وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan yang memelihara salatnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَwa-lladziina hum 'alaa shalaatihim yuhaafizhuunadan yang memelihara salatnya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
  2. هُمْhummereka
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. صَلَاتِهِمْshalaatihimsalatnya
  5. يُحَافِظُونَyuhaafizhuunamemelihara

Inti bacaan

Konsistensi dalam praktik ibadah: 'orang-orang yang memelihara salatnya', pemeliharaan yang menyiratkan usaha aktif dan berkelanjutan, bukan sekadar pelaksanaan sesekali yang mudah terputus.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini beda satu kata dari 23:9. Yang di sini memakai (صَلَاتِهِمْ, shalaatihim) berbentuk tunggal; yang di sana memakai bentuk jamak. Selain satu kata itu, keduanya sama persis. Jadi di antara empat ayat yang identik dan satu ayat yang beda dua kata, ayat ini yang paling dekat tanpa menjadi kembar penuh.

Bentuk (يُحَافِظُونَ, yuhaafizhuuna) muncul di 3 ayat: 6:92, 23:9, dan 70:34. Ia berpola yang menandai penjagaan yang dilakukan dengan saling menjaga atau berulang-ulang. Akar yang sama dipakai di 70:29 dalam bentuk pelaku, yaitu pada butir tentang kehormatan diri. Jadi akar untuk menjaga muncul dua kali di daftar ini, dan dua kemunculannya mengapit tiga butir yang berada di antaranya.

Hal berikut ini pun menentukan. Perbedaan bilangan dengan 23:9 patut ditimbang. Bentuk tunggal di sini menyebut salat sebagai satu perkara yang utuh; bentuk jamak di sana menyebutnya sebagai kumpulan waktu yang berulang. Dua sudut itu sama-sama benar dan tidak saling meniadakan. Terjemahan mempertahankan bentuk tunggal sesuai teks surah ini, tanpa menyeragamkannya dengan surah 23.

Ayat ini juga menutup daftar tujuh sifat dan mengembalikannya ke titik awal. Butir pertama di 70:23 menyebut salat dengan kata sifat yang berarti terus-menerus; butir terakhir di sini menyebutnya dengan kata kerja yang berarti menjaga. Dua penyebutan itu mengapit lima butir di antaranya, dan susunan mengapit tersebut membuat daftarnya terbaca sebagai satu bangunan yang punya tiang di kedua sisinya.

Sisi lain ayat ini juga penting. Perlu dicatat bahwa dua penyebutan salat itu memakai kata depan yang sama, yaitu yang berarti 'atas'. Susunan tersebut menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan, bukan tentang tenggelam di dalamnya. Bandingkan dengan 23:2, yang memakai kata depan berbeda untuk butir pembukanya. Jadi surah ini konsisten memakai satu gambaran hubungan dengan salat di dua ujung daftarnya.

Perlu ditambahkan bahwa ayat ini ditutup tanpa huruf penyambung ke ayat berikutnya, sedangkan seluruh butir sebelumnya dirangkai dengan penyambung. Terputusnya rangkaian itu menandai bahwa daftar sudah selesai. Ayat 70:35 kemudian dibuka dengan kata penunjuk, bukan penyambung, dan pergantian bentuk tersebut menegaskan bahwa yang menyusul bukan butir kedelapan melainkan kesimpulan atas ketujuhnya.

Susunan (عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ, 'alaa shalaatihim) di ayat ini persis sama dengan susunan di 70:23, hanya kata kerjanya yang berbeda. Dua ujung daftar memakai keterangan yang identik dengan perbuatan yang berlainan: yang satu terus-menerus, yang lain menjaga. Kesejajaran itu memperkuat kesan mengapit, sebab yang berulang bukan hanya pokoknya melainkan juga cara menyebutnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup daftar sifat dengan penjagaan salat, membentuk struktur inklusio dengan 70:23. Ayat ini menutup daftar tujuh sifat dan mengembalikannya ke titik awal. Butir pertama di 70:23 menyebut salat dengan kata sifat yang berarti terus-menerus; butir terakhir di sini menyebutnya dengan kata kerja yang berarti menjaga. Dua penyebutan itu mengapit lima butir di antaranya, dan susunan mengapit tersebut membuat daftarnya terbaca sebagai satu bangunan yang punya tiang di kedua sisinya.

Ayat ini beda satu kata dari 23:9. Yang di sini memakai bentuk tunggal untuk salat; yang di sana memakai bentuk jamak. Selain satu kata itu, keduanya sama persis. Perbedaan bilangan tersebut patut ditimbang. Bentuk tunggal menyebut salat sebagai satu perkara yang utuh; bentuk jamak menyebutnya sebagai kumpulan waktu yang berulang. Dua sudut itu sama-sama benar dan tidak saling meniadakan, dan terjemahan mempertahankan bentuk tunggal sesuai teks surah ini tanpa menyeragamkannya.

