ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا
Kemudian aku menyeru mereka dengan terang-terangan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاtsumma innii da'awtuhum jihaaran'kemudian aku menyeru mereka dengan terang-terangan'
Terjemahan per kata (4 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- دَعَوْتُهُمْda'awtuhumaku menyeru mereka
- جِهَارًاjihaarandengan terang-terangan
Inti bacaan
Eskalasi strategi dakwah: 'kemudian aku menyeru mereka dengan terang-terangan', perubahan pendekatan dari yang lebih halus menuju keterbukaan penuh, kesediaan mencoba metode berbeda ketika pendekatan awal tidak berhasil.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini hanya empat patah, salah satu yang terpendek di surah ini. Kata (جِهَارًا, jihaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Ia berarti terang-terangan, dengan suara yang dikeraskan sampai terdengar. Akarnya berkaitan dengan menampakkan dan mengeraskan, jadi ia menyangkut cara menyampaikan, bukan isi yang disampaikan.
Bentuk (دَعَوْتُهُمْ, da'awtuhum) muncul di 2 ayat: 71:7 dan 71:8, keduanya di surah ini dan tidak ada di tempat lain. Pengulangan langsung di dua ayat berurutan itu mengikat keduanya. Ayat sebelumnya melaporkan seruan dan penolakannya; ayat ini melaporkan seruan berikutnya dengan cara yang berbeda. Kata kerjanya sama, yang berubah hanya caranya.
Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menandai urutan dengan jarak. Ia bukan 'lalu' yang langsung menyusul, melainkan 'kemudian' yang menyiratkan tenggang. Kata yang sama membuka 71:9. Jadi tiga ayat berurutan, yaitu 71:7, 71:8, dan 71:9, menyusun tahapan yang dipisahkan jarak waktu. Bukan tiga cara yang dicoba dalam satu hari, melainkan tiga tahap yang dijalani berturut-turut sesudah masing-masing gagal.
Susunan (إِنِّي, innii) yang mendahului kata kerja menandai penegasan. Ia muncul juga di 71:7 dan 71:9, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penegasan yang sama. Dalam sebuah pengaduan kepada Allah, penegasan berulang seperti itu tidak berfungsi meyakinkan pendengar, sebab yang mendengar sudah mengetahui. Ia lebih berfungsi sebagai cara si pengadu menata sendiri apa yang telah ia jalani, satu demi satu.
Perlu dicatat bahwa ayat ini tidak menyebutkan hasilnya. Ayat sebelumnya menyebut penolakan dengan rinci, ayat ini tidak menyebut apa-apa. Kekosongan itu bermakna: laporannya berjalan terus tanpa berhenti pada hasil, seolah yang dihitung memang usahanya, bukan buahnya.
Perbandingan panjang ayat ini dengan ayat sebelumnya juga mencolok. 71:7 memakai empat belas patah untuk melukiskan satu penolakan; ayat ini memakai empat patah untuk menampung satu babak utuh. Perbedaan sebesar itu bukan kebetulan. Ruang yang diberikan Al-Qur'an kepada sebuah peristiwa tidak selalu sebanding dengan lamanya peristiwa itu berlangsung, melainkan dengan apa yang perlu dilihat pembaca di dalamnya.
Satu catatan tentang urutan tiga tahap ini. Di 71:7 seruan disebut dengan penekanan pada penolakannya; di sini disebut dengan penekanan pada caranya; di 71:9 disebut dengan penekanan pada cakupannya. Kata kerja yang sama dipakai di 71:7 dan 71:8, sedangkan 71:9 memakai dua kata kerja yang berbeda. Perpindahan itu menandai bahwa tahap ketiga bukan sekadar pengulangan dengan suara lebih keras, melainkan perubahan pendekatan yang menyeluruh.
Tafsiran
Ayat ini mencatat eskalasi metode dakwah Nuh menjadi terang-terangan. Ayat ini melaporkan tahap kedua, dan yang berubah hanya caranya. Kata kerjanya sama persis dengan ayat sebelumnya, dan hanya muncul di dua ayat itu dalam seluruh Al-Qur'an. Yang ditambahkan cuma satu kata: terang-terangan. Jadi sesudah cara yang pertama ditolak dengan telinga disumbat, ia menaikkan suaranya.
