Ayat 70:22
إِلَّا الْمُصَلِّينَ
Kecuali orang-orang yang bersalat,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَّا الْمُصَلِّينَillaa l-mushalliinakecuali orang-orang yang bersalat
Terjemahan per kata (2 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- الْمُصَلِّينَl-mushalliinaorang-orang yang bersalat
Inti bacaan
Pengecualian yang membebaskan dari sifat dasar negatif: 'kecuali orang-orang yang bersalat', identifikasi praktik spesifik yang menjadi solusi terhadap kecenderungan psikologis merugikan, salat sebagai mekanisme transformasi karakter bukan sekadar ritual formal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini hanya dua patah, dan seluruhnya berupa pengecualian. Kata (الْمُصَلِّينَ, al-mushalliina) muncul di 2 ayat: 70:22 dan 74:43. Di 74:43 kata itu berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu tidak termasuk orang yang bersalat. Jadi dua ayat yang memuatnya menyebut dua sisi yang berlawanan: yang di sini dikecualikan dari cacat bawaan, yang di sana mengaku tidak pernah termasuk.
Partikel (إِلَّا, illaa) yang membukanya menandai pengecualian. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru. Jadi ayat ini menyambung langsung ke tiga ayat sebelumnya dan membalik arahnya. Sesudah tabiat dinyatakan sebagai bawaan yang melekat, satu partikel membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuknya adalah pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat. Bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Terjemahan 'orang-orang yang bersalat' menahan sisi perbuatannya. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan, dan itu persis yang tidak dimaksud di sini.
Yang perlu dicatat, pengecualian ini dibuka dengan satu perbuatan saja, lalu dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Jadi salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Susunan itu berulang: yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit oleh dua penyebutan salat di kedua ujungnya.
Perlu diperhatikan pula bahwa bagian ini punya kembaran yang rapat di surah 23. Empat ayat di dalamnya, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda: di sana daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman, sedangkan di sini ia dibuka sebagai pengecualian dari cacat bawaan.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut iman sebagai pintu masuknya, melainkan perbuatan. Bandingkan dengan 23:1, yang menyebut orang beriman. Dua surah memakai pintu yang berbeda untuk daftar yang sebagian besar sama. Perbedaan itu menyisakan pertanyaan yang tidak dijawab langsung: apakah keduanya menunjuk kelompok yang sama, atau menyorot dua sisi dari kelompok yang sama.
Susunan pengecualian di ayat ini juga menentukan cakupannya. Ia mengecualikan dari pernyataan umum tentang manusia, bukan dari hukuman tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka terhindar dari azab, melainkan bahwa tabiat yang disebut di 70:19 tidak berlaku bagi mereka. Perbedaan tersebut penting: yang dikecualikan adalah wataknya, dan akibat baiknya baru disebut jauh kemudian di 70:35.
Tafsiran
Ayat ini membuka pengecualian bagi orang yang selalu menjaga salat. Ayat ini hanya dua patah, dan seluruhnya berupa pengecualian. Sesudah tiga ayat menyatakan tabiat manusia sebagai bawaan yang melekat, satu partikel membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru, sehingga ayat ini menyambung langsung dan membalik arah.
Yang dipakai sebagai pintu masuk adalah satu perbuatan saja. Bentuknya pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat, dan bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan, dan itu persis yang tidak dimaksud. Yang membedakan bukan nama yang disandang melainkan yang dikerjakan.
Sesudah pintu dibuka, daftarnya dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Dan susunannya berulang: yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit dua penyebutan salat di kedua ujungnya. Bagian ini juga punya kembaran yang rapat di surah 23: empat ayat di dalamnya, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda. Di sana daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman; di sini ia dibuka sebagai jalan keluar dari cacat bawaan. Isi yang sama dibingkai dua arah yang berlainan.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah tiga ayat menyatakan tabiat manusia sebagai bawaan yang melekat, satu partikel pengecualian membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru. Allah tidak menutup keterangan tentang cacat bawaan tanpa menyebut jalan keluarnya, dan jalan keluar itu diberikan persis di ayat berikutnya tanpa jeda. Keterangan tentang cacat tanpa keterangan tentang obatnya hanya melahirkan putus asa.
- Bentuk yang dipakai adalah pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat. Bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan. Yang membedakan di hadapan Allah bukan nama yang disandang melainkan yang dikerjakan, dan perbedaan itu terbawa sampai ke bentuk katanya. Nama yang disandang tidak pernah dihitung; yang dihitung adalah yang dikerjakan. Gelar mudah disematkan; perbuatan menuntut bukti setiap hari.
- Kata di ayat ini muncul di 2 ayat: 70:22 dan 74:43. Di 74:43 ia berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu tidak termasuk orang yang bersalat. Dua ayat yang memuatnya menyebut dua sisi berlawanan: yang di sini dikecualikan dari cacat bawaan, yang di sana mengaku tidak pernah termasuk. Satu kata menandai dua nasib. Yang satu keluar dari cengkeraman tabiat, yang lain mengaku tak pernah mencobanya.
- Pengecualian ini dibuka dengan satu perbuatan saja, lalu dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Susunan itu menutup dua kekeliruan sekaligus: yang mengira salat saja cukup, dan yang mengira salat tidak menentukan apa-apa. Allah menempatkannya di ambang, dan yang di ambang selalu menentukan siapa yang boleh melangkah masuk. Ambang bukan seluruh rumah, tetapi tak seorang pun masuk tanpa melewatinya.
- Yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit dua penyebutan salat di kedua ujungnya. Susunan mengapit seperti ini membuat daftarnya terbaca sebagai satu bangunan, bukan sebagai kumpulan butir lepas. Yang berdiri di dua ujung biasanya yang menopang seluruh yang ada di antaranya. Bangunan yang tiangnya di kedua tepi berdiri lebih lama daripada yang bertumpu di tengah.
- Empat ayat di bagian ini, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda. Di surah 23 daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman; di sini ia dibuka sebagai jalan keluar dari cacat bawaan. Kalau isi yang sama bisa dibaca dua arah, apa yang menentukan arah bacaan kita selain bagian yang kita lewatkan? Bagian yang dilewatkan sering menentukan lebih banyak daripada bagian yang dibaca.
Ayat 70:23
الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
Yang selalu setia mengerjakan salatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَalladziina hum 'alaa shalaatihim daa'imuunayang selalu setia mengerjakan salatnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
- دَائِمُونَdaa'imuunaselalu setia
Inti bacaan
Kualifikasi konsistensi yang penting: 'yang selalu setia mengerjakan salatnya', penekanan pada keteraturan dan komitmen jangka panjang, bukan praktik sesekali yang tidak cukup untuk mengubah kecenderungan dasar yang telah dijelaskan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (دَائِمُونَ, daa-imuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku jamak dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Jadi yang disebut bukan orang yang salatnya bagus, melainkan orang yang salatnya tidak putus. Terjemahan 'yang selalu setia mengerjakan salatnya' menahan sisi kelanjutan itu.
Kata (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim) muncul di 5 ayat: 6:92, 23:2, 70:23, 70:34, dan 107:5. Dua dari lima berada di surah ini, yaitu di sini dan di 70:34, dan keduanya menjadi dua ujung yang mengapit daftar sifat. Menariknya, di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lengah terhadap salatnya. Jadi kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya.
Hal berikut ini pun menentukan. Ayat ini punya kembaran yang dekat di 23:2, tetapi keduanya berbeda dua kata. Yang di sini memakai kata depan yang berarti 'atas' dan sifat yang berarti terus-menerus; yang di sana memakai kata depan yang berarti 'dalam' dan sifat yang berarti khusyuk. Jadi dua ayat menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perbedaan kata depannya juga bermakna. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di 23:2 menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya. Dua kata depan yang berbeda melukiskan dua hubungan yang berbeda dengan perbuatan yang sama.
Yang perlu dicatat, sifat pertama dalam daftar ini menyangkut kelanjutan, bukan mutu. Yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Susunan itu masuk akal sebagai pembuka daftar: yang paling dasar disebut lebih dulu, dan yang lebih halus menyusul di ayat-ayat berikutnya.
Susunan (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum) yang membuka ayat ini diulang enam kali di sepanjang daftar, yaitu di 70:23, 70:26, 70:27, 70:29, 70:32, 70:33, dan 70:34. Pengulangan susunan yang sama sebanyak itu mengikat seluruh daftar menjadi satu untaian yang jelas batasnya. Kata ganti di tengahnya tidak wajib dalam bahasa Arab; kehadirannya menambah penegasan pada tiap butir.
Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak memakai huruf penyambung di depannya, sedangkan enam butir berikutnya memakainya. Jadi butir pertama berdiri langsung menempel pada pengecualian di 70:22, sedangkan sisanya dirangkai sebagai tambahan. Susunan itu membuat butir pertama terasa sebagai penjelasan atas pengecualian tersebut, bukan sebagai satu di antara tujuh yang setara.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan konsistensi salat sebagai sifat pertama orang yang dikecualikan. Ayat ini menyebut sifat pertama dalam daftar, dan yang disebut adalah kelanjutan, bukan mutu. Kata sifatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berasal dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Jadi yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Susunan itu masuk akal sebagai pembuka daftar: yang paling dasar disebut lebih dulu.
Ayat ini punya kembaran yang dekat di 23:2, tetapi keduanya berbeda dua kata. Yang di sini memakai kata depan yang berarti atas dan sifat yang berarti terus-menerus; yang di sana memakai kata depan yang berarti dalam dan sifat yang berarti khusyuk. Perbedaan kata depannya bermakna. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di 23:2 menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya.
Jadi dua surah menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut yang berbeda: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati. Keduanya membuka daftar sifat yang sebagian besar isinya identik, tetapi masing-masing memilih pintu yang berlainan. Dan kata untuk salat di sini muncul di 5 ayat, dua di antaranya di surah ini sebagai dua ujung yang mengapit daftar. Menariknya, di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lengah terhadap salatnya. Kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya.
Renungan dan Hikmah
- Sifat pertama dalam daftar ini menyangkut kelanjutan, bukan mutu. Kata sifatnya berasal dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Allah menempatkan yang paling dasar di urutan pertama. Yang kecil tetapi tidak putus dinilai lebih dulu daripada yang besar tetapi hanya sesekali dikerjakan. Ketekunan yang tidak terputus lebih dihargai daripada ledakan semangat sesaat.
- Ayat ini memakai kata depan yang berarti atas, sedangkan 23:2 memakai yang berarti dalam. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di sana menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya. Dua kata depan melukiskan dua hubungan yang berbeda dengan perbuatan yang sama. Menjaga menuntut ketekunan dari luar; tenggelam menuntut kehadiran dari dalam.
