ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا

Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan diam-diam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًاtsumma innii a'lantu lahum wa-asrartu lahum israaran'kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan diam-diam'

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  3. أَعْلَنْتُa'lantuaku menyatakan
  4. لَهُمْlahumkepada mereka
  5. وَأَسْرَرْتُwa-asrartudan aku merahasiakan
  6. لَهُمْlahumkepada mereka
  7. إِسْرَارًاisraarandengan sembunyi

Inti bacaan

Kombinasi menyeluruh berbagai pendekatan: 'kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan diam-diam', kegigihan yang mencoba segala variasi metode komunikasi, model ketekunan yang tidak menyerah pada satu pendekatan tunggal.

Penjelasan pilihan kata

Tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an: (أَعْلَنْتُ, a'lantu), (وَأَسْرَرْتُ, wa-asrartu), dan (إِسْرَارًا, israaran). Dari tujuh patah kata penyusunnya, tiga tidak berulang di mana pun. Dua yang terakhir berasal dari akar yang sama, satu berbentuk kata kerja dan satu berbentuk kata benda. Susunan itu sama seperti di 71:7, ketika kata kerja untuk menyombongkan diri diikuti kata benda dari akarnya sendiri.

Dua kata kerja di ayat ini berlawanan arti. (أَعْلَنْتُ, a'lantu) berarti mengumumkan, membuat terdengar semua orang. Yang kedua berarti merahasiakan, menyampaikan diam-diam kepada seorang demi seorang. Menyandingkan dua cara yang berlawanan dalam satu kalimat adalah cara menyatakan kelengkapan: tidak ada cara ketiga yang tersisa. Terjemahan 'secara terbuka dan diam-diam' menahan pasangan itu.

Perlu dicatat bahwa penekanan hanya dipasang pada yang kedua. Yang pertama berdiri sendiri tanpa penguat, sedangkan yang kedua diikuti bentukan benda dari akarnya. Ketidakseimbangan itu mungkin disengaja. Cara diam-diam menuntut lebih banyak: ia harus diulang untuk setiap orang, satu per satu, tanpa bisa dikerjakan sekaligus. Penekanan yang jatuh di sana masuk akal.

Kata (ثُمَّ, tsumma) membuka ayat ini, sama seperti 71:8. Dua ayat berurutan dengan pembuka yang sama menyusun dua tahap yang dipisahkan jarak. Sementara susunan (إِنِّي, innii) yang mendahului kata kerja adalah yang ketiga berturut-turut sesudah 71:7 dan 71:8.

Terjemahan Indonesia menghadapi kesulitan di ayat ini. Yang pertama berarti mengumumkan, dan itu hampir sama dengan 'terang-terangan' di ayat sebelumnya. Perbedaannya dalam bahasa Arab terletak pada akar yang dipakai: yang di 71:8 menyangkut kerasnya suara, yang di sini menyangkut terbukanya penyampaian. Terjemahan memakai 'secara terbuka' untuk membedakannya dari 'terang-terangan', meski jarak antara keduanya di bahasa Indonesia lebih sempit daripada di bahasa aslinya.

Susunan (لَهُمْ, lahum) diulang dua kali dalam ayat pendek ini, sekali sesudah masing-masing kata kerja. Pengulangan itu tidak wajib dalam bahasa Arab; satu penyebutan sudah cukup menutupi keduanya. Kehadirannya dua kali memisahkan dua cara tersebut supaya masing-masing berdiri sendiri, bukan melebur menjadi satu tindakan. Terjemahan Indonesia melarutkan pengulangan itu karena mengulanginya akan terdengar janggal, dan yang hilang adalah pemisahan yang sengaja dipasang.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini menutup rangkaian tiga ayat yang seluruhnya berisi laporan cara. Sesudahnya, di 71:10, laporan berpindah dari cara ke isi: apa yang sebenarnya ia katakan. Jadi tiga ayat menyebut bagaimana ia menyerukan, dan sebelas ayat berikutnya menyebut apa yang ia serukan. Perbandingan itu sendiri sudah bercerita tentang di mana beban sebuah seruan sebenarnya terletak.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi gambaran berbagai metode dakwah Nuh. Ayat ini menutup daftar cara yang ditempuh Nuh. Dua kata kerjanya berlawanan arti: yang satu mengumumkan kepada semua orang, yang lain menyampaikan diam-diam seorang demi seorang. Menyandingkan dua ujung yang berlawanan dalam satu kalimat adalah cara menyatakan bahwa tidak ada cara ketiga yang tersisa. Semua sudah dicoba.

