وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun, dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًاwa-yumdidkum bi-amwaalin wa-baniina wa-yaj'al lakum jannaatin wa-yaj'al lakum anhaarandan memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun, dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَيُمْدِدْكُمْwa-yumdidkumdan Dia membantu kalian
  2. بِأَمْوَالٍbi-amwaalindengan harta
  3. وَبَنِينَwa-baniinadan anak-anak lelaki
  4. وَيَجْعَلْwa-yaj'aldan Dia menjadikan
  5. لَكُمْlakumbagi kalian
  6. جَنَّاتٍjannaatintaman-taman
  7. وَيَجْعَلْwa-yaj'aldan Dia menjadikan
  8. لَكُمْlakumbagi kalian
  9. أَنْهَارًاanhaaransungai-sungai

Inti bacaan

Kelimpahan yang komprehensif: 'memperbanyak harta dan anak-anak kalian, dan menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai', daftar berkah yang mencakup kekayaan, keturunan, dan sumber daya alam, gambaran kesejahteraan menyeluruh sebagai hasil dari ketaatan.

Penjelasan pilihan kata

'Jannaatin' dipertahankan 'kebun-kebun' (bukan 'taman' atau istilah populer terlarang) karena isi ayat ini adalah janji duniawi Nuh kepada kaumnya (hujan, harta, anak, kebun, sungai), sejalan dengan acuan 'ashaab al-jannah' di Surah Al-Qalam. Kutip bersarang masih berlanjut.

Rangkaian (بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ, bi-amwaalin wabaniina) muncul di 2 ayat: 17:6 dan 71:12. Di 17:6 pasangan harta dan anak disebut sebagai bantuan yang Allah berikan kepada Bani Israil setelah mereka dikalahkan. Di sini ia disebut sebagai janji kepada kaum Nuh kalau mereka memohon ampun. Dua ayat, dua kaum, satu bentuk pemberian yang sama.

Bentuk (وَبَنِينَ, wabaniina) sendiri muncul di 6 ayat: 17:6, 23:55, 26:133, 68:14, 71:12, dan 74:13. Menarik bahwa di 23:55 dan 68:14 pasangan harta dan anak justru disebut dalam nada peringatan, bukan pujian, yaitu tentang orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Jadi kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya.

Bentuk (وَيُمْدِدْكُمْ, wayumdidkum) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini. Akarnya berarti memperpanjang atau menambah bekal yang mengalir terus. Ia bukan sekadar 'memberi', melainkan 'menambah pasokan'. Terjemahan 'memperbanyak' menahan gagasan penambahan itu, meski gambaran aliran yang berkelanjutan sedikit larut.

Bentuk (وَيَجْعَلْ, wayaj'al) muncul di 3 ayat: 25:10, 57:28, dan 71:12. Di ayat ini ia muncul dua kali berturutan, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai. Pengulangan kata kerja yang sama untuk dua objek berturutan tidak wajib dalam bahasa Arab; satu penyebutan bisa menampung keduanya. Kehadirannya dua kali memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sendiri sebagai pemberian tersendiri, bukan satu paket. Terjemahan mempertahankan pengulangan itu.

Kata (أَنْهَارًا, anhaaran) muncul di 2 ayat: 27:61 dan 71:12. Di 27:61 sungai disebut sebagai celah yang dijadikan Allah di bumi, dalam rangkaian pertanyaan tentang siapa yang berbuat demikian. Di sini ia disebut sebagai janji. Bentuknya tidak tentu, jadi bunyinya 'sungai-sungai', bukan 'sungai-sungai itu'. Draf awal mempertimbangkan menerjemahkan 'jannaatin' sebagai taman, dan pilihan itu ditolak: isi ayat ini janji duniawi yang berupa lahan bercocok tanam, bukan gambaran akhirat.

Urutan keempat pemberian di ayat ini juga tersusun. Harta bisa dipindahkan ke mana saja, anak melekat pada keluarga, kebun melekat pada tanah, dan sungai melekat pada bentuk muka bumi. Jadi daftarnya bergerak dari yang paling mudah berpindah menuju yang paling tidak bisa dicabut. Susunan seperti itu membuat janji terasa semakin mengakar dari kata ke kata, dan yang terakhir disebut adalah yang paling sulit dibayangkan hilang.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan janji kekayaan duniawi: harta, anak, kebun, dan sungai. Ayat ini melengkapi daftar janji yang dibuka di 71:11. Sesudah hujan disebut, menyusul empat hal berturut-turut: harta, anak, kebun, dan sungai. Urutannya bergerak dari yang bisa dipindahkan menuju yang melekat pada tanah. Dan semuanya bersifat duniawi. Tidak satu pun dari lima janji itu menyangkut akhirat.

