فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا

Tetapi seruanku tidak menambah mereka selain lari,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًاfa-lam yazidzum du'aa'ii illaa firaaran'tetapi seruanku tidak menambah mereka selain lari'

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. فَلَمْfa-lammaka tidak
  2. يَزِدْهُمْyazidzummenambah mereka
  3. دُعَائِيdu'aa'iiseruanku
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. فِرَارًاfiraaranlari

Inti bacaan

Hasil paradoks dari usaha tulus: 'seruanku tidak menambah mereka selain lari (menjauh)', pengakuan jujur bahwa niat baik dan usaha maksimal tidak selalu menghasilkan respons positif, kadang justru memperkuat penolakan, kenyataan pahit yang perlu diterima tanpa menyalahkan diri sendiri atas pilihan orang lain.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menjauh)' tidak dipakai.

Dua kata di ayat pendek ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (يَزِدْهُمْ, yazidhum) dan (دُعَائِي, du'aa-ii). Dari lima patah kata penyusunnya, dua sudah tidak berulang di mana pun. Bentuk yang serumpun dengan yang pertama akan muncul lagi di 71:21 sebagai (يَزِدْهُ, yazidhu), juga sekali pakai, dalam kalimat tentang orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Dua ayat itu memakai susunan yang sejajar: sesuatu yang seharusnya menambah kebaikan justru hanya menambah hal yang buruk.

Kata (فِرَارًا, firaaran) muncul di 3 ayat: 18:18, 33:13, dan 71:6. Ia berarti lari menjauh. Di 18:18 kata itu dipakai untuk keadaan orang yang akan lari ketakutan kalau menyaksikan sesuatu, dan di 33:13 untuk sekelompok orang yang meminta izin mundur dari barisan. Di sini ia menjadi satu-satunya hasil dari seruan yang dilakukan siang dan malam. Terjemahan 'lari' dipertahankan telanjang, tanpa menambahkan kata penjelas seperti 'menjauh', sebab teks hanya menuliskan satu kata.

Susunan kalimatnya patut diperhatikan. Yang menjadi pelaku dalam kalimat ini bukan mereka, melainkan seruan Nuh. Bunyi harfiahnya kira-kira 'seruanku tidak menambah mereka selain lari'. Jadi yang bertindak menambah adalah seruannya, dan yang bertambah pada mereka adalah pelarian. Susunan itu terasa terbalik dari yang diharapkan, dan justru keterbalikan itu yang menjadi isi ayat. Terjemahan mempertahankan urutan pelaku tersebut.

Susunan penyangkalannya berupa pengecualian: tidak menambah apa pun kecuali satu hal. Susunan seperti ini menutup semua kemungkinan lain lalu menyisakan satu saja, dan yang tersisa itu justru kebalikan dari yang dituju. Ia muncul lagi di 71:21 dan 71:24 dengan pola yang sama. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk 'tidak menambah selain' dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya.

Draf awal menambahkan '(menjauh)' di dalam kurung sesudahnya, dan tambahan itu tidak dipakai. Kata Arabnya sudah lengkap sendiri, dan menambahkan keterangan berarti menerangkan sesuatu yang tidak menuntut penjelasan.

Perlu diperhatikan pula bahwa ayat ini ayat pertama di surah yang memakai rima baru. Penutupnya berbunyi tanwin fathah, sama seperti 71:5 sebelumnya dan dua puluh dua ayat sesudahnya. Dua ayat berturut-turut, 71:5 dan 71:6, memasang pola bunyi yang akan bertahan sampai ujung surah. Yang pertama menyebut usaha, yang kedua menyebut hasilnya, dan keduanya diucapkan di dalam doa. Rima baru itu lahir bersama nada pengaduan.

Tafsiran

Ayat ini mencatat penolakan kaum Nuh yang justru semakin menjauh. Ayat ini melaporkan hasil, dan hasilnya nol. Bukan sekadar tidak berhasil, melainkan berbalik arah. Seruan yang dilakukan sepanjang malam dan siang tidak menghasilkan satu langkah mendekat, melainkan menambah jarak. Laporan sepahit itu diucapkan dalam lima patah kata tanpa keluhan dan tanpa alasan.

Susunan kalimatnya menyimpan hal yang halus. Yang menjadi pelaku bukan mereka, melainkan seruan Nuh sendiri. Bunyi harfiahnya kira-kira 'seruanku tidak menambah mereka selain lari'. Jadi seruan itulah yang menambah, dan yang bertambah adalah pelarian. Susunan yang terasa terbalik itu justru menjadi isi ayat. Ada usaha yang, karena keras kepala pihak yang dituju, berubah menjadi pendorong ke arah sebaliknya.

