خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۚ ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

Pandangan mereka tertunduk, diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌkhaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatunpandangan mereka tertunduk, diliputi kehinaan
  2. ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَdzaalika l-yawmu lladzii kaanuu yuu'aduunaitulah hari yang diancamkan kepada mereka

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. خَاشِعَةًkhaasyi'atantunduk
  2. أَبْصَارُهُمْabshaaruhumpenglihatan mereka
  3. تَرْهَقُهُمْtarhaquhummenutupi mereka
  4. ذِلَّةٌdzillatunkehinaan
  5. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  6. الْيَوْمُl-yawmuhari
  7. الَّذِيlladziiyang
  8. كَانُواkaanuumereka selalu
  9. يُوعَدُونَyuu'aduunamereka dijanjikan

Inti bacaan

Penutup dengan gambaran kehinaan yang telah dijanjikan: 'pandangan mereka tertunduk (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka', konfirmasi akhir bahwa peringatan yang telah lama disampaikan bukan ancaman kosong, melainkan kepastian yang akhirnya terwujud persis seperti yang dijanjikan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(serta)' tidak dipakai. 'Dzaalika l-yawmu' pola dzaalika+nomina definit, diterjemahkan 'itulah hari' sesuai kaidah baku.

Rangkaian (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ, khaasyi'atan abshaaruhum tarhaquhum dzillatun) muncul di 2 ayat: 68:43 dan 70:44. Empat patah kata berurutan, sama persis. Sesudah itu dua ayat berpisah: yang di sana melanjutkan dengan keterangan tentang seruan sujud yang dahulu mereka tolak, yang di sini melanjutkan dengan pernyataan bahwa itulah hari yang diancamkan.

Bentuk (تَرْهَقُهُمْ, tarhaquhum) muncul di 2 ayat: 68:43 dan 70:44. Ia berakar sama dengan kata yang dipakai di 72:6 dan 72:13 di surah sebelahnya, yang di sana berarti beban yang menutupi. Jadi akar untuk sesuatu yang menindih dipakai di dua surah berdekatan dengan bentuk yang berbeda.

Kata (ذِلَّةٌ, dzillatun) muncul di 4 ayat: 10:26, 10:27, 68:43, dan 70:44. Menariknya, di 10:26 kata itu muncul dalam kalimat tentang orang berbuat baik yang wajahnya tidak diliputi kehinaan. Jadi kata yang sama dipakai untuk menyatakan ketiadaannya pada satu golongan dan kehadirannya pada golongan lain.

Rangkaian (ذَٰلِكَ الْيَوْمُ, dzaalika al-yawmu) memakai kata penunjuk diikuti kata benda berpenanda tertentu. Bentuk (الْيَوْمُ, al-yawmu) dalam bentuk ini muncul di 2 ayat: 70:44 dan 78:39. Di 78:39 susunan yang sama berbunyi 'itulah hari yang hak'. Jadi dua surah memakai susunan penunjuk yang sama untuk menutup dengan penegasan tentang hari tersebut.

Ayat ini menutup surah dengan menjawab pembukanya. Di 70:1 seseorang meminta azab yang pasti terjadi; di sini disebut bahwa itulah hari yang diancamkan kepada mereka. Permintaan di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, terpisah empat puluh tiga ayat. Dan kata untuk yang diancamkan di penutup ini sama dengan kata di 70:42, sehingga dua ayat terakhir surah berakhir dengan kata yang sama, satu-satunya pengulangan penutup ayat di surah ini.

Susunan (خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ, khaasyi'atan abshaaruhum) memajukan kata sifat sebelum yang disifatinya. Pemajuan seperti itu menandai penekanan pada keadaannya, bukan pada pemiliknya. Bunyi harfiahnya kira-kira 'tertunduk pandangan mereka'. Terjemahan Indonesia menempatkannya mengikuti urutan yang wajar dibaca, dan penekanan itu sedikit larut. Yang hilang adalah kesan bahwa yang pertama tertangkap mata adalah ketertundukannya, baru sesudah itu siapa pemiliknya.

Ada satu hal lagi yang layak dicatat di sini. Perlu ditambahkan bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang mengancam. Bentuk kata kerja terakhirnya pasif, sehingga bunyinya 'yang diancamkan kepada mereka'. Susunan tanpa pelaku itu sudah dipakai di 70:25 dan di beberapa tempat lain di surah ini, dan setiap kali ia muncul di kalimat tentang akibat, bukan tentang kuasa. Jadi surah ini tertib: pelakunya disebut ketika yang dibicarakan kuasa, dan disamarkan ketika yang dibicarakan hukuman.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini menggambarkan kehinaan total pada hari yang telah lama diancamkan. Ayat ini menutup surah dengan menjawab pembukanya. Di 70:1 seseorang meminta azab yang pasti terjadi; di sini disebut bahwa itulah hari yang diancamkan kepada mereka. Permintaan di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, terpisah empat puluh tiga ayat, dan jawabannya bukan bantahan melainkan penunjukan.

