وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ

Dan orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِwa-lladziina yushaddiquuna bi-yawmi d-diinidan orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. يُصَدِّقُونَyushaddiquunamereka membenarkan
  3. بِيَوْمِbi-yawmipada hari
  4. الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban

Inti bacaan

Keyakinan teguh terhadap akuntabilitas: 'orang-orang yang membenarkan Hari Pertanggungjawaban', kepercayaan pada konsekuensi masa depan sebagai fondasi yang membentuk seluruh perilaku etis yang disebutkan dalam daftar ini.

Penjelasan pilihan kata

'Yawmi d-diini' dipertahankan 'Hari Pertanggungjawaban': pengecualian baku dari kaidah diin→ketaatan yang berlaku umum, khusus untuk idiom tetap 'yawm ad-diin'.

Bentuk (يُصَدِّقُونَ, yushaddiquuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Jadi bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Terjemahan 'membenarkan' menahan sisi pengakuan itu, dan menggantinya dengan 'percaya' akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan.

Rangkaian (بِيَوْمِ الدِّينِ, biyawmi ad-diini) berdiri sebagai objek yang dibenarkan. Bentuk (بِيَوْمِ, biyawmi) muncul di 5 ayat: 40:27, 70:26, 74:46, 75:1, dan 83:11. Menariknya, di 74:46 rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari itu. Jadi dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi: yang di sini membenarkan, yang di sana mendustakan.

Terjemahan mempertahankan 'Hari Pertanggungjawaban' untuk rangkaian tersebut. Ini pengecualian baku dari kaidah umum proyek yang menerjemahkan kata dasarnya sebagai ketaatan. Susunan ini sudah menjadi idiom tetap dalam Al-Qur'an, dan menerjemahkan bagian-bagiannya secara terpisah akan menghasilkan gabungan yang tidak dikenali pembaca.

Bagian berikut ini menyangkut perkara yang belum sempat disinggung di paragraf mana pun. Bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang berlangsung terus, bukan yang selesai sekali. Jadi yang disebut bukan orang yang pernah mengakui, melainkan orang yang terus-menerus membenarkan. Sifat ketiga dalam daftar ini karena itu menyangkut ketetapan pengakuan, bukan satu peristiwa keyakinan.

Perlu dicatat bahwa dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Sifat ini yang pertama menyangkut isi kepala. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya di 70:27 dan 70:28 melanjutkan arah itu dengan menyebut rasa takut. Jadi daftar ini tidak disusun menurut jenisnya, melainkan menurut kedalamannya.

Susunan pembuka ayat ini memakai huruf penyambung yang tidak ada di butir pertama daftar. Butir di 70:23 berdiri tanpa penyambung, sedangkan butir ini dan lima butir berikutnya memakainya. Susunan tersebut membuat butir pertama terasa menempel langsung pada pengecualian di 70:22, sedangkan sisanya dirangkai sebagai tambahan yang setara satu sama lain.

Perlu ditambahkan bahwa objek yang dibenarkan disebut dengan penanda tertentu, yaitu hari yang sudah dikenal. Susunan itu memperlihatkan bahwa yang dituntut bukan mengakui adanya suatu hari perhitungan pada umumnya, melainkan membenarkan hari yang memang sudah diberitakan. Perbedaannya nyata: yang pertama bisa dipenuhi oleh gagasan apa saja tentang keadilan yang menyusul kematian, sedangkan yang kedua menuntut penerimaan atas kabar yang tertentu.

Tafsiran

Ayat ini menambahkan sifat ketiga: membenarkan Hari Pembalasan. Ayat ini menyebut sifat ketiga dalam daftar, dan yang pertama menyangkut isi kepala. Dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya melanjutkan arah itu dengan menyebut rasa takut. Daftar ini tidak disusun menurut jenisnya, melainkan menurut kedalamannya.

Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Jadi bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Menggantinya dengan percaya akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan, padahal yang dimaksud adalah pengakuan yang dinyatakan. Dan bentuknya menandai perbuatan yang berlangsung terus, sehingga yang disebut bukan orang yang pernah mengakui melainkan yang terus-menerus membenarkan.

