Ayat 71:10
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
Lalu aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia pengampun.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًاfa-qultu staghfiruu rabbakum innahu kaana ghaffaaranlalu aku berkata, 'mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia pengampun'
Terjemahan per kata (6 kata)
- فَقُلْتُfa-qultumaka aku berkata
- اسْتَغْفِرُواstaghfiruumohonlah ampun kalian
- رَبَّكُمْrabbakumTuhan kalian
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- كَانَkaanaadalah
- غَفَّارًاghaffaaranMaha Pengampun
Inti bacaan
Tawaran konkret dengan janji nyata: 'mohonlah ampun kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia pengampun', pesan inti yang sederhana dan langsung, disertai jaminan sifat pengampunan sebagai insentif untuk merespons positif.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(kepada mereka)' tidak dipakai. Ayat ini membuka kutip bersarang (tunggal): Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah yang masih terbuka sejak 71:5.
Ayat ini membuka kutipan yang bersarang. Sampai di sini, seluruh kalimat sejak 71:5 berada di dalam doa Nuh kepada Allah. Mulai ayat ini, di dalam doa itu terbuka kutipan kedua: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya. Dua lapis kutipan berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup di ujung 71:20. Bentuk (فَقُلْتُ, faqultu) yang membukanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Bentuk (اسْتَغْفِرُوا, istagfiruu) muncul di 3 ayat: 11:3, 11:52, dan 71:10. Dua yang pertama berada di surah yang sama, dan 11:52 adalah ucapan Hud kepada kaumnya. Yang menarik, di 11:52 kalimat itu dilanjutkan dengan janji hujan yang deras dan tambahan kekuatan, persis seperti di 71:11 dan 71:12. Jadi dua utusan yang berbeda, kepada dua kaum yang berbeda, memakai seruan yang sama dan menjanjikan hal yang sama pula.
Kata (غَفَّارًا, gaffaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti mengampuni, dan pola penguat dalam bahasa Arab menandai perbuatan yang dilakukan berulang atau dalam ukuran yang besar. Jadi maknanya bukan sekadar 'yang mengampuni', melainkan 'yang mengampuni berkali-kali'. Terjemahan 'pengampun' memilih kata yang paling wajar dibaca, dan kadar penguatnya larut.
Perlu dicatat bahwa alasan yang diberikan bukan besarnya dosa mereka, melainkan sifat Allah. Kalimatnya tidak berbunyi 'mohonlah ampun karena dosa kalian banyak', melainkan 'mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun'. Alasannya diletakkan pada pihak yang memberi ampun, bukan pada pihak yang memerlukannya. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan.
Kata (رَبَّكُمْ, rabbakum) memakai akhiran yang berarti 'milik kalian'. Sepanjang surah ini, kata untuk Tuhan hampir selalu membawa akhiran kepemilikan: 'Tuhanku' di 71:5, 'Tuhan kalian' di sini, 'Tuhanku' lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28. Tidak sekali pun ia berdiri telanjang tanpa penunjuk pemilik. Hubungan selalu disebut, tidak pernah hanya keberadaan.
Susunan (إِنَّهُ كَانَ, innahu kaana) sebelum kata sifat penutup juga perlu dijelaskan. Kata kerja bantu di tengahnya berbentuk lampau, sehingga bunyi harfiahnya 'sesungguhnya Dia dahulu adalah pengampun'. Dalam bahasa Arab, susunan seperti ini tidak membatasi sifat itu pada masa lalu; ia justru menandai sifat yang sudah melekat sejak dahulu dan tetap berlaku. Terjemahan 'sesungguhnya Dia pengampun' menghilangkan kata kerja bantunya karena mempertahankannya akan menyesatkan pembaca Indonesia, yang akan membacanya sebagai sifat yang sudah berlalu.
Tafsiran
Ayat ini menyampaikan inti seruan tobat Nuh kepada kaumnya, dikutip ulang dalam doanya kepada Allah. Ayat ini membuka lapisan kutipan kedua. Nuh sedang berdoa kepada Allah, dan di dalam doanya ia mengutip apa yang dahulu ia katakan kepada kaumnya. Jadi mulai di sini pembaca mendengar dua suara sekaligus: Nuh yang sedang mengadu, dan Nuh yang dahulu menyeru. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup enam belas ayat kemudian.
