فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ

Maka, Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenam, sesungguhnya Kami benar-benar kuasa

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِfa-laa uqsimu bi-rabbi l-masyaariqi wa-l-maghaaribimaka, Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenam
  2. إِنَّا لَقَادِرُونَinnaa la-qaadiruunasesungguhnya Kami benar-benar kuasa

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka
  2. أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
  3. بِرَبِّbi-rabbikepada Tuhan
  4. الْمَشَارِقِl-masyaariqitempat-tempat terbit
  5. وَالْمَغَارِبِwa-l-maghaaribidan tempat-tempat terbenam
  6. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  7. لَقَادِرُونَla-qaadiruunabenar-benar berkuasa

Inti bacaan

Sumpah yang menegaskan kekuasaan menyeluruh: 'Aku bersumpah dengan Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya, sesungguhnya Kami benar-benar kuasa', penggunaan fenomena astronomis yang teratur sebagai bukti kekuasaan yang menyeluruh, argumen kosmik yang mendukung klaim kemampuan menciptakan kembali.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(matahari, bulan, dan bintang)' tidak dipakai.

Bentuk (أُقْسِمُ, uqsimu) muncul di 8 ayat: 56:75, 69:38, 70:40, 75:1, 75:2, 81:15, 84:16, dan 90:1. Ia didahului partikel yang bentuknya penyangkal, sehingga bunyi harfiahnya 'maka tidak, Aku bersumpah'. Susunan tersebut lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya. Terjemahan 'maka, Aku bersumpah' menahan susunannya tanpa menerjemahkan partikel itu sebagai penyangkal.

Rangkaian (بِرَبِّ الْمَشَارِقِ, birabbi al-masyaariqi) memakai bentuk jamak untuk tempat terbit. Kata (الْمَشَارِقِ, al-masyaariqi) muncul di 2 ayat: 37:5 dan 70:40. Di 37:5 ia juga berdiri dalam sebutan bagi Allah sebagai Tuhan tempat-tempat terbit, tetapi tanpa pasangan tempat terbenam. Jadi hanya di sini keduanya disebut berpasangan.

Kata (وَالْمَغَارِبِ, wal-magaaribi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Bentuk jamaknya sejajar dengan pasangannya. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung yang menyebut benda-benda langit, dan tambahan itu tidak dipakai karena teks tidak menyebutkannya. Yang disebut hanya tempat terbit dan tempat terbenam, tanpa menyebut apa yang terbit dan terbenam.

Bentuk (لَقَادِرُونَ, laqaadiruuna) muncul di 3 ayat: 23:18, 23:95, dan 70:40. Dua dari tiga berada di surah 23, surah yang empat ayatnya identik dengan empat ayat di bagian sebelumnya. Jadi kesejajaran antara dua surah tersebut muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok kembarnya berakhir.

Ayat ini menumpang ke 70:41 untuk melengkapi isi sumpahnya. Yang disumpahkan tidak selesai di sini; ia baru selesai di ayat berikutnya. Jadi dua ayat itu satu kalimat, dan pemotongan nomornya jatuh di tengah pernyataan kuasa yang belum menyebut untuk apa kuasa tersebut dipakai.

Susunan sumpah ini juga menempatkan sebutan bagi Allah sebagai isi sumpahnya, bukan nama-Nya secara langsung. Yang dijadikan sumpah adalah kedudukan-Nya sebagai Tuhan tempat terbit dan terbenam. Susunan seperti itu mengikat isi sumpah dengan apa yang disumpahkan: kuasa mengatur perpindahan tempat terbit dijadikan dasar bagi kuasa mengganti mereka dengan yang lebih baik, yang disebut di 70:41.

Perlu dicatat pula bahwa penutup ayat ini memakai penegasan ganda: partikel penegas di depan dan huruf penegas pada kata sifatnya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa'. Dua lapis penegasan itu jarang, dan kehadirannya menandai bahwa yang dinyatakan diperkirakan akan ditolak keras. Terjemahan memakai 'benar-benar' untuk menahan lapisan keduanya. Penegasan berlapis semacam ini muncul juga di 70:6 dan 70:19, dan ketiganya berada di kalimat yang isinya paling mungkin dibantah pendengarnya.

Tafsiran

Ayat ini bersumpah demi Tuhan pengatur arah terbit-terbenam, menegaskan kuasa penuh Allah. Ayat ini memindahkan nada dari bantahan menjadi sumpah. Sesudah empat ayat mempertanyakan sikap dan harapan mereka, di sini Allah bersumpah. Bentuk sumpahnya didahului partikel yang bentuknya penyangkal, susunan yang lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya sendiri.

