إِلَّا الْمُصَلِّينَ

Kecuali orang-orang yang bersalat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا الْمُصَلِّينَillaa l-mushalliinakecuali orang-orang yang bersalat

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. الْمُصَلِّينَl-mushalliinaorang-orang yang bersalat

Inti bacaan

Pengecualian yang membebaskan dari sifat dasar negatif: 'kecuali orang-orang yang bersalat', identifikasi praktik spesifik yang menjadi solusi terhadap kecenderungan psikologis merugikan, salat sebagai mekanisme transformasi karakter bukan sekadar ritual formal.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini hanya dua patah, dan seluruhnya berupa pengecualian. Kata (الْمُصَلِّينَ, al-mushalliina) muncul di 2 ayat: 70:22 dan 74:43. Di 74:43 kata itu berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu tidak termasuk orang yang bersalat. Jadi dua ayat yang memuatnya menyebut dua sisi yang berlawanan: yang di sini dikecualikan dari cacat bawaan, yang di sana mengaku tidak pernah termasuk.

Partikel (إِلَّا, illaa) yang membukanya menandai pengecualian. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru. Jadi ayat ini menyambung langsung ke tiga ayat sebelumnya dan membalik arahnya. Sesudah tabiat dinyatakan sebagai bawaan yang melekat, satu partikel membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya.

Sebelum melangkah ke ayat berikutnya, satu perkara lagi perlu diletakkan di sini. Bentuknya adalah pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat. Bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Terjemahan 'orang-orang yang bersalat' menahan sisi perbuatannya. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan, dan itu persis yang tidak dimaksud di sini.

Yang perlu dicatat, pengecualian ini dibuka dengan satu perbuatan saja, lalu dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Jadi salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Susunan itu berulang: yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit oleh dua penyebutan salat di kedua ujungnya.

Perlu diperhatikan pula bahwa bagian ini punya kembaran yang rapat di surah 23. Empat ayat di dalamnya, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda: di sana daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman, sedangkan di sini ia dibuka sebagai pengecualian dari cacat bawaan.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut iman sebagai pintu masuknya, melainkan perbuatan. Bandingkan dengan 23:1, yang menyebut orang beriman. Dua surah memakai pintu yang berbeda untuk daftar yang sebagian besar sama. Perbedaan itu menyisakan pertanyaan yang tidak dijawab langsung: apakah keduanya menunjuk kelompok yang sama, atau menyorot dua sisi dari kelompok yang sama.

Susunan pengecualian di ayat ini juga menentukan cakupannya. Ia mengecualikan dari pernyataan umum tentang manusia, bukan dari hukuman tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa mereka terhindar dari azab, melainkan bahwa tabiat yang disebut di 70:19 tidak berlaku bagi mereka. Perbedaan tersebut penting: yang dikecualikan adalah wataknya, dan akibat baiknya baru disebut jauh kemudian di 70:35.

Tafsiran

Ayat ini membuka pengecualian bagi orang yang selalu menjaga salat. Ayat ini hanya dua patah, dan seluruhnya berupa pengecualian. Sesudah tiga ayat menyatakan tabiat manusia sebagai bawaan yang melekat, satu partikel membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru, sehingga ayat ini menyambung langsung dan membalik arah.

Yang dipakai sebagai pintu masuk adalah satu perbuatan saja. Bentuknya pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat, dan bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan, dan itu persis yang tidak dimaksud. Yang membedakan bukan nama yang disandang melainkan yang dikerjakan.

Sesudah pintu dibuka, daftarnya dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Dan susunannya berulang: yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit dua penyebutan salat di kedua ujungnya. Bagian ini juga punya kembaran yang rapat di surah 23: empat ayat di dalamnya, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda. Di sana daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman; di sini ia dibuka sebagai jalan keluar dari cacat bawaan. Isi yang sama dibingkai dua arah yang berlainan.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah tiga ayat menyatakan tabiat manusia sebagai bawaan yang melekat, satu partikel pengecualian membuka pintu bagi yang keluar dari cengkeramannya. Yang dikecualikan adalah manusia yang disebut di 70:19, bukan pihak baru. Allah tidak menutup keterangan tentang cacat bawaan tanpa menyebut jalan keluarnya, dan jalan keluar itu diberikan persis di ayat berikutnya tanpa jeda. Keterangan tentang cacat tanpa keterangan tentang obatnya hanya melahirkan putus asa.
  • Bentuk yang dipakai adalah pelaku jamak dari kata kerja yang berarti mengerjakan salat. Bentuk pelaku itu menandai orang yang melakukan, bukan orang yang menyandang gelar. Menggantinya dengan sebutan golongan akan mengubah perbuatan menjadi keanggotaan. Yang membedakan di hadapan Allah bukan nama yang disandang melainkan yang dikerjakan, dan perbedaan itu terbawa sampai ke bentuk katanya. Nama yang disandang tidak pernah dihitung; yang dihitung adalah yang dikerjakan. Gelar mudah disematkan; perbuatan menuntut bukti setiap hari.
  • Kata di ayat ini muncul di 2 ayat: 70:22 dan 74:43. Di 74:43 ia berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu tidak termasuk orang yang bersalat. Dua ayat yang memuatnya menyebut dua sisi berlawanan: yang di sini dikecualikan dari cacat bawaan, yang di sana mengaku tidak pernah termasuk. Satu kata menandai dua nasib. Yang satu keluar dari cengkeraman tabiat, yang lain mengaku tak pernah mencobanya.
  • Pengecualian ini dibuka dengan satu perbuatan saja, lalu dirinci menjadi tujuh sifat sampai 70:34. Salat disebut sebagai pintu masuk, bukan sebagai keseluruhan syarat. Susunan itu menutup dua kekeliruan sekaligus: yang mengira salat saja cukup, dan yang mengira salat tidak menentukan apa-apa. Allah menempatkannya di ambang, dan yang di ambang selalu menentukan siapa yang boleh melangkah masuk. Ambang bukan seluruh rumah, tetapi tak seorang pun masuk tanpa melewatinya.
  • Yang disebut pertama juga disebut terakhir, sebab 70:34 kembali menyebut penjagaan salat. Rangkaian tujuh sifat itu diapit dua penyebutan salat di kedua ujungnya. Susunan mengapit seperti ini membuat daftarnya terbaca sebagai satu bangunan, bukan sebagai kumpulan butir lepas. Yang berdiri di dua ujung biasanya yang menopang seluruh yang ada di antaranya. Bangunan yang tiangnya di kedua tepi berdiri lebih lama daripada yang bertumpu di tengah.
  • Empat ayat di bagian ini, yaitu 70:29 sampai 70:32, sama persis huruf demi huruf dengan 23:5 sampai 23:8. Tetapi bingkainya berbeda. Di surah 23 daftar itu dibuka dengan pernyataan tentang keberuntungan orang beriman; di sini ia dibuka sebagai jalan keluar dari cacat bawaan. Kalau isi yang sama bisa dibaca dua arah, apa yang menentukan arah bacaan kita selain bagian yang kita lewatkan? Bagian yang dilewatkan sering menentukan lebih banyak daripada bagian yang dibaca.