Ayat 70:39

كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَkallaa innaa khalaqnaahum mimmaa ya'lamuunasekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  3. خَلَقْنَاهُمْkhalaqnaahumKami menciptakan mereka
  4. مِمَّاmimmaadari apa yang
  5. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

'sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui', pengingat tentang asal-usul biologis sederhana sebagai dasar untuk menolak klaim keistimewaan tanpa bukti, kerendahan hati yang seharusnya muncul dari kesadaran akan permulaan yang sama bagi semua manusia.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(air mani)' tidak dipakai.

Ayat ini dibuka partikel penolakan yang sama dengan di 70:15. Ia muncul di 33 ayat di seluruh Al-Qur'an dan berdiri sendiri tanpa memerlukan kalimat. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di 70:15 tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman.

Bentuk (خَلَقْنَاهُمْ, khalaqnaahum) muncul di 3 ayat: 37:11, 70:39, dan 76:28. Ia memakai penanda pelaku jamak yang menunjuk Allah, dan akhirannya menunjuk mereka. Di 37:11 dan 76:28 kata yang sama juga berdiri dalam kalimat tentang asal-usul penciptaan manusia. Jadi tiga pemakaiannya menyangkut satu pokok yang sama, dan ketiganya dipakai untuk membantah anggapan yang meninggikan diri.

Rangkaian (مِمَّا يَعْلَمُونَ, mimmaa ya'lamuuna) berarti 'dari apa yang mereka ketahui'. Yang menarik, teks tidak menyebutkan bahannya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung untuk mengisi kekosongan itu, dan tambahan tersebut tidak dipakai. Kekosongan itu justru bagian dari kekuatan ayat: bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya.

Susunan itu menyimpan teguran yang halus. Yang dipakai untuk membantah bukan pengetahuan yang tersembunyi, melainkan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Jadi bantahannya tidak menuntut mereka menerima kabar baru; ia hanya menuntut mereka mengingat apa yang sudah mereka tahu. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri.

Ayat ini juga menutup bantahan yang dibuka di 70:36. Empat ayat berturut-turut menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi di 70:40 menjadi sumpah.

Susunan (إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ, innaa khalaqnaahum) memakai penegasan diikuti kata kerja berpelaku jamak yang menunjuk Allah. Bentuk jamak itu muncul juga di 70:7 dan 70:41, dan ketiganya berada di kalimat yang menegaskan kuasa atau pengetahuan, bukan di kalimat yang menceritakan hukuman. Pemilihan bentuk tersebut tertib di sepanjang surah, dan ketertibannya menandai bahwa pilihan itu bukan kebetulan.

Perlu ditambahkan bahwa partikel penolakan di ayat ini berdiri sebelum penegasan, bukan sesudahnya. Susunan tersebut menjatuhkan harapan lebih dulu, baru menyebut alasannya. Kalau urutannya dibalik, alasan akan terdengar sebagai keterangan yang mendahului keputusan, dan penolakannya akan kehilangan ketajaman. Terjemahan mempertahankan urutan itu apa adanya, sebab urutan tersebut bagian dari cara ayat bekerja. Susunan menolak dulu lalu menerangkan juga dipakai Allah di 70:15, dan dua kali itu adalah satu-satunya pemakaiannya di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan asal-usul rendah manusia sebagai bantahan kesombongan mereka. Ayat ini menutup bantahan yang dibuka di 70:36. Empat ayat berturut-turut menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi di 70:40 menjadi sumpah.

Partikel penolakannya sama dengan yang dipakai di 70:15. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di sana tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang dibangun sebagai harapan dijatuhkan oleh satu kata yang berdiri sendiri tanpa penjelasan.

