كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ

Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. كَلَّا ۖ إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَkallaa innaa khalaqnaahum mimmaa ya'lamuunasekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. كَلَّاkallaasekali-kali tidak
  2. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  3. خَلَقْنَاهُمْkhalaqnaahumKami menciptakan mereka
  4. مِمَّاmimmaadari apa yang
  5. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

'sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui', pengingat tentang asal-usul biologis sederhana sebagai dasar untuk menolak klaim keistimewaan tanpa bukti, kerendahan hati yang seharusnya muncul dari kesadaran akan permulaan yang sama bagi semua manusia.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(air mani)' tidak dipakai.

Ayat ini dibuka partikel penolakan yang sama dengan di 70:15. Ia muncul di 33 ayat di seluruh Al-Qur'an dan berdiri sendiri tanpa memerlukan kalimat. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di 70:15 tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman.

Bentuk (خَلَقْنَاهُمْ, khalaqnaahum) muncul di 3 ayat: 37:11, 70:39, dan 76:28. Ia memakai penanda pelaku jamak yang menunjuk Allah, dan akhirannya menunjuk mereka. Di 37:11 dan 76:28 kata yang sama juga berdiri dalam kalimat tentang asal-usul penciptaan manusia. Jadi tiga pemakaiannya menyangkut satu pokok yang sama, dan ketiganya dipakai untuk membantah anggapan yang meninggikan diri.

Rangkaian (مِمَّا يَعْلَمُونَ, mimmaa ya'lamuuna) berarti 'dari apa yang mereka ketahui'. Yang menarik, teks tidak menyebutkan bahannya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung untuk mengisi kekosongan itu, dan tambahan tersebut tidak dipakai. Kekosongan itu justru bagian dari kekuatan ayat: bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya.

Susunan itu menyimpan teguran yang halus. Yang dipakai untuk membantah bukan pengetahuan yang tersembunyi, melainkan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Jadi bantahannya tidak menuntut mereka menerima kabar baru; ia hanya menuntut mereka mengingat apa yang sudah mereka tahu. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri.

Ayat ini juga menutup bantahan yang dibuka di 70:36. Empat ayat berturut-turut menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi di 70:40 menjadi sumpah.

Susunan (إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ, innaa khalaqnaahum) memakai penegasan diikuti kata kerja berpelaku jamak yang menunjuk Allah. Bentuk jamak itu muncul juga di 70:7 dan 70:41, dan ketiganya berada di kalimat yang menegaskan kuasa atau pengetahuan, bukan di kalimat yang menceritakan hukuman. Pemilihan bentuk tersebut tertib di sepanjang surah, dan ketertibannya menandai bahwa pilihan itu bukan kebetulan.

Perlu ditambahkan bahwa partikel penolakan di ayat ini berdiri sebelum penegasan, bukan sesudahnya. Susunan tersebut menjatuhkan harapan lebih dulu, baru menyebut alasannya. Kalau urutannya dibalik, alasan akan terdengar sebagai keterangan yang mendahului keputusan, dan penolakannya akan kehilangan ketajaman. Terjemahan mempertahankan urutan itu apa adanya, sebab urutan tersebut bagian dari cara ayat bekerja. Susunan menolak dulu lalu menerangkan juga dipakai Allah di 70:15, dan dua kali itu adalah satu-satunya pemakaiannya di surah ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan asal-usul rendah manusia sebagai bantahan kesombongan mereka. Ayat ini menutup bantahan yang dibuka di 70:36. Empat ayat berturut-turut menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi di 70:40 menjadi sumpah.

Partikel penolakannya sama dengan yang dipakai di 70:15. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di sana tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang dibangun sebagai harapan dijatuhkan oleh satu kata yang berdiri sendiri tanpa penjelasan.

Yang paling menarik adalah alasan yang menyusul. Teks tidak menyebutkan bahan penciptaan mereka; ia hanya menyebut 'dari apa yang mereka ketahui'. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung untuk mengisi kekosongan itu, dan tambahan tersebut tidak dipakai. Kekosongan itu justru bagian dari kekuatan ayat. Bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya, dan menyebutkannya akan mengubah teguran menjadi keterangan. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri. Susunan seperti itu sudah dipakai juga di 70:14, ketika sifat bawaan manusia dibantah dengan mengingatkan mereka pada penciptaan mereka sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Teks tidak menyebutkan bahan penciptaan mereka; ia hanya menyebut dari apa yang mereka ketahui. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung, dan tambahan itu tidak dipakai. Kekosongan tersebut justru bagian dari kekuatan ayat. Bahannya tidak perlu disebut sebab mereka sendiri sudah mengetahuinya, dan menyebutkannya akan mengubah teguran menjadi keterangan biasa. Kekosongan yang dibiarkan Allah lebih berbicara daripada keterangan yang dilengkapi.
  • Yang dipakai untuk membantah bukan pengetahuan yang tersembunyi, melainkan pengetahuan yang sudah mereka miliki. Bantahannya tidak menuntut mereka menerima kabar baru; ia hanya menuntut mereka mengingat apa yang sudah mereka tahu. Bantahan yang berdiri di atas pengetahuan lawan bicara sendiri sulit ditolak tanpa menyangkal diri, dan Allah memilih jalan itu. Bantahan yang memakai pengetahuan lawan tidak menyisakan ruang untuk berkelit. Yang berdiri di atas pengetahuan sendiri tidak bisa ditolak tanpa menyangkal diri.
  • Partikel penolakan di ayat ini sama dengan yang dipakai di 70:15. Dua kemunculannya di surah ini sama-sama membatalkan sesuatu yang baru saja diharapkan: yang di sana tebusan, yang di sini harapan dimasukkan ke taman. Dua kali dalam satu surah, sesuatu yang dibangun sebagai harapan dijatuhkan oleh satu kata yang berdiri sendiri tanpa penjelasan apa pun. Satu kata yang menutup perkara meninggalkan keheningan yang menekan lebih lama.
  • Empat ayat sejak 70:36 menyusun satu gerakan: pertanyaan tentang gerak mereka, keterangan tentang bentuk kedatangannya, pertanyaan tentang harapan mereka, lalu penolakan disertai alasannya. Sesudah ini nada berpindah lagi menjadi sumpah. Allah menyusun bantahan sebagai rangkaian yang lengkap, bukan sebagai sanggahan yang berdiri sendiri tanpa awal dan akhir. Bangunan bantahan yang utuh memberi pembaca jalan masuk sekaligus jalan keluarnya.
  • Kata kerja di ayat ini muncul di 3 ayat: 37:11, 70:39, dan 76:28. Ketiganya berdiri dalam kalimat tentang asal-usul penciptaan manusia, dan ketiganya dipakai untuk membantah anggapan yang meninggikan diri. Allah memakai pokok yang sama berulang kali untuk melawan satu jenis kesombongan. Yang paling meredakan kesombongan ternyata bukan ancaman, melainkan ingatan tentang asal. Ingatan tentang asal meredakan kesombongan lebih baik daripada ancaman mana pun. Asal-usul yang diingat menahan seseorang dari meninggikan diri melebihi kedudukannya.
  • Susunan membantah dengan mengingatkan pada penciptaan sudah dipakai juga di 70:14, ketika sifat bawaan manusia disinggung. Dua kali dalam satu surah, Allah menjawab anggapan yang keliru dengan menunjuk asal-usul yang dibawa si penyanggah di tubuhnya sendiri. Apa yang paling sering kita lupakan tentang diri kita, sampai perlu diingatkan dengan cara sekeras ini? Hal paling mendasar tentang diri kita paling sering luput justru karena terlalu dekat.