Yang menarik, pasangan harta dan anak yang disebut di sini muncul juga di 23:55 dan 68:14 dalam nada yang sama sekali berbeda, yaitu peringatan terhadap orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Jadi kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya. Dan di 71:21 nanti Nuh sendiri akan mengadukan orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Jadi dalam satu surah yang sama, harta dan anak muncul sebagai janji di ayat kedua belas dan sebagai kerugian di ayat kedua puluh satu.

Susunan kalimatnya juga bercerita. Kata kerja untuk menjadikan diulang dua kali, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai, padahal satu penyebutan sudah cukup. Pengulangan itu memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sebagai pemberian tersendiri. Allah tidak menyodorkan satu bungkusan; Dia menyebut satu per satu. Cara menyebut seperti itu membuat daftar terasa lebih panjang daripada kalau semuanya digabung, dan panjang daftar itulah yang menjadi isi bujukan Nuh kepada kaumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Sesudah hujan disebut di 71:11, menyusul empat hal berturut-turut: harta, anak, kebun, dan sungai. Urutannya bergerak dari yang bisa dipindahkan menuju yang melekat pada tanah. Tidak satu pun dari lima janji itu menyangkut akhirat. Allah membiarkan seruan tobat dibujukkan dengan pemberian yang bisa dilihat mata. Manusia memang bergerak lebih dulu oleh yang terlihat, dan wahyu tidak berpura-pura tidak mengetahui hal itu. Allah menyebut pemberian yang bisa disentuh, bukan yang hanya bisa dibayangkan.
  • Pasangan harta dan anak yang disebut di sini muncul juga di 23:55 dan 68:14, tetapi di sana dalam nada peringatan terhadap orang yang menyangka pemberian itu tanda kebaikan baginya. Kata yang sama muncul sebagai janji di satu tempat dan sebagai jebakan di tempat lain. Yang menentukan bukan pemberiannya, melainkan cara penerimanya membacanya. Pemberian yang sama bisa mendekatkan atau menjauhkan, tergantung apa yang disimpulkan penerimanya darinya. Yang sama di tangan Allah bisa menjadi tangga atau menjadi jerat bagi yang menerimanya.
  • Di ayat ini harta dan anak disebut sebagai janji. Di 71:21 Nuh mengadukan orang yang harta dan anaknya tidak menambah apa-apa selain kerugian. Dalam satu surah yang sama, dua hal itu muncul sebagai janji di ayat kedua belas dan sebagai kerugian di ayat kedua puluh satu. Susunan itu bukan pertentangan. Ia memperlihatkan bahwa yang sama bisa berakhir dua arah, dan yang menentukan arahnya adalah pemiliknya sendiri. Allah memberi, dan arah pemakaiannya diserahkan kepada yang diberi.
  • Kata kerja untuk menjadikan diulang dua kali di ayat ini, sekali untuk kebun dan sekali untuk sungai, padahal satu penyebutan sudah cukup dalam bahasa Arab. Pengulangan itu memisahkan keduanya supaya masing-masing berdiri sebagai pemberian tersendiri. Allah tidak menyodorkan satu bungkusan; Dia menyebut satu per satu. Cara menyebut seperti itu membuat daftar terasa lebih panjang, dan panjang daftar itulah yang menjadi isi bujukan. Menyebut nikmat Allah satu per satu membuat orang menyadari betapa panjang daftar yang selama ini ia terima diam-diam.
  • Kata kerja pertama di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berakar pada memperpanjang atau menambah bekal yang mengalir terus. Ia bukan sekadar memberi, melainkan menambah pasokan yang sudah berjalan. Terjemahan menahan gagasan penambahan itu, meski gambaran alirannya sedikit larut. Yang dijanjikan bukan satu kali pemberian yang lalu habis, melainkan tambahan yang menyambung apa yang sudah ada. Allah menambah pada bekal yang sudah ada, bukan memulai dari kosong.
  • Nuh tidak menyembunyikan bahwa yang ia tawarkan bersifat duniawi. Ia menyebutnya terang-terangan: harta, anak, kebun, sungai. Tidak ada usaha membungkusnya sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Kejujuran tentang isi tawaran adalah bagian dari kejujuran seruan itu sendiri. Kalau tawaran yang sejujur itu pun ditolak, apa lagi yang bisa ditambahkan untuk membuat seseorang bergerak? Kejujuran tentang isi tawaran adalah bagian dari kejujuran menyampaikan pesan Allah.