يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

Niscaya Dia akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًاyursili s-samaa'a 'alaykum midraaranniscaya Dia akan mencurahkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. يُرْسِلِyursiliDia mengirimkan
  2. السَّمَاءَs-samaa'alangit
  3. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  4. مِدْرَارًاmidraaranyang lebat

Inti bacaan

Manfaat material yang dijanjikan: 'niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat dari langit kepada kalian', hubungan yang digambarkan antara permohonan ampun dan berkah materi, pengingat bahwa kesejahteraan duniawi bisa terkait dengan keselarasan spiritual.

Penjelasan pilihan kata

Kutip bersarang masih berlanjut dari 71:10.

Rangkaian (يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا, yursili as-samaa-a 'alaykum midraaran) muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Empat patah kata berurutan, sama persis, di dua surah yang berbeda. Di 11:52 kalimat itu diucapkan Hud kepada kaumnya; di sini diucapkan Nuh kepada kaumnya. Dua utusan, dua zaman, dua kaum, satu janji yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun.

Bentuk (يُرْسِلِ, yursili) muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Akarnya sama dengan kata yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh sendiri. Jadi akar yang di ayat pembuka dipakai untuk mengirim utusan, di sini dipakai untuk mengirim hujan. Allah mengirim keduanya, dan bahasa memakai kata kerja yang sama. Kesejajaran itu tidak terlihat dalam terjemahan Indonesia, sebab kita memakai 'mengutus' untuk yang pertama dan 'mencurahkan' untuk yang kedua.

Kata (مِدْرَارًا, midraaran) muncul di 3 ayat: 6:6, 11:52, dan 71:11. Ia bentuk penguat dari akar yang berarti mengalir deras dan terus-menerus, seperti susu yang memancar. Jadi maknanya bukan sekadar hujan, melainkan curahan yang berlimpah dan tidak putus. Di 6:6 kata yang sama dipakai untuk generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Perbandingan itu menambah beban ayat ini: janji yang ditawarkan Nuh persis jenis pemberian yang pernah dicabut dari orang lain.

Yang perlu diperhatikan, kata (السَّمَاءَ, as-samaa-a) di sini secara harfiah berarti langit, bukan hujan. Bahasa Arab kadang menyebut wadahnya untuk memaksudkan isinya. Terjemahan 'mencurahkan hujan yang lebat dari langit' menerangkan maksudnya, dan itu pilihan yang bisa diperdebatkan. Bunyi harfiahnya lebih dekat ke 'Dia akan mengirimkan langit kepada kalian dengan deras', susunan yang terasa asing dalam bahasa Indonesia tetapi menyimpan gambaran langit yang seolah diturunkan seluruhnya.

Ayat ini hanya empat patah dan berdiri sebagai akibat dari perintah di 71:10. Kata kerjanya berbentuk yang menandai jawaban atas syarat: kalau kalian memohon ampun, maka Dia akan mengirimkan. Terjemahan 'niscaya' menahan hubungan sebab-akibat itu. Menghilangkannya akan memutus ayat ini dari perintah yang mendahuluinya.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang mengirim. Bentuknya menunjuk pihak ketiga tunggal, dan yang dirujuknya adalah Allah yang disebut di 71:10 sebagai Yang pengampun. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang terpotong nomor. Membacanya terpisah akan menyisakan janji tanpa pemberi, dan itu persis kesalahan yang paling sering terjadi ketika ayat dikutip sepotong. Terjemahan memakai 'Dia' untuk menjaga sambungannya tetap terlihat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan janji berkah duniawi bagi yang bertobat. Ayat ini menyebut buah pertama dari permohonan ampun, dan buah itu bukan sesuatu yang batin. Yang dijanjikan adalah hujan. Susunan seperti ini muncul berulang di Al-Qur'an: tobat yang menyangkut hubungan dengan Allah dijanjikan berbuah kelapangan yang bisa dilihat mata. Dua hal yang tampak tidak berkaitan disambungkan tanpa penjelasan.

Kesejajarannya dengan 11:52 sangat rapat. Empat patah kata berurutan, sama persis, diucapkan Hud kepada kaumnya. Dua utusan dari dua zaman yang berbeda memakai kalimat yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun. Ini menutup satu kemungkinan pembacaan: bahwa masing-masing penyeru menyusun sendiri tawarannya menurut apa yang kira-kira menarik bagi kaumnya. Yang ditawarkan ternyata sama, dan susunan kalimatnya pun sama.

