وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ

Yang di dalam hartanya ada bagian tertentu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌwa-lladziina fii amwaalihim haqqun ma'luumunyang di dalam hartanya ada bagian tertentu

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. فِيfiidi dalam
  3. أَمْوَالِهِمْamwaalihimharta mereka
  4. حَقٌّhaqqunbenar
  5. مَعْلُومٌma'luumunyang diketahui

Inti bacaan

Dimensi sosial dari transformasi karakter: 'yang di dalam hartanya ada bagian tertentu', perluasan kualitas orang yang bersalat mencakup juga kepedulian material terhadap orang lain, menegaskan bahwa transformasi spiritual sejati harus bermanifestasi dalam tindakan konkret terhadap sesama, bukan hanya ritual personal.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (حَقٌّ مَعْلُومٌ, haqqun ma'luumun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Kata pertamanya berarti hak atau bagian yang memang menjadi milik pihak lain, bukan pemberian sukarela. Kata keduanya berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya 'yang diketahui'. Jadi bunyinya 'bagian yang diketahui', yaitu bagian yang ukurannya sudah jelas.

Bentuk (مَعْلُومٌ, ma'luumun) muncul di 4 ayat: 15:4, 37:41, 37:164, dan 70:24. Di 15:4 ia dipakai untuk ketetapan yang sudah ditentukan bagi sebuah negeri, dan di 37:164 untuk kedudukan yang sudah ditetapkan. Jadi kata ini hampir selalu menyangkut sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu, bukan yang ditentukan sesuai keadaan.

Kata (أَمْوَالِهِمْ, amwaalihim) muncul di 5 ayat: 4:34, 9:103, 10:88, 51:19, dan 70:24. Di 51:19 kata itu berdiri dalam kalimat yang isinya sangat dekat dengan ayat ini dan yang berikutnya: pada harta mereka ada hak bagi peminta dan yang tidak meminta. Dua tempat menyebut hal yang sama, dan surah ini memecahnya menjadi dua ayat sedangkan 51:19 memuatnya dalam satu ayat.

Susunan kalimatnya perlu dicermati. Bagian yang disebut berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya 'di dalam hartanya ada bagian'. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana, bukan sebagai potongan yang dikeluarkan kemudian. Terjemahan 'yang di dalam hartanya ada bagian tertentu' menahan kedudukan tersebut.

Sifat kedua dalam daftar ini menyangkut harta, sesudah sifat pertama menyangkut salat. Urutan itu bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Dan sifat ini disebut dengan kata yang menandai kewajiban, bukan kemurahan hati. Yang dituntut bukan kesediaan berbagi melainkan penyerahan sesuatu yang memang bukan haknya.

Hal berikut ini pun menentukan. Perlu dicatat bahwa akhiran kepemilikan pada kata untuk harta tetap dipertahankan. Bunyinya 'harta mereka', bukan 'harta'. Jadi kepemilikan tidak disangkal; yang dinyatakan adalah bahwa di dalam milik itu ada bagian yang bukan milik pemiliknya. Dua hal tersebut berdiri bersama tanpa saling meniadakan, dan terjemahan menahan keduanya.

Susunan kalimatnya juga memajukan keterangan tempat sebelum yang diterangkan. Bunyi harfiahnya kira-kira 'yang di dalam harta mereka ada bagian tertentu'. Pemajuan seperti itu dalam bahasa Arab menandai penekanan, dan yang ditekankan adalah letaknya: bagian tersebut ada di dalam, bukan di luar. Terjemahan Indonesia mengikuti urutan itu sejauh yang masih wajar dibaca.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan sifat kedua: berbagi harta secara tertentu. Ayat ini menyebut sifat kedua dalam daftar, dan urutannya bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Sesudah salat disebut di 70:23, giliran harta yang disebut di sini. Perpindahan itu tanpa jeda, dan susunannya menempatkan keduanya sejajar sebagai dua bagian dari satu daftar yang sama.

Yang paling perlu dicermati adalah kedudukan bagian tersebut di dalam kalimat. Ia berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya di dalam hartanya ada bagian. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana, bukan sebagai potongan yang dikeluarkan kemudian. Perbedaannya besar: yang satu menyerahkan milik sendiri, yang lain mengeluarkan yang memang bukan miliknya.