Bentuk penyangkalannya menutup semua kemungkinan lalu menyisakan satu, dan yang tersisa adalah kebalikan dari yang dituju. Susunan yang sama muncul lagi di 71:21 dan 71:24. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk 'tidak menambah selain' dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya. Dan kata kerja yang dipakai di sini serumpun dengan yang dipakai di 71:21, keduanya sekali pakai di seluruh Al-Qur'an. Di sini seruan tidak menambah selain pelarian; di sana harta dan anak tidak menambah selain kerugian. Dua hal yang seharusnya menambah kebaikan sama-sama berbalik menjadi penambah keburukan.

Renungan dan Hikmah

  • Seruan yang dilakukan sepanjang malam dan siang tidak menghasilkan satu langkah mendekat, melainkan menambah jarak. Bukan sekadar tidak berhasil, melainkan berbalik arah. Laporan sepahit itu diucapkan dalam lima patah kata tanpa keluhan dan tanpa alasan. Allah merekamnya apa adanya. Ada kerja yang benar dan sungguh-sungguh yang tetap berakhir tanpa buah, dan Al-Qur'an tidak menutupi kemungkinan itu demi menyenangkan pembacanya. Menyembunyikan kemungkinan itu justru akan meruntuhkan orang yang kelak mengalaminya.
  • Pelaku dalam kalimat ini bukan mereka, melainkan seruan Nuh. Bunyi harfiahnya kira-kira seruanku tidak menambah mereka selain lari. Jadi seruan itulah yang menambah, dan yang bertambah adalah pelarian. Susunan yang terasa terbalik itu justru menjadi isi ayat. Ada usaha yang, karena keras kepala pihak yang dituju, berubah menjadi pendorong ke arah sebaliknya. Kebenaran yang ditolak tidak berhenti netral; ia mengeraskan yang menolaknya. Tidak ada sikap netral terhadap peringatan yang sudah sampai ke telinga.
  • Bentuk penyangkalan di ayat ini menutup semua kemungkinan lalu menyisakan satu, dan yang tersisa adalah kebalikan dari yang dituju. Susunan yang sama muncul lagi di 71:21 dan 71:24. Tiga kali dalam satu surah, kalimat berbentuk tidak menambah selain dipakai untuk melaporkan hasil yang berlawanan arah dengan usahanya. Pengulangan pola itu mengikat tiga bagian surah menjadi satu keluhan yang sama, diucapkan dengan bentuk kalimat yang sama. Bentuk kalimat yang berulang adalah cara Al-Qur'an menandai bahwa tiga peristiwa itu satu jenis.
  • Dari lima patah kata penyusun ayat ini, dua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kepadatan sebesar itu di ayat sependek ini tidak biasa. Artinya keadaan yang dilaporkan di sini tidak dilaporkan di tempat lain dengan kata yang sama. Allah memberi pengalaman yang khusus perbendaharaan yang khusus. Kegagalan seorang utusan sesudah kesungguhan penuh memang bukan hal yang sering diceritakan, dan bahasanya pun tidak dipinjam dari tempat lain. Bahasa yang tidak dipinjam menandakan pengalaman yang memang tidak ada bandingnya.
  • Kata untuk lari di ayat ini muncul di 3 ayat: 18:18, 33:13, dan 71:6. Draf awal menambahkan keterangan di dalam kurung sesudahnya, dan tambahan itu tidak dipakai. Kata Arabnya sudah lengkap sendiri. Menambahkan keterangan berarti menerangkan sesuatu yang tidak menuntut penjelasan. Terjemahan yang terlalu membantu akhirnya melemahkan, sebab pembaca kehilangan kesempatan merasakan ketelanjangan kata yang memang dipilih Allah. Kadang tugas penerjemah bukan menerangkan, melainkan menahan diri.
  • Kata kerja di ayat ini serumpun dengan yang dipakai di 71:21, dan keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Di sini seruan tidak menambah selain pelarian; di sana harta dan anak tidak menambah selain kerugian. Dua hal yang seharusnya menambah kebaikan sama-sama berbalik menjadi penambah keburukan. Apa yang selama ini kita kira sedang menambah bekal, dan bagaimana kalau ternyata ia menambah yang lain? Yang bertambah pada diri kita belum tentu searah dengan yang kita usahakan.