Yang dipakai sebagai sumpah adalah sebutan bagi Allah sebagai Tuhan tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenam. Dua-duanya berbentuk jamak. Bentuk jamak itu bermakna: bukan satu titik terbit dan satu titik terbenam, melainkan banyak, sebab tempat terbit dan terbenam berpindah sepanjang tahun. Jadi yang dijadikan sumpah adalah keteraturan yang bergerak, bukan yang diam.

Kata untuk tempat terbit muncul di 2 ayat, dan di 37:5 ia juga berdiri dalam sebutan bagi Allah tetapi tanpa pasangan tempat terbenam. Hanya di sini keduanya disebut berpasangan. Dan kata untuk kuasa di penutup ayat muncul di 3 ayat, dua di antaranya berada di surah 23. Jadi kesejajaran antara surah ini dan surah 23 muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok empat ayat kembarnya berakhir di 70:32. Kemiripan yang menyebar sampai sejauh ini menandai bahwa dua surah tersebut memang berbagi lebih banyak daripada satu blok yang kebetulan sama. Dan ayat ini belum menyelesaikan isi sumpahnya; ia baru selesai di 70:41.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dijadikan sumpah adalah tempat-tempat terbit dan tempat-tempat terbenam, keduanya berbentuk jamak. Bentuk jamak itu bermakna: bukan satu titik, melainkan banyak, sebab tempat terbit dan terbenam berpindah sepanjang tahun. Jadi yang dijadikan sumpah Allah adalah keteraturan yang bergerak, bukan yang diam. Yang berpindah menurut aturan lebih menakjubkan daripada yang sekadar tetap di tempatnya. Aturan yang bergerak menuntut pengaturan terus-menerus, bukan sekali tetapkan lalu ditinggal. Allah mengatur perpindahan yang berulang tiap hari tanpa satu kali pun meleset.
  • Bentuk sumpahnya didahului partikel yang bentuknya penyangkal, sehingga bunyi harfiahnya maka tidak, Aku bersumpah. Susunan tersebut lazim dalam Al-Qur'an dan tidak berarti menyangkal sumpahnya. Terjemahan menahan susunannya tanpa menerjemahkan partikel itu sebagai penyangkal. Bentuk yang tampak bertentangan dengan isinya menuntut pembaca mengenali kebiasaan bahasanya, bukan menerjemahkan kata demi kata. Kebiasaan bahasa harus dikenali dulu sebelum kata demi katanya diterjemahkan. Menerjemahkan kata demi kata tanpa mengenali kebiasaan bahasa Allah menghasilkan makna yang terbalik.
  • Kata untuk kuasa di penutup ayat muncul di 3 ayat, dua di antaranya berada di surah 23. Kesejajaran antara surah ini dan surah 23 muncul lagi di bagian penutup, jauh sesudah blok empat ayat kembarnya berakhir di 70:32. Kemiripan yang menyebar sampai sejauh ini menandai bahwa dua surah tersebut berbagi lebih banyak daripada satu blok yang kebetulan sama.
  • Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung yang menyebut benda-benda langit, dan tambahan itu tidak dipakai karena teks tidak menyebutkannya. Yang disebut hanya tempat terbit dan tempat terbenam, tanpa menyebut apa yang terbit dan terbenam. Kekosongan itu memperluas cakupannya. Menyebut bendanya akan mempersempit sumpah yang sengaja diucapkan atas tempatnya, bukan atas isinya. Sumpah atas tempat lebih luas cakupannya daripada sumpah atas benda yang menempatinya.
  • Ayat ini menumpang ke 70:41 untuk melengkapi isi sumpahnya. Yang disumpahkan tidak selesai di sini; ia baru selesai di ayat berikutnya. Dua ayat itu satu kalimat, dan pemotongan nomornya jatuh di tengah pernyataan kuasa yang belum menyebut untuk apa kuasa tersebut dipakai. Membaca ayat ini sendirian akan menyisakan sumpah tanpa isinya. Sumpah tanpa isinya menyisakan kalimat yang menggantung tanpa arah. Kalimat yang menggantung menuntut pembaca melanjutkan ke ayat berikutnya.
  • Sesudah empat ayat mempertanyakan sikap dan harapan mereka, di sini Allah bersumpah. Perpindahan dari bertanya menjadi bersumpah menandai bahwa tahap bertanya sudah selesai. Sumpah dipakai ketika yang mendengar diperkirakan tidak akan menerima pernyataan biasa. Apa yang membuat sebuah pernyataan perlu disertai sumpah, kalau bukan karena si pendengar sudah lebih dulu menutup telinganya? Sumpah dipakai ketika pendengarnya diperkirakan sudah menutup telinga lebih dulu. Telinga yang sudah tertutup memerlukan bentuk penyampaian yang lain, dan Allah memilih sumpah.