وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَwa-lladziina hum min 'adzaabi rabbihim musyfiquunadan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- هُمْhummereka
- مِنْmindari
- عَذَابِ'adzaabiazab
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- مُشْفِقُونَmusyfiquunamerasa cemas
Inti bacaan
Kewaspadaan yang produktif: 'orang-orang yang takut terhadap azab Tuhan mereka', rasa takut yang berfungsi sebagai pengingat aktif untuk terus menjaga perilaku, bukan ketakutan melumpuhkan melainkan kesadaran yang mendorong kehati-hatian berkelanjutan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مُشْفِقُونَ, musyfiquuna) muncul di 5 ayat: 21:28, 21:49, 23:57, 42:18, dan 70:27. Menariknya, salah satunya berada di surah 23, yaitu surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata itu berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang, bukan takut yang menjauhkan. Perbedaan itu penting. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini adalah takut yang membuat orang berhati-hati karena peduli. Terjemahan 'takut' dipakai karena paling wajar dibaca, dengan catatan bahwa muatannya lebih dekat ke cemas yang menjaga.
Sisi lain ayat ini juga penting. Susunan kalimatnya memajukan keterangan sebelum kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'yang dari azab Tuhan mereka merasa cemas'. Pemajuan seperti itu menandai penekanan pada sumber kecemasannya. Terjemahan Indonesia menempatkannya mengikuti urutan yang wajar dibaca, dan penekanannya sedikit larut.
Kata (رَبِّهِمْ, rabbihim) memakai akhiran kepemilikan. Jadi yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan azab dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28, dan pengulangan dua kali berturut-turut itu menegaskan hubungan yang tetap ada meski yang dibicarakan adalah azab.
Sifat keempat dalam daftar ini melanjutkan gerakan ke dalam yang dimulai di 70:26. Sesudah pengakuan disebut, giliran rasa. Dan ayat berikutnya, 70:28, tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa itu. Jadi dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Perlu dicatat pula bahwa kata sifat di ayat ini berbentuk pelaku jamak, sama seperti kata sifat di 70:23, 70:29, 70:32, dan 70:33. Lima dari tujuh butir dalam daftar ini memakai bentuk pelaku. Bentuk tersebut menuntut adanya perbuatan yang sedang berjalan, bukan keadaan yang disandang. Jadi daftar ini seluruhnya berbicara tentang apa yang dikerjakan, bahkan ketika yang disebut adalah perasaan.
Perlu ditambahkan bahwa yang ditakuti disebut sebagai azab, bukan sebagai Tuhannya. Susunan itu menjaga arah rasa takut tetap tertuju pada akibat, bukan pada Zat yang menetapkannya. Perbedaannya menentukan bentuk hubungan: yang takut kepada akibat tetap bisa mendekat kepada sumbernya, sedangkan yang takut kepada sumbernya akan menjauh dari keduanya sekaligus.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sifat keempat: rasa takut yang sehat terhadap azab Allah. Ayat ini menyebut sifat keempat, dan gerakannya melanjutkan arah ke dalam yang dimulai di 70:26. Sesudah pengakuan disebut, giliran rasa. Dan ayat berikutnya tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa itu, sehingga dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya.
Kata yang dipakai berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang, bukan takut yang menjauhkan. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini adalah takut yang membuat orang berhati-hati karena peduli. Perbedaan itu menentukan seluruh nada ayat. Yang digambarkan bukan orang yang ngeri lalu menghindar, melainkan orang yang waspada karena tahu apa yang dipertaruhkan.
Akhiran kepemilikan pada kata untuk Tuhan juga bermakna. Yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan azab dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28, dan pengulangan dua kali berturut-turut menegaskan hubungan yang tetap ada meski yang dibicarakan adalah azab. Kata sifat ini juga muncul di 23:57, salah satu ayat di surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama, dan menyentuh juga bagian yang susunannya berbeda.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai berbentuk pelaku dari akar yang berarti rasa takut yang bercampur kasih sayang. Bahasa Arab punya kata lain untuk takut yang membuat orang lari; yang dipakai di sini membuat orang berhati-hati karena peduli. Yang digambarkan bukan orang yang ngeri lalu menghindar, melainkan yang waspada karena tahu apa yang dipertaruhkan. Takut yang benar mendekatkan, bukan mengusir. Yang mendekat kepada Allah karena takut berbeda dari yang menjauh karena ngeri.
- Akhiran kepemilikan pada kata untuk Tuhan menegaskan bahwa yang ditakuti bukan azab dari pihak asing, melainkan dari Tuhan mereka sendiri. Susunan itu menjaga agar rasa takut tersebut tidak terbaca sebagai ketakutan terhadap musuh. Kata yang sama diulang di 70:28. Hubungan tetap disebut meski yang dibicarakan adalah azab, dan itu menjaga rasa takut tidak berubah menjadi permusuhan. Menyebut hubungan di tengah ancaman menjaga hati tetap menghadap, bukan berbalik.
- Kata sifat di ayat ini juga muncul di 23:57, salah satu ayat di surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian ini. Kesejajaran antara dua surah tersebut meluas melampaui ayat yang persis sama, dan menyentuh juga bagian yang susunannya berbeda. Kemiripan yang menyebar seperti itu menandai bahwa dua surah sedang menyusun bangunan yang serupa dengan bahan yang sebagian sama. Bahan yang sebagian sama dipakai untuk dua bangunan yang berdiri di tempat berbeda.
- Ayat berikutnya tidak menambah sifat baru melainkan menjelaskan alasan rasa yang disebut di sini. Dua ayat berpasangan: yang satu menyebut keadaan hati, yang lain menyebut dasarnya. Allah tidak membiarkan perasaan berdiri tanpa alasan. Rasa takut yang tidak tahu dasarnya mudah berubah menjadi kecemasan yang tak terarah, dan yang seperti itu tidak menggerakkan siapa pun ke mana pun. Yang tahu apa yang ditakutinya bisa bersiap; yang tidak tahu hanya gelisah. Persiapan hanya mungkin bagi yang tahu persis apa yang sedang ia hadapi.
- Susunan kalimatnya memajukan keterangan sebelum kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira yang dari azab Tuhan mereka merasa cemas. Pemajuan itu menandai penekanan pada sumber kecemasannya. Terjemahan Indonesia mengikuti urutan yang wajar dibaca, dan penekanannya sedikit larut. Menyebutkan apa yang larut lebih jujur daripada memaksakan susunan yang setia tetapi tidak terbaca. Mengakui apa yang hilang dalam terjemahan lebih berguna daripada menyembunyikannya.
- Kata untuk rasa cemas di ayat ini muncul di 5 ayat, sedangkan kata untuk azab jauh lebih sering dipakai. Yang langka adalah rasa cemasnya, bukan sebutan azabnya. Adakah rasa takut dalam diri kita yang membuat kita lebih berhati-hati, atau yang ada hanya rasa takut yang membuat kita berhenti memikirkannya? Gabungan yang tidak diulang di mana pun menandai keadaan yang memang khusus. Keadaan hati yang tidak umum diberi Allah kata yang tidak umum pula. Kata yang jarang menandai keadaan yang jarang, dan keduanya sengaja dipasangkan.