فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ

Maka siapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَfa-mani btaghaa waraa'a dzaalika fa-ulaa'ika humu l-'aaduunamaka siapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَمَنِfa-manimaka orang yang
  2. ابْتَغَىٰbtaghaamencari
  3. وَرَاءَwaraa'adi belakang
  4. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  5. فَأُولَٰئِكَfa-ulaa'ikamaka mereka itu
  6. هُمُhumumerekalah
  7. الْعَادُونَl-'aaduunaorang-orang yang melampaui batas

Inti bacaan

Konsekuensi melampaui batas yang ditetapkan: 'siapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas', penegasan bahwa kebebasan dalam kerangka yang sah bukan berarti tanpa batas, pelanggaran terhadap kerangka tersebut dikategorikan sebagai transgresi.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika' dan 'ulaa'ika humu' dikonfirmasi morfologi.

Ayat ini sama persis huruf demi huruf dengan 23:7, dan ia menutup pasangan ketiga dari empat ayat berurutan yang identik dengan surah 23. Bentuk (ابْتَغَىٰ, ibtagaa) muncul di 2 ayat: 23:7 dan 70:31. Bentuk (الْعَادُونَ, al-'aaduuna) juga muncul di 2 ayat yang sama. Dua kata itu tidak pernah muncul di tempat lain, dan keduanya selalu berpasangan.

Bentuk (ابْتَغَىٰ, ibtagaa) berpola yang menandai usaha mencari dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menginginkan. Jadi yang dinyatakan bukan orang yang tergoda, melainkan orang yang mencari. Terjemahan 'mencari' menahan unsur usaha itu, dan menggantinya dengan menginginkan akan meringankan perbuatan yang sengaja dibuat berat.

Kata (وَرَاءَ, waraa-a) muncul di 7 ayat: 2:101, 3:187, 4:24, 6:94, 23:7, 70:31, dan 84:10. Ia berarti di balik atau di seberang. Kedudukannya di sini menandai apa yang berada di luar batas yang baru disebut di 70:30. Jadi tiga ayat berturut-turut menyusun satu bangunan yang lengkap: kewajiban, batas, lalu akibat bagi yang melewatinya.

Kata (الْعَادُونَ, al-'aaduuna) berbentuk pelaku jamak dari akar yang berarti melampaui atau menyeberangi batas. Terjemahan 'orang-orang yang melampaui batas' menahan gambaran penyeberangan itu. Yang perlu dicatat, kata ini memakai penanda tertentu, sehingga bunyinya 'mereka itulah orang-orang yang melampaui batas itu'. Penanda tersebut menandai golongan yang sudah dikenal, bukan sebutan baru.

Susunan (فَأُولَٰئِكَ هُمُ, fa-ulaa-ika humu) memakai kata penunjuk diikuti kata ganti. Gabungan itu menandai pembatasan: mereka itu dan hanya mereka. Bunyinya kira-kira 'maka mereka itulah, mereka, orang-orang yang melampaui batas'. Terjemahan Indonesia memakai 'mereka itulah' untuk menahan pembatasan tersebut, dan pengulangan kata gantinya larut.

Huruf pembuka ayat ini menandai akibat, sehingga bunyinya 'maka siapa yang mencari'. Ia menyambung langsung ke batas yang disebut di 70:30, dan menjadikan tiga ayat itu satu kalimat bersyarat yang panjang: kewajiban, batas, lalu akibat. Terjemahan mempertahankan huruf akibat tersebut, sebab menghilangkannya akan memutus rantai yang justru menjadi bentuk bangunannya.

Perlu dicatat pula bahwa yang dicari tidak disebut namanya. Teks hanya menyebut 'di balik itu', dengan kata penunjuk yang merujuk batas di ayat sebelumnya. Kekaburan tersebut disengaja dan dipertahankan dalam terjemahan. Menyebutkan apa yang dicari akan mempersempit ayat menjadi daftar perbuatan tertentu, padahal susunannya dirancang mencakup segala yang berada di seberang garis.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan batas pelanggaran bagi yang melampaui aturan tersebut. Ayat ini menutup bangunan tiga ayat yang dibuka di 70:29. Yang pertama menyebut kewajiban, yang kedua menyebut batasnya, dan yang ini menyebut akibat bagi yang melewatinya. Tiga langkah tersebut lengkap sebagai satu susunan, dan tidak ada butir lain dalam daftar ini yang diberi kelengkapan serupa.

