بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya Kami mengutus Nuh kepada kaumnya, “Berilah peringatan kepada kaummu sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِinnaa arsalnaa nuuhan ilaa qawmihisesungguhnya Kami mengutus Nuh kepada kaumnya
- أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌan andzir qawmaka min qabli an ya'tiyahum 'adzaabun aliimun'berilah peringatan kepada kaummu sebelum datang kepada mereka azab yang pedih'
Terjemahan per kata (14 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
- نُوحًاnuuhanNuh
- إِلَىٰilaakepada
- قَوْمِهِqawmihikaumnya
- أَنْanyaitu
- أَنْذِرْandzirberilah peringatan
- قَوْمَكَqawmakakaummu
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- يَأْتِيَهُمْya'tiyahumdatang kepada mereka
- عَذَابٌ'adzaabunazab
- أَلِيمٌaliimunyang pedih
Inti bacaan
Misi pengutusan dengan urgensi waktu: 'Kami mengutus Nuh kepada kaumnya: berilah peringatan kepada kaummu sebelum datang kepada mereka azab yang pedih', penekanan pada aspek pencegahan, peringatan yang disampaikan sebelum konsekuensi terjadi, bukan setelahnya, model tanggung jawab proaktif dalam menyampaikan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Kutip perintah Allah kepada Nuh (susunan 'an' + imperatif, bukan diawali 'qaala' eksplisit namun tetap susunan ucapan langsung) dikonfirmasi tertutup dalam satu ayat.
Bentuk (أَنْذِرْ, andzir) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia perintah untuk memberi peringatan, dan akarnya berbeda dari akar untuk 'memberi tahu' atau 'menyampaikan'. Peringatan selalu menyangkut sesuatu yang buruk yang mungkin datang. Karena itu terjemahan 'berilah peringatan' dipertahankan, bukan 'sampaikanlah'. Kata yang serumpun dipakai di ayat berikutnya untuk menyebut kedudukan Nuh sendiri, sehingga perintah dan jabatan lahir dari akar yang sama.
Nama (نُوحًا, nuuhan) dalam bentuk ini muncul di 7 ayat: 7:59, 11:25, 23:23, 29:14, 42:13, 57:26, dan 71:1. Bentuk ini adalah bentuk yang menerima perbuatan, jadi ia selalu muncul sebagai pihak yang diutus, bukan pihak yang bertindak. Enam ayat lainnya juga berbicara tentang pengutusannya. Baru di 71:21 dan 71:26 namanya muncul dalam bentuk pelaku, ketika ia berbicara sendiri kepada Allah.
Kata (قَوْمَكَ, qawmaka) muncul di 4 ayat: 7:145, 14:5, 20:85, dan 71:1. Akhirannya berarti 'milikmu', jadi bunyinya 'kaummu'. Perlu dicatat bahwa di ayat ini kata untuk kaum muncul dua kali dengan akhiran yang berbeda: yang pertama 'kaumnya' dalam laporan Allah, yang kedua 'kaummu' dalam perintah kepada Nuh. Perpindahan akhiran itu menandai perpindahan suara, dari cerita tentang Nuh menjadi ucapan langsung kepadanya.
Bentuk (يَأْتِيَهُمْ, ya'tiyahum) muncul di 4 ayat: 7:97, 7:98, 22:55, dan 71:1. Ia berarti 'datang kepada mereka' dan hampir selalu dipakai untuk kedatangan azab atau saat yang menentukan. Susunannya di sini berada sesudah kata yang berarti 'sebelum', sehingga seluruh kalimat menjadi lomba dengan waktu: peringatan harus tiba lebih dahulu daripada azab.
Satu hal tentang bunyi penutupnya. Ayat ini berakhir dengan (أَلِيمٌ, aliimun), dan tiga ayat berikutnya berakhir dengan bunyi yang serupa jenisnya. Baru di 71:5 pola itu berubah total. Sejak ayat kelima sampai ayat kedua puluh delapan, dua puluh empat ayat berturut-turut berakhir dengan tanwin fathah tanpa satu pun kecuali. Pergantian itu jatuh persis di ayat ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah.
Susunan kutipnya perlu dijelaskan karena tidak lazim. Kalimat perintah kepada Nuh tidak didahului kata kerja 'berkata' yang biasa membuka ucapan langsung. Ia dibuka partikel yang berarti 'bahwa', lalu langsung disusul kata perintah. Susunan itu tetap terhitung ucapan langsung meski tanpa penanda yang lazim, dan kutipnya dibuka sekaligus ditutup di dalam ayat ini juga. Terjemahan memasang tanda kutip mengikuti batas tersebut, sebab tanpa penandaan itu perintah Allah akan terbaca melebur ke dalam laporan tentang pengutusan.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan misi kerasulan Nuh yang diperintahkan secara langsung oleh Allah. Ayat ini menyusun seluruh surah dalam satu kalimat. Ada yang mengutus, ada yang diutus, ada yang dituju, dan ada batas waktu. Empat unsur itu semuanya disebut, dan tidak satu pun ditambahkan kemudian. Sisanya adalah rincian tentang apa yang terjadi ketika keempatnya bertemu.