Isi seruannya sederhana dan alasannya mengejutkan. Ia tidak berkata 'mohonlah ampun karena dosa kalian banyak'. Ia berkata 'mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun'. Alasannya diletakkan pada sifat Allah, bukan pada keadaan mereka. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan. Yang mendorong orang kembali bukan besarnya kesalahan, melainkan besarnya kesediaan menerima.
Kesejajarannya dengan 11:52 sangat rapat. Di ayat itu Hud mengucapkan seruan yang sama kepada kaumnya, dan melanjutkannya dengan janji hujan deras dan tambahan kekuatan, persis seperti yang menyusul di 71:11 dan 71:12. Dua utusan berbeda, dua kaum berbeda, satu seruan dan satu rangkaian janji. Kesamaan itu menunjukkan bahwa yang ditawarkan bukan karangan masing-masing penyeru. Dan sebutan yang dipakai untuk Allah membawa akhiran kepemilikan, seperti hampir semua penyebutan Tuhan di surah ini. Yang ditawarkan bukan gagasan tentang adanya Tuhan, melainkan pemulihan hubungan dengan Tuhan yang memang sudah menjadi Tuhan mereka.
Renungan dan Hikmah
- Nuh tidak berkata mohonlah ampun karena dosa kalian banyak. Ia berkata mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun. Alasannya diletakkan pada sifat Allah, bukan pada keadaan mereka. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan. Yang mendorong orang kembali biasanya bukan besarnya kesalahan yang ia sadari, melainkan besarnya kesediaan menerima yang ia percayai ada di seberang. Rasa bersalah menekan orang ke bawah, sedangkan harapan mengangkatnya untuk melangkah.
- Kata kerja seruan di ayat ini muncul di 3 ayat: 11:3, 11:52, dan 71:10. Di 11:52 Hud mengucapkannya kepada kaumnya, lalu melanjutkannya dengan janji hujan deras dan tambahan kekuatan, persis seperti yang menyusul di 71:11 dan 71:12. Dua utusan berbeda, dua kaum berbeda, satu seruan dan satu rangkaian janji. Kesamaan itu menunjukkan bahwa yang ditawarkan bukan karangan masing-masing penyeru. Kesamaan itu menjadi bukti tersendiri tentang dari mana seruan tersebut berasal.
- Kata sifat di penutup ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dan bentuk itu adalah pola penguat. Maknanya bukan sekadar yang mengampuni, melainkan yang mengampuni berkali-kali. Terjemahan memilih kata yang paling wajar dibaca, dan kadar penguatnya larut. Yang hilang bukan hal kecil. Perbedaan antara mengampuni sekali dan mengampuni berulang menentukan apakah seseorang berani kembali sesudah jatuh untuk kesekian kalinya. Pintu yang hanya terbuka sekali tidak akan pernah dilewati oleh yang sudah pernah gagal.
- Mulai ayat ini, di dalam doa Nuh kepada Allah terbuka kutipan kedua: ia mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya. Pembaca mendengar dua suara sekaligus, yaitu Nuh yang sedang mengadu dan Nuh yang dahulu menyeru. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai ditutup di ujung 71:20. Menandai batasnya dengan cermat menentukan apakah pembaca memahami sebuah kalimat sebagai doa atau sebagai dakwah. Satu tanda kutip yang salah tempat memindahkan seluruh kalimat ke lapisan yang keliru.
- Kata untuk Tuhan di ayat ini memakai akhiran yang berarti milik kalian. Sepanjang surah ini, kata untuk Tuhan hampir selalu membawa akhiran kepemilikan: Tuhanku di 71:5, Tuhan kalian di sini, Tuhanku lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28. Tidak sekali pun ia berdiri telanjang. Yang ditawarkan bukan gagasan tentang adanya Tuhan, melainkan pemulihan hubungan dengan Tuhan yang memang sudah menjadi Tuhan mereka. Mengenal Allah tanpa hubungan hanyalah menambah satu keterangan lagi ke dalam kepala.
- Nuh tidak sekadar melaporkan bahwa ia telah menyeru; ia mengulang kata-katanya sendiri di hadapan Allah. Bentuk kata kerja yang membuka kutipan itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Mengulang kembali apa yang pernah kita ucapkan, di hadapan Yang mendengar semuanya, adalah bentuk pemeriksaan diri yang jarang. Beranikah kita mengulang di hadapan Allah persis apa yang kita katakan kepada orang lain? Kata-kata kita terhadap orang lain sudah lebih dulu didengar sebelum sempat kita ulang.
