فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Lalu aku berkata, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia pengampun.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًاfa-qultu staghfiruu rabbakum innahu kaana ghaffaaranlalu aku berkata, 'mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia pengampun'

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَقُلْتُfa-qultumaka aku berkata
  2. اسْتَغْفِرُواstaghfiruumohonlah ampun kalian
  3. رَبَّكُمْrabbakumTuhan kalian
  4. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  5. كَانَkaanaadalah
  6. غَفَّارًاghaffaaranMaha Pengampun

Inti bacaan

Tawaran konkret dengan janji nyata: 'mohonlah ampun kepada Tuhan kalian. Sesungguhnya Dia pengampun', pesan inti yang sederhana dan langsung, disertai jaminan sifat pengampunan sebagai insentif untuk merespons positif.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kepada mereka)' tidak dipakai. Ayat ini membuka kutip bersarang (tunggal): Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya, di dalam doanya kepada Allah yang masih terbuka sejak 71:5.

Ayat ini membuka kutipan yang bersarang. Sampai di sini, seluruh kalimat sejak 71:5 berada di dalam doa Nuh kepada Allah. Mulai ayat ini, di dalam doa itu terbuka kutipan kedua: Nuh mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya. Dua lapis kutipan berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup di ujung 71:20. Bentuk (فَقُلْتُ, faqultu) yang membukanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Bentuk (اسْتَغْفِرُوا, istagfiruu) muncul di 3 ayat: 11:3, 11:52, dan 71:10. Dua yang pertama berada di surah yang sama, dan 11:52 adalah ucapan Hud kepada kaumnya. Yang menarik, di 11:52 kalimat itu dilanjutkan dengan janji hujan yang deras dan tambahan kekuatan, persis seperti di 71:11 dan 71:12. Jadi dua utusan yang berbeda, kepada dua kaum yang berbeda, memakai seruan yang sama dan menjanjikan hal yang sama pula.

Kata (غَفَّارًا, gaffaaran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti mengampuni, dan pola penguat dalam bahasa Arab menandai perbuatan yang dilakukan berulang atau dalam ukuran yang besar. Jadi maknanya bukan sekadar 'yang mengampuni', melainkan 'yang mengampuni berkali-kali'. Terjemahan 'pengampun' memilih kata yang paling wajar dibaca, dan kadar penguatnya larut.

Perlu dicatat bahwa alasan yang diberikan bukan besarnya dosa mereka, melainkan sifat Allah. Kalimatnya tidak berbunyi 'mohonlah ampun karena dosa kalian banyak', melainkan 'mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun'. Alasannya diletakkan pada pihak yang memberi ampun, bukan pada pihak yang memerlukannya. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan.

Kata (رَبَّكُمْ, rabbakum) memakai akhiran yang berarti 'milik kalian'. Sepanjang surah ini, kata untuk Tuhan hampir selalu membawa akhiran kepemilikan: 'Tuhanku' di 71:5, 'Tuhan kalian' di sini, 'Tuhanku' lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28. Tidak sekali pun ia berdiri telanjang tanpa penunjuk pemilik. Hubungan selalu disebut, tidak pernah hanya keberadaan.

Susunan (إِنَّهُ كَانَ, innahu kaana) sebelum kata sifat penutup juga perlu dijelaskan. Kata kerja bantu di tengahnya berbentuk lampau, sehingga bunyi harfiahnya 'sesungguhnya Dia dahulu adalah pengampun'. Dalam bahasa Arab, susunan seperti ini tidak membatasi sifat itu pada masa lalu; ia justru menandai sifat yang sudah melekat sejak dahulu dan tetap berlaku. Terjemahan 'sesungguhnya Dia pengampun' menghilangkan kata kerja bantunya karena mempertahankannya akan menyesatkan pembaca Indonesia, yang akan membacanya sebagai sifat yang sudah berlalu.

Tafsiran

Ayat ini menyampaikan inti seruan tobat Nuh kepada kaumnya, dikutip ulang dalam doanya kepada Allah. Ayat ini membuka lapisan kutipan kedua. Nuh sedang berdoa kepada Allah, dan di dalam doanya ia mengutip apa yang dahulu ia katakan kepada kaumnya. Jadi mulai di sini pembaca mendengar dua suara sekaligus: Nuh yang sedang mengadu, dan Nuh yang dahulu menyeru. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai keduanya ditutup enam belas ayat kemudian.

