قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

Dia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًاqaala rabbi innii da'awtu qawmii laylan wa-nahaarandia berkata, 'ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam'

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  4. دَعَوْتُda'awtuaku menyeru
  5. قَوْمِيqawmiikaumku
  6. لَيْلًاlaylanmalam
  7. وَنَهَارًاwa-nahaarandan siang

Inti bacaan

Kesabaran dan konsistensi usaha yang luar biasa: 'Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam', gambaran dedikasi tanpa henti dalam menjalankan misi, dakwah yang dilakukan terus-menerus tanpa mengenal waktu istirahat, standar ketekunan yang tinggi dalam menyampaikan kebenaran.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka kutip baru: doa Nuh kepada Allah, berbeda dari kutip sebelumnya yang ditujukan kepada kaumnya.

Ayat ini titik balik seluruh surah. Sesudahnya, dua puluh empat ayat berturut-turut sampai 71:28 berakhir dengan tanwin fathah tanpa satu pun kecuali. Empat ayat sebelumnya tidak demikian. Pergantian rima itu jatuh persis di ayat ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah. Bunyi ikut menandai perpindahan lawan bicara.

Bentuk (دَعَوْتُ, da'awtu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akhirannya menunjuk pelaku tunggal, yaitu 'aku', dan bentuknya menandai perbuatan yang sudah selesai. Jadi bunyinya bukan 'aku menyeru' melainkan 'aku telah menyeru'. Perbedaan itu penting: kalimat ini laporan tentang pekerjaan yang sudah dijalankan, bukan permintaan izin untuk memulai.

Kata (قَوْمِي, qawmii) muncul di 5 ayat: 7:142, 25:30, 26:117, 36:26, dan 71:5. Akhirannya berarti 'milikku'. Ini penyebutan ketiga untuk kelompok yang sama dalam lima ayat, sesudah 'kaumnya' di 71:1 dan 'kaumku' di 71:2. Ketiganya memakai akhiran kepemilikan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah, Nuh tetap menyebut mereka miliknya.

Penutup (وَنَهَارًا, wanahaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Pasangannya, (لَيْلًا, laylan), muncul di 5 ayat: 10:24, 17:1, 44:23, 71:5, dan 76:26. Pasangan malam dan siang di sini berdiri sebagai keterangan waktu tanpa kata depan, susunan yang dalam bahasa Arab menandai keberlangsungan penuh. Terjemahan 'siang dan malam' membalik urutannya agar wajar dalam bahasa Indonesia, sedangkan teks Arab menyebut malam lebih dahulu.

Perlu dicatat bahwa mulai ayat ini sampai 71:20, seluruh kalimat berada di dalam satu kutipan doa yang panjang. Kutipan itu dibuka di sini dan baru ditutup enam belas ayat kemudian. Di dalamnya, mulai 71:10, terbuka lagi kutipan kedua yang bersarang: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah. Dua lapis kutipan itu berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup di ujung 71:20.

Sapaan (رَبِّ, rabbi) di awal doa juga perlu dicatat. Ia bentuk seruan dengan akhiran kepemilikan yang huruf terakhirnya dibuang, susunan yang lazim dalam bahasa Arab untuk menyapa dalam doa. Bunyinya 'wahai Tuhanku', dan terjemahan mempertahankan akhiran kepemilikan itu. Sapaan yang sama dipakai lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28, yaitu di ketiga doa berikutnya. Empat kali sapaan yang sama dalam satu surah, dan setiap kali ia menandai bahwa yang berbicara sedang berpaling dari manusia kepada Allah.

Tafsiran

Ayat ini beralih ke doa Nuh kepada Allah, mengadukan penolakan kaumnya siang dan malam. Ayat ini memutar seluruh arah surah. Sampai 71:4, yang terdengar adalah suara Nuh kepada kaumnya. Sejak di sini, yang terdengar adalah suaranya kepada Allah. Dan pergantian itu tidak hanya terjadi pada isi, melainkan juga pada bunyi. Dua puluh empat ayat berikutnya berakhir dengan rima yang sama tanpa satu pun kecuali, sedangkan empat ayat sebelumnya tidak. Bentuk ikut berpindah bersama isinya.

Yang dilaporkan Nuh adalah kerja, bukan hasil. Ia menyebut apa yang sudah ia lakukan, dan bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang selesai. Tidak ada permintaan, tidak ada tuntutan, tidak ada keluhan tentang dirinya sendiri. Hanya laporan. Keterangan waktunya, malam dan siang, berdiri tanpa kata depan, susunan yang menandai keberlangsungan penuh. Bukan sesekali di malam hari dan sesekali di siang hari, melainkan sepanjang keduanya.