Ayat 71:11
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Niscaya Dia akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًاyursili s-samaa'a 'alaykum midraaranniscaya Dia akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian
Terjemahan per kata (4 kata)
- يُرْسِلِyursiliDia mengirimkan
- السَّمَاءَs-samaa'alangit
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- مِدْرَارًاmidraaranyang lebat
Inti bacaan
Manfaat material yang dijanjikan: 'niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian', hubungan yang digambarkan antara permohonan ampun dan berkah materi, pengingat bahwa kesejahteraan duniawi bisa terkait dengan keselarasan spiritual.
Penjelasan pilihan kata
Kutip bersarang masih berlanjut dari 71:10.
Rangkaian (يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا, yursili as-samaa-a 'alaykum midraaran) muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Empat patah kata berurutan, sama persis, di dua surah yang berbeda. Di 11:52 kalimat itu diucapkan Hud kepada kaumnya; di sini diucapkan Nuh kepada kaumnya. Dua utusan, dua zaman, dua kaum, satu janji yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun.
Bentuk (يُرْسِلِ, yursili) muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Akarnya sama dengan kata yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh sendiri. Jadi akar yang di ayat pembuka dipakai untuk mengirim utusan, di sini dipakai untuk mengirim hujan. Allah mengirim keduanya, dan bahasa memakai kata kerja yang sama. Kesejajaran itu tidak terlihat dalam terjemahan Indonesia, sebab kita memakai 'mengutus' untuk yang pertama dan 'mencurahkan' untuk yang kedua.
Kata (مِدْرَارًا, midraaran) muncul di 3 ayat: 6:6, 11:52, dan 71:11. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti mengalir deras dan terus-menerus, seperti susu yang memancar. Jadi maknanya bukan sekadar hujan, melainkan curahan yang berlimpah dan tidak putus. Di 6:6 kata yang sama dipakai untuk generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Perbandingan itu menambah beban ayat ini: janji yang ditawarkan Nuh persis jenis pemberian yang pernah dicabut dari orang lain.
Yang perlu diperhatikan, kata (السَّمَاءَ, as-samaa-a) di sini secara harfiah berarti langit, bukan hujan. Bahasa Arab kadang menyebut wadahnya untuk memaksudkan isinya. Terjemahan 'mencurahkan hujan yang lebat dari langit' menerangkan maksudnya, dan itu pilihan yang bisa diperdebatkan. Bunyi harfiahnya lebih dekat ke 'Dia akan mengirimkan langit kepada kalian dengan deras', susunan yang terasa asing dalam bahasa Indonesia tetapi menyimpan gambaran langit yang seolah diturunkan seluruhnya.
Ayat ini hanya empat patah dan berdiri sebagai akibat dari perintah di 71:10. Kata kerjanya berbentuk yang menandai jawaban atas syarat: kalau kalian memohon ampun, maka Dia akan mengirimkan. Terjemahan 'niscaya' menahan hubungan sebab-akibat itu. Menghilangkannya akan memutus ayat ini dari perintah yang mendahuluinya.
Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang mengirim. Bentuknya menunjuk pihak ketiga tunggal, dan yang dirujuknya adalah Allah yang disebut di 71:10 sebagai Yang pengampun. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang terpotong nomor. Membacanya terpisah akan menyisakan janji tanpa pemberi, dan itu persis kesalahan yang paling sering terjadi ketika ayat dikutip sepotong. Terjemahan memakai 'Dia' untuk menjaga sambungannya tetap terlihat.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan janji berkah duniawi bagi yang bertobat. Ayat ini menyebut buah pertama dari permohonan ampun, dan buah itu bukan sesuatu yang batin. Yang dijanjikan adalah hujan. Susunan seperti ini muncul berulang di Al-Qur'an: tobat yang menyangkut hubungan dengan Allah dijanjikan berbuah kelapangan yang bisa dilihat mata. Dua hal yang tampak tidak berkaitan disambungkan tanpa penjelasan.
Kesejajarannya dengan 11:52 sangat rapat. Empat patah kata berurutan, sama persis, diucapkan Hud kepada kaumnya. Dua utusan dari dua zaman yang berbeda memakai kalimat yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun. Ini menutup satu kemungkinan pembacaan: bahwa masing-masing penyeru menyusun sendiri tawarannya menurut apa yang kira-kira menarik bagi kaumnya. Yang ditawarkan ternyata sama, dan susunan kalimatnya pun sama.
