إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ
Sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat dirasa aman.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍinna 'adzaaba rabbihim ghayru ma'muuninsesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat dirasa aman
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- عَذَابَ'adzaabaazab
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- غَيْرُghayrutidak
- مَأْمُونٍma'muuninyang aman
Inti bacaan
Prinsip kewaspadaan tanpa henti: 'sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat merasa aman darinya', pengakuan bahwa rasa aman berlebihan bisa menjadi kelengahan, kesadaran bahwa pencapaian spiritual di masa lalu tidak menjamin kekebalan otomatis terhadap kesalahan di masa depan.
Penjelasan pilihan kata
'Ghayru ma'muunin' diselaraskan 'tidak dapat dirasa aman': susunan pasif lebih jelas daripada 'tidak dapat merasa aman' pada draf.
Rangkaian (غَيْرُ مَأْمُونٍ, gayru ma'muunin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Kata keduanya, (مَأْمُونٍ, ma'muunin), juga muncul 1 kali. Ia berbentuk pelaku pasif dari akar yang berarti aman. Jadi bunyinya 'yang dirasa aman', dan seluruh rangkaian berarti 'tidak dapat dirasa aman'.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Bentuk pasif itu yang paling menentukan. Draf awal menerjemahkannya 'tidak dapat merasa aman', dan itu diselaraskan menjadi 'tidak dapat dirasa aman'. Perbedaannya nyata. Bentuk aktif menempatkan manusia sebagai pelaku yang gagal merasa aman; bentuk pasif menempatkan azab itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak masuk golongan yang bisa dianggap aman. Yang kedua lebih setia pada teks dan lebih luas cakupannya.
Kata (غَيْرُ, gayru) berfungsi sebagai penyangkal yang melekat pada kata benda. Ia berbeda dari penyangkal biasa: yang ini mengeluarkan sesuatu dari golongan tertentu, bukan menyangkal terjadinya. Jadi yang dinyatakan bukan 'azab itu tidak aman' melainkan 'azab itu bukan termasuk yang bisa dirasa aman'. Perbedaan tersebut halus tetapi mengubah kadar penyangkalannya.
Ayat ini tidak menambah sifat baru ke dalam daftar. Ia menjelaskan alasan sifat yang disebut di 70:27. Susunan seperti itu muncul sekali lagi di bagian ini, yaitu ketika 70:30 dan 70:31 menjelaskan batas bagi sifat yang disebut di 70:29. Jadi dua kali dalam satu daftar, sebuah butir diikuti keterangan yang bukan butir baru. Menghitungnya sebagai butir tersendiri akan mengacaukan jumlah sifat yang sebenarnya tujuh.
Sebutan bagi Tuhan diulang dari ayat sebelumnya dengan akhiran yang sama. Dua ayat berturut-turut menyebut azab Tuhan mereka, dan pengulangan itu mengikat keduanya sebagai satu kalimat yang dipotong nomor. Terjemahan mempertahankan pengulangan tersebut, sebab menggantinya dengan kata pengganti akan mengaburkan sambungannya.
Ayat ini juga satu-satunya di daftar ini yang dibuka penegasan, bukan penyambung. Enam butir lainnya dibuka dengan susunan yang seragam. Perbedaan bentuk itu menandai bahwa ayat ini memang bukan butir, melainkan keterangan. Pembaca yang memperhatikan bentuk pembukanya akan mengenali batas daftar tanpa perlu menghitung isinya satu per satu.
Susunan (إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ, inna 'adzaaba rabbihim) mengulang dua kata dari ayat sebelumnya secara berurutan. Pengulangan sepanjang dua kata itu tidak lazim di daftar yang butir-butirnya justru ringkas. Kehadirannya menandai bahwa ayat ini sengaja mengambil kembali pokok yang baru disebut untuk diberi keterangan, bukan memperkenalkan pokok baru yang kebetulan mirip.
Tafsiran
Ayat ini menjelaskan alasan rasa takut itu: azab Allah bukan sesuatu yang bisa diremehkan. Ayat ini tidak menambah sifat baru ke dalam daftar. Ia menjelaskan alasan sifat yang disebut di 70:27. Susunan seperti itu muncul sekali lagi di bagian ini, ketika 70:30 dan 70:31 menjelaskan batas bagi sifat yang disebut di 70:29. Dua kali dalam satu daftar, sebuah butir diikuti keterangan yang bukan butir baru, dan menghitungnya sebagai butir tersendiri akan mengacaukan jumlah sifat yang sebenarnya tujuh.
