أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ
Apakah setiap orang dari mereka ingin dimasukkan ke taman kenikmatan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍa-yathma'u kullu mri'in minhum an yudkhala jannata na'iiminapakah setiap orang dari mereka ingin dimasukkan ke taman kenikmatan
Terjemahan per kata (8 kata)
- أَيَطْمَعُa-yathma'uapakah berharap
- كُلُّkullusetiap
- امْرِئٍmri'inseseorang
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- أَنْanuntuk
- يُدْخَلَyudkhaladimasukkan
- جَنَّةَjannatataman
- نَعِيمٍna'iiminkenikmatan
Inti bacaan
Angan-angan tanpa dasar amal: 'apakah setiap orang dari mereka ingin dimasukkan ke surga kenikmatan?', kritik terhadap harapan kosong yang tidak didukung tindakan nyata, kesenjangan antara keinginan dan usaha yang diperlukan untuk mencapainya.
Penjelasan pilihan kata
Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَيَطْمَعُ, ayathma'u), (يُدْخَلَ, yudkhala), dan (جَنَّةَ, jannata) dalam bentuk ini. Yang pertama gabungan huruf tanya dengan kata kerja yang berarti sangat menginginkan sesuatu yang tidak sepantasnya diharapkan. Terjemahan 'apakah ingin' menahan bentuk pertanyaannya, dan muatan berlebihan pada keinginannya sedikit larut.
Bentuk (يُدْخَلَ, yudkhala) berbentuk pasif, sehingga bunyinya 'dimasukkan', bukan 'masuk'. Perbedaan itu menentukan. Yang mereka harapkan bukan usaha memasuki melainkan tindakan dimasukkan oleh pihak lain. Jadi yang dibantah adalah harapan menerima tanpa menempuh, dan terjemahan mempertahankan bentuk pasif tersebut.
Kata (امْرِئٍ, imri-in) muncul di 5 ayat: 24:11, 52:21, 70:38, 74:52, dan 80:37. Di 80:37 kata itu berdiri dalam kalimat tentang setiap orang yang pada hari itu punya urusan yang menyibukkannya sendiri. Jadi dua ayat memakai kata yang sama untuk menyebut perorangan pada hari yang sama: yang di sini berharap, yang di sana sibuk dengan dirinya.
Rangkaian (جَنَّةَ نَعِيمٍ, jannata na'iimin) memakai bentuk tunggal untuk taman, berbeda dari 70:35 yang memakai bentuk jamak. Perbedaan itu ada di teks aslinya. Yang dijanjikan bagi pemilik tujuh sifat disebut jamak; yang diharapkan orang ini disebut tunggal. Kata (نَعِيمٍ, na'iimin) sendiri muncul di 4 ayat: 56:89, 70:38, 82:13, dan 83:22.
Perhatikan juga hal berikut. Ayat ini membantah dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Bentuk pertanyaannya menyatakan keheranan atas harapan yang tidak berdasar. Dan jawabannya menyusul di 70:39 dengan satu partikel penolakan, sama seperti susunan di 70:14 dan 70:15. Dua kali dalam surah ini, harapan yang dibangun panjang dijatuhkan oleh satu kata pendek.
Susunan (كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ, kullu imri-in minhum) memakai kata yang berarti setiap, diikuti kata untuk perorangan dan keterangan asal. Susunan itu menyempitkan sasaran dari kerumunan di 70:37 menjadi orang per orang. Jadi dua ayat berurutan bergerak dari banyak kelompok menuju satu orang di dalamnya. Penyempitan tersebut membuat pertanyaannya sulit dihindari, sebab tidak ada yang bisa bersembunyi di balik jumlah.
Perlu dicatat pula bahwa harapan yang dibantah di sini bukan harapan yang buruk isinya. Yang diharapkan adalah taman kenikmatan, hal yang justru dijanjikan Allah di 70:35. Jadi yang dibantah bukan apa yang diinginkan melainkan dasar keinginannya. Perbedaan itu penting: ayat ini tidak mencela orang yang mengharapkan kebaikan, melainkan orang yang mengharapkannya tanpa satu pun langkah yang menuju ke sana.
Tafsiran
Ayat ini membantah harapan keliru orang kafir untuk masuk taman tanpa iman. Ayat ini membantah dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Bentuk pertanyaannya menyatakan keheranan atas harapan yang tidak berdasar, dan jawabannya menyusul di 70:39 dengan satu partikel penolakan. Susunan yang sama sudah dipakai di 70:14 dan 70:15. Dua kali dalam surah ini, harapan yang dibangun dijatuhkan oleh satu kata pendek.