Ada satu hal yang menambah beban ayat ini. Kata untuk curahan deras di sini juga dipakai di 6:6, dalam kalimat tentang generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Jadi jenis pemberian yang ditawarkan Nuh adalah jenis yang pernah dicabut dari orang lain. Tawarannya nyata, tetapi tidak pernah menjadi jaminan yang berdiri sendiri. Dan akar kata kerjanya sama dengan yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh: Allah mengirim utusan, dan Allah mengirim hujan, dengan kata kerja yang sama. Yang menolak yang pertama sedang menolak sesuatu yang datang dari sumber yang sama dengan yang kedua.
Renungan dan Hikmah
- Buah pertama yang dijanjikan bukan ketenangan batin, melainkan hujan. Susunan seperti ini muncul berulang di Al-Qur'an: tobat yang menyangkut hubungan dengan Allah dijanjikan berbuah kelapangan yang bisa dilihat mata. Dua hal yang tampak tidak berkaitan disambungkan tanpa penjelasan. Allah tidak memisahkan urusan langit dari urusan tanah. Yang kita anggap dua wilayah terpisah ternyata satu di mata Yang mengatur keduanya, dan pemisahan itu justru buatan kita sendiri. Hujan yang turun tetap kiriman dari Allah, betapapun ia terasa seperti gejala alam biasa.
- Rangkaian di ayat ini muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Empat patah kata berurutan, sama persis, di dua surah berbeda. Di 11:52 diucapkan Hud, di sini diucapkan Nuh. Dua zaman, dua kaum, satu janji yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun. Ini menutup kemungkinan bahwa masing-masing penyeru menyusun sendiri tawarannya menurut selera kaumnya. Yang ditawarkan sama karena sumbernya sama. Ketetapan itu menjadi bukti tersendiri tentang siapa yang sebenarnya menyusun kalimatnya.
- Kata untuk curahan deras di ayat ini muncul di 3 ayat: 6:6, 11:52, dan 71:11. Di 6:6 ia dipakai untuk generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Jadi jenis pemberian yang ditawarkan Nuh adalah jenis yang pernah dicabut dari orang lain. Tawarannya nyata, tetapi tidak pernah menjadi jaminan yang berdiri sendiri. Kelapangan yang sedang kita nikmati bukan bukti bahwa perhitungan sudah selesai. Allah memberi tanpa menandatangani jaminan bahwa pemberian itu tidak akan ditarik.
- Kata kerja di ayat ini berakar sama dengan yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh. Allah mengirim utusan, dan Allah mengirim hujan, dengan akar kata yang sama. Kesejajaran itu larut dalam bahasa Indonesia, sebab kita memakai mengutus untuk yang satu dan mencurahkan untuk yang lain. Yang menolak kiriman pertama sedang menolak sesuatu yang datang dari sumber yang sama dengan kiriman kedua yang justru ia harapkan. Menerima kiriman yang satu sambil menolak yang lain adalah pilihan yang tidak pernah utuh.
- Kata di tengah ayat ini secara harfiah berarti langit, bukan hujan. Bahasa Arab kadang menyebut wadahnya untuk memaksudkan isinya. Terjemahan menerangkan maksudnya, dan itu pilihan yang bisa diperdebatkan. Bunyi harfiahnya lebih dekat ke Dia akan mengirimkan langit kepada kalian dengan deras. Susunan itu terasa asing dalam bahasa Indonesia tetapi menyimpan gambaran langit yang seolah diturunkan seluruhnya, dan gambaran itu hilang ketika diterangkan. Terjemahan yang menerangkan memang lebih mudah dibaca, tetapi ia mengambil sesuatu dari pembacanya.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk jawaban atas syarat: kalau kalian memohon ampun, maka Dia akan mengirimkan. Terjemahan memakai kata niscaya untuk menahan hubungan sebab-akibat itu. Menghilangkannya akan memutus ayat ini dari perintah yang mendahuluinya di 71:10. Janji Allah di sini tidak berdiri sendiri; ia menggantung pada satu langkah yang harus diambil lebih dahulu. Berapa banyak janji yang kita tunggu, padahal syaratnya belum kita sentuh? Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya; yang lebih sering terjadi adalah syaratnya yang belum kita penuhi.