Yang paling menarik adalah alasan yang menyusul. Teks tidak menyebutkan bahan penciptaan mereka; ia hanya menyebut 'dari apa yang mereka ketahui'. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung untuk mengisi kekosongan itu, dan tambahan tersebut tidak dipakai. Kekosongan itu justru bagian dari kekuatan ayat. Bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya, dan menyebutkannya akan mengubah teguran menjadi keterangan. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri. Susunan seperti itu sudah dipakai juga di 70:14, ketika sifat bawaan manusia dibantah dengan mengingatkan mereka pada penciptaan mereka sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Teks tidak menyebutkan bahan penciptaan mereka; ia hanya menyebut dari apa yang mereka ketahui. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai. Kekosongan tersebut justru bagian dari kekuatan ayat. Bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya, dan menyebutkannya akan mengubah teguran menjadi keterangan biasa. Kekosongan yang dibiarkan Allah lebih berbicara daripada keterangan yang dilengkapi.
  • Yang dipakai untuk membantah bukan pengetahuan yang tersembunyi, melainkan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Bantahannya tidak menuntut mereka menerima kabar baru; ia hanya menuntut mereka mengingat apa yang sudah mereka tahu. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri, dan Allah memilih jalan itu. Bantahan yang memakai pengetahuan lawan tidak menyisakan ruang untuk berkelit. Yang berdiri di atas pengetahuan sendiri tidak bisa ditolak tanpa menyangkal diri.
  • Partikel penolakan di ayat ini sama dengan yang dipakai di 70:15. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di sana tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang dibangun sebagai harapan dijatuhkan oleh satu kata yang berdiri sendiri tanpa penjelasan apa pun. Satu kata yang menutup perkara meninggalkan keheningan yang menekan lebih lama.
  • Empat ayat sejak 70:36 menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi menjadi sumpah. Allah menyusun bantahan sebagai rangkaian yang lengkap, bukan sebagai sanggahan yang berdiri sendiri tanpa awal dan akhir. Bangunan bantahan yang utuh memberi pembaca jalan masuk sekaligus jalan keluarnya.
  • Kata kerja di ayat ini muncul di 3 ayat: 37:11, 70:39, dan 76:28. Ketiganya berdiri dalam kalimat tentang asal-usul penciptaan manusia, dan ketiganya dipakai untuk membantah anggapan yang meninggikan diri. Allah memakai pokok yang sama berulang kali untuk melawan satu jenis kesombongan. Yang paling meredakan kesombongan ternyata bukan ancaman, melainkan ingatan tentang asal. Ingatan tentang asal meredakan kesombongan lebih baik daripada ancaman mana pun. Asal-usul yang diingat menahan seseorang dari meninggikan diri melebihi kedudukannya.
  • Susunan membantah dengan mengingatkan pada penciptaan sudah dipakai juga di 70:14, ketika sifat bawaan manusia disinggung. Dua kali dalam satu surah, Allah menjawab anggapan yang keliru dengan menunjuk asal-usul yang dibawa si penyanggah di tubuhnya sendiri. Apa yang paling sering kita lupakan tentang diri kita, sampai perlu diingatkan dengan cara sekeras ini? Hal paling mendasar tentang diri kita paling sering luput justru karena terlalu dekat.

Ayat 70:40

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ

Maka, Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenam, sesungguhnya Kami benar-benar kuasa

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِfa-laa uqsimu bi-rabbi l-masyaariqi wa-l-maghaaribimaka, Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenam
  2. إِنَّا لَقَادِرُونَinnaa la-qaadiruunasesungguhnya Kami benar-benar kuasa

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka
  2. أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
  3. بِرَبِّbi-rabbikepada Tuhan
  4. الْمَشَارِقِl-masyaariqitempat-tempat terbit
  5. وَالْمَغَارِبِwa-l-maghaaribidan tempat-tempat terbenam
  6. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  7. لَقَادِرُونَla-qaadiruunabenar-benar berkuasa

Inti bacaan

Sumpah yang menegaskan kekuasaan menyeluruh: 'Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya, sesungguhnya Kami benar-benar kuasa', penggunaan fenomena astronomis yang teratur sebagai bukti kekuasaan yang menyeluruh, argumen kosmik yang mendukung klaim kemampuan menciptakan kembali.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(matahari, bulan, dan bintang)' tidak dipakai.

Bentuk (أُقْسِمُ, uqsimu) muncul di 8 ayat: 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1. Ia didahului partikel yang bentuknya penyangkal, sehingga bunyi harfiahnya 'maka tidak, Aku bersumpah'. Susunan tersebut lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya. Terjemahan 'maka, Aku bersumpah' menahan susunannya tanpa menerjemahkan partikel itu sebagai penyangkal.

