إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

Kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanan mereka; maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَillaa 'alaa azwaajihim aw maa malakat aymaanuhum fa-innahum ghayru maluumiinakecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanan mereka; maka sesungguhnya mereka tidak tercela

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. أَزْوَاجِهِمْazwaajihimistri-istri mereka
  4. أَوْawatau
  5. مَاmaaapa yang
  6. مَلَكَتْmalakatdimiliki
  7. أَيْمَانُهُمْaymaanuhumtangan kanan mereka
  8. فَإِنَّهُمْfa-innahummaka sesungguhnya mereka
  9. غَيْرُghayrutidak
  10. مَلُومِينَmaluumiinaorang-orang yang tercela

Inti bacaan

Batas yang jelas dalam hubungan yang sah: 'kecuali terhadap istri-istri mereka atau apa yang dimiliki tangan kanan mereka; maka sesungguhnya mereka tidak tercela', pengakuan bahwa disiplin diri bukan penolakan total terhadap dorongan alami, melainkan pengarahan pada kerangka yang sah dan bertanggung jawab.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 23:6, sama seperti 70:29 dengan 23:5. Bentuk (أَزْوَاجِهِمْ, azwaajihim) muncul di 3 ayat: 23:6, 33:50, dan 70:30. Bentuk (أَيْمَانُهُمْ, aymaanuhum) muncul di 4 ayat: 16:71, 23:6, 33:50, dan 70:30. Bentuk (مَلُومِينَ, maluumiina) muncul di 2 ayat: 23:6 dan 70:30. Ketiga daftar itu bertemu di 23:6, dan yang ketiga hanya bertemu di sana.

Ayat ini bukan butir baru dalam daftar, melainkan keterangan batas bagi butir di 70:29. Partikel pembukanya menandai pengecualian, sehingga yang dinyatakan adalah kepada siapa penjagaan itu tidak berlaku. Susunan seperti itu penting: butir sebelumnya menyebut kewajiban, ayat ini menyebut batasnya, dan 70:31 menyebut akibat bagi yang melampauinya.

Kata (مَلُومِينَ, maluumiina) berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mencela. Jadi bunyinya 'yang dicela'. Bentuk pasif itu menentukan: yang disangkal bukan perbuatan mencela melainkan kedudukan sebagai pihak yang tercela. Terjemahan 'tidak tercela' menahan bentuk pasif tersebut.

Susunan (فَإِنَّهُمْ, fa-innahum) yang mendahuluinya menandai akibat sekaligus penegasan. Jadi bunyinya 'maka sesungguhnya mereka'. Penegasan itu tidak wajib; kehadirannya menambah ketegasan pada pernyataan bahwa mereka tidak tercela. Susunan tersebut menutup kemungkinan pembacaan yang masih menyisakan celaan pada batas yang sudah dinyatakan halal.

Ayat ini sepuluh patah, terpanjang kedua di surah ini sesudah 70:4 yang sebelas patah. Menariknya, dua ayat terpanjang di surah ini sama-sama berisi keterangan yang membatasi: yang di 70:4 membatasi ukuran waktu, yang di sini membatasi cakupan sebuah kewajiban. Perbandingan itu memperlihatkan bahwa yang menuntut panjang bukan gambaran melainkan penetapan batas.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak berdiri sebagai butir yang bisa dikutip sendirian. Ia dibuka partikel pengecualian yang menuntut adanya sesuatu yang dikecualikan, dan yang dikecualikan berada di ayat sebelumnya. Mengutipnya terpisah akan menghasilkan kalimat yang menggantung tanpa induk. Susunan seperti ini berulang di beberapa tempat di surah ini, dan setiap kali ia menuntut pembacaan berpasangan.

Susunan (مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ, maa malakat aymaanuhum) juga perlu dicatat. Ia memakai kata yang berarti 'apa', bukan 'siapa', padahal yang dimaksud manusia. Susunan itu lazim dalam bahasa Arab untuk hal yang kedudukannya sedang dibicarakan sebagai milik, bukan sebagai pribadi. Terjemahan 'apa yang dimiliki tangan kanan mereka' menahan bentuk aslinya apa adanya, tanpa menghaluskan maupun mempertajam.

Tafsiran

Ayat ini menetapkan batas halal dalam menjaga kehormatan diri. Ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 23:6, sama seperti ayat sebelumnya dengan 23:5. Dua ayat berurutan identik dengan dua ayat berurutan di surah lain, dan blok itu masih berlanjut sampai 70:32. Kesejajaran sepanjang empat ayat menuntut pembacaan yang menimbang kedua tempatnya sekaligus.