Isi seruannya sederhana dan alasannya mengejutkan. Ia tidak berkata 'mohonlah ampun karena dosa kalian banyak'. Ia berkata 'mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun'. Alasannya diletakkan pada sifat Allah, bukan pada keadaan mereka. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan. Yang mendorong orang kembali bukan besarnya kesalahan, melainkan besarnya kesediaan menerima.

Kesejajarannya dengan 11:52 sangat rapat. Di ayat itu Hud mengucapkan seruan yang sama kepada kaumnya, dan melanjutkannya dengan janji hujan deras dan tambahan kekuatan, persis seperti yang menyusul di 71:11 dan 71:12. Dua utusan berbeda, dua kaum berbeda, satu seruan dan satu rangkaian janji. Kesamaan itu menunjukkan bahwa yang ditawarkan bukan karangan masing-masing penyeru. Dan sebutan yang dipakai untuk Allah membawa akhiran kepemilikan, seperti hampir semua penyebutan Tuhan di surah ini. Yang ditawarkan bukan gagasan tentang adanya Tuhan, melainkan pemulihan hubungan dengan Tuhan yang memang sudah menjadi Tuhan mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Nuh tidak berkata mohonlah ampun karena dosa kalian banyak. Ia berkata mohonlah ampun, sesungguhnya Dia pengampun. Alasannya diletakkan pada sifat Allah, bukan pada keadaan mereka. Susunan itu memindahkan berat kalimat dari rasa bersalah menuju harapan. Yang mendorong orang kembali biasanya bukan besarnya kesalahan yang ia sadari, melainkan besarnya kesediaan menerima yang ia percayai ada di seberang. Rasa bersalah menekan orang ke bawah, sedangkan harapan mengangkatnya untuk melangkah.
  • Kata kerja seruan di ayat ini muncul di 3 ayat: 11:3, 11:52, dan 71:10. Di 11:52 Hud mengucapkannya kepada kaumnya, lalu melanjutkannya dengan janji hujan deras dan tambahan kekuatan, persis seperti yang menyusul di 71:11 dan 71:12. Dua utusan berbeda, dua kaum berbeda, satu seruan dan satu rangkaian janji. Kesamaan itu menunjukkan bahwa yang ditawarkan bukan karangan masing-masing penyeru. Kesamaan itu menjadi bukti tersendiri tentang dari mana seruan tersebut berasal.
  • Kata sifat di penutup ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuknya, dan bentuk itu adalah pola penguat. Maknanya bukan sekadar yang mengampuni, melainkan yang mengampuni berkali-kali. Terjemahan memilih kata yang paling wajar dibaca, dan kadar penguatnya larut. Yang hilang bukan hal kecil. Perbedaan antara mengampuni sekali dan mengampuni berulang menentukan apakah seseorang berani kembali sesudah jatuh untuk kesekian kalinya. Pintu yang hanya terbuka sekali tidak akan pernah dilewati oleh yang sudah pernah gagal.
  • Mulai ayat ini, di dalam doa Nuh kepada Allah terbuka kutipan kedua: ia mengutip ucapannya sendiri kepada kaumnya. Pembaca mendengar dua suara sekaligus, yaitu Nuh yang sedang mengadu dan Nuh yang dahulu menyeru. Dua lapis itu berjalan bersamaan sampai ditutup di ujung 71:20. Menandai batasnya dengan cermat menentukan apakah pembaca memahami sebuah kalimat sebagai doa atau sebagai dakwah. Satu tanda kutip yang salah tempat memindahkan seluruh kalimat ke lapisan yang keliru.
  • Kata untuk Tuhan di ayat ini memakai akhiran yang berarti milik kalian. Sepanjang surah ini, kata untuk Tuhan hampir selalu membawa akhiran kepemilikan: Tuhanku di 71:5, Tuhan kalian di sini, Tuhanku lagi di 71:21, 71:26, dan 71:28. Tidak sekali pun ia berdiri telanjang. Yang ditawarkan bukan gagasan tentang adanya Tuhan, melainkan pemulihan hubungan dengan Tuhan yang memang sudah menjadi Tuhan mereka. Mengenal Allah tanpa hubungan hanyalah menambah satu keterangan lagi ke dalam kepala.
  • Nuh tidak sekadar melaporkan bahwa ia telah menyeru; ia mengulang kata-katanya sendiri di hadapan Allah. Bentuk kata kerja yang membuka kutipan itu muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Mengulang kembali apa yang pernah kita ucapkan, di hadapan Yang mendengar semuanya, adalah bentuk pemeriksaan diri yang jarang. Beranikah kita mengulang di hadapan Allah persis apa yang kita katakan kepada orang lain? Kata-kata kita terhadap orang lain sudah lebih dulu didengar sebelum sempat kita ulang.