Rangkaian (بِرَبِّ الْمَشَارِقِ, birabbi al-masyaariqi) memakai bentuk jamak untuk tempat terbit. Kata (الْمَشَارِقِ, al-masyaariqi) muncul di 2 ayat: 37:5 dan 70:40. Di 37:5 ia juga berdiri dalam sebutan bagi Allah sebagai Tuhan tempat-tempat terbit, tetapi tanpa pasangan tempat terbenam. Jadi hanya di sini keduanya disebut berpasangan.

Kata (وَالْمَغَارِبِ, wal-magaaribi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Bentuk jamaknya sejajar dengan pasangannya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung yang menyebut benda-benda langit, dan tambahan itu tidak dipakai karena teks tidak menyebutkannya. Yang disebut hanya tempat terbit dan tempat terbenam, tanpa menyebut apa yang terbit dan terbenam.

Bentuk (لَقَادِرُونَ, laqaadiruuna) muncul di 3 ayat: 23:18, 23:95, dan 70:40. Dua dari tiga berada di surah 23, surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian sebelumnya. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok kembarnya berakhir.

Ayat ini menumpang ke 70:41 untuk melengkapi isi sumpahnya. Yang disumpahkan tidak selesai di sini; ia baru selesai di ayat berikutnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat, dan pemotongan nomornya jatuh di tengah pernyataan kuasa yang belum menyebut untuk apa kuasa tersebut dipakai.

Susunan sumpah ini juga menempatkan sebutan bagi Allah sebagai isi sumpahnya, bukan nama-Nya secara langsung. Yang dijadikan sumpah adalah kedudukan-Nya sebagai Tuhan tempat terbit dan terbenam. Susunan seperti itu mengikat isi sumpah dengan apa yang disumpahkan: kuasa mengatur perpindahan tempat terbit dijadikan dasar bagi kuasa mengganti mereka dengan yang lebih baik, yang disebut di 70:41.

Perlu dicatat pula bahwa penutup ayat ini memakai penegasan ganda: partikel penegas di depan dan huruf penegas pada kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa'. Dua lapis penegasan itu jarang, dan kehadirannya menandai bahwa yang dinyatakan diperkirakan akan ditolak keras. Terjemahan memakai 'benar-benar' untuk menahan lapisan keduanya. Penegasan berlapis semacam ini muncul juga di 70:6 dan 70:19, dan ketiganya berada di kalimat yang isinya paling mungkin dibantah pendengarnya.

Tafsiran

Ayat ini bersumpah demi Tuhan pengatur arah terbit-terbenam, menegaskan kuasa penuh Allah. Ayat ini memindahkan nada dari bantahan menjadi sumpah. Sesudah empat ayat mempertanyakan sikap dan harapan mereka, di sini Allah bersumpah. Bentuk sumpahnya didahului partikel yang bentuknya penyangkal, susunan yang lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya sendiri.

Yang dipakai sebagai sumpah adalah sebutan bagi Allah sebagai Tuhan tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenam. Dua-duanya berbentuk jamak. Bentuk jamak itu bermakna: bukan satu titik terbit dan satu titik terbenam, melainkan banyak, sebab tempat terbit dan terbenam berpindah sepanjang tahun. Jadi yang dijadikan sumpah adalah keteraturan yang bergerak, bukan yang diam.