Perhatikan urutan sebutannya. Nuh disebut sebagai pihak yang diutus, bukan sebagai pihak yang berangkat sendiri. Bentuk namanya di sini adalah bentuk yang menerima perbuatan, dan bentuk itu muncul di 7 ayat, semuanya tentang pengutusannya. Baru di 71:21 dan 71:26 namanya muncul dalam bentuk pelaku, dan di dua ayat itu yang ia lakukan adalah berdoa. Jadi sepanjang surah ini ia hanya dua kali menjadi pelaku, dan keduanya bukan untuk bertindak melainkan untuk mengadu kepada Allah.
Yang paling menentukan adalah kata 'sebelum'. Perintah memberi peringatan diletakkan dalam perlombaan dengan waktu. Bukan sekadar peringatan, melainkan peringatan yang harus tiba lebih dahulu. Ini menjelaskan mengapa sepanjang surah Nuh menempuh begitu banyak cara: siang dan malam di 71:5, terang-terangan di 71:8, terbuka dan diam-diam di 71:9. Semua kesungguhan itu lahir dari satu kata di ayat pembuka. Dan bunyi penutup ayat ini masih mengikuti pola lama; baru di 71:5 seluruh surah berpindah ke satu rima yang bertahan sampai ayat terakhir, tepat ketika Nuh berpaling dari kaumnya kepada Tuhannya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat pembuka ini sudah memuat semuanya: yang mengutus, yang diutus, yang dituju, dan batas waktunya. Tidak ada unsur baru yang ditambahkan sesudahnya. Sisa surah hanya merinci apa yang terjadi ketika keempatnya bertemu. Allah menyusun pembukaan yang menampung seluruh isi, dan susunan seperti itu memberi pembaca peta sebelum ia masuk. Membaca sesuatu tanpa tahu bentuk keseluruhannya membuat orang mudah tersesat di bagian tengah. Peta yang diberikan di awal itu sendiri sudah merupakan bentuk kasih sayang.
- Bentuk nama Nuh di ayat ini adalah bentuk yang menerima perbuatan, dan bentuk itu muncul di 7 ayat, semuanya tentang pengutusannya. Baru di 71:21 dan 71:26 namanya muncul sebagai pelaku, dan di dua ayat itu yang ia lakukan hanyalah berdoa. Jadi sepanjang surah ini ia dua kali menjadi pelaku, dan keduanya untuk mengadu kepada Allah. Kedudukan utusan memang begitu: yang menggerakkan bukan dirinya sendiri. Orang yang paham dirinya diutus akan berhenti mengukur nilai dirinya dari sambutan yang ia terima.
- Perintah di ayat ini diletakkan sesudah kata sebelum, sehingga tugasnya bukan sekadar memberi peringatan melainkan memberi peringatan yang tiba lebih dahulu. Ini menjelaskan seluruh kesungguhan Nuh di ayat-ayat berikutnya: siang dan malam di 71:5, terang-terangan di 71:8, terbuka dan diam-diam di 71:9. Semua itu lahir dari satu kata di kalimat pembuka. Apa yang kita tunda hari ini karena mengira waktunya masih panjang? Penundaan selalu terasa aman sampai batas waktunya tiba, dan saat itu ia tidak lagi bisa ditawar.
- Kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dan akarnya berbeda dari akar untuk menyampaikan kabar. Peringatan selalu menyangkut sesuatu yang buruk yang mungkin datang. Karena itu terjemahannya dipertahankan sebagai peringatan, bukan penyampaian. Allah memilih kata yang membawa muatan bahaya di dalamnya. Menyampaikan bisa dilakukan dengan datar, sedangkan memperingatkan menuntut nada yang menandakan ada yang perlu ditakuti. Nada bicara ikut menjadi bagian dari pesan, bukan sekadar bungkusnya.
- Kata untuk kaum muncul dua kali di ayat ini dengan akhiran yang berbeda: kaumnya dalam laporan Allah, lalu kaummu dalam perintah kepada Nuh. Perpindahan akhiran itu menandai perpindahan suara, dari cerita tentang Nuh menjadi ucapan langsung kepadanya. Perubahan sekecil satu huruf menandai siapa yang sedang berbicara. Ketelitian membaca di tingkat ini menentukan apakah pembaca mendengar Allah bercerita atau Allah memerintah. Tanda kutip dalam terjemahan bukan hiasan; ia keputusan yang harus dipertanggungjawabkan.
- Ayat ini berakhir dengan bunyi yang berbeda dari sebagian besar surah. Empat ayat pertama memakai pola lama, lalu sejak 71:5 sampai 71:28 dua puluh empat ayat berturut-turut berakhir dengan tanwin fathah tanpa kecuali. Pergantian itu jatuh persis di ayat ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah. Bentuk bunyi ikut menandai perpindahan lawan bicara, dan itu tidak mungkin kebetulan. Wahyu bekerja pada telinga sebelum ia bekerja pada pikiran, dan bunyi adalah bagian dari maknanya.