Ada ketidakseimbangan yang menarik dalam penekanannya. Kata kerja pertama berdiri sendiri, sedangkan yang kedua diikuti kata benda dari akarnya sebagai penguat. Cara diam-diam mendapat tekanan, cara terbuka tidak. Ini masuk akal kalau kita memikirkan bebannya. Mengumumkan bisa dikerjakan sekali untuk banyak orang; menyampaikan diam-diam harus diulang untuk setiap orang, satu per satu, tanpa bisa diborong. Yang lebih melelahkan mendapat penekanan.

Kalau tiga ayat ini dibaca berurutan, terlihat susunan yang rapi. Di 71:5 ia menyebut waktunya: malam dan siang. Di 71:8 ia menyebut cara pertamanya: terang-terangan. Di sini ia menyebut kelengkapannya: terbuka dan diam-diam. Jadi laporan itu bergerak dari waktu, ke cara, lalu ke cakupan. Tidak ada celah yang ia tinggalkan, dan tidak satu pun dari ketiga ayat itu menyebut hasil. Yang dihitung dari awal sampai akhir adalah usahanya. Hasilnya baru disebut sekali, di 71:6, dan sesudah itu tidak dibicarakan lagi sampai 71:21.

Renungan dan Hikmah

  • Dua kata kerja di ayat ini berlawanan arti: mengumumkan kepada semua orang, dan menyampaikan diam-diam seorang demi seorang. Menyandingkan dua ujung dalam satu kalimat adalah cara menyatakan bahwa tidak ada cara ketiga yang tersisa. Allah merekam kelengkapan itu tanpa memuji. Menyebut dua ujung dan membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri bahwa segalanya sudah dicoba lebih kuat daripada menyatakannya secara langsung. Pembaca dibiarkan mengisi sendiri seluruh rentang di antara kedua ujung itu.
  • Kata kerja pertama berdiri sendiri, sedangkan yang kedua diikuti kata benda dari akarnya sebagai penguat. Cara diam-diam mendapat tekanan, cara terbuka tidak. Ini masuk akal kalau kita memikirkan bebannya. Mengumumkan bisa dikerjakan sekali untuk banyak orang; menyampaikan diam-diam harus diulang untuk setiap orang tanpa bisa diborong. Allah menempatkan penekanan di tempat yang paling melelahkan, bukan yang paling terlihat. Yang paling melelahkan sering justru yang paling sedikit terlihat orang.
  • Kalau 71:5, 71:8, dan ayat ini dibaca berurutan, terlihat susunan yang rapi. Yang pertama menyebut waktunya, yang kedua menyebut cara pertamanya, dan yang ini menyebut kelengkapannya. Laporan itu bergerak dari waktu, ke cara, lalu ke cakupan, sampai tak ada sisi yang luput disebut. Menyusun laporan sesungguh itu di hadapan Allah bukan untuk membela diri, melainkan untuk memastikan tidak ada bagian yang belum dikerjakan. Pemeriksaan yang jujur berhenti pada kenyataan, bukan pada pembelaan.
  • Dari tujuh patah kata penyusun ayat ini, tiga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Dua di antaranya berasal dari akar yang sama, satu berbentuk kata kerja dan satu kata benda. Susunan itu sama seperti di 71:7. Dua ayat dalam satu surah memakai cara penekanan yang identik, dan keduanya melukiskan sesuatu yang dilakukan sampai batas maksimal, entah dalam menolak atau dalam menyeru. Pola bahasa yang berulang menghubungkan dua ayat yang isinya berlawanan.
  • Kata kerja pertama di ayat ini berarti mengumumkan, hampir sama dengan terang-terangan di ayat sebelumnya. Perbedaannya dalam bahasa Arab terletak pada akarnya: yang di 71:8 menyangkut kerasnya suara, yang di sini menyangkut terbukanya penyampaian. Terjemahan memakai dua kata berbeda, meski jaraknya dalam bahasa Indonesia lebih sempit daripada di bahasa aslinya. Mengakui penyempitan itu lebih jujur daripada memaksakan padanan yang berjarak tetapi janggal. Terjemahan yang jujur menyebutkan batasnya, bukan menyembunyikannya.
  • Tiga ayat berturut-turut sejak 71:7 melaporkan usaha, dan tidak satu pun menyebut hasilnya. Hasil disebut sekali saja, di 71:6, lalu tidak dibicarakan lagi sampai 71:21. Susunan itu memperlihatkan apa yang dianggap layak dilaporkan. Apa yang akan kita ceritakan kepada Allah kelak: berapa banyak yang berhasil kita ubah, atau berapa banyak yang sungguh-sungguh kita usahakan? Yang ditanyakan kelak bukan seberapa jauh orang lain berubah karena kita.