إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Apabila keburukan menyentuhnya, dia berkeluh kesah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًاidzaa massahu sy-syarru jazuu'anapabila keburukan menyentuhnya, dia berkeluh kesah
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِذَاidzaaapabila
- مَسَّهُmassahumenyentuhnya
- الشَّرُّsy-syarrukeburukan
- جَزُوعًاjazuu'anyang berkeluh kesah
Inti bacaan
Manifestasi kegelisahan dalam kesulitan: 'apabila keburukan menyentuhnya, ia berkeluh kesah', rincian spesifik pertama dari sifat dasar yang disebutkan sebelumnya, respons berlebihan terhadap kesulitan sebagai kecenderungan alami yang perlu dikelola.
Penjelasan pilihan kata
Kata (جَزُوعًا, jazuu'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola penguat, sama seperti kata sifat di 70:19 dan 70:21. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama, dan ketiganya berakhir dengan bunyi yang sama pula. Maknanya menyangkut hilangnya ketahanan ketika ditimpa sesuatu, kebalikan langsung dari sabar. Terjemahan 'berkeluh kesah' dipakai, meski kata itu sudah dipakai untuk sifat induknya di 70:19.
Rangkaian (مَسَّهُ الشَّرُّ, massahu asy-syarru) muncul di 4 ayat: 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20. Tiga ayat lainnya semuanya berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Jadi susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang di beberapa surah, dan kehadirannya di sini menempatkan ayat tersebut dalam barisan yang sudah dikenal.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata kerjanya berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Pilihan itu bermakna. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan, bukan oleh pukulan yang berat. Terjemahan 'menyentuhnya' menahan kelembutan kata kerjanya, dan menggantinya dengan menimpa akan membesarkan sebab yang sengaja dibuat kecil.
Satu lapis lagi perlu dibuka. Susunan kalimatnya tidak menyebut pelaku baru. Kata sifat di ayat ini berdiri sebagai keterangan bagi manusia yang disebut di 70:19, bukan sebagai kalimat sendiri. Jadi tiga ayat sejak 70:19 satu kalimat yang dipotong nomor, dan dua ayat terakhir merinci sifat yang disebut di ayat pertama.
Satu lapis lagi perlu dibuka. Perlu dicatat bahwa keterangan waktu di awal ayat memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya 'apabila', bukan 'jika'. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Pilihan tersebut menegaskan bahwa keadaan itu pasti datang, dan yang dipersoalkan hanya bagaimana orang menghadapinya.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu ditambahkan bahwa kata untuk keburukan di ayat ini memakai penanda tertentu, sedangkan kata untuk kebaikan di 70:21 juga demikian. Dua-duanya disebut sebagai jenis yang sudah dikenal, bukan sebagai kejadian tertentu. Susunan itu membuat gambarannya berlaku umum: bukan satu keburukan tertentu, melainkan keburukan sebagai golongan. Terjemahan mempertahankan penanda tersebut lewat kata sandang yang wajar dalam bahasa Indonesia.
Tafsiran
Ayat penutup rangkaian ini menutup penjelasan tabiat manusia yang gelisah saat ditimpa keburukan. Ayat ini merinci paruh pertama sifat yang disebut di 70:19. Kata sifatnya berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di ayat sebelumnya dan sesudahnya. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama dan berakhir dengan bunyi yang sama pula, sehingga ketiganya terdengar sebagai satu kesatuan meski dipisah nomor.
Yang paling perlu dicermati adalah kata kerjanya. Ia berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan, bukan oleh pukulan yang berat. Menggantinya dengan menimpa akan membesarkan sebab yang sengaja dibuat kecil, dan seluruh ketajaman ayat akan hilang bersamanya.
Keterangan waktunya memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya apabila, bukan jika. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Pilihan tersebut menegaskan bahwa keadaan itu pasti datang, dan yang dipersoalkan hanya bagaimana orang menghadapinya. Dan rangkaian yang dipakai di sini muncul di 4 ayat, tiga di antaranya juga berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang, sehingga pembaca yang mengenali satu ayat akan mengenali yang lain tanpa perlu diberi tahu.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini berarti menyentuh, bukan menimpa dengan keras. Yang disebut bukan bencana besar melainkan sentuhan. Jadi yang dilukiskan adalah orang yang kehilangan ketahanan bahkan oleh sentuhan keburukan. Allah memilih kata yang membuat sebabnya terasa kecil, dan justru kekecilan itu yang menelanjangi rapuhnya ketahanan. Yang runtuh oleh sentuhan tidak perlu menunggu badai untuk terbukti rapuh. Badai hanya membuktikan apa yang sudah retak sejak sebelum ia datang. Yang runtuh oleh sentuhan tak perlu menunggu badai untuk terbukti rapuh.
- Keterangan waktu di awal ayat memakai kata yang menandai kepastian, bukan kemungkinan. Bunyinya apabila, bukan jika. Jadi yang dinyatakan bukan andaikata keburukan menyentuhnya, melainkan setiap kali hal itu terjadi. Allah menetapkan bahwa keadaan tersebut pasti datang. Yang dipersoalkan bukan apakah kesulitan akan tiba, melainkan bentuk apa yang muncul dari diri kita ketika ia tiba. Kesulitan adalah alat ukur, bukan hukuman yang dijatuhkan tiba-tiba.
- Kata sifat di ayat ini berpola penguat, sama seperti kata sifat di 70:19 dan 70:21. Tiga ayat berturut-turut memakai pola bentukan yang sama dan berakhir dengan bunyi yang sama pula. Ketiganya terdengar sebagai satu kesatuan meski dipisah nomor. Allah mengikat tiga ayat lewat bunyi, bukan lewat kata penghubung, dan ikatan bunyi itu bekerja pada telinga sebelum pikiran menyadarinya.
- Rangkaian di ayat ini muncul di 4 ayat: 17:83, 41:49, 41:51, dan 70:20. Tiga ayat lainnya semuanya berbicara tentang manusia yang berubah sikap ketika ditimpa keburukan. Susunan ini punya bentuk yang tetap dan berulang di beberapa surah. Pembaca yang mengenali satu ayat akan mengenali yang lain tanpa perlu diberi tahu, dan pengenalan itu sendiri sudah merupakan pelajaran. Mengenali satu pola membuat pembaca menemukan sendiri ayat-ayat sekerabatnya. Pengenalan pola itu sendiri sudah merupakan pelajaran bagi yang membaca berulang.
- Makna kata sifat di ayat ini menyangkut hilangnya ketahanan ketika ditimpa sesuatu, kebalikan langsung dari sabar. Menariknya, perintah bersabar sudah diberikan lebih dulu di 70:5. Jadi surah ini menyebut tuntutannya sebelum menyebut cacat yang membuat tuntutan itu berat. Urutan seperti itu memberi tahu pembaca apa yang diminta sebelum ia sempat berkilah bahwa dirinya memang tidak sanggup. Tuntutan yang datang lebih dulu menutup pintu bagi kilah yang menyusul kemudian.
- Kata sifat di ayat ini berdiri sebagai keterangan bagi manusia yang disebut di 70:19, bukan sebagai kalimat sendiri. Tiga ayat sejak sana satu kalimat yang dipotong nomor, dan dua ayat terakhir merinci sifat yang disebut di ayat pertama. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan sifat tanpa yang disifati. Berapa sering kita menilai satu ayat tanpa membaca kalimat yang menampungnya? Satu ayat yang dinilai sendirian mudah kehilangan pokok yang menopangnya. Nomor ayat memisahkan tulisan, bukan memisahkan kalimat yang disusun Allah.