa perlu diberi tahu, dan pengenalan itu sendiri sudah merupakan pelajaran. Mengenali satu pola membuat pembaca menemukan sendiri ayat-ayat sekerabatnya. Pengenalan pola itu sendiri sudah merupakan pelajaran bagi yang membaca berulang.
  • Makna kata sifat di ayat ini menyangkut hilangnya ketahanan ketika ditimpa sesuatu, kebalikan langsung dari sabar. Menariknya, perintah bersabar sudah diberikan lebih dulu di 70:5. Jadi surah ini menyebut tuntutannya sebelum menyebut cacat yang membuat tuntutan itu berat. Urutan seperti itu memberi tahu pembaca apa yang diminta sebelum ia sempat berkilah bahwa dirinya memang tidak sanggup. Tuntutan yang datang lebih dulu menutup pintu bagi kilah yang menyusul kemudian.
  • Kata sifat di ayat ini berdiri sebagai keterangan bagi manusia yang disebut di 70:19, bukan sebagai kalimat sendiri. Tiga ayat sejak sana satu kalimat yang dipotong nomor, dan dua ayat terakhir merinci sifat yang disebut di ayat pertama. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan sifat tanpa yang disifati. Berapa sering kita menilai satu ayat tanpa membaca kalimat yang menampungnya? Satu ayat yang dinilai sendirian mudah kehilangan pokok yang menopangnya. Nomor ayat memisahkan tulisan, bukan memisahkan kalimat yang disusun Allah.

Ayat 70:21

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

Dan apabila kebaikan menyentuhnya, dia kikir,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًاwa-idzaa massahu l-khayru manuu'andan apabila kebaikan menyentuhnya, dia kikir

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. مَسَّهُmassahumenyentuhnya
  3. الْخَيْرُl-khayrukebaikan
  4. مَنُوعًاmanuu'anyang kikir

Inti bacaan

Manifestasi kegelisahan dalam kelimpahan: 'apabila kebaikan menyentuhnya, ia kikir', rincian kedua yang menunjukkan bahwa kecenderungan negatif bukan hanya muncul saat kesulitan, tetapi juga saat kelimpahan, pola yang konsisten menegaskan perlunya disiplin dalam kedua kondisi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَنُوعًا, manuu'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di ayat sebelumnya. Maknanya menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Jadi yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Terjemahan 'kikir' menahan sisi menahan itu, dengan catatan bahwa aslinya lebih menekankan tindakan menghalangi daripada sifat pelit.

Kata (الْخَيْرُ, al-khayru) dalam bentuk ini muncul di 2 ayat: 3:26 dan 70:21. Di 3:26 ia berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Di sini ia berdiri sebagai sesuatu yang menyentuh manusia lalu ditahannya. Dua ayat itu menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya.

Bentuk (مَسَّهُ, massahu) muncul di 6 ayat: 10:12, 17:83, 41:49, 41:51, 70:20, dan 70:21. Dua dari enam berada di surah ini, dan keduanya berurutan. Kata kerja yang sama dipakai untuk keburukan di ayat sebelumnya dan untuk kebaikan di ayat ini. Kesejajaran itu disengaja: dua keadaan yang berlawanan dilukiskan dengan kata kerja yang sama, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya.

Susunan dua ayat ini membentuk sepasang yang rapi. Yang pertama tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; yang kedua tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Jadi sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda.

Perlu dicatat bahwa kedua ayat rincian ini tidak menyebut Allah sama sekali. Yang disebut hanya manusia, apa yang menyentuhnya, dan bagaimana ia menanggapi. Nama Allah baru muncul lagi jauh sesudahnya. Ketiadaan penyebutan itu membuat gambaran tabiat tersebut berdiri sebagai pengamatan, bukan sebagai tuduhan yang datang dari atas.