- Dua surah menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati. Keduanya membuka daftar sifat yang sebagian besar isinya identik, tetapi masing-masing memilih pintu yang berlainan. Allah tidak menetapkan satu jalan masuk saja ke daftar yang sama, dan keragaman pintu itu memberi ruang bagi orang dengan kesulitan yang berbeda. Satu daftar bisa dimasuki lewat lebih dari satu ambang, dan itu kemurahan tersendiri.
- Kata untuk salat di ayat ini muncul di 5 ayat, dan di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lengah terhadap salatnya. Kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya. Perbuatan yang sama bisa menempatkan seseorang di dua daftar yang berbeda, dan yang menentukan bukan namanya melainkan sikapnya terhadapnya. Sikap terhadap perbuatan menentukan lebih banyak daripada perbuatannya sendiri.
- Kata untuk salat muncul dua kali di surah ini, di sini dan di 70:34, dan keduanya menjadi dua ujung yang mengapit daftar sifat. Susunan mengapit itu membuat daftarnya terbaca sebagai bangunan yang punya tiang di kedua sisinya. Yang disebut pertama dan terakhir biasanya yang menopang seluruh isi di antaranya, dan Allah menempatkan salat di dua kedudukan tersebut. Tiang di kedua sisi menahan bangunan lebih baik daripada satu tiang di tengah. Yang menopang tidak selalu berada di tengah; kadang ia justru di kedua tepi.
- Kata sifat di ayat ini berbentuk pelaku jamak, bukan sifat yang melekat. Bentuk pelaku menuntut adanya perbuatan yang sedang dikerjakan, bukan keadaan yang disandang. Terjemahan menahan sisi tersebut. Kalau ketekunan diukur dari perbuatan yang berjalan, apa yang tersisa dari pengakuan seseorang yang merasa tekun tanpa ada yang benar-benar ia kerjakan? Pengakuan tanpa perbuatan yang berjalan tidak menyisakan apa pun untuk dinilai.
Ayat 70:24
وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ
Yang di dalam hartanya ada bagian tertentu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌwa-lladziina fii amwaalihim haqqun ma'luumunyang di dalam hartanya ada bagian tertentu
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- فِيfiidi dalam
- أَمْوَالِهِمْamwaalihimharta mereka
- حَقٌّhaqqunbenar
- مَعْلُومٌma'luumunyang diketahui
Inti bacaan
Dimensi sosial dari transformasi karakter: 'yang di dalam hartanya ada bagian tertentu', perluasan kualitas orang yang bersalat mencakup juga kepedulian material terhadap orang lain, menegaskan bahwa transformasi spiritual sejati harus bermanifestasi dalam tindakan konkret terhadap sesama, bukan hanya ritual personal.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (حَقٌّ مَعْلُومٌ, haqqun ma'luumun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Kata pertamanya berarti hak atau bagian yang memang menjadi milik pihak lain, bukan pemberian sukarela. Kata keduanya berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya 'yang diketahui'. Jadi bunyinya 'bagian yang diketahui', yaitu bagian yang ukurannya sudah jelas.
Bentuk (مَعْلُومٌ, ma'luumun) muncul di 4 ayat: 15:4, 37:41, 37:164, dan 70:24. Di 15:4 ia dipakai untuk ketetapan yang sudah ditentukan bagi sebuah negeri, dan di 37:164 untuk kedudukan yang sudah ditetapkan. Jadi kata ini hampir selalu menyangkut sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu, bukan yang ditentukan sesuai keadaan.
Kata (أَمْوَالِهِمْ, amwaalihim) muncul di 5 ayat: 4:34, 9:103, 10:88, 51:19, dan 70:24. Di 51:19 kata itu berdiri dalam kalimat yang isinya sangat dekat dengan ayat ini dan yang berikutnya: pada harta mereka ada hak bagi peminta dan yang tidak meminta. Dua tempat menyebut hal yang sama, dan surah ini memecahnya menjadi dua ayat sedangkan 51:19 memuatnya dalam satu ayat.
Susunan kalimatnya perlu dicermati. Bagian yang disebut berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya 'di dalam hartanya ada bagian'. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana, bukan sebagai potongan yang dikeluarkan kemudian. Terjemahan 'yang di dalam hartanya ada bagian tertentu' menahan kedudukan tersebut.
Sifat kedua dalam daftar ini menyangkut harta, sesudah sifat pertama menyangkut salat. Urutan itu bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Dan sifat ini disebut dengan kata yang menandai kewajiban, bukan kemurahan hati. Yang dituntut bukan kesediaan berbagi melainkan penyerahan sesuatu yang memang bukan haknya.
Hal berikut ini pun menentukan. Perlu dicatat bahwa akhiran kepemilikan pada kata untuk harta tetap dipertahankan. Bunyinya 'harta mereka', bukan 'harta'. Jadi kepemilikan tidak disangkal; yang dinyatakan adalah bahwa di dalam milik itu ada bagian yang bukan milik pemiliknya. Dua hal tersebut berdiri bersama tanpa saling meniadakan, dan terjemahan menahan keduanya.