Kata kerjanya berpola yang menandai usaha mencari dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menginginkan. Jadi yang dinyatakan bukan orang yang tergoda, melainkan orang yang mencari. Perbedaan itu menentukan siapa yang sedang dibicarakan. Yang tergoda masih berada di wilayah rasa; yang mencari sudah bergerak. Menggantinya dengan menginginkan akan meringankan perbuatan yang sengaja dibuat berat.

Ayat ini juga sama persis huruf demi huruf dengan 23:7, dan ia menutup pasangan ketiga dari empat ayat berurutan yang identik dengan surah 23. Dua kata langka yang menyusunnya hanya muncul di dua ayat tersebut, dan keduanya selalu berpasangan. Jadi bukan hanya ayatnya yang kembar; kosakatanya pun tidak pernah dipakai di luar pasangan itu. Dan susunan penutupnya memakai kata penunjuk diikuti kata ganti, gabungan yang menandai pembatasan: mereka itu dan hanya mereka. Susunan tersebut menutup kemungkinan pembacaan yang melonggarkan, sebab ia tidak menyisakan golongan ketiga di antara yang menjaga dan yang melampaui.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menutup bangunan yang dibuka di 70:29. Yang pertama menyebut kewajiban, yang kedua menyebut batasnya, dan yang ini menyebut akibat bagi yang melewatinya. Tiga langkah tersebut lengkap sebagai satu susunan, dan tidak ada butir lain dalam daftar ini yang diberi kelengkapan serupa. Allah memberi keterangan terbanyak pada butir yang batasnya paling mudah disalahpahami. Bangunan tiga langkah itu tidak diberikan kepada butir lain mana pun dalam daftar.
  • Kata kerja di ayat ini berpola yang menandai usaha mencari dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menginginkan. Yang dinyatakan bukan orang yang tergoda, melainkan orang yang mencari. Yang tergoda masih berada di wilayah rasa; yang mencari sudah bergerak. Menggantinya dengan menginginkan akan meringankan perbuatan yang sengaja dibuat berat oleh Allah dalam pilihan katanya. Yang sudah bergerak mencari sulit berkilah bahwa ia sekadar terlintas keinginan. Bergerak mencari menuntut keputusan; tergoda hanya menuntut kelengahan sesaat.
  • Dua kata langka yang menyusun ayat ini hanya muncul di 23:7 dan 70:31, dan keduanya selalu berpasangan. Jadi bukan hanya ayatnya yang kembar; kosakatanya pun tidak pernah dipakai di luar pasangan itu. Kelekatan sejauh itu menandai gabungan yang memang dirancang sebagai satu kesatuan, bukan susunan yang kebetulan berulang di dua tempat. Gabungan yang dirancang utuh kehilangan artinya ketika salah satunya dicabut. Dua kata yang tak pernah berpisah menandai satu gagasan, bukan dua yang berdampingan.
  • Susunan penutupnya memakai kata penunjuk diikuti kata ganti, gabungan yang menandai pembatasan: mereka itu dan hanya mereka. Susunan tersebut menutup kemungkinan pembacaan yang melonggarkan, sebab ia tidak menyisakan golongan ketiga di antara yang menjaga dan yang melampaui. Allah membagi dua tanpa ruang tengah, dan ketiadaan ruang tengah itu yang membuat pilihannya tidak bisa ditunda. Pembagian dua tanpa ruang tengah menutup jalan bagi penundaan yang beralasan.
  • Kata untuk di balik di ayat ini muncul di 7 ayat, di antaranya 2:101, 3:187, dan 84:10. Kedudukannya di sini menandai apa yang berada di luar batas yang baru disebut di 70:30. Jadi yang dicela bukan mencari secara umum, melainkan mencari di seberang garis yang sudah ditetapkan. Perbedaan itu menjaga agar ayat tidak dibaca sebagai larangan terhadap keinginan itu sendiri. Larangan terhadap keinginan berbeda dari larangan melewati batas yang ditetapkan. Yang dicela bukan mencari, melainkan mencari di seberang garis yang sudah ada.
  • Kata terakhir memakai penanda tertentu, sehingga bunyinya mereka itulah orang-orang yang melampaui batas itu. Penanda tersebut menandai golongan yang sudah dikenal, bukan sebutan baru yang diperkenalkan di sini. Allah menempatkan pelanggar batas ini ke dalam golongan yang sudah punya nama. Adakah garis dalam hidup kita yang kita lewati sambil merasa belum benar-benar keluar dari wilayahnya? Garis yang kita lewati tetap garis, meski kita merasa masih berada di dekatnya. Golongan yang sudah punya nama tidak memerlukan perkenalan ulang di ayat ini.