Ada satu hal yang menambah beban ayat ini. Kata untuk curahan deras di sini juga dipakai di 6:6, dalam kalimat tentang generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Jadi jenis pemberian yang ditawarkan Nuh adalah jenis yang pernah dicabut dari orang lain. Tawarannya nyata, tetapi tidak pernah menjadi jaminan yang berdiri sendiri. Dan akar kata kerjanya sama dengan yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh: Allah mengirim utusan, dan Allah mengirim hujan, dengan kata kerja yang sama. Yang menolak yang pertama sedang menolak sesuatu yang datang dari sumber yang sama dengan yang kedua.

Renungan dan Hikmah

  • Buah pertama yang dijanjikan bukan ketenangan batin, melainkan hujan. Susunan seperti ini muncul berulang di Al-Qur'an: tobat yang menyangkut hubungan dengan Allah dijanjikan berbuah kelapangan yang bisa dilihat mata. Dua hal yang tampak tidak berkaitan disambungkan tanpa penjelasan. Allah tidak memisahkan urusan langit dari urusan tanah. Yang kita anggap dua wilayah terpisah ternyata satu di mata Yang mengatur keduanya, dan pemisahan itu justru buatan kita sendiri. Hujan yang turun tetap kiriman dari Allah, betapapun ia terasa seperti gejala alam biasa.
  • Rangkaian di ayat ini muncul di 2 ayat: 11:52 dan 71:11. Empat patah kata berurutan, sama persis, di dua surah berbeda. Di 11:52 diucapkan Hud, di sini diucapkan Nuh. Dua zaman, dua kaum, satu janji yang bunyinya tidak berbeda satu huruf pun. Ini menutup kemungkinan bahwa masing-masing penyeru menyusun sendiri tawarannya menurut selera kaumnya. Yang ditawarkan sama karena sumbernya sama. Ketetapan itu menjadi bukti tersendiri tentang siapa yang sebenarnya menyusun kalimatnya.
  • Kata untuk curahan deras di ayat ini muncul di 3 ayat: 6:6, 11:52, dan 71:11. Di 6:6 ia dipakai untuk generasi terdahulu yang diberi hujan berlimpah lalu dibinasakan karena dosa mereka. Jadi jenis pemberian yang ditawarkan Nuh adalah jenis yang pernah dicabut dari orang lain. Tawarannya nyata, tetapi tidak pernah menjadi jaminan yang berdiri sendiri. Kelapangan yang sedang kita nikmati bukan bukti bahwa perhitungan sudah selesai. Allah memberi tanpa menandatangani jaminan bahwa pemberian itu tidak akan ditarik.
  • Kata kerja di ayat ini berakar sama dengan yang dipakai di 71:1 untuk pengutusan Nuh. Allah mengirim utusan, dan Allah mengirim hujan, dengan akar kata yang sama. Kesejajaran itu larut dalam bahasa Indonesia, sebab kita memakai mengutus untuk yang satu dan mencurahkan untuk yang lain. Yang menolak kiriman pertama sedang menolak sesuatu yang datang dari sumber yang sama dengan kiriman kedua yang justru ia harapkan. Menerima kiriman yang satu sambil menolak yang lain adalah pilihan yang tidak pernah utuh.
  • Kata di tengah ayat ini secara harfiah berarti langit, bukan hujan. Bahasa Arab kadang menyebut wadahnya untuk memaksudkan isinya. Terjemahan menerangkan maksudnya, dan itu pilihan yang bisa diperdebatkan. Bunyi harfiahnya lebih dekat ke Dia akan mengirimkan langit kepada kalian dengan deras. Susunan itu terasa asing dalam bahasa Indonesia tetapi menyimpan gambaran langit yang seolah diturunkan seluruhnya, dan gambaran itu hilang ketika diterangkan. Terjemahan yang menerangkan memang lebih mudah dibaca, tetapi ia mengambil sesuatu dari pembacanya.
  • Kata kerja di ayat ini berbentuk jawaban atas syarat: kalau kalian memohon ampun, maka Dia akan mengirimkan. Terjemahan memakai kata niscaya untuk menahan hubungan sebab-akibat itu. Menghilangkannya akan memutus ayat ini dari perintah yang mendahuluinya di 71:10. Janji Allah di sini tidak berdiri sendiri; ia menggantung pada satu langkah yang harus diambil lebih dahulu. Berapa banyak janji yang kita tunggu, padahal syaratnya belum kita sentuh? Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya; yang lebih sering terjadi adalah syaratnya yang belum kita penuhi.