Ayat ini bukan butir baru dalam daftar, melainkan keterangan batas bagi butir di 70:29. Partikel pembukanya menandai pengecualian, sehingga yang dinyatakan adalah kepada siapa penjagaan itu tidak berlaku. Susunan tersebut penting untuk dibaca berurutan: butir sebelumnya menyebut kewajiban, ayat ini menyebut batasnya, dan 70:31 menyebut akibat bagi yang melampauinya. Tiga ayat menyusun satu bangunan yang lengkap, dan mengambil salah satunya sendirian akan menghasilkan pemahaman yang timpang.

Kata terakhirnya berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mencela. Bunyinya yang dicela, dan bentuk pasif itu menentukan: yang disangkal bukan perbuatan mencela melainkan kedudukan sebagai pihak yang tercela. Ditambah penegasan yang mendahuluinya, susunan tersebut menutup kemungkinan pembacaan yang masih menyisakan celaan pada batas yang sudah dinyatakan halal. Ayat ini juga sepuluh patah, terpanjang kedua di surah ini sesudah 70:4. Dua ayat terpanjang di surah ini sama-sama berisi keterangan yang membatasi: yang di 70:4 membatasi ukuran waktu, yang di sini membatasi cakupan sebuah kewajiban. Yang menuntut panjang ternyata bukan gambaran, melainkan penetapan batas.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak berdiri sebagai butir yang bisa dikutip sendirian. Ia dibuka partikel pengecualian yang menuntut adanya sesuatu yang dikecualikan, dan yang dikecualikan berada di ayat sebelumnya. Mengutipnya terpisah akan menghasilkan kalimat yang menggantung tanpa induk. Susunan seperti ini berulang di beberapa tempat di surah ini, dan setiap kali ia menuntut pembacaan berpasangan.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini bukan butir baru dalam daftar, melainkan keterangan batas bagi butir di 70:29. Partikel pembukanya menandai pengecualian. Butir sebelumnya menyebut kewajiban, ayat ini menyebut batasnya, dan 70:31 menyebut akibat bagi yang melampauinya. Tiga ayat menyusun satu bangunan yang lengkap, dan mengambil salah satunya sendirian akan menghasilkan pemahaman yang timpang. Bangunan yang lengkap runtuh maknanya kalau salah satu tiangnya diambil. Tiga ayat itu satu bangunan, dan satu tiang yang dicabut merobohkan seluruhnya.
  • Kata terakhir ayat ini berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mencela. Bunyinya yang dicela, dan bentuk pasif itu menentukan: yang disangkal bukan perbuatan mencela melainkan kedudukan sebagai pihak yang tercela. Perbedaannya nyata. Yang pertama bergantung pada ada tidaknya orang yang mencela; yang kedua menyatakan kedudukan di sisi Allah, terlepas dari penilaian siapa pun. Yang bersih di sisi Allah tetap bersih meski seluruh manusia menudingnya.
  • Susunan yang mendahului kata terakhir menandai akibat sekaligus penegasan. Penegasan itu tidak wajib; kehadirannya menambah ketegasan pada pernyataan bahwa mereka tidak tercela. Susunan tersebut menutup kemungkinan pembacaan yang masih menyisakan celaan pada batas yang sudah dinyatakan halal. Allah tidak setengah-setengah ketika menyatakan sesuatu berada di dalam batas. Penegasan ganda menutup celah bagi keraguan yang menyusup lewat nada. Keraguan paling sering menyusup lewat nada, bukan lewat isi pernyataannya.
  • Ayat ini sepuluh patah, terpanjang kedua di surah ini sesudah 70:4. Dua ayat terpanjang sama-sama berisi keterangan yang membatasi: yang di 70:4 membatasi ukuran waktu, yang di sini membatasi cakupan sebuah kewajiban. Yang menuntut panjang ternyata bukan gambaran, melainkan penetapan batas. Menggambarkan bisa singkat; membatasi menuntut ketelitian yang memakan tempat. Ketelitian dalam menetapkan batas adalah bentuk kasih sayang yang jarang dikenali.
  • Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul di sedikit ayat, dan ketiga daftarnya bertemu di 23:6. Yang terakhir bahkan hanya bertemu di sana. Jadi ayat ini dan kembarannya di surah 23 adalah satu-satunya tempat ketiga kata tersebut berkumpul. Kelangkaan yang berlipat seperti itu menandai bahwa susunannya memang tidak dimaksudkan berdiri di tempat lain.
  • Ayat ini tidak menambah larangan; ia menyebut di mana kewajiban menjaga itu berhenti berlaku. Susunan seperti itu menjaga agar perintah tidak dibaca melebihi cakupannya. Allah menyebut batas dengan sejelas Dia menyebut kewajiban. Berapa banyak beban yang kita pikul sebenarnya lahir dari perintah yang kita baca tanpa membaca ayat yang menyebutkan batasnya? Perintah yang dibaca tanpa batasnya melahirkan beban yang tidak pernah Allah letakkan. Beban yang kita pikul sering lahir dari perintah yang kita baca setengah. Membaca perintah tanpa batasnya adalah cara paling umum melahirkan kesulitan sendiri.