Kata untuk tempat terbit muncul di 2 ayat, dan di 37:5 ia juga berdiri dalam sebutan bagi Allah tetapi tanpa pasangan tempat terbenam. Hanya di sini keduanya disebut berpasangan. Dan kata untuk kuasa di penutup ayat muncul di 3 ayat, dua di antaranya berada di surah 23. Jadi kesejajaran antara surah ini dan surah 23 muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok empat ayat kembarnya berakhir di 70:32. Kemiripan yang menyebar sampai sejauh ini menandai bahwa dua surah tersebut memang berbagi lebih banyak daripada satu blok yang kebetulan sama. Dan ayat ini belum menyelesaikan isi sumpahnya; ia baru selesai di 70:41.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dijadikan sumpah adalah tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenam, keduanya berbentuk jamak. Bentuk jamak itu bermakna: bukan satu titik, melainkan banyak, sebab tempat terbit dan terbenam berpindah sepanjang tahun. Jadi yang dijadikan sumpah Allah adalah keteraturan yang bergerak, bukan yang diam. Yang berpindah menurut aturan lebih menakjubkan daripada yang sekadar tetap di tempatnya. Aturan yang bergerak menuntut pengaturan terus-menerus, bukan sekali tetapkan lalu ditinggal. Allah mengatur perpindahan yang berulang tiap hari tanpa satu kali pun meleset.
  • Bentuk sumpahnya didahului partikel yang bentuknya penyangkal, sehingga bunyi harfiahnya maka tidak, Aku bersumpah. Susunan tersebut lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya. Terjemahan menahan susunannya tanpa menerjemahkan partikel itu sebagai penyangkal. Bentuk yang tampak bertentangan dengan isinya menuntut pembaca mengenali kebiasaan bahasanya, bukan menerjemahkan kata demi kata. Kebiasaan bahasa harus dikenali dulu sebelum kata demi katanya diterjemahkan. Menerjemahkan kata demi kata tanpa mengenali kebiasaan bahasa Allah menghasilkan makna yang terbalik.
  • Kata untuk kuasa di penutup ayat muncul di 3 ayat, dua di antaranya berada di surah 23. Kesejajaran antara surah ini dan surah 23 muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok empat ayat kembarnya berakhir di 70:32. Kemiripan yang menyebar sampai sejauh ini menandai bahwa dua surah tersebut berbagi lebih banyak daripada satu blok yang kebetulan sama.
  • Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung yang menyebut benda-benda langit, dan tambahan itu tidak dipakai karena teks tidak menyebutkannya. Yang disebut hanya tempat terbit dan tempat terbenam, tanpa menyebut apa yang terbit dan terbenam. Kekosongan itu memperluas cakupannya. Menyebut bendanya akan mempersempit sumpah yang sengaja diucapkan atas tempatnya, bukan atas isinya. Sumpah atas tempat lebih luas cakupannya daripada sumpah atas benda yang menempatinya.
  • Ayat ini menumpang ke 70:41 untuk melengkapi isi sumpahnya. Yang disumpahkan tidak selesai di sini; ia baru selesai di ayat berikutnya. Dua ayat itu satu kalimat, dan pemotongan nomornya jatuh di tengah pernyataan kuasa yang belum menyebut untuk apa kuasa tersebut dipakai. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan sumpah tanpa isinya. Sumpah tanpa isinya menyisakan kalimat yang menggantung tanpa arah. Kalimat yang menggantung menuntut pembaca melanjutkan ke ayat berikutnya.
  • Sesudah empat ayat mempertanyakan sikap dan harapan mereka, di sini Allah bersumpah. Perpindahan dari bertanya menjadi bersumpah menandai bahwa tahap bertanya sudah selesai. Sumpah dipakai ketika yang mendengar diperkirakan tidak akan menerima pernyataan biasa. Apa yang membuat sebuah pernyataan perlu disertai sumpah, kalau bukan karena si pendengar sudah lebih dulu menutup telinganya? Sumpah dipakai ketika pendengarnya diperkirakan sudah menutup telinga lebih dulu. Telinga yang sudah tertutup memerlukan bentuk penyampaian yang lain, dan Allah memilih sumpah.

Ayat 70:41

عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

Untuk mengganti dengan yang lebih baik daripada mereka. Dan Kami tidak dapat dikalahkan.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ'alaa an nubaddila khayran minhum wa-maa nahnu bi-masbuuqiinauntuk mengganti dengan yang lebih baik daripada mereka; dan Kami tidak dapat dikalahkan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. عَلَىٰ'alaaatas
  2. أَنْanuntuk
  3. نُبَدِّلَnubaddilaKami mengganti
  4. خَيْرًاkhayrankebaikan
  5. مِنْهُمْminhumdari mereka
  6. وَمَاwa-maadan tidaklah
  7. نَحْنُnahnuKami
  8. بِمَسْبُوقِينَbi-masbuuqiinaorang-orang yang didahului

Inti bacaan

Kemampuan penggantian yang tak terbantahkan: 'untuk mengganti (mereka) dengan yang lebih baik daripada mereka; dan Kami tidak dapat dikalahkan', penegasan bahwa penolakan manusia tidak membatasi kemampuan atau rencana yang lebih besar, kekuasaan yang tidak bergantung pada penerimaan makhluk yang diciptakan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(mereka)' tidak dipakai.