Yang paling perlu dicermati adalah bentuk pasif pada kata kerjanya. Bunyinya dimasukkan, bukan masuk. Yang mereka harapkan bukan usaha memasuki melainkan tindakan dimasukkan oleh pihak lain. Jadi yang dibantah adalah harapan menerima tanpa menempuh. Dan bantahan itu masuk akal justru karena letaknya: ia menyusul empat belas ayat yang merinci tujuh sifat yang harus ditempuh. Yang diharapkan orang ini adalah balasan yang sama tanpa melewati satu pun syaratnya.
Perbedaan bilangan pada kata untuk taman juga bermakna. Di 70:35 ia disebut jamak bagi pemilik tujuh sifat; di sini ia disebut tunggal bagi yang sekadar berharap. Perbedaan itu ada di teks aslinya dan dipertahankan dalam terjemahan. Dan kata untuk perorangan di ayat ini muncul juga di 80:37, dalam kalimat tentang setiap orang yang pada hari itu punya urusan yang menyibukkannya sendiri. Dua ayat memakai kata yang sama untuk menyebut perorangan pada hari yang sama: yang di sini berharap dimasukkan, yang di sana terlalu sibuk dengan dirinya untuk sempat berharap.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga bunyinya dimasukkan, bukan masuk. Yang mereka harapkan bukan usaha memasuki melainkan tindakan dimasukkan oleh pihak lain. Yang dibantah adalah harapan menerima tanpa menempuh. Bantahan itu masuk akal justru karena letaknya: ia menyusul empat belas ayat yang merinci tujuh sifat yang harus ditempuh lebih dulu. Menerima tanpa menempuh adalah harapan yang paling manis sekaligus paling tak berdasar. Allah menutup jalan pintas itu tepat sesudah menyebut jalan panjangnya.
- Ayat ini membantah dengan pertanyaan, bukan dengan pernyataan. Bentuk pertanyaannya menyatakan keheranan atas harapan yang tidak berdasar, dan jawabannya menyusul di 70:39 dengan satu partikel penolakan. Susunan yang sama sudah dipakai di 70:14 dan 70:15. Allah membiarkan harapan itu terucap dulu sebagai pertanyaan sebelum menjatuhkannya, dan urutan tersebut membuat penolakannya terasa sebagai jawaban. Urutan bertanya lalu menjawab membuat penolakan terasa sebagai jawaban, bukan hardikan. Yang dibantah bukan isi harapannya, melainkan dasar yang menopangnya.
- Di 70:35 kata untuk taman disebut jamak bagi pemilik tujuh sifat; di sini ia disebut tunggal bagi yang sekadar berharap. Perbedaan itu ada di teks aslinya dan dipertahankan dalam terjemahan. Yang menempuh dijanjikan yang jamak; yang berharap membayangkan yang tunggal. Bahkan dalam bayangan pun, harapan tanpa usaha ternyata lebih sempit daripada janji yang sebenarnya.
- Kata untuk perorangan di ayat ini muncul juga di 80:37, dalam kalimat tentang setiap orang yang pada hari itu punya urusan yang menyibukkannya sendiri. Dua ayat memakai kata yang sama untuk menyebut perorangan pada hari yang sama: yang di sini berharap dimasukkan, yang di sana terlalu sibuk dengan dirinya untuk sempat berharap. Dua keadaan itu berurutan dalam satu perjalanan yang sama. Satu kata dipakai Allah untuk dua keadaan yang dipisahkan oleh satu tarikan waktu.
- Kata kerja pertama di ayat ini berarti sangat menginginkan sesuatu yang tidak sepantasnya diharapkan. Terjemahan menahan bentuk pertanyaannya, dan muatan berlebihan pada keinginannya sedikit larut. Allah memilih kata yang sudah membawa penilaian di dalamnya, sehingga bantahannya sebagian sudah tersampaikan sebelum kalimatnya selesai dibaca.
- Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dari delapan patah kata penyusunnya. Kepadatan itu menempatkannya di jajaran padat di surah ini bersama 70:11. Keadaan yang dilukiskan tidak dilukiskan di tempat lain dengan cara yang sama. Adakah harapan dalam diri kita yang tidak pernah kita periksa dasarnya, hanya karena ia terasa menyenangkan untuk dipelihara? Harapan yang tidak pernah diperiksa dasarnya paling nyaman untuk terus dipelihara. Memelihara harapan tanpa memeriksa dasarnya adalah cara paling halus menipu diri.