يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai batas waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah itu, apabila telah datang, tidak dapat ditunda. Sekiranya kalian mengetahui.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّىyaghfir lakum min dzunuubikum wa-yu'akhkhirkum ilaa ajalin musamman'niscaya Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkan kalian sampai batas waktu yang ditentukan'
  2. إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ ۖ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَinna ajala llaahi idzaa jaa'a laa yu'akhkharu law kuntum ta'lamuuna'sesungguhnya ketetapan Allah itu, apabila telah datang, tidak dapat ditunda. Sekiranya kalian mengetahui'

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. يَغْفِرْyaghfirmengampuni
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. مِنْmindari
  4. ذُنُوبِكُمْdzunuubikumdosa-dosa kalian
  5. وَيُؤَخِّرْكُمْwa-yu'akhkhirkumdan Dia menangguhkan kalian
  6. إِلَىٰilaasampai
  7. أَجَلٍajalinajal
  8. مُسَمًّىmusammanyang ditentukan
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. أَجَلَajalaajal
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. إِذَاidzaaapabila
  13. جَاءَjaa'adatang
  14. لَاlaatidak
  15. يُؤَخَّرُyu'akhkharuditangguhkan
  16. لَوْlawsekiranya
  17. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  18. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Insentif ganda yang ditawarkan: 'Dia akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian dan menangguhkanmu sampai pada batas waktu yang ditentukan. ketetapan Allah itu, apabila telah datang, tidak dapat ditunda', kombinasi tawaran pengampunan dan penangguhan waktu, namun disertai pengingat tegas bahwa penundaan hanya berlaku hingga batas yang telah ditetapkan, bukan tanpa akhir.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(memanjangkan umurmu)' dan '(-nya)' tidak dipakai. Koreksi tunggal ke jamak: draf menulis 'menangguhkanmu' (tunggal), padahal 'yu'akhkhirkum' berakhiran jamak '-kum' (kalian), dikoreksi menjadi 'menangguhkan kalian'.

Ayat ini yang terpanjang di surah ini dengan dua puluh patah, hampir tujuh kali panjang ayat terpendeknya. Ia juga ayat terakhir yang berakhir dengan pola bunyi lama sebelum rima surah berganti di 71:5.

Rangkaian (يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ, yagfir lakum min dzunuubikum) muncul di 2 ayat: 46:31 dan 71:4. Dua ayat itu perlu dibandingkan. Di 46:31 kalimat tersebut diucapkan oleh serombongan jin kepada kaum mereka sendiri, sesudah mereka mendengar Al-Qur'an. Di sini ia diucapkan Nuh kepada kaumnya. Jadi kalimat yang sama persis dipakai oleh dua penyeru dari dua jenis makhluk yang berbeda, terpisah zaman dan tempat, untuk mengajak kalangan masing-masing.

Yang paling sering terlewat adalah kata (مِنْ, min) di tengah rangkaian itu. Ia bukan hiasan. Dalam susunan ini ia menandai sebagian, sehingga bunyinya 'sebagian dosa-dosa kalian', bukan 'dosa-dosa kalian'. Terjemahan mempertahankan kata 'sebagian' karena teks memang menuliskannya. Menghapusnya akan menjanjikan lebih banyak daripada yang dijanjikan ayat ini.

Bentuk (وَيُؤَخِّرْكُمْ, wayu-akhkhirkum) dan (يُؤَخَّرُ, yu-akhkharu) masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Keduanya dari akar yang sama, satu berbentuk aktif dan satu berbentuk pasif. Pengulangan akar dengan dua bentuk berlawanan dalam satu ayat adalah cara menekan yang tajam: Dia sanggup menangguhkan kalian, tetapi ketetapan-Nya sendiri tidak dapat ditangguhkan.

Rangkaian (إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى, ilaa ajalin musamman) muncul di 11 ayat, di antaranya 2:282, 11:3, 14:10, 16:61, dan 71:4. Sementara bentuk (أَجَلَ, ajala) tanpa tanwin muncul di 2 ayat: 29:5 dan 71:4. Perbedaan bentuk itu bermakna. Yang pertama adalah batas waktu yang belum ditentukan bagi pembaca, yang kedua adalah ketetapan yang sudah menjadi milik Allah. Satu ayat memuat keduanya, dan susunannya bergerak dari yang bisa digeser menuju yang tidak.

Penutup ayat ini juga tidak biasa. Kalimat terakhirnya berbunyi 'sekiranya kalian mengetahui', dan ia berdiri tanpa induk. Dalam bahasa Arab, pengandaian yang dibiarkan tanpa jawaban seperti ini dipakai untuk membuat pembaca menyusun sendiri akibatnya. Kalau kalian tahu, tentu kalian akan bagaimana? Teks tidak menyebutkannya. Terjemahan mempertahankan kalimat itu menggantung apa adanya, sebab melengkapinya berarti mengucapkan sesuatu yang sengaja tidak diucapkan.