Rangkaian (وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ, wamaa nahnu bimasbuuqiina) muncul di 2 ayat: 56:60 dan 70:41. Kata (بِمَسْبُوقِينَ, bimasbuuqiina) sendiri juga muncul di 2 ayat yang sama. Di 56:60 rangkaian itu berdiri sesudah pernyataan bahwa Allah menentukan kematian di antara manusia. Jadi dua ayat memakai kalimat yang sama untuk dua pokok yang berdekatan: yang di sana tentang kematian, yang di sini tentang penggantian.

Bentuk (نُبَدِّلَ, nubaddila) muncul di 2 ayat: 56:61 dan 70:41. Menariknya, dua ayat yang memuat dua kata langka di ayat ini adalah 56:60 dan 56:61, yaitu dua ayat berurutan. Jadi seluruh perbendaharaan khas ayat ini berasal dari sepasang ayat berurutan di surah lain, sedangkan di sini keduanya dipadatkan menjadi satu ayat.

Kata (بِمَسْبُوقِينَ, bimasbuuqiina) berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mendahului. Jadi bunyinya 'yang didahului', yaitu pihak yang kalah cepat. Terjemahan 'tidak dapat dikalahkan' menahan maknanya, dan gambaran perlombaan yang ada di akarnya sedikit larut. Huruf pertamanya adalah penambah yang menguatkan penyangkalan, bukan kata depan biasa.

Kata (خَيْرًا, khayran) berbentuk pembanding tanpa penanda, sehingga bunyinya 'yang lebih baik'. Objek penggantiannya tidak disebut secara penuh; teks hanya menyebut 'lebih baik daripada mereka'. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai sebab kata gantinya sudah cukup jelas dari rangkaian sebelumnya.

Ayat ini melengkapi sumpah yang dibuka di 70:40. Dua ayat itu satu kalimat, dan isi sumpahnya adalah kuasa mengganti. Yang menarik, kuasa yang disumpahkan bukan kuasa membinasakan melainkan kuasa mengganti dengan yang lebih baik. Susunan tersebut menahan ancaman pada tingkat yang tidak menyebut kehancuran, dan kehancuran itu baru muncul di gambaran 70:43 dan 70:44.

Susunan (عَلَىٰ أَنْ نُبَدِّلَ, 'alaa an nubaddila) memakai kata depan yang menandai atas apa kuasa itu berlaku. Jadi bunyinya 'berkuasa untuk mengganti'. Kata depan tersebut mengikat isi sumpah di ayat ini kepada pernyataan kuasa di 70:40, dan tanpa pengikat itu dua ayat akan terbaca sebagai dua pernyataan yang berdiri sendiri.

Ada lapisan lain di ayat ini yang belum tersentuh sama sekali sejauh ini. Perlu dicatat pula bahwa kata kerja untuk mengganti berpola yang menandai penggantian menyeluruh, bukan penukaran sebagian. Jadi yang disebut bukan memperbaiki mereka melainkan menggantikan mereka dengan pihak lain. Terjemahan 'mengganti' menahan sisi penggantian penuh itu, dan menerjemahkannya sebagai mengubah akan melunakkan ancaman yang sengaja dibuat tegas.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kuasa Allah mengganti mereka dengan yang lebih baik. Ayat ini melengkapi sumpah yang dibuka di 70:40. Dua ayat itu satu kalimat, dan isi sumpahnya adalah kuasa mengganti. Yang menarik, kuasa yang disumpahkan bukan kuasa membinasakan melainkan kuasa mengganti dengan yang lebih baik. Susunan tersebut menahan ancaman pada tingkat yang tidak menyebut kehancuran.

Perbandingan dengan surah 56 memperlihatkan sesuatu yang rapi. Dua kata langka di ayat ini masing-masing muncul di 56:60 dan 56:61, yaitu dua ayat berurutan. Jadi seluruh perbendaharaan khas ayat ini berasal dari sepasang ayat berurutan di surah lain, sedangkan di sini keduanya dipadatkan menjadi satu ayat. Di sana pokoknya kematian yang ditentukan dan penggantian bentuk; di sini penggantian orang dengan yang lebih baik. Dua pokok itu berdekatan tanpa persis sama.