Susunan kalimatnya juga memajukan keterangan tempat sebelum yang diterangkan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'yang di dalam harta mereka ada bagian tertentu'. Pemajuan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penekanan, dan yang ditekankan adalah letaknya: bagian tersebut ada di dalam, bukan di luar. Terjemahan Indonesia mengikuti urutan itu sejauh yang masih wajar dibaca.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sifat kedua: berbagi harta secara tertentu. Ayat ini menyebut sifat kedua dalam daftar, dan urutannya bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Sesudah salat disebut di 70:23, giliran harta yang disebut di sini. Perpindahan itu tanpa jeda, dan susunannya menempatkan keduanya sejajar sebagai dua bagian dari satu daftar yang sama.
Yang paling perlu dicermati adalah kedudukan bagian tersebut di dalam kalimat. Ia berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya di dalam hartanya ada bagian. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana, bukan sebagai potongan yang dikeluarkan kemudian. Perbedaannya besar: yang satu menyerahkan milik sendiri, yang lain mengeluarkan yang memang bukan miliknya.
Kata yang dipakai untuk bagian itu berarti hak, bukan pemberian sukarela. Dan sifat yang mendampinginya berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya bagian yang diketahui, yaitu yang ukurannya sudah jelas. Kata tersebut muncul di 4 ayat, dan di 15:4 serta 37:164 ia dipakai untuk sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu. Jadi yang dituntut bukan kesediaan berbagi menurut suasana hati, melainkan penyerahan sesuatu yang ukurannya sudah ditetapkan. Susunan yang sangat dekat dengan ayat ini juga muncul di 51:19, dan di sana ia dimuat dalam satu ayat sedangkan surah ini memecahnya menjadi dua.
Renungan dan Hikmah
- Bagian yang disebut berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya di dalam hartanya ada bagian. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana. Perbedaannya besar: yang satu menyerahkan milik sendiri, yang lain mengeluarkan yang memang bukan miliknya sejak semula. Menyerahkan milik sendiri terasa berat; mengembalikan titipan seharusnya tidak. Yang mengembalikan titipan tidak kehilangan apa pun yang pernah menjadi haknya.
- Kata yang dipakai untuk bagian itu berarti hak atau bagian yang memang menjadi milik pihak lain, bukan pemberian sukarela. Yang dituntut bukan kesediaan berbagi melainkan penyerahan sesuatu yang memang bukan haknya. Allah menempatkan perkara ini di wilayah kewajiban, bukan kebaikan hati. Rasa bangga karena memberi mengendur begitu seseorang menyadari bahwa yang ia berikan bukan miliknya. Kesadaran tentang siapa pemiliknya mengubah seluruh rasa ketika menyerahkan.
- Sifat yang mendampingi berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya bagian yang diketahui. Kata itu muncul di 4 ayat, dan di 15:4 serta 37:164 ia dipakai untuk sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu. Jadi yang dituntut bukan berbagi menurut suasana hati, melainkan menyerahkan ukuran yang sudah ditentukan Allah sebelumnya. Perhitungan yang berubah menurut suasana hati tidak pernah menghasilkan keadilan.
- Sesudah salat disebut di 70:23, giliran harta yang disebut di sini. Urutannya bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Perpindahan itu tanpa jeda, dan susunannya menempatkan keduanya sejajar sebagai dua bagian dari satu daftar. Allah tidak memisahkan urusan ibadah dari urusan harta; keduanya berdiri dalam satu deretan tanpa pembatas. Ibadah dan harta berdiri dalam satu deretan tanpa pembatas di antaranya. Pemisahan antara urusan langit dan urusan tanah adalah buatan kita sendiri.
- Susunan yang sangat dekat dengan ayat ini juga muncul di 51:19, dan di sana ia dimuat dalam satu ayat sedangkan surah ini memecahnya menjadi dua. Pemecahan itu memberi ruang lebih bagi penerimanya, yang disebut tersendiri di 70:25. Cara membagi kalimat ikut menentukan apa yang paling menonjol, dan di sini yang mendapat ayat sendiri adalah pihak yang menerima. Pihak yang menerima diberi ayat sendiri, dan penempatan itu meninggikan kedudukannya.
- Rangkaian dua kata di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata pertamanya menandai kewajiban, kata keduanya menandai ukuran yang sudah pasti. Gabungan keduanya membentuk pengertian yang tidak diulang di ayat mana pun. Sudahkah kita menghitung bagian yang bukan milik kita di dalam apa yang selama ini kita sebut harta kita sendiri? Gabungan dua kata itu membentuk pengertian yang tidak diulang di ayat mana pun. Menghitung bagian yang bukan milik kita mengubah cara kita memandang seluruh simpanan.
Ayat 70:25
لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
Bagi peminta dan yang tidak meminta,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِli-s-saa'ili wa-l-mahruumibagi peminta dan yang tidak meminta
Terjemahan per kata (2 kata)
- لِلسَّائِلِli-s-saa'ilibagi peminta
- وَالْمَحْرُومِwa-l-mahruumidan orang yang tak berpunya
Inti bacaan
Hak yang diakui bagi kedua kategori: 'bagi peminta dan yang tidak meminta', pengakuan bahwa kedermawanan harus menjangkau bukan hanya yang secara aktif meminta bantuan, tetapi juga yang menahan diri dari meminta karena harga diri atau ketidaktahuan, kepekaan yang melampaui respons pasif terhadap permintaan eksplisit.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini hanya dua patah, dan keduanya muncul di 2 ayat yang sama: (لِلسَّائِلِ, lis-saa-ili) dan (وَالْمَحْرُومِ, wal-mahruumi) sama-sama muncul di 51:19 dan 70:25. Jadi seluruh ayat ini berpasangan dengan satu ayat lain di seluruh Al-Qur'an. Bedanya, di 51:19 kedua kata itu berada dalam satu ayat bersama keterangan tentang harta, sedangkan di sini surah memecahnya menjadi dua ayat.
Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Kata pertama berakar sama dengan kata kerja pembuka surah di 70:1. Di sana ia berarti orang yang meminta azab; di sini orang yang meminta pemberian. Satu akar, dua jenis permintaan yang sangat berbeda. Dan dua-duanya berbentuk pelaku dengan pola yang sama. Kesejajaran bentuk itu tidak dinyatakan Al-Qur'an secara terbuka, tetapi pembaca yang menelusuri akarnya akan menemukan dua ujung surah ini terhubung lewat kata yang sama.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Masih tersisa satu perkara yang belum diletakkan pada tempatnya sejauh ini. Kata kedua berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti terhalang atau tercegah. Jadi bunyinya 'yang dihalangi', yaitu orang yang tidak memperoleh bagian. Terjemahan 'yang tidak meminta' memilih satu pembacaan yang lazim, dengan catatan bahwa bentuk aslinya menekankan keadaan terhalang, bukan pilihan untuk diam. Perbedaan itu penting: yang satu tidak meminta karena menahan diri, yang lain tidak memperoleh karena tercegah.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Dua kata di ayat ini menyusun dua jenis orang yang berhak: yang datang meminta dan yang tidak datang. Susunan itu menutup celah yang paling sering terjadi dalam pemberian. Yang mudah diingat adalah yang meminta, sebab ia hadir di depan mata. Yang tidak meminta mudah terlewat justru karena ia tidak terlihat. Dengan menyebut keduanya, ayat ini menuntut pemberian yang mencari, bukan yang menunggu.
Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak menyebut kadar, tidak pula menyebut cara. Yang disebut hanya penerimanya. Kadarnya sudah disebut di 70:24 sebagai bagian yang ukurannya diketahui, dan caranya tidak disebut sama sekali. Susunan itu memusatkan perhatian pada siapa yang berhak, bukan pada bagaimana menyerahkannya.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Dua kata di ayat ini sama-sama memakai penanda tertentu. Jadi bunyinya 'bagi peminta itu dan yang terhalang itu', bukan 'bagi seorang peminta'. Penanda tersebut menandai golongan yang sudah dikenal, bukan orang tertentu. Terjemahan memakai bentuk yang wajar dibaca dalam bahasa Indonesia, dan penanda golongan itu larut. Yang hilang adalah kesan bahwa keduanya memang golongan yang seharusnya sudah dikenali pemilik harta.
Tafsiran
Ayat ini merinci penerima bagian harta itu: peminta dan yang tidak meminta. Ayat ini menyebut dua jenis orang yang berhak, dan susunannya menutup celah yang paling sering terjadi dalam pemberian. Yang mudah diingat adalah yang meminta, sebab ia hadir di depan mata. Yang tidak meminta mudah terlewat justru karena ia tidak terlihat. Dengan menyebut keduanya, ayat ini menuntut pemberian yang mencari, bukan yang menunggu.
Kata kedua berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti terhalang atau tercegah. Bunyinya yang dihalangi, yaitu orang yang tidak memperoleh bagian. Terjemahan memilih satu pembacaan yang lazim, dengan catatan bahwa bentuk aslinya menekankan keadaan terhalang, bukan pilihan untuk diam. Perbedaan itu menentukan: yang satu tidak meminta karena menahan diri, yang lain tidak memperoleh karena tercegah oleh keadaan.
Ada hubungan yang halus dengan pembuka surah. Kata pertama di ayat ini berakar sama dengan kata kerja di 70:1. Di sana ia berarti orang yang meminta azab; di sini orang yang meminta pemberian. Satu akar, dua jenis permintaan yang sangat berbeda, dan dua-duanya berbentuk pelaku dengan pola yang sama. Kesejajaran itu tidak dinyatakan secara terbuka, tetapi ia menghubungkan dua ujung surah lewat kata yang sama. Yang di awal meminta sesuatu yang seharusnya ditakuti; yang di sini meminta sesuatu yang memang haknya. Dan seluruh ayat ini berpasangan dengan 51:19, yang memuat kedua kata tersebut dalam satu ayat bersama keterangan tentang harta, sedangkan surah ini memecahnya menjadi dua.
Renungan dan Hikmah
- Dua kata di ayat ini menyusun dua jenis orang yang berhak: yang datang meminta dan yang tidak datang. Yang mudah diingat adalah yang meminta, sebab ia hadir di depan mata. Yang tidak meminta mudah terlewat justru karena ia tidak terlihat. Dengan menyebut keduanya, Allah menuntut pemberian yang mencari, bukan yang menunggu. Kebaikan yang hanya menjawab yang datang belum menjangkau separuh yang berhak. Yang berhak tidak selalu bersuara, dan yang bersuara tidak selalu paling berhak. Menunggu diminta membuat sebagian hak tidak pernah sampai ke pemiliknya.
- Kata kedua berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti terhalang atau tercegah. Bunyinya yang dihalangi, yaitu orang yang tidak memperoleh bagian. Terjemahan memilih pembacaan yang lazim, dengan catatan bahwa bentuk aslinya menekankan keadaan terhalang. Perbedaannya menentukan: yang satu tidak meminta karena menahan diri, yang lain tidak memperoleh karena keadaan mencegahnya. Keadaan yang mencegah seseorang meminta sering lebih berat daripada kebutuhannya.