Ada kesejajaran yang tajam dengan 74:46. Di ayat itu rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari tersebut. Dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi: yang di sini membenarkan, yang di sana mendustakan. Dan dua-duanya memakai bentuk yang menandai kelanjutan. Jadi yang dibandingkan bukan satu keputusan melawan satu keputusan, melainkan dua kebiasaan yang sama-sama berjalan seumur hidup. Yang menentukan bukan saat seseorang mengambil sikap, melainkan berapa lama ia bertahan di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini berpola yang menandai membuat sesuatu menjadi benar atau mengakui kebenarannya. Bunyinya bukan sekadar percaya, melainkan membenarkan. Menggantinya dengan percaya akan menggeser maknanya ke wilayah perasaan, padahal yang dimaksud adalah pengakuan yang dinyatakan. Perasaan bisa datang dan pergi tanpa jejak; pengakuan meninggalkan bekas yang bisa ditagih.
  • Di 74:46 rangkaian yang hampir sama berdiri dalam pengakuan penghuni neraka yang menyatakan bahwa mereka dahulu selalu mendustakan hari tersebut. Dua surah menyebut hal yang sama dari dua sisi, dan dua-duanya memakai bentuk yang menandai kelanjutan. Yang dibandingkan bukan satu keputusan melawan satu keputusan, melainkan dua kebiasaan yang sama-sama berjalan seumur hidup. Yang menentukan bukan saat mengambil sikap, melainkan lamanya bertahan di dalamnya. Allah menilai ketetapan sikap, bukan kemeriahan saat sikap itu pertama diambil.
  • Dua sifat sebelumnya menyangkut perbuatan yang terlihat, yaitu salat dan penyerahan harta. Sifat ini yang pertama menyangkut isi kepala. Urutannya bergerak dari yang tampak menuju yang tersembunyi, dan dua sifat berikutnya di 70:27 dan 70:28 melanjutkan arah itu. Allah menyusun daftar ini menurut kedalamannya, bukan menurut jenisnya, sehingga pembaca dibawa masuk selapis demi selapis. Pembaca dibawa masuk selapis demi selapis, dari yang terlihat menuju yang tersembunyi.
  • Bentuk kata kerja di ayat ini menandai perbuatan yang berlangsung terus, bukan yang selesai sekali. Yang disebut bukan orang yang pernah mengakui, melainkan orang yang terus-menerus membenarkan. Sifat ketiga ini karena itu menyangkut ketetapan pengakuan, bukan satu peristiwa keyakinan. Yang menentukan di sisi Allah bukan saat seseorang mengambil sikap, melainkan berapa lama ia bertahan. Ketetapan sikap lebih sulit dipalsukan daripada satu pernyataan yang mengesankan. Sikap yang bertahan lama menyaring yang sungguh-sungguh dari yang sekadar terbawa suasana.
  • Terjemahan mempertahankan Hari Pertanggungjawaban untuk rangkaian di ayat ini. Ini pengecualian baku dari kaidah umum proyek yang menerjemahkan kata dasarnya sebagai ketaatan. Susunan tersebut sudah menjadi idiom tetap dalam Al-Qur'an, dan menerjemahkan bagian-bagiannya secara terpisah akan menghasilkan gabungan yang tidak dikenali pembaca. Kesetiaan pada kata kadang berarti kesetiaan pada gabungannya, bukan pada tiap potongnya.
  • Sifat ini berada di tengah tujuh butir, diapit dua perbuatan yang terlihat sebelumnya dan tiga sifat batin sesudahnya. Penempatan di tengah itu menjadikannya semacam engsel. Perbuatan tanpa pengakuan kehilangan alasannya, dan pengakuan tanpa perbuatan kehilangan buktinya. Di mana sebenarnya letak pengakuan kita: sebelum perbuatan, sesudahnya, atau tidak di mana-mana? Perbuatan tanpa pengakuan kehilangan alasan; pengakuan tanpa perbuatan kehilangan bukti.