Kata terakhirnya berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mendahului. Bunyinya yang didahului, yaitu pihak yang kalah cepat. Terjemahan menahan maknanya, dan gambaran perlombaan yang ada di akarnya sedikit larut. Yang dinyatakan bukan sekadar bahwa Allah kuat, melainkan bahwa tidak ada yang bisa mendahului-Nya. Gambaran itu menempatkan penolakan mereka sebagai usaha yang berlomba melawan waktu, dan usaha semacam itu selalu kalah sebelum dimulai.

Renungan dan Hikmah

  • Isi sumpah yang dibuka di 70:40 adalah kuasa mengganti. Yang disumpahkan bukan kuasa membinasakan melainkan kuasa mengganti dengan yang lebih baik. Susunan tersebut menahan ancaman pada tingkat yang tidak menyebut kehancuran. Allah menyatakan kuasa-Nya lewat kemampuan mengadakan, bukan lewat kemampuan meniadakan, dan bentuk itu jauh lebih menusuk bagi yang merasa dirinya diperlukan. Merasa diri diperlukan adalah bentuk kesombongan yang paling sulit dikenali sendiri. Yang merasa tak tergantikan biasanya yang paling terguncang mendengar ayat ini.
  • Dua kata langka di ayat ini masing-masing muncul di 56:60 dan 56:61, yaitu dua ayat berurutan. Seluruh perbendaharaan khas ayat ini berasal dari sepasang ayat berurutan di surah lain, sedangkan di sini keduanya dipadatkan menjadi satu ayat. Al-Qur'an memakai bahan yang sama dengan kerapatan yang berbeda di tempat yang berbeda. Kerapatan yang berbeda menandai penekanan yang berbeda pula di tiap tempat.
  • Kata terakhirnya berbentuk pelaku pasif jamak dari akar yang berarti mendahului. Bunyinya yang didahului, yaitu pihak yang kalah cepat. Yang dinyatakan bukan sekadar bahwa Allah kuat, melainkan bahwa tidak ada yang bisa mendahului-Nya. Gambaran itu menempatkan penolakan mereka sebagai usaha yang berlomba melawan waktu, dan usaha semacam itu kalah sebelum dimulai. Waktu yang ditetapkan Allah tidak bisa didahului oleh kecepatan siapa pun.
  • Kata untuk yang lebih baik berbentuk pembanding tanpa penanda. Objek penggantiannya tidak disebut secara penuh; teks hanya menyebut lebih baik daripada mereka. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai. Kekosongan tersebut membuat ancamannya lebih terasa: yang akan menggantikan tidak perlu disebut, sebab yang penting adalah bahwa penggantian itu mungkin. Yang penting bukan siapa penggantinya, melainkan bahwa penggantian itu mungkin bagi Allah. Kemungkinan penggantian sudah cukup meruntuhkan rasa aman yang dibangun di atas kedudukan.
  • Ayat ini melengkapi sumpah yang dibuka di 70:40, dan dua ayat itu satu kalimat. Membaca salah satunya sendirian akan menyisakan sumpah tanpa isi atau isi tanpa sumpah. Pemotongan nomor jatuh di tengah pernyataan, dan susunan seperti itu berulang beberapa kali di surah ini. Batas nomor tidak pernah dimaksudkan sebagai batas kalimat oleh Allah. Kalimat Allah kadang melewati batas nomor, dan pembacaan per nomor memotongnya.
  • Gambaran yang tersimpan di akar kata penutupnya adalah perlombaan. Yang disangkal adalah kemungkinan Allah didahului oleh siapa pun. Penolakan mereka karena itu terbaca sebagai usaha berlomba yang hasilnya sudah pasti. Apa yang selama ini kita kejar dengan tergesa, dan apakah kita pernah menimbang siapa yang sebenarnya sedang kita dahului? Ketergesaan kita jarang kita periksa siapa sebenarnya yang hendak kita dahului. Ketergesaan yang tidak diperiksa arahnya hanya mempercepat sampainya ke tempat yang salah.