- Kata pertama di ayat ini berakar sama dengan kata kerja di 70:1. Di sana ia berarti orang yang meminta azab; di sini orang yang meminta pemberian. Satu akar, dua jenis permintaan yang sangat berbeda, dan keduanya berbentuk pelaku dengan pola yang sama. Yang di awal meminta sesuatu yang seharusnya ditakuti; yang di sini meminta sesuatu yang memang haknya. Bentuk kata yang sama di dua ujung surah mengikat keduanya tanpa perlu dinyatakan. Dua ujung surah yang terhubung lewat satu akar mengikat seluruh isinya.
- Ayat ini tidak menyebut kadar, tidak pula menyebut cara. Yang disebut hanya penerimanya. Kadarnya sudah disebut di 70:24 sebagai bagian yang ukurannya diketahui, dan caranya tidak disebut sama sekali. Allah memusatkan perhatian pada siapa yang berhak, bukan pada bagaimana menyerahkannya. Perdebatan tentang cara sering menjadi alasan untuk menunda yang sebenarnya sudah jelas sasarannya.
- Seluruh ayat ini berpasangan dengan 51:19, yang memuat kedua kata tersebut dalam satu ayat bersama keterangan tentang harta. Surah ini memecahnya menjadi dua, sehingga penerimanya mendapat ayat tersendiri. Cara membagi kalimat ikut menentukan apa yang paling menonjol. Memberi ayat sendiri kepada pihak yang menerima menaikkan kedudukannya dari keterangan tambahan menjadi pokok yang berdiri sendiri. Kedudukan sebuah pokok naik ketika ia diberi ruang sendiri, bukan diselipkan. Ruang tersendiri adalah cara paling sederhana untuk meninggikan kedudukan sesuatu.
- Ayat ini hanya dua patah, dan masing-masing kata menampung satu golongan penerima. Tidak ada kata penghubung selain satu huruf, tidak ada keterangan tambahan. Allah menyebut yang berhak dengan kalimat sependek mungkin. Sudahkah kita menghitung berapa banyak orang di sekitar kita yang termasuk golongan kedua, yang tidak pernah meminta dan karena itu tidak pernah kita ingat? Yang tidak pernah meminta biasanya juga tidak pernah masuk hitungan kita.
Ayat 70:26
وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ
Dan orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِwa-lladziina yushaddiquuna bi-yawmi d-diinidan orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- يُصَدِّقُونَyushaddiquunamereka membenarkan
- بِيَوْمِbi-yawmipada hari
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
Inti bacaan
Keyakinan teguh terhadap akuntabilitas: 'orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban', kepercayaan pada konsekuensi masa depan sebagai fondasi yang membentuk seluruh perilaku etis yang disebutkan dalam daftar ini.
Penjelasan pilihan kata
'Yawmi d-diini' dipertahankan 'Hari Pertanggungjawaban': pengecualian baku dari kaidah diin→ketaatan yang berlaku umum, khusus untuk idiom tetap 'yawm ad-diin'.
Bentuk (يُصَدِّقُونَ, yushaddiquuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Jadi bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Terjemahan 'membenarkan' menahan sisi pengakuan itu, dan menggantinya dengan 'percaya' akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan.
Rangkaian (بِيَوْمِ الدِّينِ, biyawmi ad-diini) berdiri sebagai objek yang dibenarkan. Bentuk (بِيَوْمِ, biyawmi) muncul di 5 ayat: 40:27, 70:26, 74:46, 75:1, dan 83:11. Menariknya, di 74:46 rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari itu. Jadi dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi: yang di sini membenarkan, yang di sana mendustakan.
Terjemahan mempertahankan 'Hari Pertanggungjawaban' untuk rangkaian tersebut. Ini pengecualian baku dari kaidah umum proyek yang menerjemahkan kata dasarnya sebagai ketaatan. Susunan ini sudah menjadi idiom tetap dalam Al-Qur'an, dan menerjemahkan bagian-bagiannya secara terpisah akan menghasilkan gabungan yang tidak dikenali pembaca.
Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang berlangsung terus, bukan yang selesai sekali. Jadi yang disebut bukan orang yang pernah mengakui, melainkan orang yang terus-menerus membenarkan. Sifat ketiga dalam daftar ini karena itu menyangkut ketetapan pengakuan, bukan satu peristiwa keyakinan.
Perlu dicatat bahwa dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Sifat ini yang pertama menyangkut isi kepala. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya di 70:27 dan 70:28 melanjutkan arah itu dengan menyebut rasa takut. Jadi daftar ini tidak disusun menurut jenisnya, melainkan menurut kedalamannya.
Susunan pembuka ayat ini memakai huruf penyambung yang tidak ada di butir pertama daftar. Butir di 70:23 berdiri tanpa penyambung, sedangkan butir ini dan lima butir berikutnya memakainya. Susunan tersebut membuat butir pertama terasa menempel langsung pada pengecualian di 70:22, sedangkan sisanya dirangkai sebagai tambahan yang setara satu sama lain.
