وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka dan menutupkan baju mereka. Mereka pun bersikukuh dan sangat menyombongkan diri.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْwa-innii kullamaa da'awtuhum li-taghfira lahum ja'aluu ashaabi'ahum fii aadzaanihim wa-staghsyaw tsiyaabahum'sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jari mereka ke telinga mereka dan menutupkan baju mereka'
  2. وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاwa-asharruu wa-stakbaruu stikbaaran'mereka pun bersikukuh dan sangat menyombongkan diri'

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَإِنِّيwa-inniidan sesungguhnya aku
  2. كُلَّمَاkullamaasetiap kali
  3. دَعَوْتُهُمْda'awtuhumaku menyeru mereka
  4. لِتَغْفِرَli-taghfiraagar Engkau mengampuni
  5. لَهُمْlahumbagi mereka
  6. جَعَلُواja'aluumereka menjadikan
  7. أَصَابِعَهُمْashaabi'ahumjari-jari mereka
  8. فِيfiike dalam
  9. آذَانِهِمْaadzaanihimtelinga mereka
  10. وَاسْتَغْشَوْاwa-staghsyawdan mereka menutupkan
  11. ثِيَابَهُمْtsiyaabahumpakaian mereka
  12. وَأَصَرُّواwa-asharruudan mereka terus-menerus
  13. وَاسْتَكْبَرُواwa-stakbaruudan mereka menyombongkan diri
  14. اسْتِكْبَارًاstikbaarankesombongan

Inti bacaan

Deskripsi penolakan yang ekstrem: 'setiap kali aku menyeru mereka. mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya. mereka pun tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri', gambaran fisik penolakan yang begitu mendalam hingga menghindari mendengar sama sekali, kesombongan yang aktif menutup diri dari kemungkinan perubahan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini punya kembaran yang mengejutkan di 2:19. Kata (أَصَابِعَهُمْ, ashaabi'ahum) muncul di 2 ayat: 2:19 dan 71:7. Kata (آذَانِهِمْ, aadzaanihim) muncul di 7 ayat: 2:19, 6:25, 17:46, 18:11, 18:57, 41:44, dan 71:7. Dua daftar itu bertemu hanya di 2:19. Jadi gerakan memasukkan jari ke telinga hanya dilukiskan di dua tempat dalam seluruh Al-Qur'an. Bedanya, di 2:19 mereka melakukannya karena takut mati mendengar petir, sedangkan di sini mereka melakukannya untuk menolak mendengar seruan. Gerakan yang sama, dorongan yang berlawanan.

Kata (ثِيَابَهُمْ, tsiyaabahum) muncul di 2 ayat: 11:5 dan 71:7. Di 11:5 disebutkan orang yang menyelimuti dirinya dengan kain untuk menyembunyikan diri dari Allah, dan ayat itu menegaskan bahwa Allah tetap mengetahui. Di sini kain dipakai untuk hal yang serupa. Dua ayat itu melukiskan usaha yang sama: memakai kain sebagai penutup dari sesuatu yang tidak bisa ditutupi.

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (لِتَغْفِرَ, litagfira), (وَأَصَرُّوا, wa-asharruu), dan (وَاسْتَغْشَوْا, wastagsyaw). Yang paling perlu diperhatikan adalah yang pertama. Ia berarti 'agar Engkau mengampuni', dan sasarannya adalah Allah. Jadi Nuh menyeru mereka bukan agar mereka tunduk kepadanya, melainkan agar Allah mengampuni mereka. Tujuan seruannya disebut terang-terangan, dan tujuan itu sama sekali bukan keuntungan bagi dirinya.

Bentuk (وَاسْتَكْبَرُوا, wastakbaruu) muncul di 4 ayat: 4:173, 7:36, 7:40, dan 71:7. Ia diikuti (اسْتِكْبَارًا, istikbaaran), yang muncul di 2 ayat: 35:43 dan 71:7. Susunan kata kerja diikuti kata benda dari akar yang sama adalah cara penekanan yang khas dalam bahasa Arab. Bunyinya kira-kira 'mereka menyombongkan diri dengan penyombongan'. Terjemahan 'sangat menyombongkan diri' memakai kata penguat karena bahasa Indonesia tidak punya susunan yang setara.

Kata (كُلَّمَا, kullamaa) di awal kalimat menandai pengulangan tanpa batas: setiap kali, tanpa kecuali. Jadi yang dilukiskan bukan satu peristiwa melainkan pola yang berulang seumur seruan. Dan empat perbuatan disebut berturut-turut dalam satu kalimat: menyumbat telinga, menutupkan baju, bersikukuh, dan menyombongkan diri. Dua yang pertama perbuatan tubuh, dua yang terakhir sikap hati.

Bentuk (جَعَلُوا, ja'aluu) yang mendahului dua perbuatan pertama muncul di 3 ayat: 13:16, 15:91, dan 71:7. Kata kerjanya berarti menjadikan atau menempatkan, dan di sini yang ditempatkan adalah jari mereka sendiri. Susunan itu menegaskan kesengajaan. Menutup telinga bukan hal yang terjadi begitu saja; ia menuntut tangan diangkat dan jari diarahkan. Terjemahan 'memasukkan jari-jari mereka' menahan unsur perbuatan yang disengaja tersebut.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan penolakan fisik dan psikologis kaum Nuh terhadap dakwahnya. Ayat ini melukiskan penolakan dalam empat lapis sekaligus. Dua yang pertama perbuatan tubuh: jari dimasukkan ke telinga, baju ditutupkan ke wajah. Dua yang terakhir sikap hati: bersikukuh dan menyombongkan diri. Urutannya bergerak dari luar ke dalam, dari yang terlihat menuju yang tersembunyi. Dan kata di awal kalimat menandai bahwa ini bukan satu peristiwa melainkan pola yang berulang setiap kali seruan datang.