Kata yang dipakai untuk bagian itu berarti hak, bukan pemberian sukarela. Dan sifat yang mendampinginya berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya bagian yang diketahui, yaitu yang ukurannya sudah jelas. Kata tersebut muncul di 4 ayat, dan di 15:4 serta 37:164 ia dipakai untuk sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu. Jadi yang dituntut bukan kesediaan berbagi menurut suasana hati, melainkan penyerahan sesuatu yang ukurannya sudah ditetapkan. Susunan yang sangat dekat dengan ayat ini juga muncul di 51:19, dan di sana ia dimuat dalam satu ayat sedangkan surah ini memecahnya menjadi dua.

Renungan dan Hikmah

  • Bagian yang disebut berada di dalam harta, bukan diambil dari harta. Huruf yang dipakai menandai tempat, sehingga bunyinya di dalam hartanya ada bagian. Susunan itu menempatkan hak orang lain sebagai sesuatu yang sejak awal sudah berada di sana. Perbedaannya besar: yang satu menyerahkan milik sendiri, yang lain mengeluarkan yang memang bukan miliknya sejak semula. Menyerahkan milik sendiri terasa berat; mengembalikan titipan seharusnya tidak. Yang mengembalikan titipan tidak kehilangan apa pun yang pernah menjadi haknya.
  • Kata yang dipakai untuk bagian itu berarti hak atau bagian yang memang menjadi milik pihak lain, bukan pemberian sukarela. Yang dituntut bukan kesediaan berbagi melainkan penyerahan sesuatu yang memang bukan haknya. Allah menempatkan perkara ini di wilayah kewajiban, bukan kebaikan hati. Rasa bangga karena memberi mengendur begitu seseorang menyadari bahwa yang ia berikan bukan miliknya. Kesadaran tentang siapa pemiliknya mengubah seluruh rasa ketika menyerahkan.
  • Sifat yang mendampingi berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti mengetahui, sehingga bunyinya bagian yang diketahui. Kata itu muncul di 4 ayat, dan di 15:4 serta 37:164 ia dipakai untuk sesuatu yang batasnya sudah ditetapkan lebih dulu. Jadi yang dituntut bukan berbagi menurut suasana hati, melainkan menyerahkan ukuran yang sudah ditentukan Allah sebelumnya. Perhitungan yang berubah menurut suasana hati tidak pernah menghasilkan keadilan.
  • Sesudah salat disebut di 70:23, giliran harta yang disebut di sini. Urutannya bergerak dari hubungan dengan Allah menuju hubungan dengan sesama. Perpindahan itu tanpa jeda, dan susunannya menempatkan keduanya sejajar sebagai dua bagian dari satu daftar. Allah tidak memisahkan urusan ibadah dari urusan harta; keduanya berdiri dalam satu deretan tanpa pembatas. Ibadah dan harta berdiri dalam satu deretan tanpa pembatas di antaranya. Pemisahan antara urusan langit dan urusan tanah adalah buatan kita sendiri.
  • Susunan yang sangat dekat dengan ayat ini juga muncul di 51:19, dan di sana ia dimuat dalam satu ayat sedangkan surah ini memecahnya menjadi dua. Pemecahan itu memberi ruang lebih bagi penerimanya, yang disebut tersendiri di 70:25. Cara membagi kalimat ikut menentukan apa yang paling menonjol, dan di sini yang mendapat ayat sendiri adalah pihak yang menerima. Pihak yang menerima diberi ayat sendiri, dan penempatan itu meninggikan kedudukannya.
  • Rangkaian dua kata di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata pertamanya menandai kewajiban, kata keduanya menandai ukuran yang sudah pasti. Gabungan keduanya membentuk pengertian yang tidak diulang di ayat mana pun. Sudahkah kita menghitung bagian yang bukan milik kita di dalam apa yang selama ini kita sebut harta kita sendiri? Gabungan dua kata itu membentuk pengertian yang tidak diulang di ayat mana pun. Menghitung bagian yang bukan milik kita mengubah cara kita memandang seluruh simpanan.