الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ
Yang selalu setia mengerjakan salatnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَalladziina hum 'alaa shalaatihim daa'imuunayang selalu setia mengerjakan salatnya
Terjemahan per kata (5 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- هُمْhummereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
- دَائِمُونَdaa'imuunaselalu setia
Inti bacaan
Kualifikasi konsistensi yang penting: 'yang selalu setia mengerjakan salatnya', penekanan pada keteraturan dan komitmen jangka panjang, bukan praktik sesekali yang tidak cukup untuk mengubah kecenderungan dasar yang telah dijelaskan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (دَائِمُونَ, daa-imuuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berbentuk pelaku jamak dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Jadi yang disebut bukan orang yang salatnya bagus, melainkan orang yang salatnya tidak putus. Terjemahan 'yang selalu setia mengerjakan salatnya' menahan sisi kelanjutan itu.
Kata (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim) muncul di 5 ayat: 6:92, 23:2, 70:23, 70:34, dan 107:5. Dua dari lima berada di surah ini, yaitu di sini dan di 70:34, dan keduanya menjadi dua ujung yang mengapit daftar sifat. Menariknya, di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lalai terhadap salatnya. Jadi kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya.
Hal berikut ini pun menentukan. Ayat ini punya kembaran yang dekat di 23:2, tetapi keduanya berbeda dua kata. Yang di sini memakai kata depan yang berarti 'atas' dan sifat yang berarti terus-menerus; yang di sana memakai kata depan yang berarti 'dalam' dan sifat yang berarti khusyuk. Jadi dua ayat menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perbedaan kata depannya juga bermakna. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di 23:2 menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya. Dua kata depan yang berbeda melukiskan dua hubungan yang berbeda dengan perbuatan yang sama.
Yang perlu dicatat, sifat pertama dalam daftar ini menyangkut kelanjutan, bukan mutu. Yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Susunan itu masuk akal sebagai pembuka daftar: yang paling dasar disebut lebih dulu, dan yang lebih halus menyusul di ayat-ayat berikutnya.
Susunan (الَّذِينَ هُمْ, alladziina hum) yang membuka ayat ini diulang enam kali di sepanjang daftar, yaitu di 70:23, 70:26, 70:27, 70:29, 70:32, 70:33, dan 70:34. Pengulangan susunan yang sama sebanyak itu mengikat seluruh daftar menjadi satu untaian yang jelas batasnya. Kata ganti di tengahnya tidak wajib dalam bahasa Arab; kehadirannya menambah penegasan pada tiap butir.
Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak memakai huruf penyambung di depannya, sedangkan enam butir berikutnya memakainya. Jadi butir pertama berdiri langsung menempel pada pengecualian di 70:22, sedangkan sisanya dirangkai sebagai tambahan. Susunan itu membuat butir pertama terasa sebagai penjelasan atas pengecualian tersebut, bukan sebagai satu di antara tujuh yang setara.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan konsistensi salat sebagai sifat pertama orang yang dikecualikan. Ayat ini menyebut sifat pertama dalam daftar, dan yang disebut adalah kelanjutan, bukan mutu. Kata sifatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berasal dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Jadi yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Susunan itu masuk akal sebagai pembuka daftar: yang paling dasar disebut lebih dulu.
Ayat ini punya kembaran yang dekat di 23:2, tetapi keduanya berbeda dua kata. Yang di sini memakai kata depan yang berarti atas dan sifat yang berarti terus-menerus; yang di sana memakai kata depan yang berarti dalam dan sifat yang berarti khusyuk. Perbedaan kata depannya bermakna. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di 23:2 menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya.
Jadi dua surah menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut yang berbeda: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati. Keduanya membuka daftar sifat yang sebagian besar isinya identik, tetapi masing-masing memilih pintu yang berlainan. Dan kata untuk salat di sini muncul di 5 ayat, dua di antaranya di surah ini sebagai dua ujung yang mengapit daftar. Menariknya, di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lalai terhadap salatnya. Kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya.
Renungan dan Hikmah
- Sifat pertama dalam daftar ini menyangkut kelanjutan, bukan mutu. Kata sifatnya berasal dari akar yang berarti terus-menerus dan tidak terputus. Yang dinilai bukan seberapa baik salatnya, melainkan apakah ia terputus. Allah menempatkan yang paling dasar di urutan pertama. Yang kecil tetapi tidak putus dinilai lebih dulu daripada yang besar tetapi hanya sesekali dikerjakan. Ketekunan yang tidak terputus lebih dihargai daripada ledakan semangat sesaat.
- Ayat ini memakai kata depan yang berarti atas, sedangkan 23:2 memakai yang berarti dalam. Yang di sini menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan. Yang di sana menempatkan orang berada di dalam salatnya, gambaran tentang tenggelam dan hadir sepenuhnya. Dua kata depan melukiskan dua hubungan yang berbeda dengan perbuatan yang sama. Menjaga menuntut ketekunan dari luar; tenggelam menuntut kehadiran dari dalam.
- Dua surah menyebut hubungan dengan salat dari dua sudut: yang satu tentang ketekunan, yang lain tentang kehadiran hati. Keduanya membuka daftar sifat yang sebagian besar isinya identik, tetapi masing-masing memilih pintu yang berlainan. Allah tidak menetapkan satu jalan masuk saja ke daftar yang sama, dan keragaman pintu itu memberi ruang bagi orang dengan kesulitan yang berbeda. Satu daftar bisa dimasuki lewat lebih dari satu ambang, dan itu kemurahan tersendiri.
- Kata untuk salat di ayat ini muncul di 5 ayat, dan di 107:5 kata yang sama berdiri dalam kalimat tentang orang yang lalai terhadap salatnya. Kata yang sama menandai yang setia dan yang lalai, dan yang membedakan hanya kata yang mendampinginya. Perbuatan yang sama bisa menempatkan seseorang di dua daftar yang berbeda, dan yang menentukan bukan namanya melainkan sikapnya terhadapnya. Sikap terhadap perbuatan menentukan lebih banyak daripada perbuatannya sendiri.
- Kata untuk salat muncul dua kali di surah ini, di sini dan di 70:34, dan keduanya menjadi dua ujung yang mengapit daftar sifat. Susunan mengapit itu membuat daftarnya terbaca sebagai bangunan yang punya tiang di kedua sisinya. Yang disebut pertama dan terakhir biasanya yang menopang seluruh isi di antaranya, dan Allah menempatkan salat di dua kedudukan tersebut. Tiang di kedua sisi menahan bangunan lebih baik daripada satu tiang di tengah. Yang menopang tidak selalu berada di tengah; kadang ia justru di kedua tepi.
- Kata sifat di ayat ini berbentuk pelaku jamak, bukan sifat yang melekat. Bentuk pelaku menuntut adanya perbuatan yang sedang dikerjakan, bukan keadaan yang disandang. Terjemahan menahan sisi tersebut. Kalau ketekunan diukur dari perbuatan yang berjalan, apa yang tersisa dari pengakuan seseorang yang merasa tekun tanpa ada yang benar-benar ia kerjakan? Pengakuan tanpa perbuatan yang berjalan tidak menyisakan apa pun untuk dinilai.