Akar kata kerjanya juga dipakai di 70:29 dalam bentuk pelaku, yaitu pada butir tentang kehormatan diri. Jadi akar untuk menjaga muncul dua kali di daftar ini, dan dua kemunculannya mengapit tiga butir di antaranya. Susunan mengapit berlapis seperti itu jarang: yang di luar salat, yang di dalam penjagaan. Dan dua penyebutan salat memakai kata depan yang sama, yaitu yang berarti atas, sehingga surah ini konsisten memakai satu gambaran hubungan dengan salat di kedua ujung daftarnya. Yang dituntut sejak awal sampai akhir adalah penjagaan, bukan kekhusyukan yang dinilai dari dalam.

Renungan dan Hikmah

  • Butir pertama di 70:23 menyebut salat dengan kata sifat yang berarti terus-menerus; butir terakhir di sini menyebutnya dengan kata kerja yang berarti menjaga. Dua penyebutan itu mengapit lima butir di antaranya. Susunan mengapit tersebut membuat daftarnya terbaca sebagai satu bangunan yang punya tiang di kedua sisinya. Yang membuka dan yang menutup sebuah daftar biasanya yang menopang seluruh isinya. Tiang di dua ujung menahan seluruh bangunan yang berdiri di antaranya. Sudahkah kita memeriksa apakah yang menopang hari-hari kita masih berdiri di kedua sisinya? Yang menopang sebuah bangunan biasanya berdiri di tepinya, bukan di tengahnya.
  • Yang di sini memakai bentuk tunggal untuk salat; yang di 23:9 memakai bentuk jamak. Selain satu kata itu, keduanya sama persis. Bentuk tunggal menyebut salat sebagai satu perkara yang utuh; bentuk jamak menyebutnya sebagai kumpulan waktu yang berulang. Dua sudut itu sama-sama benar dan tidak saling meniadakan, dan terjemahan tidak menyeragamkan keduanya demi kerapian. Allah membiarkan dua sudut berdiri berdampingan tanpa memaksa keduanya seragam. Allah tidak menyeragamkan dua sudut yang sama-sama benar demi kerapian bentuk.
  • Akar kata kerja di ayat ini juga dipakai di 70:29 dalam bentuk pelaku, yaitu pada butir tentang kehormatan diri. Akar untuk menjaga muncul dua kali di daftar ini, dan dua kemunculannya mengapit tiga butir di antaranya. Susunan mengapit berlapis seperti itu jarang: yang di luar salat, yang di dalam penjagaan. Allah menyusun daftar ini berlapis, bukan berderet lurus. Susunan berlapis dari Allah menuntut pembacaan yang tidak berhenti pada urutan datar.
  • Dua penyebutan salat di daftar ini memakai kata depan yang sama, yaitu yang berarti atas. Susunan tersebut menempatkan orang berada di atas salatnya, gambaran tentang menjaga dan mempertahankan, bukan tentang tenggelam di dalamnya. Yang dituntut sejak awal sampai akhir adalah penjagaan, bukan kekhusyukan yang hanya bisa dinilai dari dalam oleh pelakunya sendiri. Yang bisa diperiksa dari luar lebih adil dijadikan ukuran daripada yang hanya diketahui pelakunya.
  • Kata kerja di ayat ini berpola yang menandai penjagaan yang dilakukan berulang-ulang. Ia muncul di 3 ayat: 6:92, 23:9, dan 70:34. Polanya menuntut pengulangan, bukan satu tindakan penjagaan yang selesai. Menjaga sesuatu yang datang lima kali sehari memang tidak bisa dikerjakan sekali lalu ditinggalkan, dan bentuk katanya sendiri sudah menyatakan hal itu. Bentuk kata itu sendiri sudah menyatakan bahwa penjagaannya menuntut pengulangan tiap hari.
  • Bandingkan dengan 23:2, yang memakai kata depan berbeda untuk butir pembukanya. Surah ini konsisten memakai satu gambaran hubungan dengan salat di kedua ujung daftarnya, sedangkan surah 23 memakai dua gambaran yang berbeda. Ketetapan dalam satu surah dan keragaman antarsurah berjalan bersama. Apa yang kita anggap sebagai satu-satunya cara memahami sesuatu sering hanya satu dari beberapa yang disediakan. Ketetapan dalam satu surah dan keragaman antarsurah berjalan bersama tanpa bertabrakan. Satu cara memahami sesuatu sering hanya satu dari beberapa yang Allah sediakan.