Ayat 71:12
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun, dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاwa-yumdidkum bi-amwaalin wa-baniina wa-yaj'al lakum jannaatin wa-yaj'al lakum anhaarandan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun, dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَيُمْدِدْكُمْwa-yumdidkumdan Dia membantu kalian
- بِأَمْوَالٍbi-amwaalindengan harta
- وَبَنِينَwa-baniinadan anak-anak lelaki
- وَيَجْعَلْwa-yaj'aldan Dia menjadikan
- لَكُمْlakumbagi kalian
- جَنَّاتٍjannaatintaman-taman
- وَيَجْعَلْwa-yaj'aldan Dia menjadikan
- لَكُمْlakumbagi kalian
- أَنْهَارًاanhaaransungai-sungai
Inti bacaan
Kelimpahan yang komprehensif: 'memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai', daftar berkah yang mencakup kekayaan, keturunan, dan sumber daya alam, gambaran kesejahteraan menyeluruh sebagai hasil dari ketaatan.
Penjelasan pilihan kata
'Jannaatin' dipertahankan 'kebun-kebun' (bukan 'taman' atau istilah populer terlarang) karena isi ayat ini adalah janji duniawi Nuh kepada kaumnya (hujan, harta, anak, kebun, sungai), sejalan dengan acuan 'ashaab al-jannah' di Surah Al-Qalam. Kutip bersarang masih berlanjut.
Rangkaian (بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ, bi-amwaalin wabaniina) muncul di 2 ayat: 17:6 dan 71:12. Di 17:6 pasangan harta dan anak disebut sebagai bantuan yang Allah berikan kepada Bani Israil setelah mereka dikalahkan. Di sini ia disebut sebagai janji kepada kaum Nuh kalau mereka memohon ampun. Dua ayat, dua kaum, satu bentuk pemberian yang sama.
Bentuk (وَبَنِينَ, wabaniina) sendiri muncul di 6 ayat: 17:6, 23:55, 26:133, 68:14, 71:12, dan 74:13. Menarik bahwa di 23:55 dan 68:14 pasangan harta dan anak justru disebut dalam nada peringatan, bukan pujian, yaitu tentang orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Jadi kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya.
Bentuk (وَيُمْدِدْكُمْ, wayumdidkum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akarnya berarti memperpanjang atau menambah bekal yang mengalir terus. Ia bukan sekadar 'memberi', melainkan 'menambah pasokan'. Terjemahan 'memperbanyak' menahan gagasan penambahan itu, meski gambaran aliran yang berkelanjutan sedikit larut.
Bentuk (وَيَجْعَلْ, wayaj'al) muncul di 3 ayat: 25:10, 57:28, dan 71:12. Di ayat ini ia muncul dua kali berturutan, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai. Pengulangan kata kerja yang sama untuk dua objek berturutan tidak wajib dalam bahasa Arab; satu penyebutan bisa menampung keduanya. Kehadirannya dua kali memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sendiri sebagai pemberian tersendiri, bukan satu paket. Terjemahan mempertahankan pengulangan itu.
Kata (أَنْهَارًا, anhaaran) muncul di 2 ayat: 27:61 dan 71:12. Di 27:61 sungai disebut sebagai celah yang dijadikan Allah di bumi, dalam rangkaian pertanyaan tentang siapa yang berbuat demikian. Di sini ia disebut sebagai janji. Bentuknya tidak tentu, jadi bunyinya 'sungai-sungai', bukan 'sungai-sungai itu'. Draf awal mempertimbangkan menerjemahkan 'jannaatin' sebagai taman, dan pilihan itu ditolak: isi ayat ini janji duniawi yang berupa lahan bercocok tanam, bukan gambaran akhirat.
Urutan keempat pemberian di ayat ini juga tersusun. Harta bisa dipindahkan ke mana saja, anak melekat pada keluarga, kebun melekat pada tanah, dan sungai melekat pada bentuk muka bumi. Jadi daftarnya bergerak dari yang paling mudah berpindah menuju yang paling tidak bisa dicabut. Susunan seperti itu membuat janji terasa semakin mengakar dari kata ke kata, dan yang terakhir disebut adalah yang paling sulit dibayangkan hilang.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan janji kekayaan duniawi: harta, anak, kebun, dan sungai. Ayat ini melengkapi daftar janji yang dibuka di 71:11. Sesudah hujan disebut, menyusul empat hal berturut-turut: harta, anak, kebun, dan sungai. Urutannya bergerak dari yang bisa dipindahkan menuju yang melekat pada tanah. Dan semuanya bersifat duniawi. Tidak satu pun dari lima janji itu menyangkut akhirat.