Kata di awal ayat menandai urutan dengan jarak, bukan urutan yang langsung menyusul. Kata yang sama membuka 71:9. Tiga ayat berurutan menyusun tahapan yang dipisahkan tenggang waktu: seruan yang ditolak, lalu seruan yang dikeraskan, lalu seruan yang dilakukan dari dua arah sekaligus. Ini bukan tiga cara yang dicoba dalam satu hari, melainkan tiga babak yang dijalani berturut-turut sesudah masing-masing gagal.
Yang paling perlu diperhatikan justru apa yang tidak ada. Ayat ini tidak menyebutkan hasilnya. Ayat sebelumnya melukiskan penolakan dengan empat perbuatan berturut-turut; ayat ini berhenti pada usahanya saja. Kekosongan itu bermakna. Laporan Nuh berjalan terus tanpa berhenti menghitung buah, seolah yang perlu ia pertanggungjawabkan memang hanya apa yang ia kerjakan. Dan susunan penegasan yang membuka tiga ayat berturut-turut menguatkan kesan itu: ia sedang menata satu per satu apa yang telah dijalani, bukan sedang meyakinkan Allah yang memang sudah mengetahui.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja di ayat ini sama persis dengan ayat sebelumnya, dan hanya muncul di dua ayat itu dalam seluruh Al-Qur'an. Yang ditambahkan cuma satu kata: terang-terangan. Jadi sesudah cara pertama ditolak, ia menaikkan suaranya tanpa mengubah isi seruannya. Mengganti cara tanpa mengganti pokok adalah kesetiaan yang sulit. Yang lebih mudah adalah mengubah isinya supaya lebih disukai, dan justru itu yang tidak dilakukan. Isi yang tetap adalah tanda bahwa yang disampaikan bukan milik penyampainya.
- Kata di awal ayat menandai urutan dengan jarak, bukan urutan yang langsung menyusul. Kata yang sama membuka 71:9. Tiga ayat berurutan menyusun tahapan yang dipisahkan tenggang waktu, bukan tiga cara yang dicoba dalam satu hari. Allah merekam jarak itu lewat satu kata penghubung. Kesungguhan yang sesungguhnya terlihat bukan dari banyaknya cara yang dicoba, melainkan dari kesediaan mengulang sesudah tenggang yang panjang. Jarak waktu antara dua usaha adalah tempat kesabaran diuji, bukan tempat ia beristirahat.
- Ayat sebelumnya melukiskan penolakan dengan empat perbuatan berturut-turut. Ayat ini berhenti pada usahanya saja, tanpa menyebut apa yang terjadi sesudahnya. Kekosongan itu bermakna. Laporan Nuh berjalan terus tanpa berhenti menghitung buah, seolah yang perlu ia pertanggungjawabkan memang hanya apa yang ia kerjakan. Allah membiarkan kekosongan itu berdiri, dan pembaca yang jeli akan merasakannya. Diam yang disengaja dalam sebuah kalimat kadang berbicara lebih keras daripada kata.
- Susunan penegasan mendahului kata kerja di 71:7, 71:8, dan 71:9. Tiga ayat berturut-turut dibuka dengan bentuk yang sama. Dalam pengaduan kepada Allah, penegasan berulang tidak berfungsi meyakinkan pendengar, sebab Yang mendengar sudah mengetahui. Ia lebih berfungsi sebagai cara si pengadu menata sendiri apa yang telah ia jalani. Berdoa kadang memang lebih menata yang berdoa daripada memberi tahu Yang diseru. Menata ingatan sendiri di hadapan Allah adalah cara memeriksa apa yang belum dikerjakan.
- Kata yang ditambahkan di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berakar pada menampakkan serta mengeraskan suara. Ia menyangkut cara menyampaikan, bukan isi yang disampaikan. Perbedaan itu perlu dijaga. Nuh tidak mengubah apa yang ia serukan; ia mengubah bagaimana ia menyerukannya. Berapa kali kita mengira sedang memperbaiki cara, padahal diam-diam sudah mengurangi isinya agar lebih mudah diterima? Isi yang menyusut demi diterima akhirnya menyampaikan hal yang berbeda sama sekali.
- Ayat ini hanya empat patah, salah satu yang terpendek di surah ini, padahal ia menampung satu babak utuh dari usaha yang panjang. Perbandingan antara pendeknya kalimat dan panjangnya waktu yang diwakilinya sangat mencolok. Allah tidak selalu memberi ruang yang sebanding dengan lamanya sebuah pengalaman. Bertahun-tahun kerja bisa diringkas dalam empat kata, dan itu sendiri sudah merupakan pelajaran tentang ukuran. Ukuran yang dipakai Allah untuk memberi ruang bukan lamanya, melainkan pentingnya.