وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ
Dan orang-orang yang menegakkan kesaksian mereka,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَwa-lladziina hum bi-syahaadaatihim qaa'imuunadan orang-orang yang menegakkan kesaksian mereka
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- هُمْhummereka
- بِشَهَادَاتِهِمْbi-syahaadaatihimpada kesaksian mereka
- قَائِمُونَqaa'imuunaorang-orang yang berdiri
Inti bacaan
Keteguhan dalam memberikan kesaksian: 'orang-orang yang menegakkan kesaksian mereka', kesediaan menyampaikan kebenaran secara konsisten meski mungkin sulit atau tidak populer, pilar penting bagi keadilan sosial yang berfungsi.
Penjelasan pilihan kata
Dua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (بِشَهَادَاتِهِمْ, bisyahaadaatihim) dan (قَائِمُونَ, qaa-imuuna). Dari empat patah kata penyusunnya, dua tidak berulang di mana pun. Ini satu-satunya butir dalam daftar tujuh sifat yang seluruh kata khasnya tidak dipakai di ayat lain, sedangkan butir-butir lain memakai kata yang berpasangan dengan surah 23.
Satu hal terakhir tentang ayat ini pantas mendapat tempatnya sendiri di sini. Kata pertama berbentuk jamak, sehingga bunyinya 'kesaksian-kesaksian mereka'. Bentuk jamak itu bermakna: yang dituntut bukan satu kesaksian besar melainkan setiap kesaksian, berapa pun kecilnya. Huruf pertamanya menandai sasaran, jadi bunyinya 'terhadap kesaksian-kesaksian mereka'. Susunan sasaran yang sama dipakai di 70:29 dan 70:32, sehingga tiga butir dalam daftar ini memakai bentuk yang sejajar.
Kata (قَائِمُونَ, qaa-imuuna) berbentuk pelaku jamak dari akar yang berarti berdiri atau menegakkan. Terjemahan 'menegakkan' menahan sisi menegakkannya. Yang perlu dicatat, kata ini tidak berarti memberi kesaksian, melainkan menegakkannya. Jadi yang dituntut bukan kesediaan bersaksi, melainkan berdiri tegak di atas kesaksian yang sudah diberikan, termasuk ketika ia merugikan.
Ada satu perkara lagi yang tidak boleh dilewatkan sebelum ayat ini ditinggalkan. Akar yang sama dipakai untuk salat di banyak ayat lain dengan kata kerja yang berarti menegakkan salat. Jadi kesaksian di sini diperlakukan dengan kata kerja yang sama seperti salat. Kesejajaran itu tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan kejujuran dalam bersaksi pada kedudukan yang sama beratnya dengan ibadah yang berdiri di dua ujung daftar ini.
Sifat ketujuh ini melanjutkan arah yang dimulai di 70:32, yaitu hubungan dengan orang lain. Amanat dan janji menyangkut apa yang dititipkan kepada kita; kesaksian menyangkut apa yang kita ketahui tentang orang lain. Dua-duanya menuntut kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi, dan dua-duanya paling mudah dilanggar justru ketika pelanggarannya tidak akan ketahuan.
Perlu ditambahkan bahwa ayat ini tidak menyebut kepada siapa kesaksian itu diberikan, tidak pula menyebut perkaranya. Yang disebut hanya kesaksian mereka sendiri. Kekosongan tersebut membuat cakupannya menyeluruh: bukan kesaksian di hadapan hakim saja, melainkan setiap keterangan yang seseorang berikan tentang apa yang ia ketahui. Terjemahan mempertahankan keterbukaan itu tanpa menyempitkannya ke satu bentuk tertentu.
Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu dicatat pula bahwa dua kata sekali pakai di ayat ini keduanya berbentuk jamak atau pelaku jamak. Tidak ada bentuk tunggal sama sekali. Susunan itu sejalan dengan seluruh daftar, yang dari awal sampai akhir memakai bentuk jamak untuk pelakunya. Sifat-sifat tersebut tidak pernah disebut sebagai keistimewaan perorangan, melainkan selalu sebagai ciri sekelompok orang yang menempuh jalan yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan sifat ketujuh: menegakkan kesaksian dengan jujur. Ayat ini satu-satunya butir dalam daftar tujuh sifat yang seluruh kata khasnya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Butir-butir lain memakai kata yang berpasangan dengan surah 23; yang ini berdiri sendiri. Perbedaan tersebut mencolok di tengah blok yang begitu banyak kembarannya.
