عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ
Dari kanan dan dari kiri, berkelompok-kelompok?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ'ani l-yamiini wa-'ani sy-syimaali 'iziinadari kanan dan dari kiri, berkelompok-kelompok
Terjemahan per kata (5 kata)
- عَنِ'anidari
- الْيَمِينِl-yamiinikanan
- وَعَنِwa-'anidan dari
- الشِّمَالِsy-syimaalikiri
- عِزِينَ'iziinaberkelompok
Inti bacaan
Detail formasi berkumpul: 'dari kanan dan dari kiri, berkelompok-kelompok', gambaran spesifik pola berkumpul yang menegaskan keingintahuan atau ejekan terorganisir, bukan sekadar individu terisolasi.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ, 'ani al-yamiini wa'ani asy-syimaali) muncul di 2 ayat: 50:17 dan 70:37. Di 50:17 rangkaian itu berdiri dalam kalimat tentang dua pencatat yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Di sini ia berdiri dalam kalimat tentang kerumunan yang mendekat dari kanan dan kiri. Dua ayat memakai arah yang sama untuk dua pihak yang sangat berbeda: yang di sana mencatat diam-diam, yang di sini berkerumun terang-terangan.
Kata (عِزِينَ, 'iziina) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia bentuk jamak dari kata yang berarti kelompok kecil yang terpisah-pisah. Jadi bunyinya bukan satu kerumunan besar melainkan banyak kelompok kecil yang berdiri sendiri-sendiri. Terjemahan 'berkelompok-kelompok' menahan kejamakan dan keterpisahan itu.
Gambaran tersebut menyimpan sesuatu yang halus. Mereka mendekat, tetapi tidak sebagai satu barisan. Yang datang adalah kelompok-kelompok yang terpecah, masing-masing dengan urusannya sendiri. Jadi kedekatan mereka kepada sang penyeru tidak disertai kesatuan di antara mereka sendiri. Bandingkan dengan 70:11 sampai 70:14, ketika ikatan antarmanusia digambarkan runtuh sama sekali pada hari itu.
Kata (الشِّمَالِ, asy-syimaali) muncul di 5 ayat: 18:17, 18:18, 50:17, 56:41, dan 70:37. Di 56:41 ia dipakai untuk menyebut golongan kiri, yaitu penghuni neraka. Jadi kata untuk arah kiri dipakai untuk arah biasa di beberapa ayat dan untuk golongan di ayat lain. Di sini pemakaiannya yang pertama, yaitu arah, bukan golongan.
Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Ayat ini menumpang pada 70:36 dan tidak punya kata kerja sendiri. Lima kata yang berdiri di sini adalah keterangan bagi gerakan yang disebut di ayat sebelumnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipotong nomor, dan pertanyaannya baru selesai di ujung ayat ini.
Kata (الْيَمِينِ, al-yamiini) dan pasangannya sama-sama memakai penanda tertentu, dan keduanya didahului huruf yang menandai asal. Bunyinya 'dari kanan itu dan dari kiri itu'. Pengulangan huruf asal pada bagian kedua tidak wajib dalam bahasa Arab; satu penyebutan sudah cukup menutupi keduanya. Kehadirannya dua kali memisahkan dua arah tersebut supaya masing-masing berdiri sendiri, bukan melebur menjadi satu gerakan.
Perlu ditambahkan bahwa dua arah yang disebut adalah dua arah mendatar, bukan depan dan belakang. Bandingkan dengan 72:27 di surah sebelahnya, yang menyebut penjagaan dari depan dan belakang. Dua surah memakai dua pasang arah yang berbeda, dan masing-masing pasangan menggambarkan hal yang berlainan: yang satu pengepungan mendatar oleh kerumunan, yang lain pengawalan memanjang bagi utusan.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan gambaran kerumunan orang kafir dari segala arah. Ayat ini melengkapi gambaran yang dibuka di 70:36. Dua ayat itu satu kalimat yang dipotong nomor, dan pertanyaannya baru selesai di ujung ayat ini. Yang ditambahkan adalah arah datang mereka dan bentuk kedatangannya.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berbentuk jamak dari kata yang berarti kelompok kecil yang terpisah-pisah. Jadi bunyinya bukan satu kerumunan besar melainkan banyak kelompok kecil yang berdiri sendiri-sendiri. Gambaran tersebut menyimpan sesuatu yang halus. Mereka mendekat, tetapi tidak sebagai satu barisan. Yang datang adalah kelompok-kelompok yang terpecah, masing-masing dengan urusannya sendiri. Kedekatan mereka kepada sang penyeru tidak disertai kesatuan di antara mereka sendiri.