Yang menarik, pasangan harta dan anak yang disebut di sini muncul juga di 23:55 dan 68:14 dalam nada yang sama sekali berbeda, yaitu peringatan terhadap orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Jadi kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya. Dan di 71:21 nanti Nuh sendiri akan mengadukan orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Jadi dalam satu surah yang sama, harta dan anak muncul sebagai janji di ayat kedua belas dan sebagai kerugian di ayat kedua puluh satu.
Susunan kalimatnya juga bercerita. Kata kerja untuk menjadikan diulang dua kali, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai, padahal satu penyebutan sudah cukup. Pengulangan itu memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sebagai pemberian tersendiri. Allah tidak menyodorkan satu bungkusan; Dia menyebut satu per satu. Cara menyebut seperti itu membuat daftar terasa lebih panjang daripada kalau semuanya digabung, dan panjang daftar itulah yang menjadi isi bujukan Nuh kepada kaumnya.
Renungan dan Hikmah
- Sesudah hujan disebut di 71:11, menyusul empat hal berturut-turut: harta, anak, kebun, dan sungai. Urutannya bergerak dari yang bisa dipindahkan menuju yang melekat pada tanah. Tidak satu pun dari lima janji itu menyangkut akhirat. Allah membiarkan seruan tobat dibujukkan dengan pemberian yang bisa dilihat mata. Manusia memang bergerak lebih dulu oleh yang terlihat, dan wahyu tidak berpura-pura tidak mengetahui hal itu. Allah menyebut pemberian yang bisa disentuh, bukan yang hanya bisa dibayangkan.
- Pasangan harta dan anak yang disebut di sini muncul juga di 23:55 dan 68:14, tetapi di sana dalam nada peringatan terhadap orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya. Pemberian yang sama bisa mendekatkan atau menjauhkan, tergantung apa yang disimpulkan penerimanya darinya. Yang sama di tangan Allah bisa menjadi tangga atau menjadi jerat bagi yang menerimanya.
- Di ayat ini harta dan anak disebut sebagai janji. Di 71:21 Nuh mengadukan orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Dalam satu surah yang sama, dua hal itu muncul sebagai janji di ayat kedua belas dan sebagai kerugian di ayat kedua puluh satu. Susunan itu bukan pertentangan. Ia memperlihatkan bahwa yang sama bisa berakhir dua arah, dan yang menentukan arahnya adalah pemiliknya sendiri. Allah memberi, dan arah pemakaiannya diserahkan kepada yang diberi.
- Kata kerja untuk menjadikan diulang dua kali di ayat ini, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai, padahal satu penyebutan sudah cukup dalam bahasa Arab. Pengulangan itu memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sebagai pemberian tersendiri. Allah tidak menyodorkan satu bungkusan; Dia menyebut satu per satu. Cara menyebut seperti itu membuat daftar terasa lebih panjang, dan panjang daftar itulah yang menjadi isi bujukan. Menyebut nikmat Allah satu per satu membuat orang menyadari betapa panjang daftar yang selama ini ia terima diam-diam.
- Kata kerja pertama di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berakar pada memperpanjang atau menambah bekal yang mengalir terus. Ia bukan sekadar memberi, melainkan menambah pasokan yang sudah berjalan. Terjemahan menahan gagasan penambahan itu, meski gambaran alirannya sedikit larut. Yang dijanjikan bukan satu kali pemberian yang lalu habis, melainkan tambahan yang menyambung apa yang sudah ada. Allah menambah pada bekal yang sudah ada, bukan memulai dari kosong.
- Nuh tidak menyembunyikan bahwa yang ia tawarkan bersifat duniawi. Ia menyebutnya terang-terangan: harta, anak, kebun, sungai. Tidak ada usaha membungkusnya sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Kejujuran tentang isi tawaran adalah bagian dari kejujuran seruan itu sendiri. Kalau tawaran yang sejujur itu pun ditolak, apa lagi yang bisa ditambahkan untuk membuat seseorang bergerak? Kejujuran tentang isi tawaran adalah bagian dari kejujuran menyampaikan pesan Allah.