Huruf pembuka ayat ini adalah penyambung yang menandai pertentangan dengan ayat sebelumnya. Bunyinya 'dan apabila', dan pertentangannya terletak pada apa yang menyentuh: yang di sana keburukan, yang di sini kebaikan. Terjemahan mempertahankan penyambung tersebut, sebab menghilangkannya akan memutus dua ayat yang justru dirancang untuk dibaca berpasangan.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu ditambahkan bahwa tiga kata sifat di 70:19, 70:20, dan 70:21 semuanya berbentuk tidak tentu. Jadi bunyinya 'berkeluh kesah', bukan 'si pengeluh itu'. Bentuk tidak tentu membuat sifat tersebut terbaca sebagai keadaan, bukan sebagai sebutan yang melekat pada golongan tertentu. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu, sebab menutupnya akan mengubah keterangan tentang watak menjadi label bagi sekelompok orang.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi tabiat gelisah manusia: kikir saat mendapat kebaikan. Ayat ini melengkapi pasangan yang dibuka di 70:20. Yang pertama tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; yang kedua tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Jadi sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda.

Kata kerja yang dipakai sama persis dengan yang di ayat sebelumnya. Ia muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini secara berurutan. Kata kerja yang sama dipakai untuk keburukan di ayat sebelumnya dan untuk kebaikan di ayat ini. Kesejajaran itu disengaja: dua keadaan yang berlawanan dilukiskan dengan kata kerja yang sama, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya.

Kata sifatnya menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Jadi yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Dan kata untuk kebaikan di ayat ini muncul di 2 ayat saja; yang satunya lagi, 3:26, berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Dua ayat itu menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya. Perbandingan tersebut membuat kekikiran terbaca bukan sebagai pelit terhadap sesama, melainkan sebagai menahan sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata sifat di ayat ini menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Terjemahan menahan sisi menghalangi itu. Perbedaannya menentukan: yang lupa masih bisa diingatkan, sedangkan yang menahan sudah lebih dulu memutuskan dan tinggal mencari alasannya. Alasan selalu tersedia bagi keputusan yang sudah diambil lebih dulu.
  • Kata kerja di ayat ini sama persis dengan yang di 70:20, dan muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an. Dua di antaranya berada di surah ini secara berurutan. Kata yang sama dipakai untuk keburukan dan untuk kebaikan. Kesejajaran itu disengaja Allah, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya. Sentuhannya setara; tanggapannyalah yang menelanjangi watak. Dua keadaan berlawanan diberi kata kerja yang sama supaya tanggapannya yang menonjol. Sentuhan yang setara menelanjangi perbedaan yang selama ini tersembunyi.
  • Kata untuk kebaikan di ayat ini muncul di 2 ayat saja, dan yang satunya lagi, 3:26, berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Dua ayat menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya. Kekikiran terbaca bukan sebagai pelit terhadap sesama, melainkan sebagai menahan titipan. Titipan yang ditahan berbeda kedudukannya dari milik yang tidak dibagikan.
  • Ayat 70:20 tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; ayat ini tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda. Orang yang mengira dirinya hanya punya satu dari dua cacat itu biasanya belum memeriksa keduanya. Memeriksa satu sisi saja membuat orang merasa bersih dari sisi yang lain. Pemeriksaan yang setengah selalu menghasilkan kesimpulan yang terlalu ringan.
  • Kedua ayat rincian ini tidak menyebut Allah sama sekali. Yang disebut hanya manusia, apa yang menyentuhnya, dan bagaimana ia menanggapi. Ketiadaan penyebutan itu membuat gambaran tabiat tersebut berdiri sebagai pengamatan, bukan sebagai tuduhan yang datang dari atas. Kebenaran yang disodorkan sebagai cermin lebih sulit dibantah daripada yang disodorkan sebagai dakwaan.
  • Kata sifat di ayat ini berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di 70:19 dan 70:20. Ketiganya berakhir dengan bunyi yang sama, sehingga terdengar sebagai satu kesatuan. Sesudah ayat ini bunyinya berganti, dan pergantian itu menandai bahwa rinciannya sudah selesai. Kalau bunyi saja sudah menandai batas bagian, apa lagi yang kita lewatkan dengan membaca terjemahan tanpa mendengar aslinya? Pergantian bunyi menandai batas bagian, dan batas itu hilang dalam terjemahan. Membaca terjemahan tanpa mendengar aslinya melewatkan tanda yang dipasang lewat bunyi.