Perlu ditambahkan bahwa objek yang dibenarkan disebut dengan penanda tertentu, yaitu hari yang sudah dikenal. Susunan itu memperlihatkan bahwa yang dituntut bukan mengakui adanya suatu hari perhitungan pada umumnya, melainkan membenarkan hari yang memang sudah diberitakan. Perbedaannya nyata: yang pertama bisa dipenuhi oleh gagasan apa saja tentang keadilan yang menyusul kematian, sedangkan yang kedua menuntut penerimaan atas kabar yang tertentu.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sifat ketiga: membenarkan Hari Pembalasan. Ayat ini menyebut sifat ketiga dalam daftar, dan yang pertama menyangkut isi kepala. Dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya melanjutkan arah itu dengan menyebut rasa takut. Daftar ini tidak disusun menurut jenisnya, melainkan menurut kedalamannya.
Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Jadi bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Menggantinya dengan percaya akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan, padahal yang dimaksud adalah pengakuan yang dinyatakan. Dan bentuknya menandai perbuatan yang berlangsung terus, sehingga yang disebut bukan orang yang pernah mengakui melainkan yang terus-menerus membenarkan.
Ada kesejajaran yang tajam dengan 74:46. Di ayat itu rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari tersebut. Dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi: yang di sini membenarkan, yang di sana mendustakan. Dan dua-duanya memakai bentuk yang menandai kelanjutan. Jadi yang dibandingkan bukan satu keputusan melawan satu keputusan, melainkan dua kebiasaan yang sama-sama berjalan seumur hidup. Yang menentukan bukan saat seseorang mengambil sikap, melainkan berapa lama ia bertahan di dalamnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Menggantinya dengan percaya akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan, padahal yang dimaksud adalah pengakuan yang dinyatakan. Perasaan bisa datang dan pergi tanpa jejak; pengakuan meninggalkan bekas yang bisa ditagih.
- Di 74:46 rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari tersebut. Dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi, dan dua-duanya memakai bentuk yang menandai kelanjutan. Yang dibandingkan bukan satu keputusan melawan satu keputusan, melainkan dua kebiasaan yang sama-sama berjalan seumur hidup. Yang menentukan bukan saat mengambil sikap, melainkan lamanya bertahan di dalamnya. Allah menilai ketetapan sikap, bukan kemeriahan saat sikap itu pertama diambil.
- Dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Sifat ini yang pertama menyangkut isi kepala. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya di 70:27 dan 70:28 melanjutkan arah itu. Allah menyusun daftar ini menurut kedalamannya, bukan menurut jenisnya, sehingga pembaca dibawa masuk selapis demi selapis. Pembaca dibawa masuk selapis demi selapis, dari yang terlihat menuju yang tersembunyi.
- Bentuk kata kerja di ayat ini menandai perbuatan yang berlangsung terus, bukan yang selesai sekali. Yang disebut bukan orang yang pernah mengakui, melainkan orang yang terus-menerus membenarkan. Sifat ketiga ini karena itu menyangkut ketetapan pengakuan, bukan satu peristiwa keyakinan. Yang menentukan di sisi Allah bukan saat seseorang mengambil sikap, melainkan berapa lama ia bertahan. Ketetapan sikap lebih sulit dipalsukan daripada satu pernyataan yang mengesankan. Sikap yang bertahan lama menyaring yang sungguh-sungguh dari yang sekadar terbawa suasana.
- Terjemahan mempertahankan Hari Pertanggungjawaban untuk rangkaian di ayat ini. Ini pengecualian baku dari kaidah umum proyek yang menerjemahkan kata dasarnya sebagai ketaatan. Susunan tersebut sudah menjadi idiom tetap dalam Al-Qur'an, dan menerjemahkan bagian-bagiannya secara terpisah akan menghasilkan gabungan yang tidak dikenali pembaca. Kesetiaan pada kata kadang berarti kesetiaan pada gabungannya, bukan pada tiap potongnya.
- Sifat ini berada di tengah tujuh butir, diapit dua perbuatan yang terlihat sebelumnya dan tiga sifat batin sesudahnya. Penempatan di tengah itu menjadikannya semacam engsel. Perbuatan tanpa pengakuan kehilangan alasannya, dan pengakuan tanpa perbuatan kehilangan buktinya. Di mana sebenarnya letak pengakuan kita: sebelum perbuatan, sesudahnya, atau tidak di mana-mana? Perbuatan tanpa pengakuan kehilangan alasan; pengakuan tanpa perbuatan kehilangan bukti.
Ayat 70:27
وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَwa-lladziina hum min 'adzaabi rabbihim musyfiquunadan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- هُمْhummereka
- مِنْmindari
- عَذَابِ'adzaabiazab
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- مُشْفِقُونَmusyfiquunamerasa cemas
Inti bacaan
Kewaspadaan yang produktif: 'orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka', rasa takut yang berfungsi sebagai pengingat aktif untuk terus menjaga perilaku, bukan ketakutan melumpuhkan melainkan kesadaran yang mendorong kehati-hatian berkelanjutan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُشْفِقُونَ, musyfiquuna) muncul di 5 ayat: 21:28, 21:49, 23:57, 42:18, dan 70:27. Menariknya, salah satunya berada di surah 23, yaitu surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata itu berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang, bukan takut yang menjauhkan. Perbedaan itu penting. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini adalah takut yang membuat orang berhati-hati karena peduli. Terjemahan 'takut' dipakai karena paling wajar dibaca, dengan catatan bahwa muatannya lebih dekat ke cemas yang menjaga.
