وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
Dan apabila kebaikan menyentuhnya, dia kikir,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًاwa-idzaa massahu l-khayru manuu'andan apabila kebaikan menyentuhnya, dia kikir
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- مَسَّهُmassahumenyentuhnya
- الْخَيْرُl-khayrukebaikan
- مَنُوعًاmanuu'anyang kikir
Inti bacaan
Manifestasi kegelisahan dalam kelimpahan: 'apabila kebaikan menyentuhnya, ia kikir', rincian kedua yang menunjukkan bahwa kecenderungan negatif bukan hanya muncul saat kesulitan, tetapi juga saat kelimpahan, pola yang konsisten menegaskan perlunya disiplin dalam kedua kondisi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَنُوعًا, manuu'an) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di ayat sebelumnya. Maknanya menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Jadi yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Terjemahan 'kikir' menahan sisi menahan itu, dengan catatan bahwa aslinya lebih menekankan tindakan menghalangi daripada sifat pelit.
Kata (الْخَيْرُ, al-khayru) dalam bentuk ini muncul di 2 ayat: 3:26 dan 70:21. Di 3:26 ia berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Di sini ia berdiri sebagai sesuatu yang menyentuh manusia lalu ditahannya. Dua ayat itu menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya.
Bentuk (مَسَّهُ, massahu) muncul di 6 ayat: 10:12, 17:83, 41:49, 41:51, 70:20, dan 70:21. Dua dari enam berada di surah ini, dan keduanya berurutan. Kata kerja yang sama dipakai untuk keburukan di ayat sebelumnya dan untuk kebaikan di ayat ini. Kesejajaran itu disengaja: dua keadaan yang berlawanan dilukiskan dengan kata kerja yang sama, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya.
Susunan dua ayat ini membentuk sepasang yang rapi. Yang pertama tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; yang kedua tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Jadi sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda.
Perlu dicatat bahwa kedua ayat rincian ini tidak menyebut Allah sama sekali. Yang disebut hanya manusia, apa yang menyentuhnya, dan bagaimana ia menanggapi. Nama Allah baru muncul lagi jauh sesudahnya. Ketiadaan penyebutan itu membuat gambaran tabiat tersebut berdiri sebagai pengamatan, bukan sebagai tuduhan yang datang dari atas.
Huruf pembuka ayat ini adalah penyambung yang menandai pertentangan dengan ayat sebelumnya. Bunyinya 'dan apabila', dan pertentangannya terletak pada apa yang menyentuh: yang di sana keburukan, yang di sini kebaikan. Terjemahan mempertahankan penyambung tersebut, sebab menghilangkannya akan memutus dua ayat yang justru dirancang untuk dibaca berpasangan.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu ditambahkan bahwa tiga kata sifat di 70:19, 70:20, dan 70:21 semuanya berbentuk tidak tentu. Jadi bunyinya 'berkeluh kesah', bukan 'si pengeluh itu'. Bentuk tidak tentu membuat sifat tersebut terbaca sebagai keadaan, bukan sebagai sebutan yang melekat pada golongan tertentu. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu, sebab menutupnya akan mengubah keterangan tentang watak menjadi label bagi sekelompok orang.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi tabiat gelisah manusia: kikir saat mendapat kebaikan. Ayat ini melengkapi pasangan yang dibuka di 70:20. Yang pertama tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; yang kedua tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Jadi sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda.
Kata kerja yang dipakai sama persis dengan yang di ayat sebelumnya. Ia muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya berada di surah ini secara berurutan. Kata kerja yang sama dipakai untuk keburukan di ayat sebelumnya dan untuk kebaikan di ayat ini. Kesejajaran itu disengaja: dua keadaan yang berlawanan dilukiskan dengan kata kerja yang sama, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya.