Tafsiran

Ayat ini menjanjikan ampunan dan penangguhan ajal bagi yang taat, disertai peringatan bahwa ketetapan Allah tak dapat tertunda. Ayat ini menyusun tawaran sekaligus batasnya dalam satu kalimat panjang. Bagian pertama menjanjikan dua hal: ampunan dan penangguhan. Bagian kedua segera menutup kemungkinan salah paham: ketetapan Allah, kalau sudah tiba, tidak dapat ditunda. Jadi penangguhan yang dijanjikan bukan penundaan tanpa batas, melainkan pergeseran di dalam batas yang sudah ada.

Yang paling halus adalah kata yang berarti sebagian. Janji ampunan di sini tidak diucapkan tanpa ukuran. Teks menulis 'sebagian dosa-dosa kalian', dan terjemahan mempertahankannya. Menghapus kata itu akan membuat janji terdengar lebih besar daripada yang tertulis, dan memperbesar janji Allah adalah kesalahan yang tampak saleh tetapi tetap kesalahan.

Kesejajarannya dengan 46:31 layak direnungkan. Di ayat itu kalimat yang sama persis diucapkan serombongan jin kepada kaum mereka sesudah mendengar Al-Qur'an. Di sini ia diucapkan Nuh kepada kaumnya, jauh sebelum itu. Dua penyeru dari dua jenis makhluk yang berbeda memakai kalimat yang sama untuk mengajak kalangan masing-masing. Dan dua kata kerja berakar sama di ayat ini, satu aktif dan satu pasif, menyusun batas yang tegas: Dia sanggup menangguhkan kalian, tetapi ketetapan-Nya sendiri tidak dapat ditangguhkan. Yang bisa bergeser adalah kita, bukan waktunya.

Renungan dan Hikmah

  • Teks menulis sebagian dosa-dosa kalian, bukan dosa-dosa kalian. Kata yang menandai sebagian itu bukan hiasan, dan terjemahan mempertahankannya. Menghapusnya akan membuat janji terdengar lebih besar daripada yang tertulis. Memperbesar janji Allah adalah kesalahan yang tampak saleh tetapi tetap kesalahan. Allah memberi janji dengan ukuran yang jelas, dan menerima ukuran itu apa adanya lebih jujur daripada melebihkannya demi menenangkan hati. Janji yang dilebihkan akan runtuh pada orang yang menagihnya kelak, dan yang melebihkannya sudah tidak ada.
  • Dua kata kerja berakar sama di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, satu berbentuk aktif dan satu pasif. Susunannya menekan satu hal: Allah sanggup menangguhkan kalian, tetapi ketetapan-Nya sendiri tidak dapat ditangguhkan. Yang bisa bergeser adalah manusia, bukan waktunya. Pengulangan akar dalam satu ayat pendek adalah cara menekan yang tajam, dan terjemahan harus menahannya meski terdengar berulang. Menerima bahwa waktunya tetap adalah syarat pertama untuk bergerak sebelum ia habis.
  • Rangkaian di ayat ini juga muncul di 46:31, ketika serombongan jin mengucapkannya kepada kaum mereka sesudah mendengar Al-Qur'an. Di sini ia diucapkan Nuh kepada kaumnya, jauh sebelum itu. Dua penyeru dari dua jenis makhluk yang berbeda memakai kalimat yang sama untuk mengajak kalangan masing-masing. Isi ajakan yang benar ternyata tidak berubah menurut siapa yang mengucapkannya atau kepada siapa ia ditujukan. Yang berubah menurut pendengar biasanya bukan kebenaran, melainkan cara membujuk.
  • Ayat ini memuat kata untuk batas waktu dalam dua bentuk yang berbeda. Yang pertama muncul di 11 ayat, di antaranya 2:282, 11:3, dan 16:61, dan menunjuk batas yang belum ditentukan bagi pembaca. Yang kedua muncul di 2 ayat saja, 29:5 dan 71:4, dan menunjuk ketetapan yang sudah menjadi milik Allah. Satu ayat memuat keduanya, bergerak dari yang bisa digeser menuju yang tidak bisa. Membedakan keduanya menentukan apakah seseorang masih punya ruang atau sudah kehabisan.
  • Bagian pertama ayat menjanjikan ampunan dan penangguhan. Bagian keduanya segera menutup kemungkinan salah paham dengan menyebut bahwa ketetapan Allah tidak dapat ditunda. Jadi penangguhan yang dijanjikan bukan penundaan tanpa batas, melainkan pergeseran di dalam batas yang sudah ada. Allah tidak membiarkan tawaran-Nya menggantung tanpa keterangan, sebab tawaran tanpa batas paling mudah disalahpahami sebagai izin untuk menunda. Keterangan yang menyertai sebuah pemberian sering lebih penting daripada pemberiannya sendiri.
  • Ayat ini yang terpanjang di surah ini dengan dua puluh patah, hampir tujuh kali panjang ayat terpendeknya. Ia juga yang terakhir memakai pola bunyi lama sebelum rima surah berganti di 71:5. Jadi ayat terpanjang berdiri persis di titik peralihan. Sesudahnya nada berubah dan lawan bicara berganti. Adakah kalimat panjang dalam hidup kita yang ternyata menjadi batas antara satu babak dan babak berikutnya? Kita jarang mengenali titik balik ketika sedang melewatinya, dan biasanya baru menamainya dari kejauhan.