Bentuk pasif pada kata terakhirnya yang paling menentukan. Draf awal menerjemahkannya tidak dapat merasa aman, dan itu diselaraskan menjadi tidak dapat dirasa aman. Perbedaannya nyata. Bentuk aktif menempatkan manusia sebagai pelaku yang gagal merasa aman; bentuk pasif menempatkan azab itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak masuk golongan yang bisa dianggap aman. Yang kedua lebih setia pada teks dan lebih luas cakupannya, sebab ia tidak bergantung pada siapa yang sedang merasa.
Penyangkal yang dipakai juga khas. Ia melekat pada kata benda dan mengeluarkan sesuatu dari golongan tertentu, bukan menyangkal terjadinya. Jadi yang dinyatakan bukan azab itu tidak aman melainkan azab itu bukan termasuk yang bisa dirasa aman. Perbedaan tersebut halus tetapi mengubah kadar penyangkalannya. Dan kata untuk Tuhan diulang dari ayat sebelumnya dengan akhiran yang sama, sehingga dua ayat terikat sebagai satu kalimat yang dipotong nomor. Rasa cemas di ayat sebelumnya ternyata bukan sifat berlebihan melainkan tanggapan yang tepat atas keadaan yang memang tidak menyediakan jaminan.
Renungan dan Hikmah
- Draf awal menerjemahkannya tidak dapat merasa aman, dan itu diselaraskan menjadi tidak dapat dirasa aman. Bentuk aktif menempatkan manusia sebagai pelaku yang gagal; bentuk pasif menempatkan azab itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak masuk golongan yang bisa dianggap aman. Yang kedua lebih setia dan lebih luas, sebab ia tidak bergantung pada siapa yang sedang merasa. Penilaian manusia berubah-ubah; ketetapan Allah tidak menunggu persetujuan siapa pun.
- Ayat ini tidak menambah sifat baru ke dalam daftar. Ia menjelaskan alasan sifat yang disebut di 70:27. Susunan seperti itu muncul sekali lagi ketika 70:30 dan 70:31 menjelaskan batas bagi 70:29. Dua kali dalam satu daftar, sebuah butir diikuti keterangan yang bukan butir baru. Menghitungnya sebagai butir tersendiri akan mengacaukan jumlah sifat yang sebenarnya tujuh. Salah menghitung butir membuat orang menuntut lebih banyak daripada yang Allah tetapkan.
- Penyangkal yang dipakai melekat pada kata benda dan mengeluarkan sesuatu dari golongan tertentu, bukan menyangkal terjadinya. Jadi yang dinyatakan bukan azab itu tidak aman melainkan azab itu bukan termasuk yang bisa dirasa aman. Perbedaan tersebut halus tetapi mengubah kadar penyangkalannya. Menutup golongan lebih rapat daripada menyangkal satu keadaan. Yang dikeluarkan dari golongan tidak bisa masuk kembali lewat pintu mana pun.
- Rasa cemas di 70:27 ternyata bukan sifat berlebihan melainkan tanggapan yang tepat atas keadaan yang memang tidak menyediakan jaminan. Allah membenarkan rasa itu dengan menyebut dasarnya. Kecemasan yang punya dasar berbeda dari kecemasan yang mengambang. Yang pertama menggerakkan orang untuk bersiap; yang kedua hanya melelahkan tanpa menghasilkan apa-apa. Kecemasan yang punya dasar menggerakkan orang untuk bersiap, bukan untuk lumpuh. Rasa takut yang berdasar menghasilkan persiapan; yang mengambang hanya melumpuhkan.
- Kata untuk Tuhan diulang dari ayat sebelumnya dengan akhiran yang sama. Dua ayat berturut-turut menyebut azab Tuhan mereka, dan pengulangan itu mengikat keduanya sebagai satu kalimat yang dipotong nomor. Terjemahan mempertahankan pengulangan tersebut, sebab menggantinya dengan kata pengganti akan mengaburkan sambungannya. Pengulangan dalam Al-Qur'an sering berfungsi sebagai pengikat, bukan sebagai kelebihan kata. Kata yang diulang di dua ayat berdekatan hampir selalu menandai sambungan yang disengaja.
- Rangkaian dua kata di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata keduanya sendiri juga muncul 1 kali. Jadi baik gabungannya maupun salah satu unsurnya tidak diulang di mana pun. Adakah sesuatu dalam hidup kita yang diam-diam kita perlakukan sebagai aman, padahal tidak pernah ada yang menjaminnya demikian? Rasa aman yang tidak pernah dijanjikan Allah adalah rasa aman yang kita karang sendiri. Jaminan yang tidak pernah diberikan Allah tidak menjadi ada karena kita menginginkannya.