Yang paling menyentuh adalah sebutannya untuk mereka. Ia berkata 'kaumku', memakai akhiran kepemilikan, sama seperti di 71:2 ketika ia menyapa mereka langsung. Ini penyebutan ketiga dalam lima ayat, dan ketiganya memakai akhiran yang menandai kedekatan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah tentang penolakan mereka, ia tidak melepaskan mereka dari dirinya. Pengaduan yang tidak disertai pemutusan hubungan adalah bentuk kesetiaan yang jarang, dan surah ini merekamnya tanpa berkomentar.

Renungan dan Hikmah

  • Sejak ayat ini sampai 71:28, dua puluh empat ayat berturut-turut berakhir dengan rima yang sama tanpa satu pun kecuali. Empat ayat sebelumnya tidak demikian. Pergantian itu jatuh persis ketika Nuh berhenti berbicara kepada kaumnya dan mulai berbicara kepada Allah. Bentuk bunyi ikut menandai perpindahan lawan bicara. Susunan sehalus itu tidak mungkin kebetulan, dan ia hanya terlihat oleh yang membaca surah sebagai satu kesatuan. Membaca sepotong-sepotong menghilangkan justru bagian yang paling halus dari susunan itu.
  • Yang disebut Nuh adalah apa yang sudah ia lakukan, dan bentuk kata kerjanya menandai perbuatan yang selesai. Tidak ada permintaan, tidak ada tuntutan, tidak ada keluhan tentang dirinya sendiri. Hanya laporan kepada Allah. Ini menunjukkan bagaimana seorang utusan memahami tugasnya. Yang menjadi tanggung jawabnya adalah kerja, dan hasil bukan bagian yang perlu ia pertanggungjawabkan atau ia tuntut. Melepaskan hasil bukan berarti tidak peduli; ia berarti tahu batas kewenangan sendiri.
  • Keterangan waktu di ayat ini berdiri tanpa kata depan, susunan yang dalam bahasa Arab menandai keberlangsungan penuh. Bukan sesekali di malam hari dan sesekali di siang hari, melainkan sepanjang keduanya. Terjemahan membalik urutannya agar wajar dibaca, sedangkan teks Arab menyebut malam lebih dahulu. Allah merekam kesungguhan itu dalam susunan tata bahasa, bukan dalam pujian, dan justru itu yang membuatnya terasa sebagai fakta. Fakta yang tersimpan dalam tata bahasa lebih sulit dibantah daripada pujian yang diucapkan.
  • Nuh menyebut mereka kaumku, memakai akhiran kepemilikan, sama seperti ketika menyapa mereka langsung di 71:2. Ini penyebutan ketiga dalam lima ayat, dan ketiganya menandai kedekatan. Bahkan ketika mengadu kepada Allah tentang penolakan mereka, ia tidak melepaskan mereka dari dirinya. Sanggupkah kita mengeluhkan seseorang kepada Allah tanpa diam-diam sudah memutuskan bahwa ia bukan lagi bagian dari kita? Doa yang masih menyebut seseorang sebagai milik kita adalah doa yang belum menyerah atasnya.
  • Mulai ayat ini sampai 71:20, seluruh kalimat berada di dalam satu kutipan doa yang panjang. Di dalamnya, mulai 71:10, terbuka lagi kutipan kedua yang bersarang: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai ditutup di ujung 71:20. Menandai batasnya dengan cermat menentukan apakah pembaca mendengar Nuh berdoa atau Nuh berdakwah. Satu tanda baca yang salah tempat bisa memindahkan seluruh kalimat ke mulut yang keliru.
  • Kata untuk kaum dengan akhiran milikku muncul di 5 ayat: 7:142, 25:30, 26:117, 36:26, dan 71:5. Di ayat ini ia dipakai di dalam doa, bukan dalam sapaan. Artinya sebutan itu tidak berubah menurut siapa yang mendengar. Nuh menyebut mereka dengan kata yang sama di depan mereka dan di belakang mereka. Ketetapan sebutan seperti itu adalah ukuran kejujuran yang sederhana dan tidak mudah dipalsukan. Orang yang berbeda sebutannya di depan dan di belakang sedang menyimpan dua penilaian sekaligus.