Kata kerjanya berbentuk pelaku jamak dari akar yang berarti berdiri atau menegakkan. Yang perlu dicatat, ia tidak berarti memberi kesaksian melainkan menegakkannya. Jadi yang dituntut bukan kesediaan bersaksi, melainkan berdiri tegak di atas kesaksian yang sudah diberikan, termasuk ketika ia merugikan. Perbedaan itu menentukan. Memberi kesaksian selesai dalam satu peristiwa; menegakkannya menuntut bertahan sesudah peristiwa itu lewat.
Akar yang sama dipakai untuk salat di banyak ayat lain dengan kata kerja yang berarti menegakkan salat. Jadi kesaksian di sini diperlakukan dengan kata kerja yang sama seperti ibadah. Kesejajaran itu tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan kejujuran dalam bersaksi pada kedudukan yang sama beratnya dengan salat yang berdiri di dua ujung daftar ini. Dan bentuk jamak pada kata pertamanya menandai bahwa yang dituntut bukan satu kesaksian besar melainkan setiap kesaksian, berapa pun kecilnya. Yang paling mudah dilanggar justru yang kecil, sebab pelanggarannya tidak akan ketahuan dan tidak akan ditagih siapa pun. Bandingkan dengan 70:32, yang menyebut amanat dalam bentuk jamak pula: dua butir berurutan sama-sama memakai bentuk jamak untuk hal yang dititipkan.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya tidak berarti memberi kesaksian melainkan menegakkannya. Yang dituntut bukan kesediaan bersaksi, melainkan berdiri tegak di atas kesaksian yang sudah diberikan, termasuk ketika ia merugikan. Memberi kesaksian selesai dalam satu peristiwa; menegakkannya menuntut bertahan sesudah peristiwa itu lewat. Yang berat bukan mengucapkannya, melainkan tidak menariknya kembali ketika tekanan datang. Bertahan sesudah peristiwanya lewat jauh lebih berat daripada mengucapkannya sekali. Allah menuntut ketegakan sesudah ucapan, bukan sekadar keberanian mengucapkan.
- Akar kata kerja di ayat ini dipakai untuk salat di banyak ayat lain dengan kata kerja yang berarti menegakkan salat. Kesaksian di sini diperlakukan dengan kata kerja yang sama seperti ibadah. Kesejajaran itu tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan kejujuran dalam bersaksi pada kedudukan yang sama beratnya dengan salat yang berdiri di dua ujung daftar ini. Kedudukan sebuah tuntutan terbaca dari kata kerja yang dipakai Allah untuknya.
- Kata pertama berbentuk jamak, sehingga bunyinya kesaksian-kesaksian mereka. Bentuk jamak itu bermakna: yang dituntut bukan satu kesaksian besar melainkan setiap kesaksian, berapa pun kecilnya. Yang paling mudah dilanggar justru yang kecil, sebab pelanggarannya tidak akan ketahuan dan tidak akan ditagih siapa pun. Allah menyebutnya jamak supaya tidak ada yang luput dari hitungan. Yang jamak dalam kalam Allah jarang sekadar soal jumlah; ia menandai cakupan. Bentuk jamak dari Allah menandai cakupan, bukan sekadar banyaknya.
- Ayat ini satu-satunya butir dalam daftar tujuh sifat yang seluruh kata khasnya tidak dipakai di ayat lain mana pun. Butir-butir lain memakai kata yang berpasangan dengan surah 23; yang ini berdiri sendiri. Perbedaan tersebut mencolok di tengah blok yang begitu banyak kembarannya, dan ia membuat butir ini terasa sebagai tambahan yang khusus bagi surah ini.
- Huruf pertama pada kata pertama menandai sasaran, jadi bunyinya terhadap kesaksian-kesaksian mereka. Susunan sasaran yang sama dipakai di 70:29 dan 70:32, sehingga tiga butir dalam daftar memakai bentuk yang sejajar. Ketiganya menyangkut sesuatu yang harus dijaga arahnya: tubuh, kepercayaan orang, dan kebenaran yang diketahui. Bentuk yang sama menandai jenis tuntutan yang sama.
- Amanat dan janji di 70:32 menyangkut apa yang dititipkan kepada kita; kesaksian menyangkut apa yang kita ketahui tentang orang lain. Dua-duanya menuntut kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi. Adakah kesaksian kecil yang pernah kita biarkan bergeser sedikit, karena kita tahu tidak seorang pun akan memeriksanya kembali? Yang kecil tidak ditagih siapa pun, dan justru itu yang membuatnya menjadi ujian sebenarnya di sisi Allah. Yang tidak akan ditagih siapa pun adalah ujian yang paling jujur mengukur seseorang.