Empat patah kata pertamanya sama persis dengan 68:43. Sesudah itu dua ayat berpisah: yang di sana melanjutkan dengan keterangan tentang seruan sujud yang dahulu mereka tolak, yang di sini melanjutkan dengan pernyataan tentang hari yang diancamkan. Jadi dua surah memakai gambaran yang sama untuk keadaan mereka, lalu masing-masing menutupnya dengan keterangan yang berlainan. Yang di sana menyebut sebabnya, yang di sini menyebut waktunya.

Ada satu hal yang mudah terlewat. Kata untuk kehinaan di ayat ini muncul di 4 ayat, dan di 10:26 ia muncul dalam kalimat tentang orang berbuat baik yang wajahnya tidak diliputi kehinaan. Jadi kata yang sama dipakai untuk menyatakan ketiadaannya pada satu golongan dan kehadirannya pada golongan lain. Dan kata terakhir surah ini sama dengan kata terakhir 70:42, satu-satunya pengulangan penutup ayat di surah yang 43 dari 44 penutupnya berbeda. Dua ayat yang berakhir sama itu sama-sama menyebut hari yang dijanjikan, dan pengulangan tersebut menutup surah dengan mengunci pokoknya pada satu kata.

Renungan dan Hikmah

  • Di 70:1 seseorang meminta azab yang pasti terjadi; di sini disebut bahwa itulah hari yang diancamkan kepada mereka. Permintaan di ayat pertama dijawab di ayat terakhir, terpisah empat puluh tiga ayat. Jawabannya bukan bantahan melainkan penunjukan. Allah menjawab tantangan dengan memperlihatkan, bukan dengan berdebat, dan bentuk jawaban itu membuat seluruh surah menjadi satu lingkaran yang tertutup.
  • Empat patah kata pertama ayat ini sama persis dengan 68:43. Sesudah itu dua ayat berpisah: yang di sana melanjutkan dengan keterangan tentang seruan sujud yang dahulu mereka tolak, yang di sini dengan pernyataan tentang hari yang diancamkan. Dua surah memakai gambaran yang sama untuk keadaan mereka, lalu masing-masing menutupnya dengan keterangan berlainan: yang satu menyebut sebabnya, yang lain waktunya. Dua surah menyebut sebab dan waktu secara terpisah, dan keduanya melengkapi gambaran. Dua surah melengkapi gambaran yang sama dari dua sudut yang berbeda. Sebab dan waktu adalah dua keterangan Allah yang saling melengkapi tentang satu hari.
  • Kata untuk kehinaan di ayat ini muncul di 4 ayat, dan di 10:26 ia muncul dalam kalimat tentang orang berbuat baik yang wajahnya tidak diliputi kehinaan. Kata yang sama dipakai untuk menyatakan ketiadaannya pada satu golongan dan kehadirannya pada golongan lain. Yang membedakan dua golongan itu bukan jenis kehinaannya, melainkan ada atau tidaknya sama sekali. Di sisi Allah, kehadiran atau ketiadaan lebih menentukan daripada kadarnya.
  • Kata terakhir surah ini sama dengan kata terakhir 70:42, satu-satunya pengulangan penutup ayat di surah yang 43 dari 44 penutupnya berbeda. Dua ayat yang berakhir sama itu sama-sama menyebut hari yang dijanjikan. Pengulangan tersebut menutup surah dengan mengunci pokoknya pada satu kata, dan keluarbiasaannya terletak pada betapa jarang surah ini mengulang bunyi. Pengulangan bunyi di surah yang hampir tak pernah mengulang menandai kesengajaan. Kesengajaan Allah paling terlihat pada penyimpangan dari pola yang sudah tetap.
  • Kata kerja di tengah ayat berakar sama dengan kata yang dipakai di 72:6 dan 72:13 di surah sebelahnya, yang di sana berarti beban yang menutupi. Akar untuk sesuatu yang menindih dipakai di dua surah berdekatan dengan bentuk yang berbeda. Di surah 72 beban itu bertambah atau lenyap menurut tempat berlindung; di sini ia meliputi tanpa disebut jalan keluarnya. Tempat berlindung yang dipilih menentukan apakah beban bertambah atau lenyap di sisi Allah.
  • Rangkaian penunjuk di ayat ini memakai bentuk yang muncul di 2 ayat: 70:44 dan 78:39. Di 78:39 susunan yang sama berbunyi itulah hari yang hak. Dua surah memakai susunan penunjuk yang sama untuk menutup dengan penegasan tentang hari tersebut. Kalau dua surah menutup dengan menunjuk hari yang sama, apa yang sebenarnya diminta dari pembaca selain menoleh ke arah yang ditunjuk? Menoleh ke arah yang ditunjuk menuntut lebih daripada sekadar memahami tunjukannya. Memahami tunjukan Allah tanpa menoleh meninggalkan pembaca di tempat yang sama.