Kesejajarannya dengan 2:19 layak direnungkan. Gerakan memasukkan jari ke telinga hanya dilukiskan di dua tempat dalam seluruh Al-Qur'an. Di 2:19 mereka melakukannya karena takut mati mendengar petir; di sini mereka melakukannya untuk menolak mendengar seruan. Gerakan tubuh yang sama, dorongan yang berlawanan. Yang satu menutup telinga karena takut binasa, yang lain menutup telinga terhadap peringatan tentang kebinasaan.

Yang paling menyentuh justru kata yang paling mudah terlewat. Nuh menyebut tujuan seruannya: agar Allah mengampuni mereka. Ia tidak menyeru agar mereka tunduk kepadanya, tidak pula agar ia dibenarkan. Kata kerja itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sasarannya adalah Allah. Jadi sepanjang penolakan yang berlapis itu, yang ia inginkan bagi mereka adalah ampunan, bukan kekalahan mereka. Dan di 11:5 kain dipakai untuk menyembunyikan diri dari Allah, dengan penegasan bahwa Allah tetap mengetahui. Dua ayat itu melukiskan usaha yang sama: memakai kain sebagai penutup dari sesuatu yang tidak bisa ditutupi.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut empat perbuatan berturut-turut: menyumbat telinga, menutupkan baju, bersikukuh, dan menyombongkan diri. Dua yang pertama perbuatan tubuh, dua yang terakhir sikap hati. Urutannya bergerak dari luar ke dalam, dari yang terlihat menuju yang tersembunyi. Allah melukiskan penolakan sebagai sesuatu yang berlapis, bukan satu keputusan tunggal. Yang tampak di permukaan biasanya hanya lapisan paling luar dari sesuatu yang sudah mengeras jauh di dalam. Menghadapi lapisan luar tanpa menyentuh yang di dalam hanya memindahkan penolakan ke bentuk lain.
  • Gerakan memasukkan jari ke telinga hanya dilukiskan di dua tempat dalam seluruh Al-Qur'an, yaitu 2:19 dan 71:7. Di 2:19 mereka melakukannya karena takut mati mendengar petir; di sini untuk menolak mendengar seruan. Gerakan tubuh yang sama, dorongan yang berlawanan. Yang satu menutup telinga karena takut binasa, yang lain menutup telinga terhadap peringatan tentang kebinasaan. Perbuatan yang sama bisa lahir dari rasa takut atau dari penolakan terhadap rasa takut itu sendiri. Tubuh bisa melakukan hal yang sama untuk alasan yang bertolak belakang.
  • Nuh menyebut tujuan seruannya dengan terang: agar Allah mengampuni mereka. Kata kerja itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan sasarannya adalah Allah, bukan dirinya. Ia tidak menyeru agar mereka tunduk kepadanya, tidak pula agar ia dibenarkan. Sepanjang penolakan yang berlapis itu, yang ia inginkan bagi mereka tetap ampunan. Menghendaki kebaikan bagi orang yang menolak kita adalah ukuran yang jarang terpenuhi. Doa untuk orang yang menyakiti kita adalah ujian yang tidak bisa dipalsukan.
  • Kata untuk baju di ayat ini muncul di 2 ayat: 11:5 dan 71:7. Di 11:5 kain dipakai untuk menyembunyikan diri dari Allah, dan ayat itu menegaskan bahwa Allah tetap mengetahui. Di sini kain dipakai untuk hal yang serupa. Dua ayat melukiskan usaha yang sama: memakai kain sebagai penutup dari sesuatu yang tidak bisa ditutupi. Menutupi diri dari yang mengetahui segalanya adalah usaha yang gagal sebelum dimulai. Yang bersembunyi dari Allah sebenarnya hanya bersembunyi dari kesadarannya sendiri.
  • Kata untuk menyombongkan diri di ayat ini diikuti kata benda dari akar yang sama. Susunan seperti itu cara penekanan yang khas dalam bahasa Arab, dan bunyinya kira-kira mereka menyombongkan diri dengan penyombongan. Terjemahan memakai kata penguat karena bahasa Indonesia tidak punya susunan yang setara. Yang hilang adalah irama pengulangannya, dan yang tersisa hanya kadar penekanannya. Sebagian kekuatan bahasa memang tidak bisa diseberangkan. Yang bisa diseberangkan adalah maknanya; iramanya tertinggal di bahasa asalnya.
  • Kata di awal kalimat menandai pengulangan tanpa batas: setiap kali, tanpa kecuali. Jadi yang dilukiskan bukan satu peristiwa melainkan pola yang berulang seumur seruan. Nuh tidak melaporkan satu penolakan yang menyakitkan; ia melaporkan penolakan yang menjadi kebiasaan. Sanggupkah kita mengulang sesuatu yang benar ketika kita sudah tahu persis bagaimana ia akan disambut? Mengulang kebenaran di depan telinga yang tertutup menuntut kesabaran yang berbeda jenisnya.