Sisi lain ayat ini juga penting. Susunan kalimatnya memajukan keterangan sebelum kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'yang dari azab Tuhan mereka merasa cemas'. Pemajuan seperti itu menandai penekanan pada sumber kecemasannya. Terjemahan Indonesia menempatkannya mengikuti urutan yang wajar dibaca, dan penekanannya sedikit larut.
Kata (رَبِّهِمْ, rabbihim) memakai akhiran kepemilikan. Jadi yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan azab dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28, dan pengulangan dua kali berturut-turut itu menegaskan hubungan yang tetap ada meski yang dibicarakan adalah azab.
Sifat keempat dalam daftar ini melanjutkan gerakan ke dalam yang dimulai di 70:26. Sesudah pengakuan disebut, giliran rasa. Dan ayat berikutnya, 70:28, tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa itu. Jadi dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Perlu dicatat pula bahwa kata sifat di ayat ini berbentuk pelaku jamak, sama seperti kata sifat di 70:23, 70:29, 70:32, dan 70:33. Lima dari tujuh butir dalam daftar ini memakai bentuk pelaku. Bentuk tersebut menuntut adanya perbuatan yang sedang berjalan, bukan keadaan yang disandang. Jadi daftar ini seluruhnya berbicara tentang apa yang dikerjakan, bahkan ketika yang disebut adalah perasaan.
Perlu ditambahkan bahwa yang ditakuti disebut sebagai azab, bukan sebagai Tuhannya. Susunan itu menjaga arah rasa takut tetap tertuju pada akibat, bukan pada Zat yang menetapkannya. Perbedaannya menentukan bentuk hubungan: yang takut kepada akibat tetap bisa mendekat kepada sumbernya, sedangkan yang takut kepada sumbernya akan menjauh dari keduanya sekaligus.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sifat keempat: rasa takut yang sehat terhadap azab Allah. Ayat ini menyebut sifat keempat, dan gerakannya melanjutkan arah ke dalam yang dimulai di 70:26. Sesudah pengakuan disebut, giliran rasa. Dan ayat berikutnya tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa itu, sehingga dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya.
Kata yang dipakai berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang, bukan takut yang menjauhkan. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini adalah takut yang membuat orang berhati-hati karena peduli. Perbedaan itu menentukan seluruh nada ayat. Yang digambarkan bukan orang yang ngeri lalu menghindar, melainkan orang yang waspada karena tahu apa yang dipertaruhkan.
Akhiran kepemilikan pada kata untuk Tuhan juga bermakna. Yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan azab dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28, dan pengulangan dua kali berturut-turut menegaskan hubungan yang tetap ada meski yang dibicarakan adalah azab. Kata sifat ini juga muncul di 23:57, salah satu ayat di surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama, dan menyentuh juga bagian yang susunannya berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini membuat orang berhati-hati karena peduli. Yang digambarkan bukan orang yang ngeri lalu menghindar, melainkan yang waspada karena tahu apa yang dipertaruhkan. Takut yang benar mendekatkan, bukan mengusir. Yang mendekat kepada Allah karena takut berbeda dari yang menjauh karena ngeri.
- Akhiran kepemilikan pada kata untuk Tuhan menegaskan bahwa yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28. Hubungan tetap disebut meski yang dibicarakan adalah azab, dan itu menjaga rasa takut tidak berubah menjadi permusuhan. Menyebut hubungan di tengah ancaman menjaga hati tetap menghadap, bukan berbalik.
- Kata sifat di ayat ini juga muncul di 23:57, salah satu ayat di surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama, dan menyentuh juga bagian yang susunannya berbeda. Kemiripan yang menyebar seperti itu menandai bahwa dua surah sedang menyusun bangunan yang serupa dengan bahan yang sebagian sama. Bahan yang sebagian sama dipakai untuk dua bangunan yang berdiri di tempat berbeda.
- Ayat berikutnya tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa yang disebut di sini. Dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya. Allah tidak membiarkan perasaan berdiri tanpa alasan. Rasa takut yang tidak tahu dasarnya mudah berubah menjadi kecemasan yang tak terarah, dan yang seperti itu tidak menggerakkan siapa pun ke mana pun. Yang tahu apa yang ditakutinya bisa bersiap; yang tidak tahu hanya gelisah. Persiapan hanya mungkin bagi yang tahu persis apa yang sedang ia hadapi.
- Susunan kalimatnya memajukan keterangan sebelum kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira yang dari azab Tuhan mereka merasa cemas. Pemajuan itu menandai penekanan pada sumber kecemasannya. Terjemahan Indonesia mengikuti urutan yang wajar dibaca, dan penekanannya sedikit larut. Menyebutkan apa yang larut lebih jujur daripada memaksakan susunan yang setia tetapi tidak terbaca. Mengakui apa yang hilang dalam terjemahan lebih berguna daripada menyembunyikannya.
- Kata untuk rasa cemas di ayat ini muncul di 5 ayat, sedangkan kata untuk azab jauh lebih sering dipakai. Yang langka adalah rasa cemasnya, bukan sebutan azabnya. Adakah rasa takut dalam diri kita yang membuat kita lebih berhati-hati, atau yang ada hanya rasa takut yang membuat kita berhenti memikirkannya? Gabungan yang tidak diulang di mana pun menandai keadaan yang memang khusus. Keadaan hati yang tidak umum diberi Allah kata yang tidak umum pula. Kata yang jarang menandai keadaan yang jarang, dan keduanya sengaja dipasangkan.