Rangkaian arah yang dipakai muncul juga di 50:17, dalam kalimat tentang dua pencatat yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Dua ayat memakai arah yang sama untuk dua pihak yang sangat berbeda: yang di sana mencatat diam-diam, yang di sini berkerumun terang-terangan. Perbandingan itu tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan kerumunan tersebut dalam bingkai yang tidak mereka sadari. Dari kanan dan kiri mereka datang mengerumuni, dan dari kanan dan kiri pula perbuatan mereka dicatat.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini berbentuk jamak dari kata yang berarti kelompok kecil yang terpisah-pisah. Bunyinya bukan satu kerumunan besar melainkan banyak kelompok yang berdiri sendiri-sendiri. Mereka mendekat, tetapi tidak sebagai satu barisan. Kedekatan kepada sang penyeru tidak disertai kesatuan di antara mereka sendiri, dan Allah merekam keterpecahan itu tanpa berkomentar. Allah merekam bentuk kedatangan mereka, bukan hanya kenyataan bahwa mereka datang. Cara datang seseorang sering menceritakan lebih banyak daripada kedatangannya sendiri.
- Rangkaian arah di ayat ini muncul juga di 50:17, dalam kalimat tentang dua pencatat yang duduk di sebelah kanan dan kiri. Dua ayat memakai arah yang sama untuk dua pihak yang sangat berbeda: yang di sana mencatat diam-diam, yang di sini berkerumun terang-terangan. Dari kanan dan kiri mereka datang mengerumuni, dan dari kanan dan kiri pula perbuatan mereka dicatat. Dua pencatat dari Allah bekerja diam-diam sementara kerumunan bergerak ramai. Yang ramai belum tentu yang dicatat; yang diam-diam justru yang mencatat.
- Ayat ini tidak punya kata kerja sendiri. Lima kata yang berdiri di sini adalah keterangan bagi gerakan yang disebut di 70:36. Dua ayat itu satu kalimat yang dipotong nomor, dan pertanyaannya baru selesai di ujung ayat ini. Membacanya sendirian akan menyisakan keterangan arah tanpa perbuatan yang diterangkannya. Kalimat setengah menyisakan gambaran yang tidak pernah selesai terbentuk.
- Kata untuk arah kiri di ayat ini muncul di 5 ayat, dan di 56:41 ia dipakai untuk menyebut golongan kiri, yaitu penghuni neraka. Jadi kata yang sama dipakai untuk arah biasa di beberapa ayat dan untuk golongan di ayat lain. Di sini pemakaiannya yang pertama. Kata yang berlapis maknanya menuntut pembaca memperhatikan susunannya, bukan menerapkan satu arti di semua tempat. Satu arti yang dipaksakan ke semua tempat akan menabrak susunan yang Allah bedakan. Susunan menentukan arti, dan mengabaikannya menghentikan pembacaan di permukaan.
- Bandingkan dengan 70:11 sampai 70:14, ketika ikatan antarmanusia digambarkan runtuh sama sekali pada hari itu. Di sini keterpecahan sudah tampak sejak di dunia, meski dalam bentuk yang lebih halus. Mereka bergerak ke arah yang sama tanpa benar-benar bersama. Berkumpul di tempat yang sama tidak dengan sendirinya berarti berada dalam barisan yang sama. Kesamaan tempat berdiri lebih mudah dicapai daripada kesamaan arah menghadap kepada Allah.
- Perbandingan dengan 50:17 tidak dinyatakan langsung, tetapi ia menempatkan kerumunan itu dalam bingkai yang tidak mereka sadari. Mereka mengira sedang mengelilingi seseorang, padahal mereka sendiri sedang dikelilingi catatan. Sudahkah kita menimbang bahwa setiap kerumunan yang kita masuki punya dua pencatat yang tidak ikut berkerumun? Kesadaran akan dua pencatat mengubah cara seseorang berdiri di tengah keramaian.