Kata sifatnya menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Jadi yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Dan kata untuk kebaikan di ayat ini muncul di 2 ayat saja; yang satunya lagi, 3:26, berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Dua ayat itu menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya. Perbandingan tersebut membuat kekikiran terbaca bukan sebagai pelit terhadap sesama, melainkan sebagai menahan sesuatu yang sejak awal bukan miliknya.
Renungan dan Hikmah
- Kata sifat di ayat ini menyangkut menahan sesuatu agar tidak sampai kepada orang lain, bukan sekadar tidak memberi. Yang dilukiskan bukan orang yang lupa berbagi, melainkan orang yang menahan dengan sengaja. Terjemahan menahan sisi menghalangi itu. Perbedaannya menentukan: yang lupa masih bisa diingatkan, sedangkan yang menahan sudah lebih dulu memutuskan dan tinggal mencari alasannya. Alasan selalu tersedia bagi keputusan yang sudah diambil lebih dulu.
- Kata kerja di ayat ini sama persis dengan yang di 70:20, dan muncul di 6 ayat di seluruh Al-Qur'an. Dua di antaranya berada di surah ini secara berurutan. Kata yang sama dipakai untuk keburukan dan untuk kebaikan. Kesejajaran itu disengaja Allah, sehingga yang berbeda hanya apa yang menyentuh dan bagaimana orang menanggapinya. Sentuhannya setara; tanggapannyalah yang menelanjangi watak. Dua keadaan berlawanan diberi kata kerja yang sama supaya tanggapannya yang menonjol. Sentuhan yang setara menelanjangi perbedaan yang selama ini tersembunyi.
- Kata untuk kebaikan di ayat ini muncul di 2 ayat saja, dan yang satunya lagi, 3:26, berdiri dalam kalimat tentang kebaikan yang seluruhnya ada di tangan Allah. Dua ayat menyusun hubungan yang tidak dinyatakan langsung: yang seluruhnya milik Allah justru ditahan oleh yang sekadar menerimanya. Kekikiran terbaca bukan sebagai pelit terhadap sesama, melainkan sebagai menahan titipan. Titipan yang ditahan berbeda kedudukannya dari milik yang tidak dibagikan.
- Ayat 70:20 tentang keburukan dan kehilangan ketahanan; ayat ini tentang kebaikan dan penahanan. Dua-duanya reaksi yang menutup diri: yang satu menutup diri dari sabar, yang lain menutup tangan dari memberi. Sifat induk di 70:19 ternyata satu watak yang tampil dalam dua bentuk yang tampak berbeda. Orang yang mengira dirinya hanya punya satu dari dua cacat itu biasanya belum memeriksa keduanya. Memeriksa satu sisi saja membuat orang merasa bersih dari sisi yang lain. Pemeriksaan yang setengah selalu menghasilkan kesimpulan yang terlalu ringan.
- Kedua ayat rincian ini tidak menyebut Allah sama sekali. Yang disebut hanya manusia, apa yang menyentuhnya, dan bagaimana ia menanggapi. Ketiadaan penyebutan itu membuat gambaran tabiat tersebut berdiri sebagai pengamatan, bukan sebagai tuduhan yang datang dari atas. Kebenaran yang disodorkan sebagai cermin lebih sulit dibantah daripada yang disodorkan sebagai dakwaan.
- Kata sifat di ayat ini berpola penguat, sama seperti dua kata sifat di 70:19 dan 70:20. Ketiganya berakhir dengan bunyi yang sama, sehingga terdengar sebagai satu kesatuan. Sesudah ayat ini bunyinya berganti, dan pergantian itu menandai bahwa rinciannya sudah selesai. Kalau bunyi saja sudah menandai batas bagian, apa lagi yang kita lewatkan dengan membaca terjemahan tanpa mendengar aslinya? Pergantian bunyi menandai batas bagian, dan batas itu hilang dalam terjemahan. Membaca terjemahan tanpa mendengar aslinya melewatkan tanda yang dipasang lewat bunyi.